
Di tepi pantai, Arga masih duduk bersama dengan sang papa setelah sang Mama pergi bersama Bianca.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau ceritakan pada papa, Arga?" tanya David pada Arga.
"Tidak ada pa, semuanya berjalan dengan baik, hanya ada masalah kecil yang selalu bisa Arga selesaikan dengan mudah," jawab Arga.
"Kau bisa menceritakan apapun pada papa Arga, bukan hanya tentang perusahaan tapi juga tentang kehidupan pernikahanmu bersama Bianca," ucap David.
"Bianca istri yang baik, hanya itu yang bisa ada katakan pada papa," balas Arga.
"Apa kau sangat mencintainya?" tanya David yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada sang papa.
"Kenapa papa tiba-tiba bertanya seperti itu?" balas Arga bertanya.
"Kau anak laki-laki papa satu-satunya Arga, selama ini papa tidak pernah meminta apapun padamu karena papa selalu percaya dengan semua pilihan yang kau tentukan," ucap David.
"Tapi satu hal yang harus papa tekankan padamu, apa yang ada di hati dan pikiranmu terkadang berbeda, mungkin kau akan bimbang dan bingung, bisa jadi kau salah mengartikan apa yang sebenarnya kau rasakan, jadi papa harap kau bisa mendengarkan apa yang sebenarnya ada di hatimu meskipun itu sesuatu yang kau anggap mustahil dalam pikiranmu," lanjut David.
Arga hanya terdiam mendengar ucapan sang papa. Ia dan papanya memang sangat dekat, tetapi ia tidak tahu kenapa tiba-tiba sang papa memberikan nasehat yang begitu dalam padanya.
"Arga tidak mengerti kenapa papa tiba-tiba berbicara seperti itu, tapi jika ada sesuatu yang papa tahu tolong katakan pada Arga karena Arga tidak ingin Mama dan papa salah paham dengan apa yang kalian tahu tentang Arga dan Bianca," ucap Arga.
"Mama dan papa hanya tahu jika kalian adalah suami istri yang bahagia, papa percaya padamu Arga, papa yakin kau pasti bisa memperlakukan Bianca dengan baik dan papa yakin Biancapun bisa menjadi istri yang baik untukmu," balas David.
"Apa papa juga menyukai Bianca sejak papa pertama kali bertemu dengannya?" tanya Arga pada sang papa.
"Sama seperti mamamu, Bianca berhasil menarik perhatian kita saat pertama kali kita bertemu," jawab David.
"Bagaimana dengan Karina? apa papa juga tidak menyukainya seperti mama?" tanya Arga.
"Papa ingat pernah bertemu dengannya beberapa kali, tapi papa tidak memiliki kesan apapun tentangnya, jika saja dia tidak melakukan kesalahan besar papa akan tetap mendukung hubunganmu dengannya saat itu," jawab David.
"Apa papa sekarang membenci Karina seperti mama yang sangat membencinya?" tanya Arga.
"Tidak, papa tidak pernah membencinya Arga, apa yang sudah dia lakukan menunjukkan bagaimana dia yang sebenarnya dan menurut papa dia memang tidak pantas untukmu," jawab David.
"Dia seperti itu karena kesalahan Arga pa, jika saja Arga tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan Arga mungkin dia tidak akan merasa kesepian dan mencari laki-laki lain yang bisa selalu ada untuknya," ucap Arga.
"Itu artinya dia tidak benar-benar mencintaimu Arga," ucap David yang membuat Arga seketika membawa pandangannya pada sang papa.
"Papa dulu juga sangat sibuk karena papa mulai mengembangkan perusahaan sejak papa dekat dengan mamamu, terkadang papa terlalu sibuk sampai tidak sempat memperhatikan mamamu, bahkan pernah beberapa hari papa sama sekali tidak menghubungi mamamu, tapi kau tau apa yang dilakukan mamamu saat itu?"
