
Bertahun-tahun Bianca menunggu kembalinya Bara dengan harapan Bara akan mengungkapkan perasaannya pada Bianca.
Tak pernah sedikitpun Bianca berpikir hal buruk tentang Bara meskipun bukan hal yang tidak mungkin jika Bara menyukai perempuan lain di luar sana.
Harvard university dengan jurusan Sosial Sciences, disanalah Bara menjalani masa kuliahnya.
Bianca hanya bisa terdiam saat Luna mengatakan jika laki-laki yang dia sukai bernama Bara yang berkuliah di tempat yang sama dan jurusan yang sama dengan Bara yang Bianca kenal.
"Apa dia Bara yang sama dengan Bara yang selama ini kau tunggu, Bianca?" tanya Arga yang melihat Bianca hanya terdiam.
"Tidak mungkin," jawab Bianca dengan suaranya yang bergetar.
"Siapa nama panjang Bara, aku akan mencoba untuk mencari tahunya," tanya Arga.
"Tidak perlu, kau tidak perlu mencari tahu apapun tentang kak Bara, aku yakin Bara yang dimaksud Luna bukanlah kak Bara yang aku kenal," ucap Bianca yang segera berjalan pergi begitu saja.
Bianca berlari kecil memasuki kamarnya lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Setelah cukup lama ia mempercayai Bara, kini hatinya mulai goyah. Bianca merasa takut jika laki-laki yang Luna maksud adalah laki-laki yang sama dengan laki-laki yang selama ini ia tunggu kedatangannya.
Bianca kemudian beranjak dan mengambil sebuah kotak yang ia simpan di laci. Bianca membukanya dan mengambil sebuah cincin yang ada di dalamnya.
"Untuk apa kak Bara memberikan cincin ini padaku jika dia tidak memiliki maksud apapun, untuk apa juga dia memintaku untuk menunggu?" tanya Bianca dengan menatap cincin di tangannya.
"Pasti hanya kebetulan saja, pasti banyak yang memiliki nama yang sama dengan kak Bara, aku yakin Bara yang dimaksud Luna bukanlah kak Bara yang aku kenal," ucap Bianca dengan berusaha tersenyum sambil menaruh cincin itu di dalam kotak lalu kembali menyimpannya di laci.
Bianca kemudian mengambil ponselnya, ia baru menyadari jika sejak ia berada di rumah sakit belum ada pesan masuk ataupun panggilan dari Bara.
"Apa mungkin ponsel kak Bara sedang bermasalah?" tanya Bianca pada dirinya sendiri dengan berusaha untuk tetap berpikir positif pada Bara.
Bianca mencoba menghubungi Bara lagi, namun tidak terhubung, Bianca juga mengirim pesan dan hanya menunjukkan tanda centang satu yang artinya pesan Bianca tidak diterima oleh Bara.
"Ada apa dengan kak Bara sebenarnya? kenapa sekarang tidak bisa dihubungi sama sekali?" tanya Bianca yang berusaha untuk terus menghubungi Bara hingga akhirnya ia kesal dan menaruh kembali ponselnya di atas meja.
"Aku sudah sangat lama menunggu kak Bara, aku tidak boleh menyerah hanya karena aku tidak bisa menghubungi kak Bara," ucap Bianca pada dirinya sendiri.
Entah karena kesetiaannya pada Bara atau karena kebodohannya, Bianca memilih untuk tetap menunggu kedatangan Bara.
Setelah kontrak pernikahannya dengan Arga berakhir, Bianca akan menjalani kehidupannya dengan normal dan saat itulah Bara akan mendatanginya bersama terkabulnya harapan yang selama ini Bianca simpan dalam hatinya.
Setidaknya itulah yang Bianca pikirkan saat itu.
"Aku tidak perlu terlalu memikirkannya, lagi pula Luna berkata jika Bara yang dia kenal akan datang bulan depan, sedangkan aku tahu kak Bara baru bisa kembali tahun depan," ucap Bianca dengan menganggukkan kepalanya pelan.
