
Arga yang baru saja meninggalkan Bianca di pinggir jalan segera mengendarai mobilnya ke arah taman yang tidak terlalu jauh dari posisinya saat itu.
Arga sengaja berpamitan pulang pada kedua orang tuanya setelah ia melihat postingan Karina di media sosial yang menunjukkan jika ia sedang berada di taman seorang diri.
Karina hanya menulis caption "Alone" dengan emoticon sedih pada foto yang dia unggah di sosial medianya.
Karena Karina memberikan hastag dimana ia berada, dengan cepat Argapun mengendarai mobilnya ke arah dimana Karina berada malam itu.
Sesampainya di taman, Arga segera membawa langkahnya keluar dari mobil dengan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan Karina.
Hingga akhirnya matanya tertuju pada seorang gadis yang tengah terduduk seorang diri di salah satu bangku yang ada di taman.
Dengan penuh senyum di bibirnya Argapun berjalan ke arah Karina lalu duduk di samping Karina.
"Arga, kau membuatku terkejut!" ucap Karina yang terkejut dengan kedatangan Arga yang tiba tiba.
"Apa yang kau lakukan disini? kenapa kau sendirian?" tanya Arga penuh perhatian.
"Aku hanya ingin menghirup udara segar," jawab Karina dengan tersenyum ke arah Arga.
Saat itulah Arga menyadari memar di pipi Karina.
"Ada apa denganmu Karina? kenapa wajahmu memar?" tanya Arga khawatir.
"Ini..... ini bukan apa-apa, aku hanya....."
"Apa tunanganmu yang melakukannya?" tanya Arga memotong ucapan Karina.
Karina menghela nafasnya panjang lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Astaga Karina, kenapa kau....."
"Aku yang salah Arga, aku yang melakukan kesalahan hingga membuatnya marah," ucap Karina memotong ucapan Arga.
"Apapun alasannya tidak seharusnya dia melakukan kekerasan padamu Karina!" balas Arga emosi.
"Tolong jangan terlalu ikut campur dengan hubunganku Arga, aku tau apa yang terbaik untukku," ucap Karina.
"Apa yang sebenarnya membuatmu bertahan dengannya? ini bahkan bukan yang pertama kali, bagaimana jika dia akan melakukan hal yang lebih dari ini?"
"Dia tidak akan seperti ini jika aku tidak melakukan kesalahan, jika kau bertanya apa yang membuatku bertahan tentu saja karena aku mencintainya dan dia mencintaiku," balas Karina.
"Cinta seperti apa yang membuatnya tega melakukan hal ini padamu, dia....."
"Arga stop, hubungan kita sudah berakhir dan sikapmu ini terlalu berlebihan, lagi pula kau juga sudah menikah, tidak seharusnya kau bersikap seperti ini padaku!" ucap Karina kesal dengan sikap Arga.
"Aku hanya tidak ingin dia menyakitimu Karina," balas Arga.
"Aku tau apa yang harus aku lakukan Arga dan aku yakin dengan pilihanku saat ini," ucap Karina.
Arga tersenyum tipis dengan kedua mata menatap gadis cantik yang dicintainya itu.
"Tidak bisakah kau meninggalkannya dan kembali padaku Karina? aku akan segera menyelesaikan hubunganku dengan Bianca jika kau juga mengakhiri hubunganmu dengan laki laki itu!" batin Arga bertanya dalam hati.
"Kenapa kau tiba tiba kesini? tidak mungkin karena kebetulan bukan?" tanya Karina.
"Aku melihat postinganmu di sosial media dan aku mengkhawatirkanmu," jawab Arga.
"Kita memang pernah saling mencintai, kita pernah bahagia bersama, tapi itu dulu dan sekarang semuanya sudah berbeda Arga, aku harap kau menyadari hal itu," ucap Karina.
Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ia masih mengharapkan Karina kembali padanya.
Tidak peduli bagaimana hal buruk yang Karina lakukan padanya dulu, baginya kebahagiannya hanya ada bersama Karina.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Karina berdering, sebuah pesan masuk dari kekasihnya.
