
Setelah cukup lama bergulat dengan apa yang ada dalam pikirannya, akhirnya Arga mengatakan satu keputusan yang sudah ia pikirkan dengan matang.
"Baiklah, aku sudah memutuskannya, besok pagi kau akan tetap melakukan terapi bersama dokter Galih di pantai dan aku akan meminta Mama untuk menemanimu, aku akan segera menghampirimu setelah aku menyelesaikan pertemuanku," ucap Arga.
"Aku setuju, dengan begitu kau tetap bertanggung jawab dengan pekerjaanmu dan aku tetap bisa melakukan terapi sesuai jadwal yang sudah dokter Galih tentukan," balas Bianca dengan penuh senyum
"Kenapa kau terlihat senang sekali? Apa kau senang karena bisa bersama dokter Galih tanpa aku?" tanya Arga.
"Ini tidak ada hubungannya dengan dokter Galih, aku senang karena kau sudah memutuskan hal yang tepat," jawab Bianca.
"Baguslah kalau begitu, sekarang beristirahatlah, aku harus menyiapkan materi untuk pertemuan besok pagi," ucap Arga sambil menepuk pelan kepala Bianca kemudian membawa langkahnya duduk di sofa.
Bianca hanya menganggukkam kepalanya pelan lalu membaringkan badannya di atas ranjangnya dengan pandangannya yang masih menatap Arga yang sudah duduk di sofa.
Tanpa Arga tahu, Bianca belum memejamkan matanya, Bianca memperhatikan Arga yang tampak sibuk dengan pekerjaannya.
"Mungkin perempuan lain akan jatuh cinta melihat sikapmu yang seperti ini Arga, tapi itu tidak akan terjadi padaku karena aku ingat kontrak yang sudah kita berdua sepakati sebelum pernikahan kita terjadi," ucap Bianca dalam hati.
"Apa kau belum tidur Bianca?" tanya Arga yang tiba-tiba membawa pandangannya pada Bianca, membuat Bianca seketika memejamkan matanya, berpura-pura untuk tertidur
Melihat hal itu, Arga hanya tersenyum tipis, ia tahu jika Bianca hanya berpura-pura tidur saat itu.
Waktu berlalu, malam semakin larut dan Arga masih sibuk dengan pekerjaannya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Arga segera merapikan mejanya, menutup laptopnya dan memasukkan berkas-berkas penting yang akan ia bawa untuk pertemuan besok pagi.
Arga mengangkat kedua tangannya ke atas, meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Arga kemudian beranjak dari duduknya, pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya.
Setelah mengeringkan wajahnya yang basah, Arga kemudian membawa langkahnya mendekati Bianca.
Arga duduk di samping ranjang Bianca seperti biasa, namun ia hanya diam tanpa berani menyentuh Bianca, apalagi mencium kening Bianca seperti yang dulu selalu ia lakukan saat Bianca masih dalam keadaan koma.
"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tentangku saat ini, tapi satu yang harus kau tahu Bianca, semua perhatian yang aku berikan padamu bukan karena aku merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi padamu," ucap Arga dengan menatap Bianca yang terpejam di hadapannya.
Arga menghela nafasnya panjang, terbesit rasa ingin menyentuh Bianca yang menggebu dalam dirinya, namun ia berusaha menahannya agar tidak membuat Bianca marah dan salah paham.
"Meskipun aku tidak bisa menyentuhmu saat ini tapi aku bahagia karena aku bisa mendengar suaramu dan melihat keceriaanmu, itu adalah satu-satunya hal yang aku inginkan sejak tiga bulan terakhir ini," ucap Arga dalam hati.
Arga kemudian menyibakkan sedikit rambut Bianca yang menutupi wajah cantik Bianca.
"Terima kasih sudah berjuang dan bertahan Bianca, tidak masalah apapun alasanmu untuk memperjuangkan hidupmu, yang terpenting sekarang aku bisa melihatmu tersenyum ceria di hadapanku," ucap Arga dengan tersenyum menatap wajah cantik Bianca.
Arga kemudian menarik selimut Bianca lalu beranjak dari duduknya dan membawa dirinya berbaring di sofa.