**
Hari telah berganti, Arga yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya segera merapikan meja kerjanya, ia sudah tidak sabar untuk segera pulang sore itu.
Saat Arga baru saja beranjak dari duduknya, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka dan Daffapun masuk dengan membawa sebuah map di tangannya.
"Jam kerjaku sudah selesai Daffa, kau bisa kembali besok pagi!" ucap Arga pada Daffa.
"Masih ada berkas yang harus kau periksa dan kau tanda tangani, Arga," balas Daffa sambil menahan Arga yang akan pergi.
"Ini sudah waktunya pulang Daffa, kau juga harus pulang!" ucap Arga.
"Ini berkas terakhir Arga, kau harus segera menandatanganinya agar aku bisa melakukan langkah selanjutnya," ucap Daffa yang masih berusaha untuk menahan Arga.
"Aku percaya padamu Daffa, jadi tidak bisakah kau saja yang menandatanganinya?" ucap Arga sekaligus bertanya
"Apa kau bodoh? atau kau baru menjabat sebagai CEO disini?" balas Daffa yang membuat Arga menghela nafasnya lalu kembali duduk dan meraih map yang ada di tangan Daffa.
"Aku tidak perlu memeriksanya lagi, aku sudah percaya padamu," ucap Arga lalu menandatangani berkas yang ada pada map itu.
"Memangnya kemana kau akan pergi? kenapa kau buru-buru sekali?" tanya Daffa setelah Arga mengembalikan map itu padanya.
"Aku harus segera pulang, aku sudah berjanji pada Bianca untuk pulang cepat hari ini," jawab Arga.
__ADS_1
"Bukankah kau memang selalu pulang cepat sekarang?" tanya Daffa yang membuat Arga terkekeh lalu segera keluar dari ruangannya.
Sejak Bianca dirawat di rumah sakit sampai hari itu, Arga memang selalu meninggalkan kantor tepat waktu.
Setiap hari ia ingin segera pulang dan bertemu dengan Bianca. Arga yang dulu sangat tergila-gila dengan pekerjaannya, kini lebih memprioritaskan Bianca di atas segalanya.
Pekerjaan adalah salah satu kewajiban yang harus dikerjakannya dengan baik, tapi itu tidak akan membuat dirinya mengabaikan Bianca karena tidak ada yang lebih berarti baginya dibanding Bianca.
Saat Arga berjalan di lobby, tiba-tiba seseorang melambaikan tangan pada Arga dan Argapun segera menghampirinya.
"Aku sudah berusaha menghubungimu tetapi kau tidak menerima panggilanku," ucap laki-laki itu pada Arga.
"Aku sangat sibuk jadi tidak sempat memeriksa ponselku, ada apa kau tiba-tiba menghubungiku sampai mendatangiku kemari?" ucap Arga sekaligus bertanya.
"Ada sedikit masalah di media yang membawa namamu tentang apa yang terjadi pada Karina dan tunangannya, media mulai berspekulasi tentangmu karena mereka tahu jika kau dan Karina pernah berhubungan," jelas laki-laki itu.
"Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang Karina dan Bian lakukan, jika memang perlu polisi bisa melakukan tindakan apapun untuk memeriksaku tapi pastikan tidak ada media yang menyebarkan berita ini karena aku tidak ingin ada keributan," balas Arga.
"Masalah hanya ada pada media Arga, jadi ini tidak ada hubungannya dengan pihak kepolisian, media hanya mencari berita yang akan banyak dibaca orang jika mereka membawa namamu," ucap laki-laki itu.
"Tapi kau bisa menangani hal ini bukan?" tanya Arga memastikan.
"Aku akan berusaha menanganinya, aku kesini karena ingin mengingatkanmu agar kau tidak melakukan apapun yang berhubungan dengan Karina ataupun Bian, karena hal itu akan memicu berita baru yang dicari awak media," balas laki-laki itu.
"Baiklah aku mengerti, lagi pula aku memang tidak ada hubungan apapun dengan mereka," ucap Arga dengan menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai mengobrol dengan laki-laki itu, Arga segera mengendarai mobilnya meninggalkan kantor untuk pulang ke rumahnya.
