Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Balasan


__ADS_3

Hari telah berganti, Minggu yang cerah bagi Bianca yang baru saja bangun dari tidurnya yang nyenyak.


Dengan penuh senyum Bianca membuka tirai di kamarnya lalu membuka jendela kamarnya, membiarkan udara pagi masuk memenuhi kamarnya.


Bianca kemudian masuk ke kamar mandi, menghabiskan waktunya beberapa lama di dalam bathtub lalu keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian.


Bianca menyisir rambutnya di depan cermin besar di hadapannya lalu menyelipkan satu penjepit rambut yang pernah Arga berikan padanya saat mereka berada di pasar malam.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Suara ketukan pintu membuat Bianca segera membawa pandangannya ke arah pintu kamarnya.


"Bianca, apa kau masih tidur?" tanya Arga dari depan pintu kamar Bianca.


"Sebentar lagi aku keluar," jawab Bianca lalu merapikan pakaian dan rambutnya.


"Astaga apa yang aku lakukan? sepertinya aku terlalu berlebihan," ucap Bianca setelah ia menyadari apa yang ia lakukan.


Bianca kemudian berganti pakaian lalu mengikat rambutnya ke atas dan melepaskan penjepit rambut pemberian Arga.


"Aku tidak tahu apa yang membuatku sangat senang hari ini, sepertinya aku sudah benar-benar gila," ucap Bianca dengan menggelengkan kepalanya pelan lalu membuka pintu kamarnya.


"Kau wangi sekali," ucap Arga sambil mendekatkan hidungnya ke arah Bianca.


"Sepertinya hidupmu bermasalah," balas Bianca sambil menutup pintu kamarnya dan mendorong Arga menjauh darinya.


"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu," ucap Arga lalu berjalan ke arah meja makan bersama Bianca.


"Hanya untukku?" tanya Bianca setelah ia melihat banyak makanan di atas meja makan.


"Untuk kita berdua?" jawab Arga dengan tersenyum.


Biancapun ikut tersenyum lalu menikmati sarapannya bersama Arga. Setelah badai yang cukup besar menerjang, kini sudah tampak pelangi indah diantara Bianca dan Arga.


"Apa rencanamu hari ini Bianca?" tanya Arga setelah ia menyelesaikan sarapannya.


"Tidak ada," jawab Bianca dengan menggelengkan kepalanya.


"Apa kau mau ke pantai bersamaku?" tanya Arga.


"Boleh," jawab Bianca dengan menganggukkan kepalanya.


Arga dan Bianca kemudian mempersiapkan diri lalu meninggalkan rumah untuk pergi ke pantai.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di pantai. Karena hari itu cukup terik, mereka tidak bermain di tepi pantai dan memilih untuk menikmati es kelapa muda di gazebo dengan pemandangan pasir pantai yang tersapu ombak biru.


"Banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu Bianca," ucap Arga pada Bianca.


"Apa tentang kejadian kemarin?" tanya Bianca menerka yang dibalas anggukan kepala oleh Arga.


"Aku minta maaf jika sikapku sangat berlebihan beberapa hari kemarin, aku juga tidak tahu kenapa aku bersikap seperti itu, aku hanya..... merasa dibohongi dan hanya dimanfaatkan olehmu, tapi setelah aku pikir aku juga memanfaatkanmu karena aku menikah denganmu demi bisa melunasi hutang papa," ucap Bianca.


"Pernikahan kita memang berdasarkan kontrak yang sudah kita sepakati, kita menikah karena kepentingan kita masing-masing, tapi setelah aku sadar jika aku sudah jatuh cinta padamu aku tidak bisa melepaskanmu pergi Bianca," ucap Arga.


"Mungkin kau salah paham pada perasaanmu sendiri Arga, bagaimana mungkin bisa kau jatuh cinta padaku sedangkan kau belum menyelesaikan masa lalumu bersama Karina," balas Bianca.


"Aku sudah menyelesaikan semuanya Bianca, aku sudah merelakannya, aku sudah melepaskannya dan aku sudah melupakan semua tentangnya," ucap Arga.


