Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Semakin Dekat


__ADS_3

Arga segera membawa langkahnya menghampiri Bianca sebelum Bianca mengetahui keberadaan dirinya bersama Karina.


"Bee!" panggil Arga dengan melambaikan tangannya pada Bianca.


Bianca hanya tersenyum sambil memamerkan bingkisan makanan yang ia bawa.


Arga kemudian berlari kecil ke arah Bianca lalu memeluk Bianca, membuat Bianca seketika sedikit meronta namun Arga semakin erat memeluk Bianca.


"Kita sedang bermain peran, kau ingat bukan!" ucap Arga berbisik yang membuat Bianca hanya bisa menghela nafasnya dan membalas pelukan Arga.


"Apa yang kau bawa Bee? Kenapa kau datang tanpa mengabariku?" tanya Arga setelah ia melepaskan pelukannya pada Bianca.


"Aku kesini untuk membawakan makan siang untukmu, aku juga sudah mengirim pesan padamu, tapi sepertinya kau belum memeriksanya," jawab Bianca.


Arga kemudian memeriksa ponsel miliknya dan mendapati pesan Bianca yang memberitahu jika Bianca akan datang.


"Aahh iya aku belum sempat memeriksa ponselku setelah selesai meeting," ucap Arga beralasan.


Arga dan Bianca kemudian berjalan masuk ke ruangan Arga, sedangkan di sisi lain Karina hanya terdiam dengan emosi yang memenuhi dirinya saat ia melihat Arga dan Bianca dari kejauhan.


Di ruangan Arga, Arga menikmati makan siang yang dibawa oleh Bianca untuknya.


"Kedatanganku tidak mengganggumu bukan?" tanya Bianca memastikan.


"Tentu saja tidak, aku senang kau datang," jawab Arga sambil menepuk pelan kepala Bianca.


"Sepertinya akhir-akhir ini kau sangat memperhatikanku, apa mungkin kau sudah jatuh cinta padaku?" ucap Arga sekaligus bertanya dengan tersenyum tipis pada Bianca.


"Jangan mengatakan hal bodoh seperti itu, aku melakukan hal ini hanya karena aku tahu keadaanmu sedang tidak baik-baik saja," balas Bianca.


"Tidak bisakah kau terus seperti ini Bianca?" tanya Arga sambil mengunyah makanannya.


Bianca hanya terdiam mendengar pertanyaan Arga yang terdengar ambigu baginya.


"Apa maksud dari pertanyaannya itu? apa dia ingin aku selalu membawa makanan untuknya? atau dia ingin aku selalu memperhatikannya? kenapa kenapa dia menginginkan aku bersikap seperti itu?" batin Bianca bertanya dalam hati.


"Selama kita menjadi suami istri sepertinya kita sangat jarang terlihat bersama kecuali di saat-saat tertentu ketika aku mengajakmu untuk ikut bersamaku ke acara pertemuan, di hari-hari biasa kita sangat jarang terlihat bersama," ucap Arga.


"Apa kau takut orang-orang akan mencurigai hubungan kita?" tanya Bianca.


"Aku hanya ingin menunjukkan pada semua orang jika aku memiliki istri yang sangat peduli padaku, apa aku salah?" balas Arga.


Bianca hanya tersenyum tipis mendengar apa yang Arga katakan, lagi-lagi Arga hanya memikirkan tentang pendapat orang lain tentang hubungan mereka berdua.


"Seharusnya aku tidak perlu berpikir terlalu jauh karena Arga memang selalu memikirkan apa yang orang lain katakan tentang hubungan kita, semua yang dia inginkan dan semua yang dia lakukan padaku hanya untuk membuktikan pada orang lain bahwa kita adalah pasangan suami istri yang bahagia," ucap Bianca dalam hati.


Entah kenapa ada perasaan kecewa yang Bianca rasakan setelah ia mendengar apa yang Arga katakan, padahal ia tahu jika pernikahan mereka memang hanya sekedar sandiwara di depan semua orang.


"Aku tidak keberatan jika kau tidak setuju dengan apa yang aku katakan, yang penting kau tetap melakukan peranmu dengan baik dan akupun juga akan melakukan peranku dengan baik sebagai suamimu," ucap Arga.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Arga berdering, sebuah pesan masuk dari Karina.


