
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Bianca dan Lolapun sampai di tempat tujuan mereka.
"Kenapa kau pergi ke tempat seperti ini dengan pakaian seperti itu Bianca? aku pikir kau akan mengenakan pakaian seperti yang Arga berikan padamu!"
"Kau terlambat untuk protes Lola, kita sudah sampai disini, lagi pula ini adalah hari yang istimewa jadi aku tidak ingin siapapun mengatur hidupku, aku ingin memakai apa yang aku inginkan dan aku sukai, apa itu salah?"
Lola menggelengkan kepalanya dengan tersenyum lalu menggandeng tangan Bianca untuk masuk ke dalam gedung 2 lantai yang ada di hadapan mereka.
Dentuman musik yang keras samar-samar terdengar dari depan sebuah ruangan. Bianca dan Lolapun membuka pintu ruangan itu lalu membawa langkahnya masuk ke dalam ruangan dengan cahaya warna-warni yang berputar di beberapa sudut.
Bianca yang saat itu memakai celana jeans panjang, kaos oblong polos ditemani jaket jeans dan rambut yang diikat ke atas membuat beberapa orang memperhatikan Bianca yang memang tampak berbeda dengan para perempuan yang ada disana.
Bahkan gaya berpakaian Lola sangat berbanding jauh dengan Bianca. Dengan pakaiannya yang sedikit terbuka Lola sudah seperti para perempuan lain yang ada disana.
Bianca dan Lola kemudian membawa langkah mereka ke arah meja bartender, namun bukannya memesan alkohol mereka hanya memesan air soda karena mereka berdua tidak ingin mabuk di tempat itu.
"Cheers!" ucap Lola sambil mengangkat gelasnya di hadapan Bianca.
"Cheers!" balas Bianca sambil mengikuti gerakan Lola.
Mereka berduapun tertawa, menertawakan sikap mereka berdua yang masih belum berani untuk meminum alkohol di tempat yang didominasi oleh bermacam-macam alkohol.
"Apa kau senang? apa seperti ini ulang tahun yang kau harapkan?" tanya Bianca pada Lola.
"Ini adalah impianku Bianca, terima kasih sudah mewujudkannya untukku," balas Lola.
"Kau benar-benar aneh sekali, kau bahkan tidak bisa minum alkohol tetapi kau ingin pergi ke tempat seperti ini!" ucap Bianca.
"Aku hanya ingin melepaskan kepenatanku Bianca, kau tahu bukan bagaimana kehidupanku yang sebenarnya?"
"Iya aku tahu, jangan terlalu memikirkannya, hari ini adalah hari yang istimewa untukmu, kau harus bahagia hari ini," ucap Bianca sambil memegang bahu Lola.
"Kau memang sahabat terbaikku Bianca!" ucap Lola yang hanya dibalas senyum oleh Bianca.
"Apa kau tidak ingin seperti mereka?" tanya Lola sambil menunjuk orang-orang yang sedang berjoget di lantai dansa.
"Tidak, kau saja," jawab Bianca.
"Baiklah tunggu disini, aku akan menikmati malamku hari ini!" ucap Lola lalu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah lantai dansa sambil menggoyangkan badannya.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Lola, berniat untuk mengajak Lola berkenalan.
"Kau sangat cantik baby," ucap laki-laki itu.
Lola hanya tersenyum tipis sambil menikmati hentakan musik yang memenuhi ruangan itu.
Laki-laki itu kemudian memberikan segelas minuman pada Lola.
"Sorry," ucap Lola dengan gestur tangan menolak.
"Tenang saja ini bukan alkohol, hanya minuman bersoda," balas laki-laki itu yang membuat Lola akhirnya menerima minuman itu.
Untuk beberapa saat Lola terdiam, rasa minuman yang baru saja diminumnya terasa aneh di lidahnya namun keanehan itu justru membuatnya ingin meminumnya lebih banyak.
"This is amazing!!" ucap Lola yang semakin menggoyangkan badannya tak terkendali bersama laki-laki itu.
Bianca yang melihat hal itu segera berjalan ke arah Lola untuk meminta Lola kembali duduk.
"Kenapa? kenapa aku harus duduk?" tanya Lola sambil berusaha meronta dari Bianca yang memegang kedua bahunya.
