Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Dokter Baru Bianca


__ADS_3

Waktu berlalu, Arga dan Daffa baru saja meninggalkan restoran tempat mereka bertemu klien.


"Aku akan pergi ke rumah sakit untuk mengantar ponsel Bianca, kau bisa kembali dengan menggunakan taksi bukan?" Ucap Arga sekaligus bertanya pada Daffa.


"Aku ikut!" Balas Daffa.


"Ikut ke rumah sakit?" Tanya Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Daffa.


"Jangan, selesaikan dulu pekerjaanmu baru kau bisa meninggalkan kantor!" Ucap Arga lalu masuk ke dalam mobil.


Namun dengan cepat Daffa ikut masuk ke dalam mobil Arga.


"Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku jika kau tidak membebankan pekerjaanmu padaku!" Ucap Daffa.


"Kau pasti ingin ikut karena ingin bertemu dengan Lola bukan?" Tanya Arga menerka yang membuat Daffa terkekeh.


Arga hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit tempat Bianca di rawat.


Sesampainya di rumah sakit, Arga segera membawa langkahnya ke arah lorong ruangan VIP.


"Kau bilang tidak ada luka yang serius pada Bianca, tapi kau membuatnya berada di ruang VIP!" Ucap Daffa pelan namun masih jelas terdengar oleh Arga.


"Aku hanya tidak ingin banyak orang tahu jika Bianca berada disini, keadaanya yang kacau pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan!" Balas Arga.


"Apa om dan Tante tau keadaan Bianca?" Tanya Daffa.


"Tidak, hanya kau dan Lola yang tau tentang apa yang terjadi pada Bianca, aku tidak akan memaafkanmu jika mama atau papa tahu tentang hal itu!" Jawab Arga mengancam.


"Tenang saja, Tante Nadine sekarang sangat jarang menghubungiku, sejak kau menikah sepertinya Tante Nadine sudah tidak terlalu mengkhawatirkanmu!" Ucap Daffa.


"Baguslah kalau begitu," balas Arga sambil membuka pintu ruangan Bianca.


"Apa kau yakin ini ruangan Bianca?" Tanya Daffa yang melihat ruangan itu kosong.


"Tentu saja aku yakin, tidak mungkin keadaannya memburuk bukan?" Balas Arga yang terlihat mulai panik.


Arga kemudian masuk dan memanggil nama Bianca di depan toilet yang ada di ruangan itu, namun sama sekali tidak ada jawaban.


Arga bahkan membuka toilet itu dan tidak mendapati Bianca disana.


"Kemana dia? Apa dia dipindahkan ke ruang lain? Apa terjadi sesuatu padanya?" Tanya Arga sambil berjalan cepat keluar dari ruangan Bianca.


"Tenanglah Arga, mungkin dia...."


"Aku akan mencari dokter, kau tunggu saja disini!" Ucap Arga memotong ucapan Daffa lalu berlari meninggalkan Daffa.


Namun saat di persimpangan lorong, Arga terdiam dengan menghela nafasnya saat ia melihat Bianca bersama Lola.


"Kalian dari mana?" Tanya Arga dengan raut wajah dingin.


"Aku baru saja berjalan-jalan dengan Lola, aku....."


"Siapa yang memperbolehkanku keluar dari ruanganmu? Kau harus beristirahat Bianca!" Ucap Arga memotong ucapan Bianca sambil menggeser Lola yang sebelumnya mendorong kursi roda Bianca.


"Suster yang memperbolehkanku keluar, lagi pula aku tidak sendirian, aku bersama Lola," balas Bianca.


"Kau pulanglah, aku sendiri yang akan menjaga Bianca!" Ucap Arga pada Lola lalu segera mendorong kursi roda Bianca pergi, meninggalkan Lola begitu saja.


"Sepertinya dia memiliki masalah dengan emosinya!" Ucap Lola yang hanya diam menatap Bianca pergi bersama Arga.


"Dia seperti itu karena dia mengkhawatirkan Bianca!" Sahut Daffa.


"Mengkhawatirkan Bianca? Tidak mungkin!" Balas Lola kemudian berjalan pergi.


"Arga hampir saja menemui dokter karena dia berpikir jika Bianca dipindahkan ke ruangan lain karena terjadi sesuatu padanya," ucap Daffa.


