Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Tanggal Pernikahan


__ADS_3

Arga sedang mengendarai mobilnya ke arah restoran milik salah satu teman sang Mama bersama Bianca.


Sesampainya disana, merekapun segera menemui pemilik restoran untuk mendiskusikan tentang catering yang akan disiapkan oleh pemilik restoran pada acara resepsi pernikahan Arga dan Bianca.


Setelah beberapa lama berdiskusi, akhirnya merekapun memutuskan makanan apa saja yang mereka pilih.


Tentu saja keputusan itu lebih banyak diputuskan sendiri oleh Arga, sedangkan Bianca hanya mengiyakan pilihan Arga tanpa banyak protes, karena dari awal Arga sudah menjelaskan jika pesta pernikahan mereka akan diadakan dengan sangat mewah.


Pesta pernikahan mewah itu berbanding terbalik dengan apa yang selama ini Bianca impikan. Selama ini Bianca hanya memimpikan pesta pernikahan yang sederhana dengan laki-laki yang dicintainya, bersama orang-orang terdekatnya.


Malampun semakin larut saat Arga dan Bianca baru saja keluar dari restoran itu.


"Apa ada sesuatu yang kau inginkan saat pesta pernikahan kita nanti?" tanya Arga pada Bianca saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Tidak ada," jawab Bianca dengan menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana dengan mahar? mahar apa yang kau inginkan?" tanya Arga.


"Aku tidak tahu, aku sama sekali tidak memikirkan hal itu, sepertinya uang 50 miliar yang kau janjikan itu sudah lebih dari cukup bagiku," jawab Bianca.


"Mahar dan uang 50 miliar yang aku janjikan adalah dua hal yang berbeda Bianca," ucap Arga yang membuat Bianca seketika membawa pandangannya pada Arga.


Untuk pertama kalinya Arga menyebut namanya saat mereka sedang mengobrol dan entah mengapa hal itu sedikit menggelitik hatinya.


Bianca tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya dari Arga.


"Apa kau yakin tidak ingin meminta sesuatu sebagai mahar?" tanya Arga mengulangi pertanyaannya.


"Terserah kau saja, bukankah semuanya kau dan mamamu yang menentukan?" balas Bianca.


"Oke baiklah kalau begitu, aku sendiri yang akan menyiapkannya," ucap Arga.


Setelah beberapa lama berkendara Argapun sampai di depan tempat kost Lola, Arga dan Biancapun keluar dari mobil.


"Karena kau belum bisa pulang ke rumahmu hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu," ucap Arga pada Bianca.


"Apa yang kau berikan sudah lebih dari cukup, bahkan semua itu sangat berlebihan bagiku!" balas Bianca.

__ADS_1


"Itu bukan apa-apa, aku sengaja hanya memberikan satu sepatu high heels untukmu karena sepertinya kau tidak terbiasa memakainya, jadi lebih baik pakai sepatu yang membuatmu nyaman saja dan kenakan high heels hanya untuk saat-saat tertentu," ucap Arga.


"Terima kasih, aku memang lebih nyaman mengenakan sepatu Converse, tetapi aku akan mencoba untuk membiasakan diri memakai sepatu lain yang sudah kau berikan untukku," balas Bianca.


"Dan kau juga harus membiasakan diri untuk menggunakan pakaian ya sudah aku berikan untukmu, aku yakin semakin sering kau mengenakannya kau akan semakin terbiasa nantinya," ucap Arga.


"Baiklah tidak ada pilihan lain, aku memang harus mengenakan pakaian itu demi bisa membayar hutang orang tuaku," ucap Bianca dengan mengangguk anggukkan kepalanya pelan.


"Aah ya, bagaimana dengan para pria yang kemarin mendatangiku? apa yang kau lakukan pada mereka?" tanya Bianca pada Arga.


"Mereka sekarang bekerja padaku, jadi kau tidak perlu khawatir, tidak akan ada lagi yang mengganggumu," jawab Arga.


"Bekerja padamu? kau tidak mungkin mempekerjakan mereka di perusahaanmu bukan?" tanya Bianca tak percaya.


"Hahaha tentu saja tidak," jawab Arga.


"Lalu?"