"Kau harus kembali duduk Lola, kau sudah berlebihan!" ucap Bianca sambil memberikan minumannya pada Lola.
"Tidak, aku tidak mau minum minuman ini, kita disini untuk bersenang-senang Bianca, biarkan aku meminum apapun yang aku inginkan!" ucap Lola lalu memesan alkohol pada bartender, namun Bianca segera menahannya.
"Apa kau gila? kau memesan air putih di tempat seperti ini? hahaha..... memalukan sekali!" ucap Lola yang sudah tampak mabuk.
"Sepertinya kita harus pulang sekarang, ayo berdirilah!" ucap Bianca sambil membantu Lola berdiri, namun bukannya berdiri Lola malah mendorong Bianca hingga Bianca hampir saja terjatuh jika tidak ada seseorang di belakang yang menahannya.
"Bianca, Lola, apa yang kalian lakukan disini?" tanya Daffa yang segera melepaskan tangannya dari bahu Bianca.
"Daffa, kau disini?" balas Bianca bertanya yang terkejut melihat keberadaan Daffa.
"Jangan membahas tentangku, kenapa kau bisa ada disini? apa Arga tahu kau disini?" tanya Daffa tanpa menjawab pertanyaan Bianca.
"Aku sudah memberitahunya," jawab Bianca singkat.
"Lalu apa Arga mengizinkanmu kesini?" tanya Daffa ragu jika Arga mengizinkan Bianca datang ke tempat seperti itu.
"Mmmm..... dia......"
__ADS_1
"Hai tampan," ucap Lola yang membuat Bianca menghentikan ucapannya.
Karena efek alkohol yang sudah diminumnya, Lolapun tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Lola berjalan mendekati Daffa lalu mencubit pipi Daffa dengan gemas.
"Kau tampan sekali, apalagi dengan lesung pipi ini!" ucap Lola sambil menusuk lubang kecil di pipi Daffa.
"Sepertinya kau sudah sangat mabuk," ucap Daffa.
"Sepertinya ada seseorang yang sengaja membuatnya mabuk, karena aku dan Lola hanya memesan air soda tadi," ucap Bianca.
"Arga pasti akan sangat marah jika dia tahu kau disini, sebaiknya kalian berdua aku antar pulang sekarang juga!" ucap Daffa.
Namun sebelum mereka keluar dari ruangan itu, Lola tiba-tiba memuntahkan isi perutnya tepat di tangan Daffa.
"Aaargghhh sial!" ucap Daffa yang segera melepas kemejanya.
"Waaahhh kau sudah kotor sekarang hahaha....." ucap Lola yang sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan.
"Kau...."
"Hhhmmmpp!!"
Daffa menghentikan ucapannya saat melihat Lola yang sedang menutup mulut dengan tangannya, seolah menahan sesuatu yang akan segera keluar dari mulutnya.
"Stop Lola, tahan sebentar!" ucap Daffa pada Lola.
"Bianca tunggu sebentar disini, aku akan mengantar Lola ke toilet!" ucap Daffa pada Bianca lalu berjalan ke toilet bersama Lola.
Biancapun hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali duduk di kursinya.
Di sisi lain Arga yang sedang mencari keberadaan Daffa baru saja memarkirkan mobilnya di depan sebuah gedung yang memang sering Daffa datangi.
"Pasti dia ada disini," ucap Arga lalu membawa langkahnya memasuki gedung dua lantai di hadapannya.
Dentuman musik keras yang memekikkan telinga benar-benar membuat Arga tidak nyaman, namun dia terpaksa pergi ke tempat itu untuk mencari keberadaan Daffa yang pergi begitu saja sebelum menyelesaikan pekerjaannya.
Saat Arga baru saja memasuki ruangan itu ia melihat seseorang yang tidak asing di matanya. Seketika Arga terdiam menahan amarah yang sudah hampir memuncak di ujung kepalanya.
"Bianca!"
__ADS_1
Mendengar namanya dipanggil, Biancapun segera membawa pandangannya ke arah Arga yang berdiri tak jauh darinya.
Bianca bisa melihat raut kemarahan pada wajah Arga yang berjalan semakin mendekat ke arahnya dan tanpa basa-basi menarik Bianca dengan kasar lalu membawanya keluar dari ruangan itu.