
Hari telah berganti, Bianca masih duduk di tepi ranjangnya menatap ke arah taman yang terlihat dari jendela kamarnya yang sudah terbuka.
Entah kenapa hari itu ia sangat malas untuk keluar dari kamar. Setelah beberapa lama duduk merenung di tepi ranjangnya Bianca mendengar suara mobil Arga yang sudah keluar dari rumah.
Bianca menghela nafasnya panjang lalu beranjak dari duduknya untuk mandi dan berganti pakaian.
Namun Bianca masih enggan untuk keluar dari kamarnya, ia segera membuka laptopnya dan mengerjakan beberapa artikel yang harus ia tulis.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu membuat Bianca segera beranjak dari ranjangnya untuk membuka pintu kamarnya.
"Sarapannya sudah siap non, mau diantar ke kamar atau ke meja makan?" tanya bibi.
"Bianca akan mengambilnya sendiri nanti, terima kasih Bi," jawab Bianca.
Setelah bibi pergi, Bianca kembali menutup pintu kamarnya lalu melanjutkan mengerjakan artikelnya.
Tak lama kemudian kembali terdengar suara ketukan pintu. Dengan sedikit kesal Biancapun beranjak dari ranjangnya dan kembali membuka pintu kamarnya, namun ia begitu terkejut saat melihat Lola sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Lola, kenapa kau ada disini sepagi ini?" tanya Bianca.
"Aku sudah tidak sabar ingin mendengar ceritamu tentang makan malammu bersama Arga," jawab Lola lalu segera masuk ke dalam kamar Bianca begitu saja.
"Itu bukan cerita yang menarik Lola, lupakan saja!" ucap Bianca.
"Bagaimana mungkin itu menjadi cerita yang tidak menarik, Arga bahkan memberimu hadiah yang sangat mahal, cepat ceritakanlah bagaimana makan malammu bersama Arga!"
Dengan terpaksa Biancapun menceritakan tentang makan malamnya bersama Arga yang penuh dengan kejutan, mulai dari satu restoran yang hanya ada mereka berdua, hamparan kelopak mawar merah, alunan musik, kalung dan dansa.
Semua hal yang terdengar istimewa dan romantis itu Bianca ceritakan dengan raut wajah datar tanpa sedikitpun terlihat kebahagiaan pada raut wajahnya.
"Apa kau tidak bahagia dengan semua hal itu?" tanya Lola.
"Aku berusaha untuk selalu menjalani hariku dengan bahagia Lola, aku bahkan lupa kapan aku benar-benar bahagia karena aku merasa lebih sering berpura-pura bahagia," jawab Bianca.
"Lagi pula sepertinya makan malam itu bukanlah makan malam yang Arga persiapkan untukku," lanjut Bianca.
"Tidak mungkin Arga menyiapkan makan malam itu untuk perempuan lain bukan?" tanya Lola.
"Entahlah, aku sama sekali tidak mengetahui banyak hal tentang Arga, terutama tentang kehidupan pribadinya, aku...... aku juga tidak seharusnya tahu, lagi pula aku hanyalah orang asing baginya," jawab Bianca.
"Ternyata benar apa yang orang katakan, kekayaan tidak selalu membuat kita bahagia, bahkan mungkin terkadang hal-hal sederhanalah yang bisa membuat kita benar-benar bahagia," ucap Lola.
"Benar sekali, aku setuju dengan hal itu," balas Bianca dengan menganggukkan kepalanya.
"Tapi jika aku ada di posisimu sekarang mungkin aku akan jatuh cinta pada Arga, terlepas dari semua sikapnya yang terkadang menjengkelkan tetapi dia memperlakukanmu dengan sangat baik bukan?"
Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun, ia tidak bisa mengatakan pada Lola tentang bagaimana Arga meninggalkannya di tepi jalan karena pada akhirnya Arga kembali dan mengantarnya pulang.
Meskipun hal itu tetap membuat Bianca kesal tetapi setidaknya Arga memang berusaha untuk memperlakukannya dengan baik, terlepas dari sikapnya yang terkadang begitu egois.