"Tapi Karina belum, pada kenyataannya dia masih mengharapkanmu dan entah sampai kapan dia akan terus menjadi bayang-bayang dalam hidupmu," balas Bianca.


"Jika kau merasa terganggu dengan keberadaan Karina aku bisa membawamu pergi dari sini Bianca, kita bisa pergi sejauh mungkin yang kau mau asalkan aku bisa tetap bersamamu," ucap Arga sambil menggenggam tangan Bianca yang berada di hadapannya.


Bianca menggelengkan kepalanya pelan dengan menarik tangannya dari genggaman Arga.


"Pergi dari masalah bukanlah solusi yang tepat Arga, lagi pula aku masih menunggu kak Bara, kau tahu bukan sudah berapa lama aku menunggunya, jadi aku tidak mungkin melupakan kak Bara begitu saja," ucap Bianca.


Arga menghela nafasnya panjang dengan menganggukkan kepalanya pelan. Ia mengerti jika Bianca belum membuka hati untuknya karena masih ada Bara yang sampai detik itu masih menjadi satu-satunya laki-laki yang Bianca harapkan.

__ADS_1


"Bisakah kau menceritakan padaku tentang hubunganmu dengan Karina, Arga?" tanya Bianca yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Bianca.


"Aku sudah menceritakan semuanya padamu," jawab Arga.


"Ceritakan semuanya dari awal, aku ingin tahu bagaimana kau dulu sangat mencintai Karina," ucap Bianca.


"Menceritakan hal itu hanya akan membuatmu bersedih Bianca dan aku tidak ingin hal itu terjadi," ucap Arga.


"Keadaan emosionalku memang sangat kacau kemarin, tapi sekarang aku sudah baik-baik saja jadi aku akan mendengar semua cerita tentang masa lalumu," balas Bianca.


"Apa kau yakin?" tanya Arga ragu.


Bianca menganggukkan kepalanya penuh keyakinan sampai akhirnya Arga menceritakan pada Bianca tentang bagaimana ia dulu berhubungan dengan Karina.


Arga menceritakan bagaimana pertengkarannya dengan Karina yang sering terjadi karena kesibukannya dalam bekerja dan bagaimana Arga selalu memberikan barang-barang mewah untuk meluluhkan hati Karina.


Arga juga menceritakan bagaimana ia mengetahui perselingkuhan Karina dan dengan bodohnya ia masih berusaha mempertahankan Karina meskipun orang tuanya dan Daffa sama sekali tidak mendukung apa yang Arga lakukan saat itu.


"Bertemu denganmu malam itu adalah bagian dari takdir yang tidak akan pernah aku lupakan Bianca, setelah mengenalmu pelan-pelan aku mengerti bahwa selama ini aku sudah dibutakan oleh ambisiku sendiri," ucap Arga di akhir ceritanya.


"Tapi kau masih berhubungan dengannya bahkan setelah kita menikah, kau menikah denganku hanya agar orang tuamu berpikir jika kau sudah melupakan Karina dan kau bebas mendekati Karina kembali," balas Bianca.


"Aku memang sangat bodoh saat itu sampai akhirnya aku sadar jika aku sangat takut kehilanganmu, melihatmu terbaring di rumah sakit membuatku benar-benar takut, aku tidak tahu bagaimana hidupku jika kau akan benar-benar meninggalkanku saat itu," ucap Arga.


"Apa kau yakin dengan apa yang ada di hatimu saat ini Arga?" tanya Bianca.


"Sama sekali tidak ada yang membuatku ragu Bianca, aku menghabiskan setiap detik waktuku dengan harapan agar aku bisa tetap bersamamu," jawab Arga tanpa ragu.


"Tapi aku bukan siapa-siapa Arga, banyak perempuan lain yang jauh lebih baik daripada aku yang pastinya lebih pantas untuk menjadi pendamping hidupmu dan mungkin dia yang lebih mencintaimu," ucap Bianca.


"Aku tidak peduli dengan perempuan lain di luar sana, aku juga tidak peduli jika kau belum mencintaiku, aku akan tetap ada disampingmu dan aku akan terus berusaha untuk membuatmu selalu ada bersamaku," balas Arga.