Karena keadaan jalan raya yang sangat macet sore itu, Arga baru sampai di rumah saat malam hari.
Sesampainya Arga di rumah, sudah ada Bianca dan Luna yang sedang mengobrol di teras rumah.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Arga pada Luna yang duduk bersama Bianca.
"Tentu saja untuk menemui kakak iparku tersayang," jawab Luna sambil memeluk Bianca yang duduk di sampingnya.
"Cepat sekali kalian akrab, apa yang kau bicarakan pada Bianca tentangku?" ucap Arga sekaligus bertanya sambil membawa langkahnya duduk di samping Bianca.
"Kau yang harusnya pergi, kakak sudah ada janji dengan Bianca untuk makan malam di luar sekarang!" ucap Arga.
"Tidak bisakah Luna ikut? Luna belum pernah makan malam bersama kak Bianca," tanya Luna dengan membawa pandangannya pada Arga dan Bianca bergantian.
"Tentu saja bisa, makan malam bertiga sepertinya lebih menyenangkan," jawab Bianca tanpa ragu.
"Tidak Bianca, kita hanya akan makan malam berdua," sahut Arga.
"Kenapa? Luna baru pulang dari luar negeri, dia juga pasti merindukanmu dan ingin makan malam bersamamu!" ucap Bianca.
"Apa kau lupa janjimu padaku Bianca?" tanya Arga yang membuat Bianca menghela nafasnya.
"Baiklah aku mengerti," balas Bianca dengan menganggukkan kepalanya pelan.
"Oke sekarang kau harus mengusir Luna agar segera pergi dari sini, aku akan segera bersiap dan kita akan segera berangkat!" ucap Arga lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
"Apa kak Bianca akan mengusir Luna sekarang?" tanya Luna pada Bianca dengan raut wajah yang dibuat terlihat sedih.
"Maaf Luna, aku sudah berjanji pada Arga untuk makan malam berdua malam ini, tapi aku janji lain kali aku akan mengajakmu untuk makan malam bersama," ucap Bianca menyesal karena tidak bisa mengajak Luna untuk makan malam bersama.
Melihat raut wajah Bianca yang tampak menyesal, Lunapun hanya tertawa.
"Kenapa kak Bianca serius sekali? Luna hanya bercanda kak, tidak mungkin Luna mengganggu makan malam kak Bianca dan kak Arga!" ucap Luna.
Luna kemudian berpamitan pada Bianca untuk pulang dan dengan diantar supir, Luna meninggalkan rumah Bianca.
Tak lama setelah kepergian Luna, Argapun siap untuk berangkat makan malam bersama Bianca.
"Apa anak nakal itu sudah pergi?" tanya Arga pada Bianca
__ADS_1
"Jangan menyebutnya seperti itu, dia adik perempuan yang sangat manis dan baik," balas Bianca sambil memukul pelan bahu Arga
"Kau tidak tahu saja bagaimana dia dulu sangat nakal!" ucap Arga.
Arga dan Bianca kemudian masuk ke dalam mobil, Arga mengendarai mobilnya meninggalkan rumah untuk pergi ke salah satu restoran yang sudah dia reservasi sebelumnya.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di restoran mewah yang sengaja agar pesan untuk makan malamnya bersama Bianca.
Merekapun menikmati makan malam mereka dengan tenang karena memang suasana restoran itu sangat tenang dengan didominasi oleh pasangan dari kalangan atas.
Setelah menyelesaikan makan malam itu, Arga mengendarai mobilnya ke arah suatu tempat yang tidak akan pernah Bianca pikirkan jika Arga akan mengajaknya kesana.
Saat Arga baru saja memarkirkan mobilnya, Bianca merasa ragu untuk keluar dari mobil setelah ia tahu kemana Arga mengajaknya.
"Kenapa kita kesini?" tanya Bianca pada Arga.
"Tentu saja untuk bersenang-senang," jawab Arga dengan penuh senyum.
