
Bianca masih terdiam, menikmati setiap detik degup jantung yang berdetak tak beraturan.
"Kau tau apa yang kau lakukan setelah itu?" tanya Arga yang dibalas gelengan dengan pelan oleh Bianca.
"Kau mengatakan jika aku sangat tampan," ucap Arga yang membuat Bianca segera melepaskan kedua tangan Arga dari pipinya.
"Hahaha...... memang itu yang kau katakan padaku Bianca, kau bilang kau sangat bersyukur karena memilikiku sebagai suamimu hahaha....."
"Tidak mungkin aku mengatakan hal konyol itu," balas Bianca yang segera menjatuhkan dirinya di sofa.
"Jadi..... apa benar kau sangat bersyukur karena memilikiku?" tanya Arga dengan membawa dirinya duduk di samping Bianca.
"Tidak, kau bahkan tidak ada dalam angan-anganku!" balas Bianca.
"Benarkah? sepertinya kau berbohong!"
"Pergilah ke tempatmu Arga, jangan menggangguku!" ucap Bianca sambil mendorong Arga dari sofa.
"Hahaha.... baiklah, suamimu yang tampan ini akan membiarkanmu tidur dengan nyaman di sofa," ucap Arga lalu beranjak dan membawa dirinya berbaring di ranjang.
Tanpa Bianca tahu, Arga dari tadi berusaha menyembunyikan kegugupannya. Apa yang baru saja ia lakukan pada Bianca membuatnya kembali teringat kejadian yang terjadi saat Bianca mabuk.
"Aku juga harus melupakannya, rasanya sangat tidak adil jika hanya aku yang mengingatnya, aku bahkan selalu berdebar setiap mengingat kejadian itu," ucap Arga dalam hati.
Arga kemudian memejamkan matanya, bersiap untuk menjelajah dunia mimpinya. Namun baru saja matanya terpejam, ia merasakan sentuhan lembut di bibirnya yang membuatnya segera terbangun.
"Aaahhh sial, aku hanya mimpi," ucap Arga kesal dalam hati.
Arga kemudian membawa pandangannya ke arah Bianca dan mendapati Bianca yang sudah terlelap dalam tidurnya.
"Kenapa Bianca melakukan hal itu padaku? tidak mungkin dia jatuh cinta padaku bukan? dia memang cantik dan baik, tapi aku belum bisa merelakan Karina pergi dariku, apa lagi Bianca juga terlihat sangat menyukai Bara," batin Arga dalam hati.
Tiba-tiba Arga teringat Karina. Tanpa ia sadar, saat ia bersama Bianca, ia melupakan permasalahannya dengan Karina.
Pelukan Bianca benar-benar bisa membuatnya tenang dan nyaman. Entah sudah berapa lama ia tidak pernah merasa setenang itu atau bahkan mungkin itu adalah kali pertamanya ia merasa begitu tenang dan nyaman.
"Dia memang gadis yang menyenangkan, sepertinya tidak akan sulit untuk membuat laki-laki jatuh cinta padanya," ucap Arga dalam hati dengan menatap Bianca yang sudah terlelap.
Arga kemudian mengambil ponselnya, membuka galeri fotonya lalu menggeser satu per satu foto Bianca yang ia ambil diam-diam sejak mereka berlibur.
"Dia cantik dari berbagai sudut, siluetnya saja terlihat sangat cantik," ucap Arga dalam hati dengan tersenyum.
Arga kemudian menjadikan foto itu sebagai wallpaper ponselnya. Kini foto siluet Bianca terpampang sebagai wallpaper di ponsel Arga.
"Dia pasti tidak akan menyadarinya bukan, lagi pula dia tidak pernah menyentuh ponselku," ucap Arga dalam hati.
Arga kemudian menaruh ponselnya lalu kembali memejamkan matanya. Ia berharap akan segera tertidur dengan nyenyak.
Tapi lagi-lagi bayangan Bianca kembali mengganggu pikirannya. Sentuhan lembut Bianca di bibirnya dan kecupan singkat itu seolah terus membayang di kepalanya.
Arga menghela nafasnya kasar lalu beranjak dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya di wastafel lalu menatap pantulan dirinya pada cermin di hadapannya.
