
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore saat Arga beranjak dari kursinya. Setelah membereskan semua pekerjaannya, Arga membawa langkahnya keluar dari ruangannya.
Tiba-tiba Arga menghentikan langkahnya, ia begitu terkejut melihat seorang perempuan yang dikenalnya berjalan dengan penuh senyum ke arahnya.
"Arga!" panggilnya sambil melambaikan tangan dengan penuh senyum pada Arga.
Arga hanya terdiam lalu segera meraih tangan perempuan itu dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.
"Apa yang kau lakukan disini Karina?" tanya Arga pada Karina.
"Kenapa kau terlihat gugup sekali Arga? aku kesini hanya untuk mengantarkan barangmu yang tertinggal di rumahku," balas Karina sambil memberikan sebuah pena pada Arga.
"Ini hanya pena Karina, kau tidak perlu mengantarkannya kesini," ucap Arga.
"Aku hanya ingin mengembalikan barang milikmu saja, kenapa kau berlebihan sekali?"
"Maafkan aku, aku hanya....."
"Tidak perlu minta maaf, ini kesalahanku karena kesini tanpa memberitahumu, mungkin sebaiknya aku tidak boleh lagi kesini," ucap Karina memotong ucapan Arga.
"Bukan begitu maksudku Karina, lupakan saja dan terima kasih sudah mengembalikan penaku," ucap Arga.
Karina hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum tipis, tetapi ia masih berdiri di tempatnya seolah tidak ingin cepat pergi dari hadapan Arga.
"Apa kau akan pulang ke rumahmu?" tanya Karina.
"Iya aku akan pulang, jika kau mau aku bisa mengantarmu pulang terlebih dahulu," jawab Arga.
"Apa kau tidak khawatir jika ada orang lain yang melihatmu bersamaku?" tanya Karina.
"Kau bisa menungguku di basement bukan? aku akan segera kesana setelah ini!"
"Baiklah aku akan menunggumu di basement," balas Karina dengan penuh senyum lalu berjalan keluar dari ruangan Arga.
Daffa yang baru saja kembali dari toilet menghentikan langkahnya saat ia melihat Karina yang baru saja keluar dari ruangan Arga.
Daffapun segera menahan tangan Karina, memperingatkan Karina agar tidak kembali datang menemui Arga.
"Apa kau tidak punya malu Karina? apa kau sudah tidak punya harga diri lagi?" tanya Daffa sambil menahan tangan Karina.
Karinapun segera menarik tangannya dari Daffa dan membalas Dafa dengan tatapannya yang tajam.
"Katakan apapun semua maumu aku tidak akan pernah peduli pada semua ucapanmu!" ucap Karina pada Daffa.
"Kau sudah memiliki tunangan dan Arga juga sudah memiliki istri, sebaiknya berhentilah menemui Arga jika kau memang perempuan yang masih memiliki harga diri!" ucap Dafa.
"Aku....."
Karina menghentikan ucapannya saat ia melihat Arga yang keluar dari ruangannya, ia kemudian membawa pandangannya pada Arga dengan tatapan memelas.
"Ucapan buruk apalagi yang kau katakan padanya Daffa?" tanya Arga pada Daffa.
"Kau akan menyesal karena selalu membelanya Arga, aku pastikan itu," balas Daffa lalu berjalan pergi begitu saja.
"Apa dia mengatakan sesuatu yang menyakitimu?" tanya Arga pada Karina.
"Seperti biasa, dia memang sangat membenciku," balas Karina.
"Jangan terlalu memikirkan ucapan Daffa, sekarang pergilah ke basement, aku akan segera menemuimu disana," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Karina.
Karina kemudian berjalan meninggalkan Arga, sedangkan Arga masih harus menyelesaikan beberapa hal lalu segera membawa langkahnya ke arah basement untuk menemui Karina.
Saat Arga sedang berjalan ke arah Karina, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tidak jauh dari tempat Karina berdiri.