"Aku segera sampai di tempatmu, jadi tetaplah disana sampai aku tiba!"
"Arga, kau harus pergi!" ucap Karina setelah ia membaca pesan kekasihnya.
"Kenapa? apa aku mengganggumu?" tanya Arga.
"Tidak, tapi Bian akan datang, dia pasti akan sangat marah jika melihatku disini bersamamu," jawab Karina.
"Apa kau akan baik baik saja jika bertemu dengannya?" tanya Arga khawatir.
"Aku pasti baik baik saja Arga, dia bukan laki laki yang jahat," jawab Karina.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu!" ucap Arga kemudian beranjak dari duduknya.
Tanpa Karina tau, Arga tidak benar benar pergi. Arga hanya berpindah posisi untuk melihat bagaimana Bian memperlakukan Karina.
Setelah beberapa lama, terlihat seorang laki-laki yang berjalan ke arah Karina. Laki-laki itu kemudian memberikan buket bunga yang dibawanya pada Karina lalu memeluk dan mencium kening Karina.
Karina dan Bian kemudian berjalan pergi dengan bergandengan tangan, meninggalkan Arga yang masih bersembunyi di tempatnya.
__ADS_1
"Kapan kau akan sadar jika akulah yang terbaik untukmu Karina?" batin Arga bertanya dalam hati.
Di sisi lain, Bianca kini sedang berada di tempat kos Lola. Ia memutuskan untuk pergi ke tempat kos Lola saat Arga meninggalkannya.
Ia merasa sangat kesal pada Arga yang tiba tiba menurunkannya di pinggir jalan raya dan jika ia pulang, itu hanya akan memperburuk suasana hatinya.
Itu kenapa Bianca memutuskan untuk pergi ke tempat Lola.
"Dia benar-benar keterlaluan!" ucap Lola kesal setelah ia tahu apa yang Arga lakukan pada Bianca.
"Sudahlah lupakan saja, biarkan saja dia dengan kesibukannya sendiri, aku juga akan mencari kesenanganku sendiri," balas Lola.
Bianca menghabiskan waktunya beberapa lama untuk membantu Lola mengerjakan skripsinya. Hingga tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari Arga.
"Halo Bianca, apa kau sudah ada di rumah?" tanya Arga setelah Bianca menerima panggilannya.
"Aku sedang di tempat Lola," jawab Bianca santai.
"Aku akan menjemputmu sekarang juga!" ucap Arga.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri!" balas Bianca.
Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt
Panggilan terputus. Arga mengakhiri panggilannya begitu saja.
"Menyebalkan sekali," ucap Bianca kesal.
"Ada apa?' tanya Lola.
"Arga akan kesini untuk menjemputku," jawab Bianca.
"Baguslah kalau begitu, aku juga ingin bertemu dengannya, aku ingin memarahinya karena membiarkanmu berada di pinggir jalan sendirian!" ucap Lola.
"Lebih baik jangan, aku tidak ingin ucapan Arga nanti akan menyakitimu, kau tau sendiri bukan bagaimana dia jika sedang kesal?"
"Aku tidak peduli, setidaknya dia harus sadar jika apa yang dia lakukan padamu itu sebuah kesalahan!" ucap Lola.
"Kau hanya terlalu mengkhawatirkanku Lola, aku bukan anak kecil yang harus diantar kemana-mana!" ucap Bianca.
"Apa kau lupa apa yang baru saja terjadi padamu? aku tidak ingin hal itu terjadi lagi Bianca!"
"Aku mengerti Lola, tapi....."
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
"Aku di depan!"
Lola yang ikut membaca pesan itupun segera keluar dari kamar kosnya diikuti oleh Bianca.
"Keluarlah!" ucap Lola sambil mengetuk kaca pintu mobil Arga.
Arga kemudian keluar dari mobilnya.
"Ada apa?" tanya Arga tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Apa kau tau kesalahan apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Lola.
"Kesalahan apa? aku tidak melakukan kesalahan apapun padamu!" balas Arga tak mengerti.
"Bukan padaku, tapi pada istrimu, Bianca!" ucap Lola dengan kesal.
"Memangnya apa yang....."