"Ini bukan yang pertama bagiku, seharusnya aku tidak perlu memikirkannya," ucap Arga pada dirinya sendiri.
Arga menghela nafasnya panjang sebelum ia keluar dari kamar mandi. Arga kemudian kembali menjatuhkan dirinya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar sebelum akhirnya ia tertidur.
Malam yang panjang telah berlalu, pagi itu Bianca dan Arga sudah keluar dari kamar untuk menemui mama dan papa Arga yang sudah menunggu di restoran hotel.
Saat Arga dan Bianca akan memasuki restoran, pandangan mata Arga tertuju pada Karina yang berjalan dengan membawa kopernya.
"Sepertinya ponselku tertinggal di kamar, kau bisa menemui mama dan papa dulu!" ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Arga kemudian berbalik, bukan untuk kembali ke kamar, melainkan berlari kecil menghampiri Karina.
"Karina tunggu!" ucap Arga sambil menahan tangan Karina.
"Arga, lepaskan!" ucap Karina sambil berusaha menarik tangannya dari Arga.
Karena tidak ingin menarik perhatian banyak orang, Argapun melepaskan tangan Karina.
"Untuk apa lagi kau menemuiku? mamamu akan memarahiku lagi jika melihatmu bersamaku!"
"Aku hanya ingin minta maaf tentang apa yang terjadi semalam, aku....."
"Selama ini kau salah menilaiku Arga, aku tidak berubah, kau saja yang belum mengenalku dengan baik karena kau selalu menomorsatukan pekerjaanmu," ucap Karina memotong ucapan Arga.
__ADS_1
"Sekarang jangan ganggu aku lagi dan jangan pernah menemuiku lagi!" lanjut Karina lalu berjalan pergi, namun lagi-lagi ditahan oleh Arga.
"Apa yang terjadi semalam tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku Karina, tolong jangan selalu membahas hal itu setiap kita bertengkar!" ucap Arga.
"Lalu apa yang kau mau sekarang Arga? kau hanya akan membuat Tante Nadine semakin marah padaku jika kau terus bersikap seperti ini, Tante Nadine bahkan menuduhku kesini hanya untuk mengganggumu!"
"Apa kau bertemu mama disini?" tanya Arga terkejut.
"Iya aku bertemu Tante Nadine dan seperti yang biasa terjadi, Tante Nadine selalu memarahiku tanpa alasan," jawab Karina.
"Maafkan mama, mama pasti sudah salah paham padamu," ucap Arga.
"Aku tidak peduli!" balas Karina lalu berjalan pergi begitu saja.
Saat Arga akan mengikuti Karina, seseorang memanggil namanya.
"Arga!"
Argapun segera membawa pandangannya ke arah sumber suara dan mendapati sang mama yang berjalan ke arahnya.
"Kenapa kau ada disini? dimana Bianca?" tanya Nadine pada Arga.
"Bianca sudah berada di restoran ma, Arga baru saja mengambil ponsel Arga yang tertinggal di kamar," jawab Arga beralasan.
"Kenapa mama disini? Arga pikir mama dan papa sudah di restoran!" lanjut Arga bertanya.
"Mama baru saja mengambil barang mama yang tertinggal di kamar dan papamu sudah berada di restoran lebih dulu, pasti sekarang sedang bersama Bianca," jawab Nadine sambil membawa langkahnya ke arah restoran, diikuti oleh Arga.
"Sebelum kita ke restoran, ada sesuatu yang ingin mama tanyakan padamu Arga," ucap Nadine pada Arga.
"Ada apa ma?"
"Siapa saja yang kau beri tahu tentang tujuan kita kesini selain Daffa?" tanya Nadine.
"Mmmm..... tidak ada, hanya Daffa," jawab Arga berbohong karena ia sudah memberi tahu Karina tentang tujuannya berlibur.
"Apa mungkin Daffa mengatakannya pada orang lain?" tanya Nadine.
"Sepertinya tidak, biasanya dia hanya akan mengatakan jika Arga cuti karena liburan keluarga tanpa mengatakan kemana Arga pergi," jawab Arga.
