Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Di Luar Batas


__ADS_3

Bianca masih berada di klub malam bersama Arga, karena efek alkohol yang ia minum, ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Bianca menari dengan bebas di tengah kerumunan bersama dengan Arga yang menjaganya di sampingnya.


Entah karena terlalu lelah menari atau karena efek alkohol itu yang membuat Bianca kehilangan keseimbangannya, membuatnya hampir saja terjatuh namun dengan cepat Arga menahannya.


"Lebih baik kita pulang sekarang Bianca, kau sudah sangat mabuk," ucap Arga sambil membawa Bianca keluar dari kerumunan orang-orang yang tengah menari.


Saat sudah keluar dari bar itu, Arga kemudian menghubungi sopir untuk mengendarai mobilnya karena ia tidak mungkin berkendara dalam keadaan mabuk.


Namun ternyata ia lupa memeriksa ponselnya yang saat itu sudah kehabisan daya.


"Aaahh sial, aku lupa memeriksa baterai ponselku sebelum berangkat," ucap Arga kesal.


"Apa kau membawa ponsel, Bianca?" tanya Arga pada Bianca


Bianca hanya menganggukkan kepalanya lalu memberikan tasnya pada Arga.


Argapun membuka tas Bianca dan mencari ponsel Bianca namun tidak menemukannya.


"Tidak ada ponselmu di dalam tas Bianca, apa kau lupa membawanya?" ucap Arga sekaligus bertanya.


Lagi-lagi Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan kedua matanya yang sudah tampak sayu karena terlalu mabuk.


"Baiklah kita harus menginap di hotel sekarang, karena aku tidak mungkin pulang dengan mengendarai mobil dalam keadaan mabuk," ucap Arga yang kembali dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Apa sekarang kau hanya bisa menganggukkan kepalamu?" tanya Arga dengan menahan tawanya.


"Aku juga bisa berjalan," jawab Bianca sambil membawa langkahnya berjalan meninggalkan Arga dengan langkah yang terseok-seok.


Arga kemudian menahan langkah Bianca, Arga lalu berjongkok di hadapan Bianca sambil menepuk punggungnya.


"Naiklah ke punggungku!" ucap Arga yang membuat Bianca segera menjatuhkan dirinya di punggung Arga lalu mengalungkan tangannya pada leher Arga.


Arga kemudian melanjutkan langkahnya dengan menggendong Bianca di punggungnya.


Arga menggendong Bianca menyusuri trotoar untuk pergi ke hotel yang berada tidak jauh dari klub itu.


Sepanjang perjalanan, banyak hal yang Bianca katakan dan Arga hanya bisa tertawa mendengar ocehan Bianca dengan sesekali menjawab pertanyaan Bianca yang sangat aneh.


"Bayangkan saja jika pohon-pohon ini bisa lari, apa mereka juga akan mencari tempat berteduh jika matahari sangat terik?" tanya Bianca sambil menunjuk pohon yang berjajar di trotoar.


"Tentu saja, mereka tidak akan ada di jalan raya jika mereka bisa lari," jawab Arga.


"Kau sangat bodoh sekali, bagaimana mungkin pohon bisa lari hahaha....." ucap Bianca dengan tertawa yang membuat Arga ikut menertawakan dirinya sendiri.


"Kau seperti papa," ucap Bianca dengan nafasnya yang cukup panjang.


"Kenapa? apa papamu sering melakukan hal ini padamu?" tanya Arga.


"Dulu papa sering menggendongku seperti ini, kita berlari dengan mama yang mengejarku dari belakang," jawab Bianca dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


"Kalau begitu bersiaplah, aku akan mengajakmu berlari dengan cepat," ucap Arga lalu segera berlari dengan menggendong Bianca di punggungnya.


Biancapun tertawa lepas dengan air mata yang membasahi pipinya. Apa yang Arga lakukan tiba-tiba saja membuatnya teringat pada orang tuanya.


Bianca merasa bahagia sekaligus bersedih malam itu, bahagia karena ia bisa merasakan apa yang pernah ia lakukan dengan orang tuanya dan bersedih karena ia begitu merindukan orang tuanya.


"Aaaaahhh sudah cukup, aku sangat lelah!" ucap Arga yang mulai memperlambat langkahnya.