"Kenapa kau tiba tiba menyuruhnya keluar dari mobil sendirian? apa kau lupa dengan kejadian kemarin? apa kau tidak takut jika Bianca diculik lagi? kau bahkan belum tau siapa pelakunya bukan?"
Mendengar semua cecaran pertanyaan dari Lola, Arga hanya diam dengan membawa pandangannya pada Bianca.
"Sudahlah Lola, kau masuklah!" ucap Bianca yang meminta Lola untuk masuk ke kamar kosnya.
"Tidak Bianca, laki laki angkuh ini harus tau jika apa yang dia lakukan itu membahayakanmu, bagaimana bisa kau menikah dengan laki laki yang bahkan tidak bisa menjagamu dengan baik?"
"Apa kau pikir Bianca anak kecil yang harus dijaga setiap waktu? apa kau pikir aku tidak punya kesibukan yang lain? aku....."
"Sudah sudah, jangan membuat keributan disini, Arga masuklah, kita pulang sekarang!" ucap Bianca berusaha menengahi kemarahan Lola dan Arga.
"Lola kau juga masuk, aku pergi dulu!" ucap Bianca pada Lola kemudian masuk ke dalam mobil bersama Arga.
Argapun segera mengendarai mobilnya meninggalkan tempat kos Lola. Untuk beberapa saat tidak ada sepatah katapun yang terdengar dari Bianca ataupun Arga.
Bianca masih kesal karena Arga yang tiba tiba memintanya untuk turun dari mobil, sedangkan Arga masih memikirkan ucapan Lola padanya.
Ia sadar jika apa yang ia lakukan salah dan membahayakan Bianca, terlebih setelah apa yang terjadi pada Bianca tanpa ia tau siapa dan apa maksud seseorang menculik Bianca.
Tetapi ego dalam dirinya terlalu besar untuk meminta maaf pada Bianca setelah apa yang ia lakukan.
Sampai akhirnya mereka sampai di rumah tanpa ada percakapan sama sekali diantara mereka.
__ADS_1
Namun sebelum Bianca masuk ke dalam kamar, Arga menahan tangan Bianca yang lagi lagi segera ditepis oleh Bianca.
"Bisakah untuk tidak menyentuhku? aku bukan perempuan murahan yang bisa kau sentuh semaumu!"
"Kau marah padaku karena aku menyentuhmu atau karena aku meninggalkanmu di jalan?" balas Arga bertanya.
Bianca hanya menghela nafasnya lalu membuka pintu kamarnya, mengabaikan Arga.
"Ada hal mendesak yang harus aku kerjakan dan aku tidak bisa membawamu ikut!" ucap Arga cepat sebelum Bianca masuk ke dalam kamar.
"Aku tidak peduli," balas Bianca lalu masuk ke dalam kamar dan menutupnya dengan kencang.
"Dia pasti sangat marah," ucap Arga pelan lalu berjalan menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.
Di kamarnya, Arga menjatuhkan dirinya di atas ranjang, memijit kepalanya yang terasa pusing.
"Andai aku tidak terlalu sibuk, andai aku bisa membagi waktuku dengan baik, pasti Karina masih ada bersamaku saat ini," ucap Arga dengan menghela nafasnya.
Di tempat lain, Bianca sedang membaca buku di kamarnya. Ia berusaha untuk menghilangkan kekesalannya pada Arga.
Dengan membaca buku, Bianca merasa konsentrasinya hanya terfokuskan pada buku yang dibacanya dan itu membuatnya perlahan melupakan hal hal yang membuatnya kesal.
Itulah yang membuat Bianca memiliki wawasan yang cukup luas tentang banyak hal. Meskipun ia kuliah di fakultas bisnis, tetapi ia juga memahami beberapa hal lain yang tidak berhubungan dengan bisnis.
Selain menjadi hobinya, membaca juga membantunya untuk bisa menulis artikel yang berkualitas dan disukai banyak pembaca.
Saat tengah asik membaca buku, tiba tiba lampu di kamar Bianca padam. Tidak ada sedikitpun cahaya di dalam kamar Bianca.