Tanpa Arga tahu, Bianca mendengar semua yang Arga katakan karena sebenarnya Bianca belum benar-benar tertidur saat itu.
Bianca bangun dari tidurnya saat ia mendengar apa yang Arga katakan, namun ia lebih memilih untuk tetap terpejam dan sengaja mendengar semua yang Arga katakan.
"Kenapa dia berbicara seperti itu padaku? semua perhatiannya padaku bukan karena rasa bersalah atas apa yang sudah terjadi padaku? lalu kenapa kenapa tiba-tiba sikapnya berubah menjadi lebih hangat?" batin Bianca bertanya dalam hati dengan kedua mata yang masih terpejam, memikirkan apa yang Arga katakan padanya.
**
Malam yang panjang telah berlalu, Arga baru saja mempersiapkan dirinya serta mempersiapkan beberapa file yang harus ia bawa untuk menemui klien pentingnya.
Sebelumnya pergi ia menghampiri Bianca yang baru saja mendapat pemeriksaan rutin dari dokter dan suster.
"Bagaimana keadaanmu? apa sudah lebih?" baik tanya Arga pada Bianca yang duduk di atas ranjangnya.
"Sepertinya aku bisa segera meninggalkan rumah sakit, lihatlah aku sudah bisa menggerakkan kakiku," jawab Bianca dengan tersenyum senang.
"Baguslah kalau begitu, aku sudah menghubungi Mama agar menemanimu untuk terapi bersama dokter Galih, maaf karena tidak bisa menemanimu hari ini," ucap Arga.
"Tidak perlu meminta maaf, kau sudah membuat keputusan yang tepat," balas Bianca.
"Baiklah aku pergi dulu, segera hubungi aku jika terjadi sesuatu," ucap Arga yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Bianca.
__ADS_1
Meskipun terasa berat meninggalkan Bianca, namun pada akhirnya Arga tetap berjalan meninggalkan ruangan Bianca untuk menemui klien pentingnya yang tiba-tiba merubah jadwal pertemuan mereka.
Arga kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah sakit, sedangkan Bianca masih berada di ruangannya untuk menunggu kedatangan Mama Arga dan dokter Galih.
Bianca kemudian mengambil ponselnya yang ada di meja di samping ranjangnya untuk memeriksa pesan masuk dan riwayat panggilannya, namun ia hanya menghela nafasnya panjang saat ia tidak melihat pesan baru ataupun panggilan dari Bara.
"Kemana kak Bara sebenarnya? kak Bara bahkan belum membaca pesanku," tanya Bianca kesal sambil kembali berusaha menghubungi Bara.
Di tengah kekesalannya, tiba-tiba raut wajah Bianca berubah saat layar ponselnya menunjukkan detik yang mulai berjalan yang artinya panggilannya pada Bara sudah terjawab.
Dengan cepat Bianca menempelkan ponselnya di telinganya, namun belum sempat Bianca mengatakan apapun, ia begitu terkejut setelah mendengar suara perempuan dari ponsel Bara.
"Halo, who's there?"
Seketika Bianca terdiam dan segera mengakhiri panggilannya pada Bara.
"Suara siapa itu? apa itu perempuan yang sama yang pernah aku dengar suaranya sebelum ke Bara tiba-tiba mengakhiri panggilannya?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
Bianca kemudian memeriksa pesan yang ia kirim pada Bara dan lagi-lagi ia hanya bisa menghela kecewa karena pesan yang ia kirim masih memberikan tanda jika pesan itu belum terbaca.
"Siapa perempuan itu? kenapa dia memegang ponsel kak Bara?" tanya Bianca kesal.
Bianca kemudian berniat untuk mengirimkan pesan yang kedua kalinya pada Bara, namun saat melihat pintu ruangannya terbuka, Bianca segera menghapus pesan itu dan mengurungkan niatnya saat ia melihat dokter Galih yang berjalan menghampirinya.
"Selamat pagi Bianca," sapa dokter Galih dengan senyumnya yang ramah.
"Selamat pagi Dok," balas Bianca sambil menaruh ponselnya di atas meja.
