Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Ancaman Clara (2)


__ADS_3

Di tempat lain Daffa sedang mengendarai mobilnya ke arah tempat kost Lola. Saat ia baru saja sampai disana ia mendapati Lola yang baru saja keluar dari kamar kosnya.


Daffapun segera keluar dari mobilnya dan berlari kecil menghampiri Lola.


"Kebetulan sekali aku bertemu denganmu disini, karena aku tidak yakin kau akan membukakan pintu untukku!" ucap Daffa.


"Kenapa kau kesini?" tanya Lola.


"Aku kesini untuk mengajakmu pergi," jawab Daffa.


"Pergi? apa maksudmu?" tanya Lola tak mengerti.


"Sebenarnya aku juga tidak tahu kemana kita akan pergi karena Arga yang mengajakku pergi, dia juga memintaku untuk mengajakmu karena sepertinya Arga sedang merencanakan sesuatu bersama Bianca," jelas Daffa.


"Kenapa Bianca tidak memberitahuku?" tanya Lola sambil memeriksa ponselnya.


"Bisa jadi Arga sengaja memberikan kejutan untuk Bianca atau mungkin mereka ingin merayakan sesuatu dan memberikan kejutan pada kita," ucap Daffa.


"Sepertinya itu tidak mungkin," balas Lola sambil mengetik pesan yang akan ia kirim pada Bianca.


"Sudahlah ikut saja, aku....."


"Jangan pikir aku akan tertipu dengan ucapanmu Daffa!" ucap Lola memotong ucapan Daffa.


Daffa kemudian merebut ponsel dari tangan Lola dengan cepat dan berusaha meyakinkan Lola jika dia tidak bermaksud untuk berbohong pada Lola.


"Ayolah Lola jangan berpikiran buruk padaku, aku benar-benar mengajakmu karena Arga sendiri yang memintaku," ucap Daffa pada Lola.


"Untuk memastikannya aku akan menghubungi Bianca terlebih dahulu, jadi kembalikan ponselku!" balas Lola sambil berusaha merebut ponselnya dari tangan Daffa.


"Tidak semua hal yang terjadi pada Bianca kau mengetahuinya Lola, kau pasti tidak tahu bukan jika Daffa baru saja menyiapkan makan malam romantis untuk Bianca!"


Seketika Lola terdiam mendengar ucapan Daffa, dalam hatinya ia membenarkan ucapan Daffa jika ia memang sama sekali tidak mengetahui tentang makan malam romantis yang Daffa maksud.


"Bianca dan Arga baru saja makan malam romantis di salah satu restoran, Arga bahkan memberikan hadiah kalung yang sangat mewah pada Bianca, mereka juga berdansa dan....."


"Stop Daffa, kau pasti sedang mengarang cerita bukan?" tanya Lola memotong ucapan Daffa.


"Tentu saja tidak, jika kau tidak percaya kau bisa menanyakannya pada Bianca saat kalian bertemu nanti," jawab Daffa.


"Oke baiklah, kapan kita akan pergi?" ucap Lola sekaligus bertanya.


"Kau cepat sekali berubah pikiran ternyata, bersiap-siaplah aku akan menjemputmu satu jam dari sekarang!" ucap Daffa sambil mengembalikan ponsel milik Lola.


"Aku akan benar-benar menghajarmu jika kau berbohong padaku!" ucap Lola lalu berjalan pergi begitu saja.


"Kau mau kemana? aku bisa mengantarmu!" tanya Daffa sambil berlari kecil mengikuti Lola.


"Pergi sekarang juga atau aku mengurungkan niatku untuk ikut bersamamu!" ucap Lola dengan tegas, membuat Daffa menghentikan langkahnya seketika.


"Dia memang tidak mudah didekati, menyebalkan sekali tapi aku menyukainya hehehe..." ucap Dafa pelan lalu berjalan masuk ke mobilnya dan mengendarai mobilnya meninggalkan tempat kost Lola.


Di sisi lain Lola masih memikirkan ucapan Daffa padanya tentang makan malam romantis antara Bianca dan Arga.