"Tidak bisakah kita bersenang-senang di tempat lain saja? sepertinya aku memiliki pengalaman yang tidak cukup baik di tempat seperti ini!"
"Kau harus ingat janjimu padaku Bianca, sekarang ayo keluar!" ucap Arga lalu keluar dari mobilnya dan membuka pintu mobil untuk Bianca.
Karena ia berjanji untuk mengabulkan satu permintaan Arga, Biancapun hanya bisa pasrah mengikuti langkah Arga memasuki klub malam yang ada di hadapannya.
Dentuman keras musik mulai memenuhi telinga Bianca saat ia baru saja masuk ke dalam ruangan besar yang ada disana.
Bianca dan Arga duduk di depan bartender dan tak lama kemudian dua gelas minuman tersaji di hadapan Bianca dan Arga.
"Apa minuman ini akan membuatku mabuk?" tanya Bianca sebelum ia meminum minuman itu.
"Ini hanya minuman pembuka Bianca, tidak mungkin membuatmu mabuk," jawab Arga.
Bianca kemudian menegak minuman itu tanpa ragu, namun saat lidahnya merasakan rasa aneh setelah bersentuhan dengan minuman itu, iapun segera menaruhnya.
"Kau pasti berbohong padaku!" ucap Bianca dengan mengernyitkan keningnya karena merasakan aneh pada lidahnya.
Arga hanya terkekeh lalu menyeruput minuman miliknya.
Hampir 30 menit Bianca dan Arga berada di tempat itu, suara musik yang begitu keras perlahan membuat Bianca merasa pusing.
"Minuman ini akan menetralisir rasa pusing Bianca, meskipun rasanya sedikit aneh tetapi kau tidak akan pusing setelah kau meminumnya," ucap Arga sambil menggeser minuman milik Bianca.
"Aku tidak ingin terjadi hal-hal memalukan jika aku mabuk," balas Bianca menolak.
"Jangan khawatir, aku akan segera mengajakmu keluar dari sini jika kau mulai mabuk," ucap Arga.
"Tidak bisakah kita pulang saja, Arga?" tanya Bianca yang masih enggan untuk meminum minuman miliknya.
Arga hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali menggeser minuman milik Bianca.
Karena tidak ada pilihan lain, Biancapun menegak minuman itu sampai habis tak tersisa, berharap ia bisa menikmati malamnya bersama Arga di tempat itu tanpa merasakan pusing.
"Bolehkah aku memintanya lagi?" tanya Bianca sambil menggeser gelasnya yang kosong ke arah bartender.
Arga hanya memberikan anggukan kepalanya sebagai kode pada bartender yang membuat bartender itu kembali menuang minuman pada gelas Bianca yang kosong.
Tanpa ragu Bianca kemudian menegak minuman itu lagi sampai habis tak bersisa.
"Bagaimana sekarang? apa kau masih pusing?" tanya Arga pada Bianca.
"Tidak, minuman ini benar-benar menghilangkan pusing, apa dia berfungsi seperti obat?" jawab Bianca sekaligus bertanya yang membuat Arga menahan tawanya.
"Waaahh lihatlah laki-laki itu Arga, badannya sangat besar tetapi kepalanya sangat kecil hahaha....." ucap Bianca sambil menunjuk salah satu pengunjung bar.
"Sebaiknya kita pergi sekarang sebelum kau membuat masalah disini," balas Arga sambil beranjak dari duduknya lalu membantu Bianca untuk beranjak dari duduknya.
"Tidak, aku tidak mau pergi," ucap Bianca sambil berlari ke arah kerumunan orang lalu menari bersama beberapa orang yang ada disana.
__ADS_1
"Hai cantik," sapa seorang laki-laki yang mendekati Bianca.
"Jangan menggodaku, aku sudah memiliki suami yang sangat tampan, dia juga memiliki banyak uang yang tidak akan pernah habis jika aku menggunakannya seumur hidupku," balas Bianca sambil terus menari, membuat Arga hanya tersenyum tipis melihatnya.