"Aku tidak akan pergi, aku akan menunggumu disini."


Arga menghela nafasnya lalu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah telepon yang ada di meja kerjanya.


"Panggil satpam untuk mengusir orang asing yang ada di tangga darurat lantai 7 dan pastikan dia tidak akan pernah masuk ke kantor ini lagi!" ucap Arga pada sambungan telepon yang terhubung pada resepsionis.


Arga kemudian kembali duduk di samping Bianca dan menikmati makanan yang Bianca bawa untuknya.


"Ada apa Arga? apa ada masalah?" tanya Bianca khawatir.


"Sepertinya ada orang asing yang menyelinap di tangga darurat, tapi jangan khawatir satpam akan segera mengusirnya dan memastikannya untuk tidak akan kembali masuk ke kantor ini lagi," jawab Arga.


"Maafkan aku Karina, untuk saat ini aku harus fokus menyelesaikan masalah perusahaan," ucap Arga dalam hati.


"Apa mungkin dia ada hubungannya dengan pria yang membuat masalah padamu?" tanya Bianca.


"Sepertinya tidak, lupakan saja, apa kau sudah makan siang?" balas Arga sekaligus bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.


"Sudah, aku makan siang bersama Lola tadi," jawab Bianca.

__ADS_1


"Aaahh iya, sepertinya Lola sangat kesal karena kau meminta Daffa ke luar kota dengan tiba-tiba," lanjut Bianca.


"Kenapa dia kesal?" tanya Arga.


"Bukankah kau tau jika Lola dan Daffa sekarang semakin dekat? Lola pasti kesal karena tiba-tiba Daffa harus pergi jauh darinya," balas Bianca.


"Apa mereka sudah memiliki hubungan?" tanya Arga.


"Tentu saja belum, Lola tidak akan mudah membuka hatinya untuk Daffa, terlebih saat dia tau bagaimana kebiasaan Daffa dengan para perempuannya dulu," jawab Bianca.


"Tapi sepertinya Daffa sudah berubah, sepertinya dia bersungguh-sungguh dengan perasaannya pada Lola," ucap Arga.


"Dari mana kau tau?" tanya Bianca.


"Aku sangat mengenalnya Bianca, Daffa memang laki-laki yang bisa dengan mudah mendekati siapapun, tapi jika dia merasa perempuan itu tidak tertarik padanya maka dia tidak akan membuang waktu untuk berusaha mendapatkan perempuan itu karena Daffa akan dengan mudah mendapatkan perempuan yang lain," jelas Arga.


Bianca hanya terdiam mendengar ucapan Arga, karena ia tau bagaimana Daffa berusaha menunjukkan perasaannya pada Lola.


"Setelah Daffa mengenal Lola, untuk pertama kalinya aku melihat Daffa berusaha untuk mendapatkan perempuan yang dia inginkan, jika dia tidak bersungguh-sungguh dengan perasaannya pasti dia sudah menjauhi Lola seperti yang dia lakukan biasanya," ucap Arga.


"Tapi bisa jadi dia hanya penasaran dengan Lola yang dinilainya berbeda dari perempuan lainnya, setelah mendapatkan Lola dia akan mengabaikan Lola dan mencari perempuan lain yang dia sukai," balas Bianca.


"Bianca, Daffa tidak sejahat itu, kau terlalu berpikiran buruk tentang Daffa," ucap Arga.


"Dia temanmu, wajar jika kau membelanya," balas Bianca.


"Hahaha.... tidak begitu Bee, aku hanya mengatakan apa yang aku tau saja," ucap Arga.


"Aku tau Daffa memang baik, terlepas dari sifat playboy-nya itu dia memang laki-laki yang menyenangkan, cukup menyenangkan sebagai teman, tidak sebagai masa depan," balas Bianca.


"Bagaimana dengan Lola? apa dia juga berpikir sama sepertimu?" tanya Arga.


"Entahlah, tapi yang pasti dia harus meyakinkan dirinya terlebih dahulu jika Daffa memang benar-benar tulus padanya, aku juga tidak akan membiarkan Daffa menyakiti Lola," jawab Bianca.


Arga mengela nafasnya lalu menyadarkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Hati seseorang memang tidak ada yang tau," ucap Bianca.