"Kau akan tahu nanti, sekarang masuklah dan jangan lupa untuk memberitahu pemilik kafe tempatmu bekerja jika kau akan mengundurkan diri," ucap Arga.


"Baiklah aku masuk dulu," balas Bianca lalu berjalan meninggalkan Arga. Sedangkan Arga segera masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarainya pergi.


Hari telah berganti, setelah Bianca mandi, iapun berganti pakaian, mengenakan pakaian yang sudah Arga berikan padanya.


Saat tengah mengenakan sepatu Bianca tiba-tiba teringat ucapan Arga padanya.


"Aku sengaja hanya memberikan satu sepatu high heels untukmu, karena sepertinya kau tidak terbiasa memakainya, jadi lebih baik pakai sepatu yang membuatmu nyaman saja dan kenakan high heels hanya untuk saat-saat tertentu!"


Bianca tersenyum tipi saat mengingatnya, ia tidak menyangka laki-laki sombong dan angkuh yang baru dikenalnya itu ternyata memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya.


"Sepertinya ini pagi yang menyenangkan, katakan padaku apa yang membuatmu tersenyum sendiri seperti itu!" tanya Lola pada Bianca yang dilihatnya tersenyum tanpa alasan.


"Sepertinya dia bukan laki-laki yang buruk Lola," jawab Bianca.


"Maksudmu Arga?" tanya Lola yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca


"Kau baru mengenalnya beberapa hari jadi wajar jika kau belum mengenal dia sepenuhnya," ucap Lola.

__ADS_1


"Kau benar, karena aku akan menikah dengannya aku akan berusaha untuk bisa beradaptasi, tidak hanya dengannya tapi juga dengan kehidupannya, demi 50 miliar yang akan menyelamatkan hidupku," ucap Bianca.


"Memang lebih baik seperti itu, lagi pula kau hanya akan bersamanya selama 2 tahun dan setelah itu kau bebas menjadi dirimu sendiri yang seperti biasa," balas Lola.


Bianca kemudian membawa langkahnya meninggalkan kamar kos Lola untuk pergi ke kafe, namun bukan untuk bekerja tetapi untuk memberitahu pemilik kafe jika dirinya akan berhenti bekerja.


Namun Bianca tidak memberitahu sang pemilik kafe ataupun teman-teman kafenya alasan kenapa ia tiba tiba berhenti bekerja.


Ia tidak ingin membuat kehebohan saat mereka tahu jika Bianca akan menikah dengan laki-laki kaya raya, anak dari pemilik perusahaan besar, karena pada kenyataan pernikahan itu hanyalah pernikahan sementara karena kepentingan masing-masing.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, sebuah pesan masuk dari mama Arga. Bianca begitu terkejut saat ia melihat pesan masuk yang merupakan foto dari desain undangan yang sudah mama Arga pilih.


Dengan jelas Bianca melihat tanggal pernikahannya yang akan dilaksanakan dua hari lagi.


"Dua hari lagi? Secepat ini?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.


Bianca kemudian menghubungi Mama Arga untuk menanyakan tentang tanggal yang ia lihat pada undangan pernikahannya.


"Memangnya Arga belum memberitahumu?" tanya Mama Arga.


"Belum Tante, Arga belum memberitahu Bianca tanggal tepatnya," jawab Bianca.


"Padahal ini adalah permintaannya sendiri, mungkin dia lupa karena terlalu sibuk," jawab Mama Arga.


"Aahh iya nanti malam kita akan mengadakan makan malam untuk membahas tentang pesta pernikahan kalian, jadi persiapkan dirimu, Arga akan menjemputmu nanti malam!" ucap Mama Arga.


"Baik Tante," balas Bianca.


Setelah panggilan berakhir, Bianca hanya terdiam. Ia seolah tidak percaya jika dua hari lagi dirinya akan menikah dengan laki-laki yang baru dikenalnya.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca kembali berdering, sebuah pesan masuk dari seseorang yang sudah lama Bianca tunggu kabarnya.


"Apa kabar Bianca? sudah lama sekali aku tidak menghubungimu, kau tidak melupakanku bukan?"

__ADS_1


Bianca terdiam menatap pesan dari kontak yang ia beri nama Bara dengan emoticon hati berwarna merah.


__ADS_2