
Lola masih terdiam setelah Daffa memberitahunya jika Daffa akan pergi ke luar negeri nanti malam.
Sejak Daffa membantunya untuk membuat video, Lola dan Daffa menjadi semakin dekat dan saling berkomunikasi dengan intens, terlebih setelah Lola kembali dari rumah orang tuanya.
Hubungan mereka yang semakin dekat membuat mereka berdua saling peduli satu sama lain meskipun belum ada status yang jelas dalam hubungan mereka berdua.
Meskipun begitu, Lola tidak dengan mudah membuka hatinya untuk Daffa yang dengan jelas menunjukkan perasaannya pada Lola, karena Lola masih meragukan keseriusan Daffa.
"Aku ingin ke toilet sebentar," ucap Lola lalu beranjak dari duduknya dan membawa langkahnya ke arah toilet.
Di toilet Lola hanya diam di depan wastafel. Setelah dia mencuci tangannya ia berusaha untuk mengendalikan rasa sedih yang tiba-tiba ia rasakan saat itu.
"Untuk apa aku bersedih? dia hanya pergi untuk sementara dan akan segera kembali," ucap Lola dalam hati lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan sebelum ia keluar dari toilet.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Daffa pada Lola yang sudah duduk di hadapannya.
Lola hanya menganggukan kepalanya lalu menyeruput minuman miliknya.
"Sebaiknya kita pulang sekarang, kau juga harus berkemas bukan!" ucap Lola.
"Kau benar, apa ada lagi yang ingin kau beli?" tanya Daffa yang dibalas gelengan kepala oleh Lola.
Daffa dan Lolapun meninggalkan kafe itu, Daffa kemudian mengendarai mobilnya ke arah tempat kos Lola.
Sesampainya di tempat kost Lola, Daffa menghentikan mobilnya namun ia segera menahan tangan Lola saat Lola akan membuka pintu mobilnya.
"Apa kau marah padaku?" tanya Daffa.
"Aku tidak mempunyai alasan apapun untuk marah padamu," jawab Lola.
"Tapi sepertinya kau sedang kesal, apa karena aku tiba-tiba pergi ke luar negeri dan baru memberitahumu?" tanya Daffa.
"Aku hanya sedikit terkejut saja," jawab Lola singkat.
"Maaf karena memberitahumu tiba-tiba seperti ini, karena memang ini keputusan yang tiba-tiba dari Arga," ucap Daffa.
"Iya aku mengerti," balas Lola dengan menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku pasti akan tetap menghubungimu saat aku berada di luar negeri, tapi mungkin tidak akan sesering saat aku disini karena banyak hal yang harus segera aku selesaikan agar aku bisa segera kembali," ucap Daffa.
"Tidak perlu sering menghubungiku, fokus saja dengan apa yang harus kau lakukan disana dan segera kembali," balas Lola.
"Apa kau akan merindukanku saat aku tidak ada disini?" tanya Daffa.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan jika aku merindukanmu dan ingin bertemu denganmu?" balas Lola bertanya dengan menatap kedua mata Daffa, membuat Daffa seketika terdiam dan gugup mendapat tatapan tajam dari Lola.
"Aku..... aku....."
"Aku tahu tidak ada yang bisa kau lakukan karena kau bekerja atas perintah Arga, aku mengerti dan akan berusaha untuk memahaminya," ucap Lola sambil membuka pintu mobil Daffa.
"Jangan lupa memberi kabar agar aku tahu jika kau baik-baik saja disana, selebihnya fokus saja dengan pekerjaanmu dan segera kembali karena aku menunggumu," ucap Lola dengan tersenyum lalu keluar dari mobil Daffa.
Seketika Daffa segera keluar dari mobilnya dan berlari kecil menghampiri Lola, Daffa menarik tangan Lola lalu memeluk Lola dengan erat.
"Tolong tepati kata-katamu untuk menungguku karena aku pasti segera kembali untukmu," ucap Daffa lalu melepaskan pelukannya dari Lola.