"Dia pasti memiliki maksud lain kenapa dia mengkhawatirkan Bianca, bukankah temanmu itu laki laki yang sangat egois?" Balas Lola.


"Aku sangat mengenalnya, dia benar benar mengkhawatirkan Bianca sejak Bianca menghilang," ucap Daffa.


"Dia temanmu, tentu saja kau sangat membelanya, asal kau tau saja meskipun dia sangat kaya raya tetapi aku tidak takut untuk melawannya jika dia melakukan sesuatu yang buruk pada Bianca!" Ucap Lola kemudian mengentikan taksi dan masuk ke dalam taksi.


Namun tiba tiba Daffa ikut masuk dan memaksa Lola menggeser posisi duduknya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Lola.


"Aku hanya ingin memastikan kau pulang dengan selamat," jawab Daffa dengan senyumnya yang menggoda.


"Tidak perlu, terima kasih, pergilah!" Ucap Lola sambil mendorong Daffa agar keluar dari taksi.


"Maaf mbak, mas, jadi bagaimana ini? Saya tidak bisa berlama lama berhenti disini, takut kena tilang!" Tanya si supir taksi.


"Jalan saja pak," jawab Daffa yang membuat si supir taksi segera mengendarai taksinya meninggalkan rumah sakit.


Di sisi lain, Arga yang sudah sampai di dalam ruangan Bianca bermaksud untuk membantu Bianca beranjak dari kursi roda. Namun dengan cepat Bianca menepis tangan Arga sebelum Arga menyentuhnya.


"Aku hanya ingin membantumu!" Ucap Arga.


"Tidak perlu," balas Bianca lalu beranjak dari kursi roda kemudian duduk di ranjangnya.

__ADS_1


"Apa kau marah padaku?" Tanya Arga.


"Kenapa kau meminta Lola pergi?" Balas Bianca bertanya dengan kesal.


"Aku tidak suka dia mengajakmu keluar dari ruanganmu," jawab Arga.


"Aku yang memintanya untuk mengantarku keluar karena aku bosan disini," ucap Bianca.


"Tidak seharusnya kau keluar Bianca, bukan hanya karena harus beristirahat tapi juga karena bisa jadi akan ada orang yang melihat keadaanmu seperti ini lalu....."


"Aaahhhh.... Aku tau sekarang, kau marah karena kau takut jika akan ada yang melihatku seperti ini? Kau takut jika media akan memberitakan keadaanku yang seperti ini?"


Arga menghela nafasnya panjang kemudian mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan memberikannya pada Bianca.


"Untuk sementara kau harus tetap berada disini sampai kau benar benar sembuh, besok aku akan meminta Dokter spesialis kulit untuk membantumu menghilangkan bekas luka itu dengan cepat!" Ucap Arga lalu berjalan pergi begitu saja, keluar dari ruangan Bianca.


Bianca hanya terdiam menatap Arga yang sudah keluar dari ruangannya.


"Dia egois sekali!" ucap Bianca kemudian mengambil ponselnya yang baru saja Arga berikan padanya.


Bianca kemudian mengirim pesan pada Lola.


"Lola maaf atas sikap Arga padamu, apa kau sudah pulang sekarang?"


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, sebuah pesan balasan masuk dari Lola.


"Aku sudah dalam perjalanan pulang, besok aku akan datang lagi menemanimu!"


Bianca tersenyum senang, Lola memang sahabat terbaik yang selalu ada untuknya. Perkenalan tanpa di sengaja antara dirinya dan Lola berhasil membuat mereka berdua menjadi sahabat dekat.


Lola bahkan menceritakan semua masalah pribadinya pada Bianca, begitu juga Bianca yang selalu menceritakan apapun yang terjadi dalam hidupnya pada Lola.


Meskipun sama-sama menjalani kehidupan mereka dengan penuh keterbatasan tetapi mereka menjalani liku hidup mereka dengan bahagia.


Mereka saling berbagi air mata suka dan duka sejak mereka bersahabat. Bagi Bianca, Lola adalah bagian terbaik di hidupnya sejak kedua orang tuanya meninggal.


Begitu juga dengan Lola, baginya Bianca adalah bagian terbaik dalam hidupnya sejak masalah berat melemahkan dirinya. Bersama Bianca, Lola bisa menjalani kehidupannya dengan lebih baik.


**


Hari telah berganti, pagi itu seorang perempuan dengan pakaian dokter menghampiri Bianca di ruangannya.


Perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagai dokter spesialis kulit yang akan membantu Bianca untuk menghilangkan bekas luka yang ada di beberapa bagian tubuhnya dengan cepat.


Dokter itu kemudian memeriksa luka yang ada di tubuh Bianca lalu menuliskan sesuatu di buku catatan kecilnya.


"Baik dok, saya mengerti," balas Bianca.


"Saya akan mengambil beberapa obatnya terlebih dahulu," ucap Dokter kemudian berjalan keluar dari ruangan Bianca.


Tak lama kemudian Dokter itu kembali dengan membawa beberapa obat berbentuk krim dan beberapa lainnya berbentuk kapsul.


"Oleskan secara merata di setiap lukanya, jika lukanya sudah mengering, berhenti menggunakan obat ini dan gunakan obat yang ini, sedangkan obat kapsul ini harus selalu di konsumsi 2 kali sehari pagi dan malam," jelas Dokter sambil mengoleskan obat itu ke beberapa luka Bianca.


"Baik dok," balas Bianca.


"Saya akan rutin memeriksanya setiap hari sampai bekas lukanya benar benar menghilang, sekarang saya permisi," ucap Dokter kemudian berjalan keluar dari ruangan Bianca.


Tepat saat dokter itu keluar, Lola masuk ke ruangan Bianca.


"Selamat pagi Tuan Putri," ucap Lola sambil menaruh keranjang berisi buah buahan di meja yang ada di dekat ranjang Bianca.


"Selamat pagi pelayanku hahaha....."


"Hahaha....."


Mereka berdua tertawa dengan candaan ringan mereka. Saat Lola akan memeluk Bianca, seketika Bianca menjauh.


"Kenapa?" tanya Lola yang merasa Bianca menolak untuk ia peluk.


"Lihatlah, lukaku baru saja diberi obat," jawab Bianca sambil menunjukkan beberapa lukanya.


"Apa dokter tadi yang mengobatimu?" tanya Lola yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Sepertinya itu bukan dokter yang kemarin memeriksamu," ucap Lola.


"Arga meminta dokter spesialis kulit untuk membantuku menyembuhkan dan menghilangkan bekas lukaku," balas Bianca.


"Waaaahhhh sepertinya Arga memang benar benar menjagamu dengan baik Bianca, dia bahkan tidak ingin kau terluka sedikitpun," ucap Lola.


"Anggap saja aku adalah mainannya yang tidak boleh rusak sedikitpun," balas Bianca dengan menghela nafasnya.


"Jangan berkata seperti itu, kau bukan mainannya tapi bonekanya hahaha......"


Bianca hanya tersenyum tipis menanggapi candaan Lola. Dalam hatinya ia membenarkan apa yang Lola katakan.


"Kau benar Lola, aku memang hanya bonekanya, jika aku sudah tidak berguna lagi untuknya maka dia akan membuangku," ucap Bianca dalam hati.

__ADS_1


"Tapi dokter itu tadi sangat cantik dan masih muda, apa kau tidak takut jika dokter itu menggoda suamimu?" tanya Lola pada Bianca.


"Apa yang kau bicarakan Lola, jangan menyebut dia suamiku, menggelikan sekali rasanya, lagi pula aku sama sekali tidak peduli padanya," balas Bianca.


"Hmmm.... lupakan saja, apa kau mau apel? atau jeruk?" tanya Lola sambil memilih buah yang baru saja dibawanya.


"Apel saja," jawab Bianca.


Lola kemudian mengupas apel yang ada di meja kemudian memotongnya dan menyuapkannya pada Bianca.


"Hambar," ucap Bianca.


"Hidupmu yang hambar, apel ini sangat manis, aku membelinya dengan harga yang mahal!" balas Lola yang membuat Bianca terkekeh.


"Terima kasih karena kau sudi membelanjakan uangmu yang tidak seberapa itu untukku hehehe...." ucap Bianca.


"Apapun akan ku berikan padamu tuan putriku," balas Lola yang membuat mereka berdua terkekeh.


Tiba tiba pintu ruangan Bianca terbuka, membuat raut wajah Bianca dan Lola seketika berubah.


"Apa dokter Cindy sudah memeriksa lukamu?" tanya Arga pada Bianca.


"Sudah," jawab Bianca singkat.


Arga kemudian membawa pandangannya pada Lola yang duduk di samping ranjang Bianca.