Arga sangat mengenal mobil itu, membuat Arga segera mempercepat langkahnya ke arah Karina sebelum seseorang dari dalam mobil itu keluar untuk memaki Karina.
Namun terlambat, sebelum Arga datang seseorang dari dalam mobil itu sudah keluar.
"Apa yang kau lakukan disini? apa kau berniat untuk mengganggu Arga lagi?" tanya Nadine pada Karina yang berdiri di dekat mobil Arga.
"Tidak tante, Karina kesini hanya untuk mengembalikan barang Arga yang tertinggal," jawab Karina.
"Barang apa maksudmu dan kenapa barang Arga bisa tertinggal padamu?" tanya Nadine.
"Mama.... kenapa mama ada disini?" tanya Arga saat ia sudah berada di antara Karina dan sang mama.
__ADS_1
"Pertanyaan macam apa itu Arga, seharusnya Mama yang bertanya padanya, kenapa dia ada disini dan kenapa dia berdiri di samping mobilmu?" balas Nadine bertanya.
"Mama jangan salah paham, Karina hanya tidak sengaja berdiri disini, benar begitu bukan?" ucap Arga sekaligus bertanya dengan membawa pandangannya pada Karina.
Karina hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.
"Kalau begitu pergilah, tunggu apa lagi!' ucap Nadine pada Karina.
"Ada sesuatu yang ingin Karina bicarakan dengan Arga, tante," ucap Karina.
"Bicarakan saja disini, tante tidak akan membiarkanmu berdua dengan Arga," balas Nadine.
"Arga, apa kau yakin aku harus mengatakannya disini? di depan mamamu?" tanya Karina pada Arga.
"Sebaiknya Mama pergi saja, tidak akan ada apapun yang terjadi antara Arga dan Karina, tolong mama percayalah!" ucap Arga pada sang mama.
"Kau mengusir Mama karena dia?" tanya Nadine pada Arga.
"Bukan seperti itu maksud Arga ma, Arga...."
Arga menghentikan ucapannya dengan menghela nafasnya kasar, ia selalu dihadapkan pada pilihan yang sulit untuknya, antara sang mama dan Karina, gadis yang sangat dicintainya.
"Karina, lebih baik kau pulang sekarang, kita bicarakan apa yang mau kau katakan lain kali!" ucap Arga pada Karina.
"Tidak ada lain kali, kalian berdua tidak boleh bertemu seperti ini, kau adalah perempuan yang sudah memiliki tunangan Karina dan kaupun tahu jika Arga adalah laki-laki yang sudah memiliki istri, perempuan baik-baik tidak akan mau menemui laki-laki beristri diam-diam di belakang tunangannya," sahut Nadine.
Karina hanya tersenyum lalu membawa pandangannya pada Arga.
"Sepertinya aku harus pergi, terima kasih atas waktumu Arga, aku akan menghubungimu lagi!" ucap Karina pada Arga lalu berjalan pergi begitu saja.
Arga menghela nafasnya panjang melihat Karina yang berjalan menjauh darinya, ia terpaksa tidak bisa mengantarkan Karina pulang karena keberadaan sang mama.
"Mama akan ikut pulang bersamamu!' ucap Mama Arga lalu masuk ke dalam mobil Arga begitu saja.
"Apa Mama akan mengatakan hal ini pada Bianca?" tanya Arga pada sang Mama saat Arga sudah mengendarai mobilnya meninggalkan kantor.
"Tentu saja tidak, Mama tidak ingin Bianca merasa sakit hati karena kebodohanmu itu!" jawab Nadine.
"Kau harus ingat Arga, mama tidak akan memaafkanmu jika kau menyakiti Bianca, mama akan sangat marah padamu jika kau diam-diam berhubungan dengan Karina!" lanjut Nadine yang membuat Arga terdiam.
"Maafkan Arga ma, Arga sangat mencintai Karina dan tentang Bianca, sama sekali tidak ada cinta dalam pernikahan Arga dan Bianca," ucap Arga dalam hati.
**
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di rumahnya. Arga segera keluar dari mobilnya bersama sang mama.