Lola hanya tersenyum tipis lalu melanjutkan langkahnya berjalan ke arah kamarnya, sedangkan Daffa masih berdiri di tempatnya sampai Lola masuk ke dalam kamarnya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam saat Arga masih sibuk dengan pekerjaannya di kantor.
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, membuat Arga begitu terkejut melihat siapa yang datang ke ruangannya.
Karina yang berada di pintu ruangan Arga hanya terdiam dengan kedua mata yang sudah sembab karena baru saja menangis.
Melihat hal itu, Arga segera beranjak dari duduknya dan membawa langkahnya menghampiri Karina lalu menutup pintu ruangannya.
"Apa yang terjadi padamu Karina? apa Bian menyakitimu?" tanya Arga sambil membawa Karina duduk di sofa.
"Maafkan aku Arga, aku tidak bisa berpikir dengan jernih sejak kemarin, banyak hal yang membuatku sangat stress akhir-akhir ini," ucap Karina dengan kedua matanya yang berkaca-kaca
"Apa itu karena Bian?" tanya Arga yang dibalas gelengan kepala oleh Karina.
__ADS_1
"Katakan padaku apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu Karina, tapi jika kau ingin aku pergi bersamamu aku minta maaf karena aku tidak bisa melakukan hal itu karena aku bertanggung jawab penuh pada perusahaan papa yang papa percayakan padaku."
"Apa yang aku lakukan kemarin memang hal yang bodoh, aku melakukannya tanpa berpikir panjang karena aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan," balas Karina.
"Sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini Karina? katakan padaku," tanya Arga.
Karina hanya diam dengan menundukkan kepalanya dan mulai terisak, Argapun menggeser posisi duduknya dan membawa Karina ke dalam dekapannya.
"Aku minta maaf jika aku sudah mengecewakanmu, jika ada hal lain yang kau butuhkan kau bisa memberitahuku, aku pasti akan membantumu," ucap Arga sambil membelai pelan rambut Karina.
"Kau pasti sangat sibuk sekarang, apa aku mengganggumu?" tanya Karina dengan membawa pandangannya menatap Arga.
Arga terdiam untuk beberapa saat, ia memang sedang sibuk saat itu tapi melihat Karina yang tampak kacau membuatnya tidak tega jika harus membuat Karina pergi begitu saja.
"Ada beberapa pekerjaan yang harus segera aku selesaikan, jika kau mau kau bisa menunggu disini setelah itu aku akan mengantarmu pulang," ucap Arga.
"Tidak bisakah kau menemaniku sebentar saja? Aku benar-benar sedang terpuruk saat ini," tanya Karina dengan pandangannya yang masih menatap Arga, berusaha untuk membuat Arga menuruti keinginannya.
"Karina, aku....."
"Aku baru saja menemui psikiater," ucap Karina memotong ucapan Arga sambil melepaskan dirinya dari dekapan Arga lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Lihatlah, aku harus mengkonsumsi obat-obatan ini setiap hari agar aku tidak menjadi gila seperti kemarin, aku mohon Arga aku benar-benar membutuhkanmu saat ini," ucap Karina memohon.
"Baiklah aku akan mengantarmu pulang sekarang," ucap Arga lalu beranjak dari duduknya dan merapikan meja kerjanya.
"Aku akan mengantarnya pulang dan menyelesaikan pekerjaanku di rumah, begitu lebih baik," ucap Arga dalam hati.
"Aku akan menunggumu di basement," ucap Karina yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum tipis oleh Arga.
Karina kemudian keluar dari ruangan Arga dan berjalan ke basement untuk menunggu Arga.
Setelah Arga merapikan meja kerjanya dan menyimpan hasil pekerjaannya, iapun segera meninggalkan ruangannya.
Di basement sudah ada Karina yang berdiri di dekat mobil Arga, mereka berduapun meninggalkan kantor, Arga mengendarai mobilnya ke arah rumah Karina.