Tiba-tiba Bianca memegang perutnya dengan raut wajah menegang.
"Ada apa denganmu Bianca? apa kau sakit?" tanya Lola panik.
Bianca tidak menjawab pertanyaan Lola, ia masih memegangi perutnya lalu membaringkan dirinya di atas ranjang dengan meringkuk kesakitan.
"Jangan bilang kau belum makan?" tanya Lola menerka yang hanya dibalas anggukan kepala dengan pelan oleh Bianca.
"Astaga Bianca kenapa kau ceroboh sekali, aku akan meminta bibi untuk menyiapkan makanan!" ucap Lola lalu segera keluar dari kamar Bianca.
Tak lama kemudian Lola kembali dengan satu porsi makanan dan minuman serta obat-obatan milik Bianca yang Bianca simpan pada kotak P3K di kamarnya.
"Kenapa kau terlambat makan Bianca? bukankah bibi selalu menyiapkan sarapan untukmu?" tanya Lola sambil membantu Bianca untuk duduk di ranjang.
"Aku sedang tidak berselera makan," jawab Bianca.
"Kenapa?" tanya Lola.
Bianca hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.
"Suka atau tidak kau harus makan Bianca!" paksa Lola lalu menaruh piring makanan di atas pangkuan Bianca.
Baru beberapa sendok Bianca memakannya, Bianca menaruh piring itu di atas mejanya lalu mengambil minuman dan obat miliknya.
"Apa kau sedang mengerjakan artikel?" tanya Lola setelah ia memperhatikan laptop yang terbuka di atas ranjang Bianca.
__ADS_1
Bianca kembali menganggukkan kepalanya, mulutnya seperti sangat malas untuk sekedar menjawab pertanyaan Lola.
"Aku akan menyimpan filenya, kau beristirahatlah dulu!" ucap Lola lalu menyimpan file yang ada di laptop Bianca kemudian menutup laptop itu dan menaruhnya di atas meja.
Lola kemudian kembali duduk di tepi ranjang Bianca, menatap Bianca dengan tatapan tajam.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Bianca yang merasa terintimidasi oleh tatapan tajam Lola.
"Ada apa denganmu? pasti terjadi sesuatu bukan?" tanya Lola.
"Aku.... aku hanya aku sedang merindukan mama dan papa," jawab Bianca beralasan.
"Tapi itu bukan alasan untukmu tidak makan Bianca, kau tidak mau berbaring di rumah sakit bukan?"
Bianca hanya menggelengkan kepalanya lalu meraih selimut untuk menutup tubuhnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan masuk dari mama Nadine yang membuat Bianca segera beranjak dari tidurnya sambil menerima panggilan dari mama Nadine.
"Halo Bianca sayang, mama baru saja membeli beberapa pakaian musim dingin dan mengirimnya ke rumahmu, jika sudah sampai segera periksa dan hubungi mama jika ada pakaian yang ukurannya tidak sesuai denganmu!" ucap Nadine pada Bianca.
"Iya ma terima kasih sudah membelinya untuk Bianca," balas Bianca.
"Jangan lupa mempersiapkan dirimu untuk pergi ke Jepang beberapa hari lagi sayang, kau harus menjaga kesehatanmu dan banyak minum vitamin, apalagi disana sekarang sedang musim dingin!" ucap Nadine.
"Iya ma, Bianca mengerti."
Setelah panggilan berakhir Bianca menaruh ponselnya di atas meja lalu membawa pandangannya pada Lola yang sejak tadi menguping pembicaraan Bianca dengan mama mertuanya.
"Apa aku tidak salah dengar? kau akan pergi ke Jepang?" tanya Lola pada Bianca.
"Mama Arga yang menyiapkan semuanya, aku hanya bisa menurutinya saja," jawab Bianca dengan menganggukkan kepalanya.
"Waaahhhh sepertinya sangat menyenangkan, kau bisa puas bermain salju disana Bianca!" ucap Lola sambil membayangkan dirinya berdiri di antara hamparan salju.
"Semoga saja memang semenyenangkan itu," balas Bianca lalu kembali membaringkan badannya di ranjang.