"Kenapa? apa kau mau mengusirku lagi?" tanya Lola pada Arga.


"Tidak, kau bisa menemaninya disini asalkan jangan membawanya keluar dari ruangan ini!" jawab Arga.


"Apa kau tidak memikirkan psikis Bianca? dia sedang sakit dan kau mengurungnya disini, dia bisa stres dan dia...."


"Pergilah jika kau hanya membuat keributan disini!" ucap Arga memotong ucapan Lola.


"Arga stop, kau sudah keterlaluan!" sahut Bianca.


"Aku hanya ingin menjagamu dengan baik Bianca, aku melakukan apapun yang terbaik untukmu meskipun hubungan kita....."


Arga menghentikan ucapannya saat ia menyadari jika ada Lola di dalam ruangan itu.


"Terima kasih karena sudah menjagaku dengan baik, aku tau dan aku mengerti seperti apa peranku, tapi aku tidak suka jika kau memarahi temanku, sebaik apapun sikapmu padaku, Lola tetaplah yang terbaik dan paling mengerti aku, jadi aku harap kau bisa menjaga sikapmu di depan Lola," ucap Bianca.


"Aku harap kau tidak akan lupa apa yang sudah kita sepakati," ucap Arga kemudian berjalan keluar dari ruangan Bianca.


Bianca hanya menghela nafasnya, membiarkan Arga keluar dari ruangannya.


"Apa kau baik baik saja? apa seharusnya aku pergi saja?" tanya Lola mengkhawatirkan Bianca.


"Jangan pergi, aku membutuhkanmu disini!" balas Bianca.


"Baiklah," ucap Lola lalu kembali menyuapi Bianca dengan potongan apel yang sudah dikupasnya.


Waktupun berlalu, Lola berpamitan untuk pergi karena ia harus berangkat ke kampus. Kini Biancapun hanya berbaring sendirian di dalam ruangannya.


Bianca yang sudah beberapa lama berbaring, merasa jika dirinya harus pergi ke toilet. Bianca kemudian beranjak dari ranjangnya.


Dengan tertatih Bianca bejalan ke arah toilet yang berada di dekat pintu masuk. Saat akan masuk ke dalam toilet tanpa sengaja Bianca melihat Dokter Cindy sedang mengobrol bersama Arga di depan ruangannya.


Dari dalam ruangannya Bianca bisa melihat dengan jelas saat dokter Cindy meraih tangan Arga, namun dengan cepat Arga menepis tangan dokter Cindy.


Samar-samar Bianca bisa mendengar pembicaraan mereka saat Bianca mendekatkan dirinya di pintu masuk.


"Tolong jangan berlebihan, saya menghubungi dokter karena saya tau dokter Cindy adalah dokter spesialis kulit terbaik di rumah sakit ini!" ucap Arga.


"Jangan berbicara terlalu formal Arga, bagaimanapun juga kita dulu pernah dekat," balas Dokter Cindy.


"Dokter Cindy salah paham, apa yang terjadi dulu tidak seperti apa yang Dokter Cindy pikirkan," ucap Arga.


"Tapi Arga...."


"Maaf saya harus menemui istri saya, saya permisi!" ucap Arga kemudian mendorong pintu ruangan Bianca dan begitu terkejut saat melihat Bianca yang berdiri di belakang pintu.


Sama halnya dengan Arga, Bianca juga begitu terkejut karena tiba tiba pintu ruangannya terbuka.


"Aku..... aku ingin ke toilet," ucap Bianca.


"Selamat siang," sapa dokter Cindy yang baru saja masuk ke ruangan Bianca.


"Selamat siang dok," balas Bianca.


"Aku akan membantumu," ucap Arga lalu meraih tangan Bianca.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri," balas Bianca yang sedikit meronta.


"Kau belum bisa berjalan dengan baik Bee, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk jika kau ke toilet sendirian," ucap Arga.


"Bee?"


"Bee, lebahku yang sangat manis," ucap Arga dengan menepuk pelan kepala Bianca.

__ADS_1


"Ayo masuklah!" ucap Arga yang sedikit mendorong Bianca agar masuk ke dalam toilet.


Bianca yang masih terkejut dengan sikap Arga hanya bisa menurut, tanpa sadar ia sudah berada di dalam toilet, berdua bersama Arga.


__ADS_2