"Kenapa Bianca tidak memberitahuku? apa jangan-jangan sudah terjadi sesuatu diantara mereka? apa mungkin Bianca sudah jatuh cinta pada Arga?" tanya Lola pada dirinya sendiri.


"Tidak mungkin, Bianca sangat tergila-gila pada kak Bara, tidak mungkin Bianca tiba-tiba berpaling begitu saja, aku sangat mengenalnya," ucap Lola dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


**


Waktupun berlalu, di tempat lain Bianca sedang menyisir rambutnya di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Ia menatap pantulan keseluruhan dirinya yang ada pada cermin di hadapannya.


"Aku seperti memiliki dua kepribadian sekarang, dengan pakaian seperti ini aku tidak bisa melakukan semua hal semauku, ada batas-batas yang tidak boleh aku langgar sebagai istri dari anak pengusaha terkaya disini," ucap Bianca sambil menyelipkan penjepit rambut di sisi kiri rambutnya.


Bianca menghela nafasnya panjang lalu menyunggingkan sebuah senyum di kedua sudut bibirnya.


"Semangat Bianca, anggap saja 2 tahun akan segera berlalu," ucap Bianca kemudian meraih tas kecil yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Bianca kembali mengamati pantulan dirinya yang ada di cermin. Gaun, sepatu dan tas mahal yang ia pakai sangat jauh berbeda dengan diri Bianca sendiri.


Ia bahkan hampir tidak mengenali dirinya sendiri dengan semua barang mahal yang melekat pada tubuhnya.

__ADS_1


Jika bukan untuk menjaga nama baik Arga dan keluarganya, jika bukan demi uang 50 miliar yang sudah Arga berikan padanya, Bianca tidak mungkin melakukan hal itu.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Suara ketukan pintu membuat Bianca terbangun dari lamunannya.


"Bianca, apa kau belum selesai?" tanya Arga dari depan pintu kamar Bianca.


Bianca menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya ia membuka pintu kamarnya dan mendapati Arga yang sudah berdiri di depan kamarnya.


Untuk beberapa saat mereka saling terdiam menatap satu sama lain dalam keheningan.


"Dia memang tampan, bahkan sangat tampan, dia nyaris sempurna sebagai laki-laki, tapi aku sangat tidak menyukai keegoisannya, keangkuhan dan kesombongannya," ucap Bianca dalam hati.


Sedangkan dalam hati Arga, ia masih mengagumi kecantikan Bianca yang selalu saja membuatnya terpana meskipun sudah beberapa kali ia melihatnya.


Tak dapat dipungkiri Bianca memang selalu terlihat cantik bahkan tanpa make up dan pakaian mahal sekalipun, tetapi itu tidak akan membuat Arga jatuh cinta karena baginya hanya satu perempuan yang berhak untuk memiliki hatinya.


Perempuan yang saat ini sudah bersama laki-laki lain yang pada kenyataannya masih ia harapkan kehadirannya.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Arga berdering, membuat Arga segera tersadar dari lamunannya, begitu juga dengan Bianca.


Arga kemudian memeriksa ponselnya dan mendapati pesan masuk dari Daffa.


"Aku sudah berangkat menjemput Lola, kau harus sampai disana sebelum aku sampai, jangan membuatku canggung!"


"Apa kau sudah siap?" tanya Arga pada Bianca setelah ia kembali menyimpan ponselnya.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Arga kemudian meraih tangan Bianca, berniat untuk menggandengnya namun dengan cepat Bianca menepis tangan Arga.


"Ini masih di rumah, aku tidak harus bermain peran saat di rumah bukan?" ucap Bianca sekaligus bertanya lalu berjalan mendahului Arga.


"Dia masih marah ternyata," ucap Arga pelan lalu berjalan mengikuti Bianca.


"Tersenyumlah Bianca, kau sama sekali tidak terlihat bahagia dengan raut wajahmu yang seperti itu!" ucap Arga pada Bianca saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Maafkan aku, aku....."


"Tidak perlu meminta maaf, ini adalah keputusan yang sudah aku ambil demi uang 50 miliar yang kau berikan untuk melunasi hutang papa," ucap Bianca memotong ucapan Arga dengan nada suara yang terdengar dingin.