"Kau benar-benar sangat keras kepala padahal kau tahu bagaimana selama ini aku menunggu kak Bara," ucap Bianca.


"Aku juga tidak peduli pada Bara, aku yakin dia tidak lebih baik daripada aku," balas Arga dengan senyum penuh percaya diri.


Laki-laki asing yang dia temuinya di suatu malam, tiba-tiba saja menjadi suaminya. Takdir membawanya menjalani pernikahan dengan laki-laki tampan yang nyaris sempurna bahkan waktu membuat laki-laki itu jatuh cinta padanya.


Meskipun Bianca merasakan keindahan dalam kehidupannya bersama Arga, tetapi masih ada keraguan dalam hatinya untuk bisa benar-benar menjadi bagian dari kehidupan Arga


Bagi Bianca hanya ada satu laki-laki yang ia harapkan kedatangannya, laki-laki yang bahkan sampai saat itu belum memberikan kepastian apapun padanya namun dengan bodohnya Bianca masih menunggunya.


Bara, laki-laki yang berada jauh di luar sana benar-benar sangat beruntung karena tanpa kepastian apapun yang dia berikan, Bianca masih setia menunggunya meskipun ada laki-laki sempurna yang ada di hadapan Bianca dengan segudang cinta yang siap untuk diberikan pada Bianca.


"Aku harap kau tidak terlalu mengharapkan apapun dariku Arga, semua yang terjadi di antara kita benar-benar di luar apa yang aku pikirkan," ucap Bianca pada Arga.


"Aku akan selalu mengharapkanmu untuk bisa menjadi milikku seutuhnya tanpa ada kontrak kesepakatan apapun diantara kita, tapi aku tidak akan memaksamu, aku akan membiarkanmu memilih sesuai dengan apa yang hatimu inginkan karena aku yakin hatimu pasti memilihku," balas Arga.


"Jangan terbebani dengan apa yang sudah aku katakan padamu Bianca, aku sudah tidak ingin ada lagi kebohongan ataupun hal lain yang aku sembunyikan darimu, itu kenapa aku memberitahumu tentang apa yang aku rasakan padamu," lanjut Arga.


"Aku hanya bisa menjalani apa yang ada di hadapanku saat ini, setelah kontrak kesepakatan kita selesai hubungan kita juga akan benar-benar selesai Arga," ucap Bianca.


"Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti," balas Arga dengan penuh senyum.


Saat matahari semakin terik, Arga memutuskan untuk meninggalkan pantai bersama Bianca.


Arga mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya bersama Bianca yang duduk di sampingnya.


Sesampainya di rumah Bianca segera berjalan ke dapur untuk mengambil minuman dan beberapa buah lalu membawanya ke ruang tengah.


"Hari ini benar-benar sangat cerah, langit terlihat sangat biru dan matahari bersinar sangat terik," ucap Bianca sambil menyalakan televisi yang ada di hadapannya.


"Apa seharusnya kita pergi ke daerah pegunungan untuk mencari cuaca yang sejuk?" tanya Arga sambil membawa langkahnya untuk duduk di samping Bianca.


"Lain kali saja, aku terlalu malas untuk pergi keluar rumah, aku hanya ingin bersantai di rumah sekarang," jawab Bianca sambil mengupas apel yang ada di hadapannya.


"Oke baiklah," balas Arga lalu mengambil remote TV untuk mengubah saluran TV.

__ADS_1


"Baru saja terjadi kecelakaan tunggal di ruas jalan utama, di duga pengendara mobil dengan plat nomor XXXXXX mengendarai mobilnya dalam keadaan mabuk, namun saat diperiksa polisi, terdapat beberapa jenis narkoba yang ada di dalam mobil tersebut, berikut berita selengkapnya."


Arga terdiam saat layar televisi menampilkan sebuah mobil dengan plat nomor yang sangat Arga kenal.


Tak lama kemudian terlihat seorang laki-laki dan perempuan yang digelandang keluar dari mobil polisi untuk dibawa masuk ke kantor polisi.


