Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Di Kamar Arga


__ADS_3

Di bawah sinar terang bulan malam itu, Bianca duduk dengan menyandarkan kepalanya di bahu Arga.


Tak dapat dipungkiri kebersamaannya bersama Arga memang selalu membuatnya nyaman.


"Lebih baik kita pergi sekarang Bianca, angin malam tidak baik untukmu," ucap Arga sambil membelai rambut Bianca.


Bianca menganggukkan kepalanya pelan lalu beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan pantai bersama Arga.


Argapun mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah bersama Bianca yang duduk di sampingnya. Setelah beberapa lama dalam perjalanan merekapun sampai di rumah.


Sesampainya di rumah, Bianca segera masuk ke kamarnya, sedangkan Arga berjalan menaiki tangga untuk ke kamarnya di lantai 3.


Namun tiba-tiba terdengar suara teriakan Bianca dari dalam kamarnya, membuat Arga segera berbalik menuruni tangga dan berlari ke kamar Bianca.


Saat baru saja membuka pintu kamar Bianca, hanya gelap yang Arga lihat. Argapun segera menyalakan lampu di ponselnya dan mendapati Bianca yang meringkuk di lantai.


Arga segera membawa dirinya mendekat pada Bianca dan memeluknya.


"Tenanglah Bianca, semuanya baik-baik saja," ucap Arga berusaha menenangkan Bianca.


Bianca hanya diam dalam dekapan Arga. Saat tiba-tiba lampu kamarnya padam, Bianca seketika mengingat hal paling menyakitkan dalam hidupnya.


Memori kecelakaannya dulu masih terekam jelas dalam kepalanya, membuatnya ketakutan dan sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri.


Kedua tangan Bianca mencengkram dengan erat pakaian Arga bersama rasa takut yang masih ia rasakan saat itu.


"Tetap pejamkan matamu dan berdirilah Bianca, kita keluar dari kamar ini," ucap Arga pada Bianca.


Bianca hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, jangankan untuk berdiri, ia bahkan takut untuk hanya sekedar menggerakkan badannya.


"Ada aku disini Bianca, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu," ucap Arga berusaha meyakinkan Bianca.


"Aku.... takut... Arga...." ucap Bianca dengan suara bergetar.


Arga kemudian membuka lebar-lebar pintu kamar Bianca, membiarkan cahaya dari luar kamar Bianca masuk ke dalam kamar.


"Apa kau bisa merasakannya? ada cahaya yang masuk ke kamarmu," tanya Arga yang dibalas gelengan kepala oleh Bianca.


Bianca terlalu takut yang membuat kedua matanya tidak merespon cahaya yang masuk ke dalam kamarnya.


Arga kemudian melepaskan Bianca dari dekapannya, namun Bianca semakin erat mencengkeram pakaian Arga karena tidak ingin Arga melepaskan dirinya.

__ADS_1


"Jangan pergi Arga, jangan pergi!" ucap Bianca histeris.


"Aku tidak akan pergi asalkan kau mau berdiri sekarang," balas Arga.


Bianca hanya diam dengan tetap mencengkeram pakaian Arga.


"Percayalah padaku Bianca, kita harus berdiri agar bisa keluar dari kamar ini," ucap Arga.


"Aku.... takut," ucap Bianca dengan suaranya yang masih bergetar.


"Ada aku disini Bianca, kau aman bersamaku," balas Arga berusaha meyakinkan Bianca.


"Ayo berdirilah," lanjut Arga sambil membantu Bianca untuk berdiri.


Baru saja Bianca berdiri, Bianca tiba-tiba jatuh pingsan dalam dekapan Arga. Dengan sigap Arga mengangkat tubuh Bianca dan membawanya ke kamarnya.


Arga membaringkan Bianca di atas ranjangnya lalu mengambil tissue dan menghapus keringat yang membasahi wajah dan kedua tangan Bianca.


"Dia benar-benar ketakutan, sepertinya ini bukan masalah kecil," ucap Arga sambil memperhatikan Bianca yang masih terpejam di hadapannya.


Arga kemudian mengambil aromaterapi lalu mendekatkannya di hidung Bianca sampai Bianca mengerjap dan sadar dari pingsannya.


Saat Bianca baru membuka matanya, ia segera meraih tangan Arga dan mencengkeramnya dengan kuat.