Arga hanya menghela nafasnya dan memilih untuk diam, berharap Bianca bisa melakukan perannya dengan baik meskipun ia tengah kesal saat itu.


**


Setelah beberapa lama dalam perjalanan Argapun sampai di tempat tujuannya. Sebuah restoran mewah yang biasa dikunjungi oleh orang-orang kalangan atas.


"Makan malam lagi?" tanya Bianca saat ia menyadari jika Arga membawanya ke restoran.


Arga hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun lalu keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Bianca.


Arga kemudian menggandeng tangan Bianca, membawanya masuk ke dalam restoran.


"Selamat malam, selamat datang, atas nama siapa?" sambut salah satu pelayan sambil bertanya karena memang untuk makan di restoran itu harus melakukan reservasi terlebih dahulu.


"Clara Camilla," jawab Arga yang membuat Bianca begitu terkejut.


Namun Bianca memilih untuk menyimpan keterkejutannya saat itu.


"Mari silakan," ucap si pelayan sambil mengantarkan Arga ke arah meja yang sudah di reservasi oleh Clara.


Arga dan Biancapun duduk bersebelahan di tempat yang sudah di reservasi atas nama Clara, meskipun Clara belum datang saat itu.


"Kenapa Clara?" tanya Bianca pada Arga saat pelayan sudah meninggalkan mereka berdua dengan dua gelas minuman pembuka yang ada di meja.


"Sebenarnya Clara yang mengajakku untuk makan malam," jawab Arga.


"Lalu kenapa kau mengajakku kesini? apa kau sadar keberadaanku disini hanya akan membuat keributan nantinya?" tanya Bianca tak mengerti.


"Kau adalah istriku Bianca, semua orang tahu itu, jadi bukankah lebih aneh jika aku datang kesini berdua bersama Clara!" balas Arga.

__ADS_1


"Tapi Clara......"


"Arga, kenapa dia ada disini?" tanya Clara yang baru saja datang dan begitu terkejut melihat Arga bersama Bianca di tempat yang sudah dia pesan.


"Dia adalah istriku, apa ada yang salah jika aku mengajak istriku untuk ikut makan malam?" balas Arga.


"Tapi aku mengajakmu makan malam hanya untuk kita berdua Arga, kau....."


"Maafkan aku Clara, sepertinya aku sudah salah paham, kau tidak berkata jika kita hanya akan makan malam berdua, jadi aku sengaja mengajak Bianca," ucap Arga memotong ucapan Clara.


"Aku tahu kau tidak bodoh Arga, seharusnya kau tahu maksud dari ucapanku!" ucap Clara kesal.


"Aaahh iya, tidak hanya Bianca, aku juga meminta mereka datang," ucap Arga sambil membawa pandangannya ke arah pintu masuk, membuat Clara dan Bianca mengikuti arah pandang Arga dan begitu terkejut saat mereka melihat Daffa yang masuk ke dalam restoran bersama Lola.


"Kenapa mereka juga ada disini Arga? kau tidak mengundang mereka bukan?" tanya Clara pada Arga.


"Aku sengaja mengajak Daffa dan ternyata Daffa mengajak Lola, sepertinya ini akan menjadi makan malam yang sangat menyenangkan," jawab Arga dengan penuh senyum lalu meminta salah seorang pelayan untuk menyediakan kursi tambahan.


Setelah kursi tambahan datang, merekapun duduk bersama, Bianca, Arga, Clara, Daffa dan Lola.


"Waahhh ada acara apa ini? kenapa tiba-tiba kita berkumpul disini?" tanya Daffa dengan membawa pandangannya ke arah orang-orang di sekitarnya.


"Berterima kasihlah pada Clara, dia yang mengundang kita untuk makan malam," jawab Arga dengan membawa pandangannya pada Clara.


Clara hanya menghela nafasnya kesal, ia tidak menyangka jika Arga akan melakukan hal konyol semacam itu.


"Bianca, sepertinya kau belum menceritakan sesuatu padaku!" ucap Lola pada Bianca yang duduk di sampingnya.


