
Melihat apa yang terjadi Bianca kemudian menerima minuman dari tangan Arga lalu meminumnya.
"Semuanya sudah selesai, sebaiknya kita pulang!" ucap Arga sambil meraih tangan Bianca.
"Tapi aku masih ingin disini," balas Bianca.
"Bukankah besok kita bisa kesini lagi!" ucap Arga dengan sedikit menarik tangan Bianca membuat Bianca akhirnya beranjak dari duduknya.
"Lola, Daffa aku pulang dulu, semoga besok kita bisa melakukannya dengan lebih baik lagi," ucap Bianca dengan membawa pandangannya pada Lola dan Daffa.
"Terima kasih untuk hari ini Bianca, hati-hati di jalan," balas Lola sambil melambaikan tangannya kecil pada Bianca.
Bianca dan Argapun meninggalkan kamar kost Lola lalu segera masuk ke dalam mobil dan Argapun mengendarai mobilnya pergi, kembali pulang ke rumahnya.
"Ada apa denganmu? kenapa kau tiba-tiba mengajakku pulang?" tanya Bianca pada Arga saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Bukankah memang waktunya untuk pulang?" balas Arga.
"Tapi kita baru saja menyelesaikannya, aku....."
"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan jadi kita harus pulang lebih cepat," ucap Arga memotong ucapan Bianca.
"Jika ini tentang pekerjaanmu seharusnya kau pulang sendiri, aku bisa pulang dengan....."
"Dengan Daffa?" tanya Arga memotong ucapan Bianca dengan nada suara meninggi.
"Apa kau sedang marah padaku? apa aku melakukan kesalahan?" tanya Bianca yang merasa Arga sedang marah padanya.
Arga menghela nafasnya panjang lalu membawa pandangannya pada Bianca saat lampu lalu lintas menyala merah.
"Maafkan aku," ucap Arga lalu segera mengalihkan pandangannya pada Bianca.
Bianca hanya menghela nafasnya kesal tanpa mengatakan apapun. Mungkin lebih baik memang Arga dan Bianca pulang sebelum Arga membuat keributan dengan Lola ataupun Daffa.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di rumah. Sebelum Bianca masuk ke kamarnya, Arga menghentikan Bianca.
"Bianca tunggu!" ucap Arga yang membuat Bianca membawa pandangannya pada Arga.
"Aku tahu bagaimana Daffa, aku sangat mengenalnya dengan baik karena kita sudah lama bersahabat, sejauh ini dia tidak pernah benar-benar menyukai perempuan, dia hanya bermain-main dengan mereka tanpa pernah dia menjatuhkan hatinya pada satupun diantara mereka," ucap Arga.
"Aku tahu, kau pernah mengatakannya," balas Bianca.
"Aku hanya tidak ingin kau..... maksudku Lola terperdaya olehnya," ucap Arga.
"Daffa mungkin suka bermain perempuan tapi dia memperlakukan perempuannya dengan sangat baik, jadi aku pikir berteman dengannya bukanlah sebuah kesalahan," balas Bianca.
"Cinta bisa berawal dari pertemanan Bianca, kau......"
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan Arga, aku juga tidak akan membiarkan Lola jatuh pada laki-laki yang salah, jangan terlalu mengkhawatirkannya dan jangan terlalu menjelekkan Daffa di depanku, dia juga temanmu!" ucap Bianca lalu membuka pintu kamarnya.
"Ini bukan hanya tentang Lola," ucap Arga sambil menahan tangan Bianca yang akan masuk ke dalam kamar.
"Jika kau sedang bertengkar dengan Daffa selesaikan masalah kalian berdua tanpa melibatkanku dan Lola, jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini Arga, kau sudah dewasa!" ucap Bianca sambil menarik tangannya dengan kasar.
Bianca kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya begitu saja, membiarkan Arga yang masih berdiri di depan pintu kamar Bianca.
"Sepertinya mereka berdua memang sedang bermasalah, berselisih paham dalam bersahabat memang wajar tetapi sepertinya Arga sudah keterlaluan, tidak seharusnya dia membicarakan keburukan Daffa!" ucap Bianca sambil menjatuhkan dirinya di tepi ranjang.