Sesampainya di rumah Karina, Karina memaksa Arga untuk menemaninya di rumah.
"Bagaimana jika Bian tiba-tiba datang?" tanya Arga.
"Dia sedang marah padaku, dia tidak mungkin tiba-tiba datang," jawab Karina.
Arga terdiam untuk beberapa saat, memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan. Ia ingin menemani Karina yang tampak sedang tidak baik-baik saja saat itu, namun dalam hatinya ia ragu untuk melakukan hal itu.
"Sebenarnya aku mengantarmu pulang karena aku ingin segera menyelesaikan pekerjaanku di rumah, keadaan perusahaan sedang tidak baik-baik saja Karina, banyak hal yang harus aku kerjakan dan......"
"Dan kau mengabaikanku lagi? seperti itu?" tanya Karina memotong ucapan Arga.
Arga menghela nafasnya panjang, tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Karina saat itu.
"Dulu saat kita masih berhubungan kau selalu mementingkan pekerjaanmu dibandingkan aku dan sekarang setelah kita menjadi teman kaupun masih seperti itu, dulu atau sekarang kau tetap saja menjadi laki-laki yang selalu menyakitiku Arga," ucap Karina dengan air mata yang menggenang di kedua sudut matanya.
"Tidak bisakah sedikit saja kau memahami pekerjaanku Karina? papa mempercayakan perusahaannya padaku yang membuatku harus bertanggung jawab penuh atas kepercayaan papa padaku!"
"Lalu bagaimana denganku? kau selalu saja mengabaikanku bahkan di saat aku seperti ini, apa kau tidak memikirkanku?" balas Karina dengan keegoisannya.
Arga menghela nafasnya panjang lalu membawa pandangannya pada Karina yang sudah menangis saat itu.
"Jangan menangis di depanku Karina, kau membuatku semakin merasa bersalah padamu," ucap Arga dengan menghapus air mata di kedua pipi Karina.
"Aku akan menemanimu sampai kau tertidur," ucap Arga yang akhirnya luluh oleh air mata Karina.
Arga dan Karina kemudian keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah Karina.
"Aku akan membuatkan minum untukmu," ucap Karina yang akan berjalan masuk ke dapur, namun dicegah oleh Arga.
"Tidak perlu, minum obatmu sebelum kau tidur, aku akan menemanimu," ucap Arga.
Karina kemudian meminum obatnya lalu berjalan masuk ke kamarnya diikuti oleh Arga.
"Dulu kita pernah saling mencintai Arga, dulu aku pernah menjadi perempuan yang paling beruntung karena bisa memilikimu," ucap Karina saat ia sudah berbaring di atas ranjangnya.
Arga hanya diam dengan tersenyum canggung. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman berada di dalam kamar Karina saat itu.
__ADS_1
"Jika saja kau bisa sedikit saja memikirkanku dan lebih peduli padaku, mungkin kita akan lebih bahagia sekarang, mungkin aku yang akan menunggumu di rumahmu, menyiapkan keperluanmu dan....."
"Tidurlah Karina, jangan memikirkan apapun yang membuatmu terbebani dan segera selesaikan masalahmu dengan Bian, jika kau memang tidak bahagia dengannya akhiri saja hubunganmu dengannya," ucap Arga memotong ucapan Karina
"Aku tidak bisa mengakhirinya begitu saja, dia laki-laki yang sangat baik, dia yang ada untukku di saat kau mengabaikanku," balas Karina.
"Lalu apa yang sekarang dia lakukan padamu? bukankah dia sering memperlakukanmu dengan kasar? tapi kenapa kau masih bertahan dengannya?" tanya Arga.
"Itu hanya kemarahan sesaat yang terjadi karena kesalahanku sendiri, dia tidak akan marah padaku jika bukan karena aku yang bersalah," balas Karina.