Di tempat lain, Bianca sedang bersama David, menunggu kedatangan Arga dan Nadine.
"Bagaimana liburanmu kali ini Bianca? apa cukup menyenangkan untukmu?" tanya David pada Bianca.
"Sangat menyenangkan pa, terima kasih sudah merencanakan liburan yang menyenangkan ini untuk Bianca dan Arga," jawab Bianca.
"Kau tau papa tidak banyak bicara Bianca, tapi ada satu hal yang ingin papa katakan padamu," ucap David yang terlihat serius.
Biancapun hanya menganggukkan kepalanya, siap mendengar apapun yang akan David katakan padanya.
"Sebelum itu, papa ingin bertanya padamu tentang Arga, sejauh apa kau mengenal Arga, Bianca?" tanya David.
Bianca terdiam untuk beberapa saat, memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada papa mertuanya itu.
"Pada awalnya Bianca berpikir jika Arga adalah laki-laki yang angkuh, karena dengan apa yang dia miliki dia bisa melakukan apapun yang dia mau, tapi semakin Bianca dekat dengan Arga, Bianca sadar jika apa yang Bianca pikirkan itu salah," ucap Bianca yang memutuskan untuk berbicara jujur pada David.
"Semakin lama mengenal Arga, Bianca sedikit tau lebih banyak tentang Arga, dia bisa memanfaatkan dengan baik apa yang dia miliki saat ini, walaupun terkadang terlihat dingin dan sombong, tapi dia sangat peduli pada orang-orang di sekitarnya dan yang pasti dia selalu memperlakukan Bianca dengan baik," lanjut Bianca diikuti senyum manisnya.
"Apa ada sikap atau sifat Arga yang tidak kau sukai Bianca?" tanya David.
"Bianca tidak terlalu memikirkan hal itu pa, Bianca dan Arga selalu berusaha untuk saling memahami tanpa menuntut apapun, karena kita yakin dengan begitu masalah yang ada akan semakin mudah kita lalui daripada memperdebatkan sifat atau sikap yang salah dari Bianca ataupun Arga," jawab Bianca.
"Kau memang perempuan yang baik Bianca, papa senang karena Arga bisa menjalani kehidupan pernikahannya bersamamu," ucap David.
"Tapi, ada yang harus papa katakan padamu tentang Arga," lanjut David.
Bianca kembali menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Arga bukan laki-laki yang sempurna Bianca, dia memiliki banyak kekurangan yang mungkin tidak banyak orang tahu, papa hanya ingin berpesan padamu, jika suatu saat nanti kau mengetahui kekurangan Arga yang mungkin menyakitimu, tolong bertindaklah sesuai dengan apa yang hatimu katakan," ucap David.
"Kekurangan apa maksud papa?" tanya Bianca tak mengerti.
"Apapun itu, lambat laun kau pasti akan semakin mengenal Arga dan mengetahui banyak hal yang mungkin berusaha Arga sembunyikan darimu dan bisa jadi hal itu akan membuatmu sakit hati," jawab David.
Bianca hanya terdiam, berusaha mencerna dengan baik setiap kata yang David katakan padanya.
__ADS_1
"Papa tidak bermaksud memaksamu untuk tetap bersama Arga, tapi papa yakin kau adalah satu-satunya perempuan yang tepat untuk Arga, jadi sebelum kau mengambil keputusan besar tentang hubunganmu dengan Arga, papa harap kau bisa mendengar dengan baik apa kata hatimu," ucap David.
"Kenapa papa bisa begitu yakin pada Bianca? padahal Bianca belum terlalu lama mengenal mama dan papa," tanya Bianca.
"Sebagai orang tua, papa dan mama memiliki insting Bianca, entah itu benar atau salah tapi sejauh yang papa dan mama tahu, kau adalah perempuan yang tepat untuk Arga," jawab David.
Bianca tersenyum canggung, dalam hatinya ia kembali merasa bersalah pada orang tua Arga.
"Aku tidak tau apa yang sebenarnya papa katakan, aku juga tidak tau hal besar apa yang Arga sembunyikan dariku, tapi selama tidak ada perasaan apapun antara aku dan Arga, semua pasti akan baik-baik saja," ucap Bianca dalam hati.