**
Waktu berlalu, langitpun semakin gelap dan Bianca masih berada di dalam kamarnya untuk mengerjakan artikel.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya, membuat Bianca segera beranjak dari ranjangnya.
"Aku baru saja memasak untuk makan malam," ucap Arga yang membuat Bianca mengernyitkan keningnya.
"Kau memasak?" tanya Bianca mengulang ucapan Arga.
"Iya, bukankah aku memang sering memasak?" balas Arga.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu kembali ke ranjangnya untuk menyimpan file yang baru saja ia kerjakan lalu menutup laptopnya kemudian keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah meja makan bersama Arga.
"Kau memang sering memasak di rumah di saat-saat tertentu, selalu ada alasan kenapa kau tiba-tiba memasak, jadi apa alasanmu kali ini?" tanya Bianca pada Arga.
"Tidak bisakah kau makan saja tanpa menanyakan hal itu?" balas Arga.
"Oke baiklah, tapi apa kau akan meninggalkanku lagi kali ini?" ucap Bianca sekaligus bertanya yang membuat Arga seketika terdiam.
Arga teringat jika ia sering meninggalkan Bianca saat makan malam karena ia harus tiba-tiba menemui Karina.
"Pergilah jika kau memang harus pergi, tidak perlu memasak makan malam untukku jika akhirnya sama seperti biasanya, makan malam sendiri di rumah yang sebesar ini!" ucap Bianca.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu lagi, bukankah aku sudah bilang jangan pernah makan malam tanpaku, jadi aku akan makan malam bersamamu disini," ucap Arga.
Bianca hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun lalu menikmati makan malam bersama Arga. Dalam hatinya ia berharap jika Arga benar-benar tidak akan meninggalkannya malam itu.
Setelah menyelesaikan makan malam, Bianca segera beranjak dari duduknya.
"Kau mau kemana?" tanya Arga pada Bianca yang berjalan di sampingnya.
"Ke kamar," jawab Bianca singkat sambil menarik tangannya dari Arga.
"Aku akan menunggumu di balkon," ucap Arga lalu berjalan menaiki tangga dan membawa langkahnya ke arah balkon.
Bianca masih terdiam di tempatnya berdiri dengan mengernyitkan keningnya, ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Arga menunggunya di balkon.
Biancapun membawa langkahnya mengikuti Arga.
"Kenapa kau menungguku disini? apa ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Bianca saat dia sudah berada di balkon.
"Duduklah," balas Arga sambil membawa pandangannya pada kursi yang didudukinya.
Biancapun duduk di samping Arga tanpa ia tahu apa yang sebenarnya membuat Arga mengajaknya ke balkon, karena tidak biasanya Arga mengajaknya duduk di balkon.
"Aku tidak akan bertanya apapun padamu karena kau pasti tidak akan menjawabnya, tapi jika kau ingin bercerita sesuatu padaku maka ceritalah, aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu!" ucap Bianca.
"Apa menurutmu aku bukan laki-laki dewasa di matamu?" tanya Arga dengan membawa pandangan yang menatap Bianca yang duduk di sampingnya.
"Terkadang kau bersikap seperti anak kecil Arga, entah karena kau memang seperti itu atau karena aku yang belum memahami sifatmu," jawab Bianca.
"Tapi aku tahu dibalik itu kau adalah laki-laki dewasa yang begitu peduli pada orang-orang di sekitarnya," lanjut Bianca.
"Mungkin sikap kekanak-kanakanku itu yang selama ini tidak aku sadari dan pada akhirnya membuat Karina pergi meninggalkanku," ucap Arga dalam hati.
"Sepertinya kau sedang bertengkar dengan Daffa," ucap Bianca yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Bianca.
"Apapun yang terjadi di antara kalian aku harap kalian segera menyelesaikannya, pertengkaran dalam persahabatan memang hal yang wajar tapi jangan membiarkannya terlalu lama," lanjut Bianca.
Arga menghela nafasnya panjang lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil membawa pandangannya menatap hamparan gelap langit malam.