Arga dan Bianca seketika saling pandang saat mereka mengenal siapa yang ada pada layar televisi saat itu.


"Tidak mungkin dia menggunakan narkoba bukan?" tanya Bianca pada Arga.


"Aku tidak tahu Bianca," jawab Arga dengan menggelengkan kepalanya.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Arga berdering, sebuah panggilan masuk dari Daffa.


"Halo Daffa, ada apa?" tanya Arga setelah ia menerima panggilan Daffa.


"Apa kau sudah tahu apa yang terjadi pada Karina dan tunangannya?" balas Daffa bertanya.


"Iya aku baru saja melihatnya di televisi," jawab Arga.


"Sepertinya sekarang aku tahu kenapa Karina tidak bisa melepaskan Bian, padahal kita tahu bagaimana Bian selalu memperlakukan Karina dengan kasar," ucap Daffa.


"Jadi apa mungkin hal itu yang membuatnya pergi ke klinik psikiatri? dia menemui psikiater bukan karena hubungannya denganku tetapi karena masalahnya dengan Bian dan narkoba!"


"Kau benar sekali pasti karena hal itu," balas Daffa menyetujui ucapan Arga.


Bianca yang mendengar apa yang Arga katakan hanya terdiam menatap layar televisi di hadapannya.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang Arga?" tanya Bianca pada Arga setelah Arga mengakhiri panggilannya dengan Daffa.


"Aku tidak akan melakukan apapun, justru aku senang jika dia mendapatkan balasan atas apa yang sudah dia lakukan," jawab Arga.


"Bagaimana jika dia benar-benar menggunakan obat-obatan terlarang itu? apa kau tidak merasa kasihan padanya?" tanya Bianca.


"Untuk apa aku kasihan padanya Bianca? aku sudah melupakannya jadi aku tidak akan ikut campur tentang apapun yang terjadi padanya," balas Arga.


"Dia pasti mengalami banyak kesulitan selama ini," ucap Bianca dengan menghela nafasnya panjang.


"Jangan terlalu memikirkannya Bianca, biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau dan biarkan dia mendapatkan balasan atas apa yang sudah dia lakukan," ucap Arga.


**


Waktu berlalu, matahari terik sudah berganti dengan sinar terang sang bulan yang menghiasi gelap malam.


Bianca dan Arga yang baru saja menyelesaikan makan malam mereka mendapatkan kabar jika Karina dan Bian sudah ditetapkan sebagai pengguna obat-obatan terlarang yang ditemukan di mobil Bian.


Sesuai undang-undang yang berlaku mereka berdua harus mendekam di penjara karena obat-obatan terlarang yang mereka miliki dan sudah cukup lama mereka gunakan.


Karina mendapat hukuman 5 tahun penjara sedangkan Bian mendapat hukuman 10 tahun penjara sesuai dengan kesalahan yang sudah mereka perbuat.


"Dia pasti memiliki alasan kenapa dia menggunakan barang haram itu," ucap Bianca menyesali apa yang sudah Karina lakukan.


"Dari berita yang beredar Bian yang pertama kali mengenalkan barang itu pada Karina, mungkin karena hanya Bian yang bisa memberikannya barang itu jadi Karina memilih untuk tetap berhubungan dengan Bian meskipun Bian selalu memperlakukannya dengan kasar," balas Arga.


"Kasihan sekali Karina," ucap Bianca dengan menghela nafasnya.


"Kenapa kau kasihan pada perempuan jahat sepertinya Bianca? dia memang pantas mendapatkan balasannya!"


"Tidak bisakah kau membantunya Arga? mungkin kau bisa mengurangi hukuman untuknya," tanya Bianca.


"Kenapa aku harus mengurangi hukuman untuk Karina? justru aku akan membuat seseorang mendapatkan balasan atas apa yang sudah dia perbuat," ucap Arga dengan tersenyum tipis.


"Seseorang siapa maksudmu?" tanya Bianca penasaran.


"Kau akan tahu setelah seluruh media memberitakannya, aku pastikan dia akan menyesali apa yang sudah dia lakukan," jawab Arga dengan tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2