"Dimana Bianca?" tanya Nadine pada Arga saat ia sudah memasuki rumah.
"Dia biasa menghabiskan waktu di ruang baca atau di balkon lantai 2, mama coba saja kesana," jawab Arga sambil membawa langkahnya menaiki lantai 3.
"Kau mau kemana Arga? kenapa ke lantai 3?" tanya Nadine yang melihat Arga berlari kecil ke lantai 3.
Seketika Arga menghentikan langkahnya, ia baru sadar jika ia hampir saja membuat sang Mama curiga.
"Arga.... harus mengerjakan beberapa pekerjaan di ruang kerja," jawab Arga beralasan.
"Kerjakan pekerjaanmu nanti, kau harus segera mandi dan menemui istrimu," ucap Nadine.
"Baiklah," balas Arga dengan menganggukkan kepalanya pelan lalu berlari kecil menuruni tangga.
"Kenapa aku bodoh sekali? aku hampir saja masuk ke kamar yang ada di lantai 3!" ucap Arga sambil membuka pintu kamar Bianca.
Di sisi lain Bianca yang baru saja selesai mandi sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan Arga masuk ke kamarnya begitu saja saat ia hanya terbungkus dengan handuk yang cukup untuk menutupi bagian dada dan pahanya.
Seketika Bianca berteriak kencang saat ia melihat Arga di dalam kamarnya.
"AAAAAAAAAAAAAA!!!!!" teriak Bianca sambil memegang erat-erat handuk yang menempel di tubuhnya.
Mendengar teriakan Bianca, Argapun segera mendekat ke arah Bianca dan mendekap mulut Bianca dengan tangannya.
Biancapun segera meronta dan menginjak dengan kuat-kuat salah satu kaki Arga.
"Aaarrggghhh Bianca......." ucap Arga merintih kesakitan dengan suara tertahan.
__ADS_1
Di sisi lain, Nadine yang mendengar suara teriakan Bianca segera membawa langkahnya ke arah kamar Bianca dan mengetuk pintu kamar Bianca.
"Bianca, apa kau ada di dalam? apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Nadine dari depan pintu kamar Bianca.
Belum selesai keterkejutan Bianca karena keberadaan Arga di kamarnya, Bianca begitu terkejut saat ia mendengar suara Mama Arga dari depan kamarnya.
"Mama!" ucap Bianca dengan membawa pandangannya pada Arga yang sedang memegangi kakinya yang terasa sakit.
"Cepat pakai pakaianmu, jangan membuat Mama berpikir yang tidak-tidak!" ucap Arga yang membuat Bianca segera mengambil pakaiannya lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mengenakan pakaiannya di dalam kamar mandi, Biancapun segera keluar dari kamar mandi dan mendapati Arga yang sudah duduk di tepi ranjangnya dengan masih memegangi kakinya yang terlihat memar.
"Sejak kapan Mama disini dan kenapa kau masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu?" tanya Bianca berbisik pada Arga.
"Aku bertemu mama di kantor dan mama meminta untuk ikut pulang bersamaku, bukankah terlihat sangat aneh jika aku mengetuk pintu kamar sebelum aku masuk? akan lebih aneh lagi jika mama melihatku masuk ke kamar yang ada di lantai 3 bukan?" balas Arga.
"Kau benar, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Bianca.
"Keluarlah, Mama pasti mengkhawatirkanmu, siapkan alasan apapun yang bisa meyakinkan mama karena teriakanmu tadi," jawab Arga.
Bianca menghela nafasnya tak bersemangat lalu segera mempersiapkan dirinya untuk menemui Mama Arga.
Bianca membuka pintu kamarnya dan mendapati Mama Arga yang masih berdiri di depan kamarnya dengan raut wajah khawatir.
"Ada apa Bianca? kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Nadine khawatir.
"Bianca hanya terkejut karena Arga menjahili Bianca ma," jawab Bianca beralasan.