"Waahh ada apa ini? kenapa kalian terlihat serius sekali?" tanya Nadine yang baru saja datang bersama Arga.
"Ada apa Bee? apa papa memarahimu?" tanya Arga yang duduk di samping Bianca.
"Tentu saja tidak," jawab Bianca dengan memamerkan senyumnya.
"Papa tidak mengatakan sesuatu yang mengganggu Bianca bukan?" tanya Nadine pada sang suami.
"Apa obrolan kita tadi mengganggumu Bianca?" tanya David pada Bianca.
"Tidak pa," jawab Bianca dengan menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Baiklah, mari kita pesan makanan," ucap Nadine lalu memanggil waiters.
Setelah makanan datang, merekapun menikmati makanan mereka dengan tenang.
"Sebelum kita pulang, Arga ingin mengajak Bianca pergi ma, pa!" ucap Arga pada mama dan papanya.
"Asalkan kalian bisa kembali sebelum malam, karena penerbangan kita jam 9 malam," balas Nadine.
"Iya ma, Arga mengerti," ucap Arga.
Setelah mengobrol singkat, Arga kemudian mengajak Bianca meninggalkan restoran.
Sepanjang perjalanan Bianca hanya diam, ia masih memikirkan ucapan David padanya.
"Bee, are you okay?" tanya Arga pada Bianca yang sedari tadi tampak diam.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, bahkan raut wajahnya juga terlihat datar, tak bersemangat.
"Biasanya kau selalu bertanya kemana aku akan mengajakmu pergi," ucap Arga.
"Aku sengaja tidak bertanya karena aku tau kau tidak akan menjawabnya," balas Bianca.
"Hahaha... kau benar sekali!" ucap Arga dengan menepuk pelan kepala Bianca.
Bianca hanya tersenyum tipis lalu kembali diam sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan Arga.
Arga dan Bianca kemudian keluar dari mobil. Arga meraih tangan Bianca dan menggenggamnya lalu menggandengnya menaiki anak tangga yang cukup banyak sampai akhirnya mereka tiba di ujung tangga.
"Waaaahhhh..... indah sekali," ucap Bianca mengagumi keindahan tempat itu.
Mereka saat itu berdiri di sebuah bukit dengan pemandangan pantai yang ada di bawahnya. Sejauh mata memandang, mereka hanya menemukan laut luas yang tidak berujung.
"Aku tau kau pasti suka," ucap Arga lalu duduk di salah satu kursi yang ada disana.
"Kenapa kau membawaku kesini Arga?" tanya Bianca dengan pandangannya yang tetap menatap hamparan laut luas.
"Tentu saja untuk membuatmu senang, apa kau tidak senang berada disini?" balas Arga.
"Aku senang, ini yang pertama bagiku, tapi kau tidak perlu melakukan banyak hal hanya untuk membuatku senang Arga," ucap Bianca.
"Kenapa? bukankah aku sudah mengatakan padamu jika aku akan menjadi suami yang baik untukmu selama 2 tahun ini!"
"Aku tau, tapi sepertinya ini berlebihan," balas Bianca.
"Berlebihan? apa maksudmu? kenapa kau tiba-tiba seperti ini? apa papa mengatakan sesuatu padamu?" tanya Arga yang segera beranjak dari duduknya.
Bianca hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum hambar pada Arga.
"Katakan padaku Bianca, apa yang sudah papa katakan padamu di restoran tadi, aku tidak ingin kau salah paham padaku!" ucap Arga dengan memegang kedua bahu Bianca.
"Jangan berpikir terlalu jauh Arga, aku dan papa hanya mengobrol ringan," balas Bianca sambil melepaskan kedua tangan Arga yang memegang bahunya lalu berjalan menjauh dari Arga.
"Tidak Bianca, kau berbohong padaku!" ucap Arga dengan menahan tangan Bianca.
__ADS_1
"Berbohong? bagaimana denganmu? apa kau pernah berbohong padaku?" tanya Bianca yang membuat Arga seketika terdiam dan melepaskan tangan Bianca dari genggamannya.