Seketika Biancapun berteriak dengan kencang karena terkejut sekaligus ketakutan.
Di luar kamar Bianca, bibi yang mendengar teriakan Bianca segera berlari ke arah kamar Bianca.
Bibi mengetuk pintu kamar Bianca namun sama sekali tidak ada jawaban dari Bianca.
"Non Bianca, apa yang terjadi? apa bibi boleh membuka pintunya?"
Hening, tak ada suara apapun dari dalam kamar Bianca. Bibipun merasa begitu khawatir tetapi tidak berani untuk membuka pintu kamar Bianca
Bibi kemudian menghubungi Arga yang saat itu berada di dalam kamarnya.
"Halo Tuan, non Bianca.... sepertinya.... terjadi sesuatu pada non Bianca," ucap bibi terbata-bata.
"Ada apa bi? tolong bicara yang jelas, ada apa dengan Bianca? bukankah dia ada di kamarnya?"
"Bibi mendengar non Bianca berteriak kencang tuan, tetapi saat bibi memanggil dan mengetuk pintunya tidak ada suara apapun dari dalam kamar non Bianca, bibi khawatir Tuan," jelas bibi.
"Baiklah, Arga akan segera turun!" ucap Arga lalu segera berlari keluar dari kamarnya.
Sesampainya Arga di depan kamar Bianca, ia memanggil nama Bianca dan mengetuk pintu kamar Bianca beberapa kali.
Namun sama seperti yang bibi katakan sebelumnya, tidak terdengar suara apapun dari dalam kamar Bianca.
Akhirnya Argapun memutuskan untuk membuka pintu kamar Bianca yang memang tidak terkunci saat itu. Argapun begitu terkejut saat melihat keadaan kamar Bianca yang gelap.
"Bianca, apa yang terjadi?" tanya Arga sambil berusaha menghidupkan lampu kamar Bianca namun tidak berhasil.
Dengan cahaya dari ruangan di depan kamar Bianca, Arga bisa melihat Bianca yang tengah terduduk dengan menenggelamkan kepalanya di antara kedua kakinya yang ditekuk.
"Bianca, ada apa denganmu?" tanya Arga yang berjongkok di hadapan Bianca.
Seketika Bianca membawa dirinya memeluk Arga dengan erat. Air matanya menyelinap keluar dari kedua matanya yang terpejam.
Menyadari tubuh Bianca yang bergetar hebat, Argapun memeluk Bianca dengan erat tanpa ia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Bianca.
Kedua tangan Bianca bahkan mencengkeram dengan kuat pakaian Arga, membuat Arga semakin erat memeluk Bianca.
Dari pelukannya, ia bisa merasakan deru nafas Bianca yang memburu bersama isak tangis yang tertahan yang semakin membuat tubuh Bianca bergetar dalam pelukannya.
"Tenanglah Bianca, ada aku disini," ucap Arga berusaha menenangkan Bianca.
Hingga akhirnya Arga merasa cengkeraman tangan Bianca melemah dan sudah tidak ada pergerakan apapun dari Bianca yang masih ada dalam pelukannya.
"Bianca....." panggil Arga sambil melepaskan pelukannya dengan pelan.
Saat itulah Arga menyadari jika Bianca pingsan dalam pelukannya. Arga kemudian mengangkat tubuh Bianca.
"Bi, tolong siapkan kamar tamu," ucap Arga pada bibi.
"Maaf tuan, lampu di kamar tamu belum bisa menyala, tukang lampu yang bibi panggil belum datang hari ini," balas bibi.
Tidak ada pilihan, Arga kemudian membawa Bianca naik ke lantai tiga kemudian membaringkan Bianca di ranjangnya.
Arga segera mengambil aromaterapi untuk membuat Bianca sadar dari pingsannya.
"Ada apa dengannya? kenapa dia seperti sangat ketakutan? apa karena lampu di kamarnya padam?" batin Arga bertanya dalam hati.
Untuk beberapa saat Arga terdiam menatap Bianca yang terpejam di hadapannya. Wajah cantik itu kini tampak pucat, membuat Arga bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Bianca.
__ADS_1