"Menceritakan apa maksudmu?" balas Bianca bertanya.


"Tentang makan malam romantisme bersama Arga," jawab Lola yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga.


"Makan malam romantis?" tanya Clara memastikan apa yang ia dengar.


"Waaahh sepertinya kau juga belum tahu, Arga baru saja memberikan kejutan makan malam romantis untuk Bianca, Arga bahkan memberikan kalung yang istimewa untuk Bianca," sahut Daffa.


Clara kemudian membawa pandangannya pada Bianca dan memperhatikan kalung yang sedang Bianca kenakan saat itu.


Sebagai seorang artis sekaligus model Clara mengetahui banyak hal tentang fashion, terlebih tentang sesuatu yang berbau mahal dan mewah.


"Kalung itu....."


"Kau pasti tahu kalung itu bukan? kalung yang terbuat dari berlian putih dengan hiasan berlian merah yang berbentuk kelopak mawar, kau tahu ada berapa kalung yang sejenis itu? hanya ada 3 di dunia dan Bianca adalah salah satu pemiliknya," ucap Daffa yang sengaja memotong ucapan Clara.


"Waaahhhh kau benar-benar beruntung Bianca!" ucap Lola dengan bertepuk tangan kecil.


"Arga aku sangat mengenalmu, kau tidak mungkin membeli kalung imitasi, tetapi aku sangat tahu jika kalung itu sudah dimilki oleh orang-orang dari Amerika dan Eropa, mereka tidak mungkin menjualnya padamu bukan?" tanya Clara pada Arga.


Arga tersenyum tipis berusaha untuk menutupi kegugupannya karena ia sama sekali tidak mengetahui tentang asal-usul kalung yang Bianca kenakan saat itu, karena Daffalah yang menyiapkan kalung itu, bukan dirinya.


"Memang tidak mudah untuk mendapatkan kalung itu, tetapi aku bisa mendapatkannya untuk Bianca, jadi sekarang kau tahu bukan sebesar apa cintaku pada Bianca," balas Arga yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga.


Bianca tahu Arga memang sedang bermain peran sebagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya, tetapi apa yang Arga katakan itu terdengar sangat berlebihan bagi Bianca dan entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak begitu cepat setelah ia mendengar apa yang Arga katakan.


"Kau sangat berlebihan Arga, memberikan Bianca kalung semahal itu dan membiarkannya mengenakannya di tempat umum seperti ini, apa kau tidak takut jika akan ada orang lain yang akan mencuri kalung itu dari Bianca?" tanya Clara yang merasa iri dengan kalung yang Bianca pakai.


"Bagiku harga bukanlah sebuah masalah, harta yang hilang bisa dicari tetapi istri yang baik sepertinya tidak akan pernah aku temukan dari perempuan lain selain Bianca," jawab Arga yang membuat Clara semakin kesal.


Sedangkan Bianca hanya terdiam melihat Arga yang sedang bersandiwara dengan baik di hadapannya. Sama halnya dengan Bianca, Daffa dan Lolapun hanya diam melihat dan mendengar bagaimana Arga membalas kekesalan Clara.


"Aku harus ke toilet sebentar," ucap Clara yang segera beranjak dari duduknya dengan kesal lalu berjalan ke arah toilet.


Tetapi sebenarnya Clara tidak benar-benar berjalan ke arah toilet, ia berjalan ke arah taman kecil yang merupakan bagian dari restoran itu.


Di sisi lain, Arga yang masih duduk bersama Bianca, Daffa dan Lola segera memeriksa ponselnya saat ia mendengar ponselnya berdering.


"Temui aku di belakang sekarang juga jika kau tidak ingin aku memberi tahu mereka semua tentang foto itu!"


Arga menghela nafasnya lalu beranjak dari duduknya.


"Kau mau kemana?" tanya Bianca pada Arga.

__ADS_1


"Hanya sebentar," ucap Arga tanpa menjawab pertanyaan Bianca sambil menepuk pelan kepala Bianca kemudian berjalan pergi.


__ADS_2