"Kau benar, bahkan terkadang kita sendiri ragu pada isi hati kita," balas Arga.


"Hati tidak pernah berbohong Arga, jika kau masih merasa ragu itu artinya kau tidak benar-benar mendengar isi hatimu dengan baik," ucap Bianca yang membuat Arga seketika membawa pandangannya pada Bianca.


"Iya, hati akan selalu membawamu pada jalan yang benar, tapi terkadang keraguan membuatmu menentang apa yang diinginkan oleh hatimu," jawab Bianca.


Arga menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum tipis. Selama ini ia sering merasa ragu atas apa yang ia lakukan pada Karina.


Hanya karena ia merasa tidak ingin Karina meninggalkannya, Arga melakukan banyak hal bodoh demi membuat Karina kembali padanya.


Ia tidak bisa berpikir dengan jernih, apakah yang ia lakukan itu sesuai dengan apa yang hatinya inginkan atau hanya sebatas ambisi yang harus ia penuhi.


"Bagaimana denganmu Arga? apa kau sudah bisa mendengar hatimu dengan baik?" tanya Bianca membuyarkan lamunan Arga.


"Entahlah, selama ini aku berpikir apa yang aku lakukan sudah benar dan sesuai dengan apa yang aku inginkan, tapi aku tidak tau apakah hatiku juga menginginkan hal yang sama atau tidak," jawab Arga.


"Bagaimana denganmu Bianca?" lanjut Arga bertanya dengan membawa pandangannya pada Bianca.


Bianca hanya tersenyum lalu beranjak dari duduknya.


"Lanjutkan pekerjaanmu, aku akan pulang," ucap Bianca yang tidak menjawab pertanyaan Arga.


Bianca kemudian berjalan ke arah pintu, namun dengan cepat Arga menahan tangan Bianca.


"Apa pernikahan kita adalah salah satu dari apa yang hatimu inginkan?" tanya Arga dengan menatap kedua mata Bianca.


Untuk beberapa saat Bianca hanya terdiam, tatapan mata Arga yang begitu dalam seolah menghipnotis dirinya saat itu.


"Bianca," panggil Arga dengan sedikit menggoyangkan tangan Bianca yang ia genggam


"Aaahh iya, tidak, maksudku.... aku harus pergi, aku sudah sangat lapar," ucap Bianca yang segera menarik tangannya dari Arga lalu keluar dari ruangan Arga dan berjalan cepat ke arah lift.


Di tempatnya, Arga masih berdiri membiarkan Bianca yang tiba-tiba pergi dengan ucapannya yang terdengar aneh di telinganya.


"Lapar? bukankah dia sudah makan siang bersama Lola?" tanya Arga pada dirinya sendiri.


Arga tersenyum tipis lalu membawa dirinya duduk di kursi kerjanya.

__ADS_1


"Sejak kapan dia jadi menggemaskan seperti itu," ucap Arga tanpa bisa menahan senyumnya.


Arga menghela nafasnya panjang, bersiap untuk kembali fokus dengan pekerjaannya.


**


Hari-hari telah berlalu, Arga semakin sibuk dengan pekerjaannya di kantor karena Daffa pergi ke luar negeri.


Sejak masalah perusahaan yang dihadapinya, Arga lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor daripada di rumah.


Hampir setiap hari Arga selalu pulang larut malam dan berangkat ke kantor lebih pagi, bahkan saat weekend ia menghabiskan waktunya di kantor.


Meskipun begitu, Bianca tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Alih-alih marah karena merasa diabaikan, Bianca justru banyak membantu pekerjaan Arga.


Melihat Arga yang selalu sibuk, Bianca semakin menunjukkan perhatiannya pada Arga. Tanpa sadar hal itu membuat Bianca dan Arga semakin dekat karena kekompakan mereka.


Tentu saja hal itu membuat Arga merasa begitu beruntung karena memiliki Bianca, meskipun hanya sebatas istri kontrak.


Baginya, keberadaan Bianca seperti angin segar yang menenangkan di tengah gurun masalah yang Arga hadapi.


Di tempat lain, Daffa juga melakukan pekerjaannya tanpa kenal lelah. Karena kesibukannya, Daffa bahkan jarang menghubungi Lola.