"Beberapa hari ini aku memang sangat kacau, aku bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih," ucap Arga.
"Aku tahu, semenjak kau pulang dari luar kota kau terlihat sedikit berbeda," ucap Bianca.
"Entahlah, aku hanya berpikir mungkin kau terlalu stres dengan pekerjaanmu, mungkin kau terlalu tertekan dengan tuntutan pekerjaanmu saat ini," jawab Bianca.
Arga hanya diam tanpa mengatakan apapun, sedangkan Bianca menunggu bagaimana respon Arga meskipun ia tahu Arga tidak akan mungkin berbicara jujur padanya tentang kepergian Arga yang sebenarnya.
"Kau benar, ada beberapa hal yang membuatku tertekan, beberapa hal yang membuatku bimbang dan ragu," ucap Arga.
"Maafkan aku Bianca, aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya padamu," ucap Bianca dalam hati.
**
Hari telah berganti, hari itu Bianca kembali pergi ke tempat kost Lola bersama Arga. Sama seperti sebelumnya mereka membeli makanan dan minuman sebelum mereka sampai di tempat kos Lola.
Sesampainya disana sudah ada Daffa yang sedang mengobrol bersama Lola.
Setelah mempersiapkan semuanya, Lolapun mulai merekam video dirinya. Setelah Lola menyelesaikan rekamannya, iapun segera meminta Daffa dan Bianca untuk memeriksanya.
"Bagus Lola, aku hanya perlu mengeditnya sekarang!" ucap Daffa.
"Apa kau yakin itu sudah bagus?" tanya Lola memastikan.
"Tentu saja, bagaimana menurutmu Bianca?" balas Daffa sekaligus bertanya pada Bianca.
"Aku setuju, bagaimana menurutmu Arga?" balas Bianca lalu bertanya pada Arga.
"Terserah kalian saja," balas Arga.
"Oke baiklah, sekarang tinggal mengerjakan voice over-nya saja setelah itu serahkan semuanya padaku!" ucap Daffa.
"Setelah video ini terunggah kau bisa merekam video lainnya sesuai keinginanmu Lola, bukankah itu yang kau inginkan dari dulu?" ucap Bianca sekaligus bertanya pada Lola.
"Aku memang ingin melakukannya tapi bukankah kau tahu kendalaku!" balas Lola.
"Aaahh iya, kamera!" ucap Bianca.
"Kau bisa menggunakan kamera ini jika kau mau, aku akan meninggalkan semua ini disini dan kau bebas menggunakannya semaumu," sahut Daffa.
"Apa kau memberikan semua ini pada Lola?" tanya Bianca pada Daffa.
"Tidak, aku tidak akan menerimanya jika kau memberikannya padaku, semua ini terlalu mahal untuk aku terima," sahut Lola.
__ADS_1
"Kalau begitu kau bisa meminjamnya, kau bisa mengembalikan padaku kapanpun kau mau," ucap Daffa.
"Benarkah? apa kau tidak akan menggunakan semua peralatan ini dalam waktu dekat?" tanya Lola pada Daffa.
"Tidak, gunakan saja semaumu," jawab Daffa.
"Aaahh tapi ada satu lagi kendalaku," ucap Lola.
"Apa itu? aku akan membantu jika aku bisa," tanya Daffa.
"Aku belum terlalu mahir mengedit video, aku hanya bisa melakukan hal-hal dasarnya saja," jawab Lola.
"Jangan khawatir, aku bisa membantumu," ucap Daffa.
Lola kemudian membawa pandangannya pada Bianca yang hanya dibalas senyum oleh Bianca.
Lola tidak mengerti kenapa Daffa begitu baik padanya. Dalam hatinya dia memang mengagumi ketampanan laki-laki di hadapannya itu tetapi setelah dia tahu bagaimana sikap Daffa pada perempuan membuat Lola berusaha untuk bisa menjaga dirinya agar tidak terjatuh pada laki-laki seperti Daffa.
"Bagaimana jika kita ke bioskop setelah ini?" tanya Arga dengan membawa pandangannya pada Bianca, Lola dan Daffa.