"Yaaaahhh kau payah sekali, papa bisa berlari sangat jauh dengan menggendongku di punggungnya, tetapi kau baru saja berlari beberapa meter dan sudah lelah," balas Bianca dengan memukul bahu Arga.


"Aku memang tidak sekuat papamu Bianca, di dunia ini hanya akan ada satu orang yang menjadi papamu, aku tidak akan bisa menjadi sosok papamu, tetapi aku pastikan aku akan menjadi suami yang terbaik untukmu yang akan selalu membahagiakanmu seperti orang tuamu membahagiakanmu," ucap Arga.


"Apa kau sangat mencintaiku, Arga?" tanya Bianca dengan berbisik di telinga Arga.


"Tentu saja, apa kau juga mencintaiku?" balas Arga sekaligus bertanya.


"Mmmm.... mungkin, tapi aku takut mencintaimu Arga," jawab Bianca yang membuat Arga begitu terkejut.


"Kenapa kau takut mencintaiku Bianca? bukankah itu artinya kita sama-sama saling mencintai?" tanya Arga.


"Aku masih menunggu kak Bara walaupun aku tidak tahu kapan dia akan kembali," jawab Bianca.


Arga hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, jika boleh jujur mendengar nama Bara sebenarnya membuat Arga tidak suka.

__ADS_1


Setelah cukup lama menggendong Bianca, Arga akhirnya sampai di salah satu hotel. Setelah melakukan check in, Argapun menggendong Bianca masuk ke dalam kamar yang dipesannya.


Arga kemudian membaringkan Bianca di atas ranjang lalu menutup tubuh Bianca dengan selimut yang ada disana.


"Kau sangat tampan Arga, kau sangat sempurna untuk aku yang bukan siapa-siapa," ucap Bianca dengan membawa tangannya mengusap wajah Arga yang duduk di tepi ranjang.


"Kenapa kau selalu berkata seperti itu Bianca? jika kita sama-sama saling mencintai bukankah kita seharusnya menjalani hidup kita dengan bahagia?" tanya Arga.


"Aku tidak tahu seperti apa cinta yang kau maksud dan sepertinya aku bahkan tidak mengerti apa itu cinta," ucap Bianca.


"Cinta itu apa yang ada dalam hatimu Bianca," balas Arga sambil membawa tangan Bianca ke arah dada Bianca.


Bianca hanya terdiam tanpa mengatakan apapun. Arga kemudian melepaskan tangannya dari Bianca lalu beranjak dari ranjang, namun tiba-tiba Bianca beranjak dan segera menahan tangan Arga.


"Jangan pergi," ucap Bianca yang kini duduk di atas ranjang dengan menahan tangan Arga.


Arga tersenyum lalu kembali duduk di tepi ranjang dengan membelai pelan wajah Bianca.


"Aku tidak akan pergi Bianca, aku akan selalu ada disini untukmu," ucap Arga.


Bianca kemudian menggenggam tangan Arga yang ada di pipinya lalu memberikan kecupan singkatnya pada telapak tangan Arga yang dia genggam.


Arga yang terkejut dengan apa yang Bianca lakukan berusaha untuk mengendalikan dirinya, namun entah karena ia sudah terlalu mabuk atau karena ia menginginkannya, Arga kemudian mendekatkan dirinya pada Bianca.


"Aku mencintaimu Bianca," ucap Arga dengan menatap kedua mata Bianca.


"Apa aku juga boleh mencintaimu Arga?" tanya Bianca yang membalas tatapan mata Arga.


Arga menganggukan kepalanya lalu mendekatkan wajahnya pada Bianca. Mereka benar-benar sangat dekat saat itu, bahkan mereka bisa saling mendengar dan merasakan hembusan nafas satu sama lain.


Dengan penuh kelembutan Arga mendaratkan kecupannya di bibir Bianca, namun bukan kecupan singkat yang segera berakhir karena Bianca justru membalasnya dengan semakin dalam.


Bianca dan Arga sama-sama memejamkan mata mereka, membiarkan tautan mesra mengisi setiap detik waktu yang berjalan.


Arga kemudian memegang bahu Bianca lalu sedikit mendorongnya, membuat Bianca berbaring di atas ranjang dengan tautan keduanya yang masih terus berlanjut.