"Baiklah terserah kau saja, kau yang paling tahu bagaimana yang terbaik untukmu Karina," ucap Arga dengan menghela nafasnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Arga berdering, sebuah panggilan masuk dari Bianca yang membuat Arga begitu terkejut.
Arga kemudian segera beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar Karina untuk menerima panggilan Bianca.
"Halo Bianca, ada apa?" tanya Arga setelah dia menerima panggilan Bianca.
"Aku berada di kantormu tetapi resepsionis bilang kau sudah pulang, apa kau sudah ada di rumah sekarang?" ucap Bianca sekaligus bertanya.
Seketika Arga terdiam, ia tidak menyangka jika Bianca akan tiba-tiba datang ke kantor di saat ia sedang berada di rumah Karina.
"Ada apa Arga?" tanya Karina yang tiba-tiba datang menghampiri Arga, membuat Arga semakin gugup dan segera menjauh dari Karina sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir, memberi kode pada Karina agar diam.
"Kau sedang bersama siapa disana? apa aku mengganggumu?" tanya Bianca yang mendengar suara Karina.
"Aku..... aku sedang bertemu dengan klien di luar kantor, sebentar lagi aku akan kembali ke kantor jadi tunggu aku disana," jawab Arga beralasan
"Baiklah aku akan menunggumu disini," ucap Bianca lalu mengakhiri panggilannya pada Arga.
Arga kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku dan membawa langkahnya menghampiri Karina yang berdiri tidak jauh darinya.
"Karina, aku harus pergi," ucap Arga pada Karina.
"Kenapa? bukankah kau akan menemaniku sampai aku tertidur?" tanya Karina dengan memegang lengan tangan Arga.
"Maafkan aku Karina, Bianca sedang berada di kantor sekarang, aku harus segera menemuinya agar dia tidak mencurigaiku," balas Arga sambil melepaskan tangan Karina darinya.
"Tapi....."
"Segeralah tidur dan jangan memikir apapun yang membuatmu terbebani, aku pergi dulu!" ucap Arga memotong ucapan Karina lalu segera berlari keluar dari rumah Karina.
Arga mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Karina untuk kembali ke kantor. Sesampainya di kantor Arga melihat Bianca yang duduk di lobby lalu segera menghampirinya.
"Kenapa kau menungguku disini Bee? kau bisa menungguku di ruanganku?" tanya Arga yang segera duduk di samping Bianca.
"Tidak ada siapapun di ruanganmu, aku juga tidak melihat Daffa disana, jadi aku memilih untuk menunggu disini," jawab Bianca.
"Apa yang membuatmu tiba-tiba kesini tanpa mengabariku? apa kau ingin memberikan kejutan padaku?" tanya Arga dengan membawa tangannya merangkul bahu Bianca.
"Jangan terlalu percaya diri," balas Bianca dengan suara yang sangat pelan.
"Aku memang orang yang sangat percaya diri," ucap Arga yang berbisik di telinga Bianca, membuat mereka berdua terlihat sangat dekat saat itu.
"Sebenarnya aku kesini membawa makan malam untukmu, tapi sepertinya kau baru saja makan malam bersama klienmu," ucap Bianca.
"Tidak, aku belum makan apapun malam ini," balas Arga.
"Benarkah? aku pikir kau baru saja bertemu klienmu sambil makan malam!"
Arga hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu membuka makanan yang Bianca bawa untuknya.
"Waaaahh sushi!" ucap Arga dengan mata berbinar melihat makanan kesukaannya.
"Aku membelinya di tempat langgananmu, Mama yang memberitahuku," ucap Bianca
"Kau memang yang terbaik sayang, terima kasih," ucap Arga sambil mengusap pelan rambut Bianca.
Bianca hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Entah kenapa tiba-tiba dadanya berdebar saat itu.
Di sisi lain, beberapa orang yang ada di lobbypun hanya saling melempar senyum melihat Arga dan Bianca yang tampak romantis di mata mereka.
__ADS_1