"Setuju, bagaimana dengan kalian?" balas Bianca sambil bertanya pada Lola dan Daffa.
"Aku setuju saja asalkan Lola juga setuju," jawab Daffa.
"Kenapa begitu?" tanya Lola.
"Aku tidak mau menjadi nyamuk di antara mereka berdua Lola, kau mengerti maksudku bukan?" balas Daffa.
"Aaahh iya, oke baiklah aku juga setuju," ucap Lola.
Arga, Bianca, Daffa dan Lola kemudian keluar dari kamar kost Lola, mereka sudah bersepakat untuk menggunakan mobil Arga.
Arga mengendarai mobilnya ke arah mall yang berada tidak begitu jauh dari tempat kost Lola. Sesampainya disana merekapun segera membawa langkah ke arah bioskop yang berada di dalam mall itu.
"Kalian saja yang memilih filmnya, aku dan Arga akan membeli popcorn dan minuman," ucap Bianca pada Lola dan Daffa.
"Baiklah," balas Lola.
Setelah beberapa lama mengantri akhirnya Lola dan Daffa mendapatkan tiket mereka. Mereka memutuskan untuk menonton film romantis dengan harapan Bianca dan Arga akan terbawa suasana dengan film yang akan mereka tonton.
Setelah beberapa lama menunggu merekapun masuk lalu duduk pada kursi yang tertera pada tiket milik mereka.
Bianca dan Lola duduk bersampingan sedangkan Arga duduk di samping Bianca dan Daffa duduk di samping Lola.
"Kenapa harus film seperti ini yang mereka pilih?" gerutu Arga pelan.
"Sssstt... diamlah, nikmati saja filmnya," ucap Bianca.
Satu jam telah berlalu, Arga dan Bianca hanya diam menatap layar besar di hadapan mereka.
Dalam hati mereka sebenarnya bosan dengan film yang mereka tonton saat itu, karena sebenarnya Bianca tidak menyukai film dengan genre romantis, begitu juga dengan Arga.
Setelah film selesai, merekapun keluar dari bioskop dan membawa langkah mereka ke arah foodcourt.
"Kau mau es krim?" tanya Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Arga kemudian berjalan ke arah salah satu stand ice cream lalu memesan 4 es krim dan memberikannya pada Bianca, Lola juga Daffa.
"Setelah ini kita kemana?" tanya Bianca sambil menjilat es krim miliknya.
"Temanku sedang mengadakan opening cafe barunya, bagaimana jika kita datang kesana?" balas Arga sambil mengusap lelehan es krim yang ada di sudut bibir Bianca.
Untuk beberapa saat Bianca terdiam, sedangkan Lola segera membawa pandangannya pada Daffa dengan menahan senyumnya melihat apa yang Arga lakukan pada Bianca.
"Bagaimana? apa kalian setuju?" tanya Arga membuyarkan lamunan Bianca.
"Aku setuju," jawab Bianca.
"Sepertinya aku dan Lola masih ingin berada disini, kalian bisa pergi aku dan Lola akan pulang dengan menggunakan taksi," ucap Daffa.
"Kalau begitu aku juga tidak akan pergi," ucap Bianca.
"Pergilah Bianca, aku bisa pulang bersama Daffa nanti," ucap Lola.
"Aku tidak akan memaksamu jika kau tetap ingin berada di sini tetapi...... sepertinya mereka hanya ingin berdua," ucap Arga pada Bianca dengan memelankan suaranya di akhir kalimatnya.
"Aaaahhh begitu, baiklah.... aku dan Arga pergi dulu, jaga dirimu baik-baik Lola," ucap Bianca pada Lola.
Bianca dan Arga kemudian berjalan meninggalkan Lola dan Daffa. Bianca berpikir jika Lola dan Daffa memang ingin menghabiskan waktu mereka berdua.
Sedangkan di sisi lain Lola dan Daffa berpikir jika mereka harus membiarkan Bianca dan Arga menghabiskan waktu berdua agar Bianca dan Arga bisa saling mengenal dan lebih dekat satu sama lain.
__ADS_1