Tangan Arga yang berada di bahu Bianca dengan perlahan mulai bergeser ke bagian dada Bianca.


Satu kancing Bianca sudah terlepas sampai kancing yang kedua dan ketiga, namun sebelum melakukan hal yang lebih jauh, Arga segera tersadar dari apa yang dia lakukan.


Arga seketika menjauh dari Bianca dan dengan cepat kembali menutup kancing baju Bianca


"Kenapa tanganmu bergetar, Arga?" tanya Bianca dengan menggenggam tangan Arga yang sedang menutup kancing pakaiannya.


"Tidurlah Bianca," ucap Arga sambil menarik selimut dan menutup tubuh Bianca bahkan sampai kepala Bianca.


Arga kemudian segera berlari kecil ke arah kamar mandi, membasuh wajahnya berkali-kali berusaha untuk menghilangkan pikiran kotornya.


"Aku pasti sudah sangat mabuk, seharusnya aku tidak minum terlalu banyak tadi," ucap Arga sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Arga masih terdiam di depan wastafel, degup jantungnya berdetak tak beraturan bahkan kedua tangannya masih bergetar.


Tanpa Bianca tahu, Arga memang sudah merencanakan untuk mengajak Bianca pergi ke bar.


Arga sengaja membuat Bianca mabuk untuk melihat Bianca melakukan hal-hal konyol yang menurut Arga lucu dan menggemaskan, namun sama sekali tidak terpikirkan dalam kepalanya tentang apa yang baru saja terjadi.


Dalam hatinya ada rasa bahagia setelah apa yang dia lakukan dengan Bianca, namun ia juga merasa bersalah karena melakukan hal itu dalam keadaan Bianca yang mabuk.


"Semoga saja Bianca tidak mengingatnya, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya jika dia mengingat semuanya," ucap Arga dalam hati.


Sudah cukup lama Arga berada di dalam kamar mandi, ia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, berusaha untuk mengendalikan kegugupannya dan menghilangkan pikiran kotornya.


Setelah dirasa keadaannya sudah membaik, Arga kemudian membuka pintu kamar mandi dan begitu terkejut saat melihat Bianca yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Apa yang kau lakukan disini Bianca? kau membuatku terkejut!"


"Aku menunggumu," jawab Bianca lalu meraih kedua tangan Arga dan membawanya di pinggangnya.


Sedangkan Bianca membawa kedua tangannya melingkar di leher Arga.


"Aku ingin berdansa denganmu," ucap Bianca dengan tersenyum manis pada Arga.


Argapun membalas senyuman Bianca lalu membawa satu langkahnya ke kanan dan ke kiri, maju dan mundur untuk berdansa bersama Bianca.


Meskipun tanpa musik yang mengiringi pergerakan mereka berdua, tetapi mereka berdua bisa berdansa dengan cukup lama.

__ADS_1


Dunia seperti milik mereka berdua, meskipun tanpa ada kata yang terucap mereka bisa merasakan kebahagiaan yang memenuhi seluruh sudut hati mereka.


Sampai akhirnya Bianca menjatuhkan kepalanya di bahu Arga dan menghentikan langkahnya.


Dengan cepat Arga menahan tubuh Bianca sebelum Bianca pingsan dalam dekapannya. Arga kemudian mengangkat tubuh Bianca dan membaringkan Bianca di atas ranjang lalu kembali menutup tubuh Bianca dengan selimut tebal.


"Tidurlah yang nyenyak Bianca, aku harap kau melupakan apa yang sudah kita berdua lakukan disini malam ini," ucap Arga pada Bianca yang sudah memejamkan kedua matanya.


Detik jam berjalan seolah sangat lambat bagi Arga. Malam seperti tidak kunjung berakhir bagi Arga yang gelisah memikirkan tentang Bianca, karena ia takut jika Bianca mengingat tentang apa yang terjadi pada mereka berdua malam itu.


Akhirnya pagipun datang. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi saat Bianca baru saja mengerjapkan matanya.


Bianca mengusap kedua matanya dan begitu terkejut saat ia menyadari jika ia tidak sedang berada di kamarnya ataupun kamar Arga.