Sesekali Daffa mengirim pesan pada Lola, namun saat Lola membalasnya Daffa akan membalasnya di hari lain.


Bukan karena Daffa yang tidak peduli pada Lola, tetapi karena pekerjaan yang mengharuskannya untuk fokus dan mengabaikan hal lainnya agar ia bisa segera menyelesaikan semuanya sesuai rencana lalu pulang dan menemui Lola.


Di sisi lain, Lola sudah mulai sibuk dengan pekerjaan kantornya. Ia sengaja menyibukkan dirinya karena kepergian Daffa yang tiba-tiba dan jarang memberi kabar padanya.


Lola berusaha mengabaikan rasa kesalnya pada Daffa yang seolah menghilang tiba-tiba darinya, karena ia tau jika Daffa pergi untuk menyelesaikan masalah di tempatnya bekerja.


Meskipun ia belum membuka hatinya untuk Daffa, tapi tidak dapat dipungkiri jika ia sudah mulai nyaman dengan Daffa.


Perhatian dan kebaikan Daffa memberikan kebahagiaan yang sebelumnya belum pernah Lola rasakan.


Namun Lola tidak ingin jatuh terlalu dalam pada perasaan yang belum pasti itu, ia tidak ingin cinta pertamanya akan memberikan rasa sakit untuknya.


Entah apa yang akan terjadi di depan nanti, Lola hanya menjalaninya saja selama ia bahagia dengan Daffa meskipun tanpa status yang pasti.


Jam sudah menunjukkan pukul 6 petang, bersama langit jingga yang mulai menghiasi sore, Lola berjalan keluar dari kantor tempatnya bekerja.


Saat ia baru saja duduk di halte untuk menunggu bus, tiba-tiba seorang anak kecil datang menghampirinya lalu memberinya setangkai bunga mawar merah.


Lola tersenyum lalu menerima bunga itu, saat ia akan membayarnya anak kecil itu justru berlari pergi.


"Hei dek, uangnya belum!" ucap Lola yang segera beranjak dari duduknya dengan berteriak karena ia berpikir jika anak kecil itu adalah penjual bunga.


"Dia bukan penjual bunga," ucap seorang laki-laki yang berada tepat di belakang Lola, membuat Lola segera membalikkan badannya.


"Daffa!"


Daffa hanya tersenyum lalu memeluk Lola yang hanya terdiam membeku karena begitu terkejut saat itu.


Lola yang sadar dengan apa yang Daffa lakukan padanya segera melepaskan dirinya dari pelukan Daffa.


"Kau sudah pulang? kenapa tidak memberi kabar?" tanya Lola pada Daffa.


"Aku sengaja, untuk memberi kejutan padamu," jawab Daffa dengan tersenyum.


Lola menghela nafasnya lalu membawa dirinya kembali duduk.


"Apa kau tidak senang aku kembali?" tanya Daffa yang ikut duduk di samping Lola.


"Aku pikir kau sudah melupakanku karena bertemu perempuan cantik disana," balas Lola.


"Tidak mungkin aku melupakanmu, setiap hari aku bersemangat kesana kemari agar aku bisa segera pulang untuk bertemu denganmu," balas Daffa.


Lola hanya tersenyum tipis sambil mengalihkan pandangannya dari Daffa. Tak dapat dipungkiri, kedatangan Daffa saat itu memang membuatnya senang, bahkan sangat bahagia, namun ia tidak ingin terlalu menunjukkannya pada Daffa.


"Aku akan mengantarmu pulang, ayo!" ucap Daffa yang sudah berdiri sambil mengulurkan tangannya pada Lola.


Lola kemudian menerima uluran tangan Daffa dan berjalan mengikuti Daffa ke arah Daffa memarkirkan mobilnya.


"Kenapa barang-barang itu di mobilmu?" tanya Lola yang melihat banyak barang-barang di bangku belakang.


"Aaaahh itu, aku belum sempat pulang karena dari bandara aku segera kesini," jawab Daffa.

__ADS_1


"Kenapa? bukankah seharusnya kau pulang atau menemui Arga terlebih dahulu?"


"Sudah ku bilang bukan jika aku ingin segera pulang karena ingin menemuimu, bukan menemui Arga," balas Daffa dengan membawa senyumnya sekilas pada Lola.


__ADS_2