"Kau harus ingat ucapan tante Nadine, kau harus menjaga kesehatanmu Bianca, bisa pergi ke Jepang tanpa mengeluarkan uang sepeserpun adalah kesempatan yang langka, kau tidak boleh menyia-nyiakannya!" ucap Lola penuh semangat.
Bianca tertawa kecil melihat Lola yang tampak begitu bersemangat.
"Tentu saja aku ingat, aku akan membuat manusia salju dan membawanya kesini untukmu," balas Bianca.
"Hahaha..... mana mungkin? kau ada-ada saja!"
Bianca hanya tersenyum tipis, ia merasa begitu beruntung karena Lola datang ke rumahnya pagi itu.
Suasana hatinya yang sedang kacau kini sudah membaik karena keberadaan Lola di rumahnya.
**
Hari-hari telah berlalu, Bianca sudah mulai melupakan hal-hal yang membuat suasana hatinya buruk. Tanpa perlu menghabiskan banyak waktu, Bianca kembali dipenuhi semangat dan keceriaan seperti biasa.
Sebagai istri di atas kontrak, Bianca berusaha untuk tidak berharap banyak pada Arga. Bagaimanapun juga pernikahan mereka sama sekali tidak didasari oleh perasaan apapun dan akan berakhir dalam 2 tahun.
Bianca tidak ingin terlalu memikirkan apa yang sedang ia jalani saat itu. Ia hanya akan menjalani perannya sesuai kesepakatannya dengan Arga.
Meskipun tak jarang Bianca merasa lelah karena harus berpura-pura di depan banyak orang.
Malam itu Bianca sedang memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam koper karena besok pagi ia akan terbang ke Jepang bersama Arga.
Ia begitu bersemangat untuk perjalanan panjangnya itu, bukan karena ia akan pergi bulan madu bersama Arga, melainkan karena ia akan bertemu dengan salju yang selama ini ada dalam daftar keinginannya.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Seseorang mengetuk pintu kamar Bianca, membuat Bianca segera membuka pintu kamarnya dan mendapati Arga yang sudah berdiri disana.
Arga hanya diam dengan mengintip ke dalam kamar Bianca karena salah fokus dengan koper besar yang ada di atas ranjang Bianca.
"Ada apa?" tanya Bianca.
"Jangan membawa terlalu banyak barang, kita bisa membelinya disana nanti," ucap Arga.
"Mama Nadine sudah membelikanku beberapa pakaian musim dingin, jadi aku harus membawanya," balas Bianca.
"Mama membelikanmu pakaian musim dingin? kenapa aku tidak dibelikan juga?" tanya Arga dengan mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Karena mama Nadine lebih sayang padaku hahaha....." balas Bianca yang hendak menutup pintu, tapi Arga mencegahnya.
"Makan malam dulu!" ucap Arga kemudian berjalan pergi begitu saja.
Bianca terdiam untuk beberapa saat karena tidak biasanya Arga makan malam di rumah. Hampir satu bulan pernikahan mereka, sangat jarang Bianca makan satu meja dengan Arga.
"Cepatlah sebelum semua makanan ini dingin!" ucap Arga setengah berteriak yang membuat Bianca segera berlari kecil ke arah meja makan.
"Sepertinya kau benar-benar berhasil merebut hati mama dan papa," ucap Arga saat Bianca sudah duduk di hadapannya.
"Apa yang sudah kau lakukan untuk merebut hati mereka?" lanjut Arga bertanya.
"Aku tidak melakukan apapun, hanya menjadi diriku sendiri dengan versi yang lebih baik, terutama dalam hal berpenampilan," jawab Bianca.
"Kau pasti pandai merayu mama bukan?"
"Tidak, asal kau tahu Arga, aku selalu bisa menempatkan diriku dengan baik, aku tau kapan aku harus bersikap sopan dan kapan aku harus bersikap bar-bar, karena terkadang dibutuhkan sikap yang bar-bar untuk menghadapi orang-orang yang tidak sopan!" jelas Bianca.
"Tapi sekarang aku belajar hal baru," lanjut Bianca.