"Dimana aku sekarang?" tanya Bianca setelah ia beranjak dari tidurnya.


"Kepalaku pusing sekali," ucap Bianca sambil memijat keningnya yang terasa pusing.


Bianca kemudian beranjak dari ranjangnya dan membawa langkahnya ke arah Arga yang tertidur di sofa.


"Arga bangunlah!" ucap Bianca membangunkan Arga


Arga yang terkejutpun segera terbangun dari tidurnya.


"Ada apa Bianca?' tanya Arga yang baru saja bangun setelah satu jam yang lalu dia tertidur.


"Dimana kita sekarang? kenapa kita berada disini?" tanya Bianca sambil memijit keningnya.


"Apa kau merasa pusing?" tanya Arga tanpa menjawab pertanyaan Bianca.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan masih memijitnya.


"Kita ada di hotel sekarang, setelah dari bar kemarin aku tidak bisa mendapatkan sopir untuk mengantar kita pulang, jadi aku memutuskan untuk membawamu kesini," ucap Arga.


"Dari bar?" tanya Bianca sambil berusaha mengingat tentang apa yang terjadi semalam.


"Aaahhh aku baru ingat," ucap Bianca dengan mengernyitkan keningnya.


"Apa yang kau ingat Bianca?" tanya Arga dengan cepat, khawatir jika Bianca mengingat apa yang sudah mereka berdua lakukan.


"Kau mengajakku pergi ke bar dan memaksaku untuk minum, kau pasti sengaja membuatku mabuk bukan?" ucap Bianca sekaligus bertanya.


Arga hanya tersenyum canggung tanpa mengatakan apapun karena ia memang berniat untuk membuat Bianca mabuk, tetapi tidak berniat untuk melakukan hal yang kurang ajar pada Bianca.


"Apa aku melakukan hal yang konyol lagi? apa aku melakukan banyak hal yang memalukan?" tanya Bianca khawatir.


"Tidak, kau hanya menari bersama para pengunjung disana, kau juga menertawakan seseorang yang bertubuh besar dengan kepala yang kecil," jawab Arga dengan menahan tawanya.


"Astaga aku pasti sudah gila, kenapa kau membiarkan aku melakukan hal itu Arga?" ucap Bianca sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku memang ingin melihat banyak hal konyol yang kau lakukan saat kau mabuk, jadi aku membiarkanmu dan hanya berjaga disampingmu," balas Arga.


"Kau benar-benar menyebalkan!" ucap Bianca lalu membawa langkahnya ke arah kamar mandi.


Bianca membasuh wajahnya beberapa kali lalu mengeringkannya dengan handuk kemudian kembali keluar sambil merapikan rambutnya yang terlihat kacau.


"Sekarang sudah hampir jam 09.00, kau pasti sudah terlambat untuk berangkat ke kantor," ucap Bianca pada Arga.


"Aku akan libur hari ini, biarkan Daffa menyelesaikan semuanya, aku hanya ingin tidur di rumah sekarang," balas Arga.


Arga dan Bianca kemudian meninggalkan hotel dengan menggunakan taksi untuk pulang ke rumah.


"Bagaimana dengan mobilmu?" tanya Bianca pada Arga yang terpejam di dalam taksi.


"Akan ada yang mengambilnya dan mengantarnya ke rumah nanti," jawab Arga tanpa membuka matanya.


Arga benar-benar sangat mengantuk saat itu, karena ia hanya tertidur satu jam setelah pagi datang.


"Apa semalam kau juga sangat mabuk Arga?" tanya Bianca.


"Sepertinya begitu," jawab Arga yang masih dalam keadaan terpejam


"Kau...... tidak melakukan sesuatu padaku bukan?" tanya Bianca yang membuat Arga seketika membuka matanya.


"Kenapa kau menanyakan hal itu?" balas Arga bertanya.

__ADS_1


"Jika kita berdua sama-sama mabuk bukankah bisa saja terjadi sesuatu diantara kita tanpa kita sadari?" balas Bianca.


"Entahlah, aku tidak mengingatnya dengan pasti," ucap Arga lalu kembali memejamkan matanya, bukan karena ia mengantuk tetapi karena ia berusaha menyembunyikan kegugupannya.


__ADS_2