"Kau ada di kamarku sekarang, kau bisa tidur disini malam ini," ucap Arga sambil menggenggam tangan Bianca.


Bianca menarik nafasnya dalam-dalam lalu dengan perlahan beranjak dari duduknya.


"Minumlah, ini akan menenangkanmu," ucap Arga sambil memberikan coklat hangat yang beberapa saat lalu bibi buatkan untuk Bianca.


Bianca meminum sedikit coklat hangat itu lalu mengembalikannya pada Arga.


"Beristirahatlah disini, aku akan mandi sebentar," ucap Arga lalu beranjak dari tepi ranjangnya, namun Bianca segera menahan tangan Arga.


"Apa lampu kamar ini tidak akan padam?" tanya Bianca khawatir.


"Sepertinya tidak, jika kau takut, kau bisa ikut masuk ke kamar mandi bersamaku," jawab Arga dengan tersenyum genit.


Seketika Bianca melepaskan tangan Arga darinya lalu mengalihkan pandangannya dari Arga.


"Kau aman disini, jangan khawatir," ucap Arga dengan tersenyum sambil menepuk pelan kepala Bianca lalu berjalan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Bianca hanya diam di atas ranjang Arga. Tiba-tiba ia teringat foto yang ada di dalam buku yang Arga simpan di laci. Ia kini bisa menerka foto siapa yang ada di dalam buku itu.


"Pasti foto Karina," ucap Bianca dalam hati.


Tak lama kemudian Arga keluar dari kamar mandi dengan mengenakan celana pendek dan kaos oblong dengan rambutnya yang basah.


Untuk beberapa saat Bianca terdiam, tak dapat dipungkiri ketampanan Arga memang tidak diragukan lagi.


"Sepertinya aku akan membuat semua lampu di rumah ini menyala dan padam otomatis setiap harinya, agar tidak ada masalah seperti ini lagi," ucap Arga sambil merapikan rambutnya di depan cermin.


"Maaf jika aku terlalu merepotkanmu, aku juga tidak tau kenapa aku sepengecut ini," ucap Bianca dengan membawa dirinya duduk di tepi ranjang Arga.


"Tidak ada yang merasa direpotkan olehmu Bianca dan apa yang terjadi padamu itu bukan karena kau pengecut, tapi karena trauma yang masih ada dalam dirimu," balas Arga sambil membawa dirinya duduk di samping Bianca.


"Kejadian itu sudah sangat lama, seharusnya aku sudah bisa melupakannya," ucap Bianca dengan menghela nafasnya.


"Apa kau mau kita bertemu psikiater?" tanya Arga memberi saran.


"Sepertinya tidak perlu, aku benci menceritakan masalahku pada orang lain," jawab Bianca.


"Tapi....."


"Tolong jangan memaksaku Arga," ucap Bianca memotong ucapan Arga.


"Baiklah jika itu yang kau mau," balas Arga.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu Arga," ucap Bianca tiba-tiba.


"Ada apa?"


"Aku pernah tidak sengaja melihat foto perempuan di dalam buku yang ada di laci ini, apa foto perempuan itu Karina?" tanya Bianca sambil menunjuk laci yang ada di dekat ranjang Arga.


"Kau benar, tapi aku sudah membuangnya, sudah tidak ada lagi Karina dalam hidupku, bahkan benda yang berhubungan dengannya pun sudah tidak ada disini," jawab Arga.


Tanpa sadar Bianca tersenyum mendengar jawaban Arga. Entah kenapa ia merasa senang dengan jawaban yang Arga katakan padanya.


"Sekarang hanya ada kau Bianca, aku hanya akan menjalani hidupku bersamamu," ucap Arga dengan menggenggam tangan Bianca.


"Bagaimana jika aku tidak mau?" tanya Bianca sambil menarik tangannya dari genggaman Arga.


"Kali ini aku akan memaksa," jawab Arga dengan tersenyum sambil menarik tangan Bianca dan menggenggamnya dengan erat.

__ADS_1


Arga menggenggam kedua tangan Bianca dengan satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain mengarah ke pinggang Bianca lalu menggelitik pinggang Bianca.


"Argaaa.... kau curang..... hentikan Arga..... stop.......!" teriak Bianca yang merasa geli dengan apa yang Arga lakukan di pinggangnya.


__ADS_2