Arga menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Mamamu tiba-tiba datang ke kantor dengan membawakan papa bekal makan siang, mamamu sama sekali tidak marah, dia justru memberi semangat pada papa dan memperhatikan papa meskipun papa tidak pernah membalas pesannya selama beberapa hari," jelas David.
"Lalu apa yang papa lakukan?" tanya Arga.
"Papa baru menyadari jika banyak pesan yang masuk dari mamamu selama beberapa hari, papa meminta maaf dan berusaha untuk memperbaiki cara berkomunikasi kita sebelum kesabaran mamamu habis karena kesibukan papa saat itu," jawab David.
"Sesibuk apapun papa, mamamu selalu memberikan supportnya untuk papa Arga, itulah yang membuat papa semakin bersemangat dalam menjalani bisnis papa sampai akhirnya kita mendapatkan apa yang selama ini kita usahakan," lanjut David.
"Mama benar-benar wanita yang hebat, papa beruntung memiliki mama yang sangat mengerti kesibukan papa," ucap Arga yang merasa bangga pada sang mama.
"Kau juga beruntung memiliki Bianca, dia perempuan yang cantik dan pintar, papa tahu dia sudah membantumu menyelesaikan masalah perusahaan dan itu membuat papa bangga padanya," ucap David.
"Papa mengetahuinya?" tanya Arga terkejut.
"Tentu saja, kau tidak bisa menyembunyikan masalah perusahaan dari papa Arga!" balas David.
Arga hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya.
"Arga ingin ke toilet sebentar pa!" ucap Arga lalu berjalan pergi.
Setelah Arga keluar dari toilet, ia melihat sang Mama yang duduk bersama Bianca.
Argapun membawa langkahnya dengan pelan ke arah sang mama dan Bianca, berniat untuk mengejutkan mereka berdua.
__ADS_1
Namun saat Arga mendengar percakapan sang mama dan Bianca, seketika Arga menghentikan langkahnya dan menyembunyikan dirinya dari sang mama dan Bianca.
Sesekali Arga mengintip ke arah Bianca dan ia bisa melihat dengan jelas raut wajah Bianca yang tampak tidak nyaman dengan obrolannya bersama sang mama.
"Mama jangan khawatir, Bianca akan mencoba untuk membicarakannya dengan Arga!" ucap Bianca pada Nadine.
"Terima kasih sayang, kau membuat Mama lega sekarang," balas Nadine lalu memeluk Bianca.
Dalam pelukan Nadine, Bianca berusaha untuk menahan rasa sesak dalam dadanya. Tanpa ia sadar kedua matanya yang sudah berkaca-kaca meneteskan air mata yang sudah membasahi pipinya dan dengan cepat Bianca segera menghapusnya.
Bianca menangis bukan karena permintaan Nadine yang menginginkan agar Bianca dan Arga segera memiliki anak, melainkan karena Bianca yang merasa begitu bersalah pada Nadine.
Nadine yang sebelumnya adalah orang lain baginya kini memeluknya dengan erat seperti seorang ibu yang memeluk anak kandungnya.
Nadine yang sebelumnya adalah orang lain baginya kini begitu mempercayainya dan memberinya kehangatan kasih sayang yang sudah lama tidak pernah ia rasakan dari sosok kedua orang tuanya yang sudah lama pergi.
Rasa bersalah itu terasa begitu menyesakkan bagi Bianca, namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain berusaha untuk menyembunyikan perasaan itu jauh di dalam hatinya.
Dengan membawa kelapa di masing-masing tangan mereka, Nadine dan Bianca kemudian meninggalkan tempat itu dan membawanya pada Arga dan papanya.
"Kenapa papa sendirian?" tanya Nadine dengan memberikan satu kelapa pada sang suami.
"Arga pergi ke toilet," jawab David.
"Sebaiknya kita pergi saja Pa, biarkan Bianca dan Arga berdua disini," ucap Nadine sambil beranjak dari duduknya diikuti oleh David.
"Kau tidak keberatan menunggu Arga disini sendirian bukan?" tanya David pada Bianca.