"Aaaahhh begitu, mama pikir terjadi sesuatu padamu," ucap Nadine.
Bianca dan Nadine kemudian mengobrol di ruang tamu. Mereka membicarakan banyak hal, tentang resep masakan, tentang hobi Nadine yang mengoleksi bunga dan banyak hal lainnya.
"Jadi karena Arga sudah sangat lama tinggal di luar negeri, saat dia kembali Mama tidak ingin dia berada terlalu jauh dari mama, itu kenapa Mama tidak pernah mengizinkannya untuk melakukan pekerjaan di luar kota," ucap Nadine.
"Bagaimana jika ada pekerjaan yang mengharuskan Arga untuk ke luar kota ma? bukankah dia harus tetap pergi keluar kota?" tanya Bianca.
"Selama dia menjadi CEO di perusahaan masalah pekerjaan di luar kota selalu diselesaikan oleh Daffa," jawab Nadine.
"Apa Mama yakin jika Daffa yang selalu melakukannya?" tanya Bianca.
"Tentu saja Mama yakin, meskipun Arga adalah CEO di perusahaan tapi tetap papanyalah yang menjadi pimpinan, keputusan dan kegiatan apapun pasti akan melibatkan papanya, jadi Mama dan papa pasti tahu kapan dan siapa yang akan pergi ke luar kota untuk menyelesaikan masalah pekerjaan," jelas Nadine.
Mendengar ucapan Nadine, Bianca terdiam untuk beberapa saat. Ia memikirkan tentang kepergian Arga yang cukup lama.
"Jelas sekali jika Daffa tidak pergi ke luar kota, Daffa bahkan terlihat terkejut saat aku mengatakan bahwa Arga sedang berada di luar kota, tapi mama Nadine berkata jika Arga tidak mungkin pergi keluar kota untuk masalah pekerjaan, lalu kemana Arga pergi sebenarnya?" batin Bianca bertanya dalam hati.
"Ada apa Bianca? apa ada masalah?" tanya Nadine yang melihat Bianca tiba-tiba terdiam.
"Tidak ada ma," jawab Bianca dengan menggelengkan kepalanya pelan disertai senyum manisnya.
"Jika ada apapun yang mengganggu pikiranmu jangan ragu untuk mengatakannya pada mama, anggap mama dan papa seperti orang tuamu sendiri Bianca," ucap Nadine yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Bianca.
Setelah beberapa lama mengobrol, Nadine kemudian berpamitan pada Bianca untuk pulang.
Setelah kepergian Nadine, Bianca masih terduduk di ruang tamu dengan pandangan kosong. Di kepalanya penuh dengan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya Arga lakukan tanpa sepengetahuannya.
"Lola mengatakan jika selama beberapa hari Arga selalu pulang lebih cepat, itu artinya Arga tidak pergi ke luar kota, Lola tidak mungkin berbohong padaku dan Daffa juga tidak mungkin membohongi Lola tentang hal itu, tapi kenapa kenapa Arga berbohong padaku?" batin Bianca bertanya dalam hati.
"Apa Mama sudah pulang?" tanya Arga membuyarkan lamunan Bianca.
Bianca kemudian beranjak dari duduknya lalu membawa langkahnya mendekat ke arah Arga.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, aku harap kau bisa jujur padaku!" ucap Bianca pada Arga.
"Kenapa kau terlihat serius sekali? apa Mama mengatakan sesuatu padamu?" balas Arga.
"Ini bukan tentang mama, tapi tentangmu," ucap Bianca.
Seketika Arga terdiam dengan segala macam kemungkinan tentang apa yang akan Bianca tanyakan padanya.
Dalam hatinya ia tidak siap jika Bianca akan menanyakan tentang hubungannya dengan Karina.
Meskipun pernikahannya dengan Bianca hanya berdasarkan kontrak kesepakatan tetapi Arga tidak ingin membuat Bianca merasa dimanfaatkan olehnya.
Arga tidak ingin Bianca mengetahui masalah pribadinya yang sebenarnya.
__ADS_1