"Apa itu?" tanya Arga.
"Aku tau bagaimana menghadapi orang-orang sombong sepertimu dengan tetap anggun tanpa harus memperlihatkan sisi premanku!" ucap Bianca yang membuat Arga kesal sekaligus penasaran.
"Bagaimana?"
"Seperti yang kau lihat saat kau mengajakku ke pertemuanmu bersama para klien, aku benar-benar menjaga emosiku setengah mati saat itu, aku tidak ingin mereka merendahkanku tapi aku juga tidak ingin bersikap seperti seseorang yang tidak berpendidikan di depan mereka," jelas Bianca.
"Kau sudah melakukan yang terbaik Bianca, tapi mama pasti akan sangat terkejut jika melihat sisimu yang bar-bar itu!" ucap Arga.
"Semoga saja mama Nadine tidak membenciku setelah itu hehehe...." balas Bianca dengan terkekeh.
"Setelah makan malam cepatlah tidur, kau harus bangun lebih pagi besok!" ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
**
Malam panjang telah berlalu, kini Arga dan Bianca sudah sampai di bandara. Mereka berjalan memasuki pesawat yang akan membawa mereka ke Jepang.
"Ini pertama kalinya buatku," ucap Bianca saat ia sudah duduk di dalam pesawat.
"Naik pesawat?" tanya Arga.
"Pergi ke luar negeri, dulu mama dan papa sering mengajakku naik pesawat untuk berlibur di banyak tempat di Indonesia," jawab Bianca.
"Kemana saja?" tanya Arga.
"Semua pulau besar di Indonesia sudah pernah aku datangi, tapi tidak sekalipun mereka mengajakku ke Bali, padahal aku sangat penasaran seperti apa keindahan pulau Bali yang banyak orang ceritakan itu!"
"Kau sudah pergi ke banyak tempat tapi belum pernah ke Bali, rasanya itu aneh sekali!"
"Kau tau kenapa seperti itu?" tanya Bianca yang segera dibalas gelengan kepala oleh Arga.
"Karena di Bali adalah tempat tinggal orang tua mama yang tidak merestui pernikahan mama dan papa, itu yang membuat mama dan papa tidak pernah mengajakku ke Bali," jelas Bianca.
"Kenapa pernikahan mereka tidak direstui?" tanya Arga yang penasaran dengan cerita Bianca.
"Karena mama dan papa adalah dua orang yang berbeda strata, seperti kau dan aku, dunia mereka sangat berbeda, tetapi akhirnya mereka bisa bersama meskipun harus melanggar batas yang tidak seharusnya, cinta yang menguatkan mama dan papa bahkan mautpun tidak sanggup memisahkan mereka berdua," jawab Bianca panjang.
"Kekuatan cinta memang sangat besar, dia bisa mengalahkan segala hal yang bahkan dianggap mustahil," ucap Arga.
"Kau pernah jatuh cinta Arga?" tanya Bianca yang membuat Arga terdiam.
Sudah jelas ia pernah jatuh cinta bahkan jatuh terlalu dalam pada cinta yang sudah meninggalkannya.
Tetapi Arga tidak mungkin mengatakan hal itu pada Bianca.
"Aku tau siapa laki-laki yang sudah membuatmu jatuh cinta, Bara, benar bukan?" ucap Arga sekaligus bertanya tanpa menjawab pertanyaan Bianca.
"Kenapa tiba-tiba membahas hal itu," balas Bianca sambil mengalihkan pandangannya dari Arga.
"Dimana dia sekarang? berapa lama kalian berhubungan? apa dia tau kau sudah menikah denganku? apa dia...."
"Arga stop, jangan membahas kak Bara!"
"Kenapa? apa kalian sedang bertengkar?" tanya Bara yang sengaja ingin membuat Bianca kesal.
"Membahas tentang kak Bara hanya akan membuatku semakin merindukannya," jawab Bianca dengan penuh senyum ke arah Arga.
__ADS_1
Arga menghela nafasnya kasar lalu mengalihkan pandangannya dari Bianca. Entah kenapa justru ia yang kesal saat mendengar jawaban Bianca.