"Tidak pa, pasti sebentar lagi Arga akan datang," jawab Bianca.
"Baiklah kalau begitu, nikmati waktu kalian berdua, kita akan bertemu saat makan malam nanti," ucap David yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Bianca.
Tak lama kemudian Arga datang dan duduk di samping Bianca.
"Kenapa kau sendirian? dimana Mama dan papa?" tanya Arga.
"Mereka membiarkan kita berdua disini," jawab Bianca sambil memberikan kelapa muda pada Arga.
Gulungan ombak kecil yang berada di bawah langit senja dengan angin yang bertiup lembut memberikan suasana yang begitu tenang sore itu.
Berbeda dengan Bianca yang menikmati pemandangan indah di hadapannya, Arga justru terdiam menatap Bianca dari samping tanpa mengatakan apapun.
Arga masih mengingat dengan jelas apa saja yang mamanya katakan pada Bianca beberapa saat yang lalu, ia juga melihat bagaimana Bianca berusaha tetap terlihat baik-baik saja di hadapan sang mama.
Saat Arga melihat air mata Bianca menetes dalam pelukan sang mama, membuat Arga semakin merasa bersalah pada Bianca, karena ia sudah membawa Bianca pada masalah pribadi yang seharusnya ia hadapi sendiri.
"Maafkan aku Bianca," ucap Arga yang membuat Bianca seketika membawa pandangannya pada Arga.
"Apa kau baru saja meminta maaf padaku?" tanya Bianca memastikan apa yang baru saja ia dengar.
Arga menghela nafasnya panjang lalu menganggukkan kepalanya.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Bianca.
"Maaf karena sudah melibatkanmu sejauh ini, aku memang sangat pengecut, aku bahkan tidak bisa menyelesaikan masalahku sendiri dan malah membawamu ke dalam masalah yang seharusnya aku hadapi sendiri," ucap Arga.
"Apa maksudmu Arga? kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?" tanya Bianca tak mengerti.
"Aku mendengar semuanya, aku mendengar obrolanmu bersama mama," jawab Arga dengan menatap Bianca yang duduk di sampingnya.
"Maafkan aku Bianca, maaf sudah membawamu pada situasi yang seperti ini," lanjut Arga dengan menggenggam tangan Bianca di atas pasir.
"Kau pasti kesulitan dalam menghadapi mama, aku akan berbicara pada Mama agar tidak membicarakan hal itu lagi padamu, aku....."
"Tidak Arga, jangan lakukan hal itu," ucap Bianca memotong ucapan Arga.
"Kenapa? bukankah hal itu sangat mengganggumu? kau tidak bisa berbohong padaku Bianca, aku tahu kau merasa tidak nyaman saat mengobrol bersama mama tadi, aku juga melihatmu menangis saat Mama memelukmu!"
__ADS_1
"Aku menangis bukan karena hal itu Arga!" ucap Bianca.
"Lalu apa yang membuatmu menangis Bianca? aku tahu kau tidak akan menangis jika bukan karena sesuatu yang membuatmu sangat bersedih!"
"Dadaku terasa sesak, bahkan memikirkannya saja membuatku bersedih," ucap Bianca lalu membawa pandangannya menatap Arga.
"Aku sangat merasa bersalah pada orang tuamu Arga, aku merasa sangat berdosa karena sudah berbohong pada mereka, mereka sangat menyayangiku seperti orang tua kandungku sendiri, mereka juga sangat mempercayaiku Arga!" ucap Bianca dengan suara bergetar.
"Apa yang sudah aku sepakati denganmu adalah kesalahan besar yang terpaksa harus aku lakukan, aku tidak tahu jika rasanya akan semenyakitkan ini saat aku sadar jika aku sudah berbohong pada orang-orang yang begitu menyayangiku," lanjut Bianca dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Mendengar apa yang Bianca katakan membuat Arga ikut merasakan sesak dalam dadanya. Ia tidak menyangka jika apa yang sudah ia sepakati dengan Bianca memberikan rasa bersalah yang begitu besar pada Bianca.
Arga kemudian mendekatkan dirinya pada Bianca lalu merengkuh Bianca ke dalam dekapannya.
"Kau sama sekali tidak bersalah Bianca, aku yang membawamu ke dalam kebohongan besar ini, jadi aku sendiri yang akan bertanggung jawab atas semua yang akan terjadi nanti," ucap Arga berusaha menenangkan Bianca.
Bianca hanya terdiam dalam pelukan Arga, membiarkan air matanya jatuh dengan menahan isak yang tidak ingin ia perdengarkan pada Arga.
"Berhentilah merasa bersalah pada mama dan papa, jangan menganggap perhatian mama dan papa sebagai beban untukmu Bianca," ucap Arga.
Goresan senja di langit barat kini sudah menghilang, berganti dengan gelap pekat ditemani bulan dan bintang yang menghiasinya.
Arga dan Bianca masih duduk di tepi pantai, merasakan ketenangan suasana pantai dengan hangatnya dekapan Arga pada Bianca.
Setelah Bianca merasa lebih tenang, ia melepaskan dirinya dari dekapan Arga. Tak bisa dipungkiri, pelukan dan tatapan Arga selalu membuatnya tenang dan nyaman.
"Jalani hidupmu dengan penuh kebahagiaan selama 2 tahun ini, aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu Bianca dan jangan pernah merasa terbebani oleh Mama dan papa," ucap Arga sambil menghapus sisa air mata di pipi Bianca.
"Aku tidak bisa menghilangkan rasa bersalah itu Arga, itu tidak mudah bagiku," balas Bianca dengan menundukkan kepalanya.
"Aku mengerti, kau memang perempuan yang baik Bianca, itu kenapa kau merasa tersiksa dengan kebohongan yang sudah kita sepakati," ucap Arga sambil memegang bahu Bianca dan membawa Bianca bersandar di bahunya.
Untuk beberapa saat mereka kembali terdiam, menatap kilau bintang pada hamparan langit malam.
Tanpa sadar tangan Arga masih menggenggam erat tangan Bianca untuk waktu yang cukup lama.
Mereka berdua benar-benar menikmati ketenangan yang ada disana, menikmati waktu mereka berdua sebagai layaknya sepasang suami istri pada umumnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Arga berdering, sebuah pesan masuk dari sang mama.
"Mama menunggu kalian berdua di restoran untuk makan malam."
Arga kemudian memberitahu Bianca jika sang mama sudah menunggu mereka berdua untuk makan malam di restoran.
Arga dan Bianca kemudian beranjak dari duduk mereka lalu berjalan meninggalkan pantai.
"Tentang apa yang mama katakan padamu, aku harap kau tidak terlalu memikirkannya," ucap Arga pada Bianca saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Sepertinya Mama sengaja menyiapkan liburan kali ini untuk kita berdua," balas Bianca.
"Mama memang selalu punya rencananya sendiri, tapi kau tidak perlu terlalu memikirkannya."
"Tapi apapun yang terjadi kau jangan membicarakan masalah ini dengan Mama, apalagi sampai memarahi mama!" ucap Bianca.
"Kenapa kau sangat mengkhawatirkan Mama Bianca? padahal seharusnya Mama tidak mengatakan hal itu padamu setelah Mama berjanji padaku untuk tidak membahasnya lagi!"
"Mama mengatakannya padaku karena mama tidak bisa mengatakan hal itu padamu Arga," balas Bianca.
Arga menghela nafasnya panjang lalu membawa pandangannya pada Bianca dengan tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? menakutkan sekali!"
"Kau istri yang baik Bianca," balas Arga dengan menepuk pelan kepala Bianca.
"Jangan menyentuhku sembarangan!" ucap Bianca sambil menyingkirkan tangan Arga dari kepalanya.
__ADS_1
Arga hanya tersenyum tipis lalu kembali fokus menyetir.
"Padahal baru beberapa menit yang lalu dia sangat tenang dalam pelukanku," ucap Arga dalam hati.