"Bagaimana keadaanmu hari ini? apa ada sesuatu yang kau keluhkan?" tanya dokter Galih.
"Tidak ada, justru Bianca merasa keadaan Bianca semakin membaik," jawab Bianca.
"Ini adalah terapi terakhir kita Bianca, apa kau sudah siap?" ucap dokter Galih sekaligus bertanya.
"Bianca sangat siap dok, Bianca sudah menunggu hari ini sejak semalam," jawab Bianca penuh semangat.
"Bisakah kita menunggu sebentar dok? karena Arga tidak bisa menemani Bianca, Arga meminta mamanya untuk menemani Bianca hari ini."
"Oke baiklah," balas dokter Galih.
Setelah 10 menit menunggu, belum ada tanda-tanda kedatangan Mama Arga hingga tiba-tiba ponsel Bianca berdering karena sebuah panggilan masuk dari mama Arga.
"Halo ma, apa Mama sudah berangkat ke rumah sakit?" tanya Bianca setelah ia menerima panggilan Nadine.
"Mama minta maaf Bianca, sepertinya Mama akan terlambat, bagaimana jika kau pergi ke pantai bersama dokter Galih terlebih dahulu, Mama akan segera menyusul nanti!" ucap Nadine.
"Bagaimana dengan Arga, ma? Bianca khawatir jika Arga tidak mengizinkan Bianca untuk pergi ke pantai bersama dokter Galih," tanya Bianca.
"Mama sendiri yang akan membicarakannya pada Arga, sekarang kau pergi saja bersama dokter Galih, Mama akan segera menyusul!" jawab Nadine.
Setelah panggilan berakhir, Biancapun memberitahu dokter Galih jika mama Arga akan terlambat datang dan memintanya untuk pergi ke pantai bersama dokter Galih terlebih dahulu.
Dokter Galih kemudian membantu Bianca untuk turun dari ranjang dan duduk di kursi rodanya.
"Maaf dok, Bianca jadi merepotkan dokter," ucap Bianca saat dokter galih mendorong kursi rodanya.
"Ini memang salah satu pekerjaan saya Bianca," balas dokter Galih.
Saat akan masuk ke dalam mobil, Bianca menolak saat dokter Galih akan mengangkat tubuhnya, ia lebih memilih untuk berdiri sendiri dengan berpegangan pada dokter Galih lalu masuk ke dalam mobil dokter Galih.
Sepanjang perjalanan banyak yang Bianca dan dokter Galih bicarakan, karena dokter Galih sangat ramah dan Bianca yang memang pandai bergaul membuat mereka berdua menjadi cepat akrab.
Sesampainya di pantai, Dokter Galih segera mengambil kursi roda Bianca yang ada di bagasi mobil lalu membantu Bianca untuk keluar dari mobil dengan membiarkan Bianca memegang tangannya erat-erat.
__ADS_1
"Sepertinya kakimu sudah semakin kuat sekarang," ucap dokter Galih yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Bianca.
Dokter Galih kemudian mendorong kursi roda Bianca mendekat ke arah pantai.
"Seharusnya memang kita kesini bersama Arga agar dia bisa menggendongmu ke tepi pantai, apa mungkin saya akan menggendongmu kesana?" ucap dokter Galih sekaligus bertanya yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada dokter Galih.
"Bisakah dokter Galih membantu Bianca berjalan kesana? sepertinya Bianca cukup kuat untuk bisa berjalan ke tepi pantai," balas Bianca.
"Baiklah mari kita coba," ucap dokter Galih lalu mengulurkan kedua tangannya pada Bianca.
Bianca kemudian memegang erat kedua tangan dokter Galih untuk berdiri dan berjalan dengan pelan ke arah tepi pantai, karena memang disanalah ia akan melakukan terapi terakhirnya.
Namun ternyata berjalan di atas pasir pantai tidak semudah yang Bianca bayangkan, ia merasa sangat berbeda dengan saat ia belajar berjalan di tempat yang rata.
Beberapa kali Bianca hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya karena kakinya yang belum terbiasa dengan tekstur pasir pantai, namun dengan sigap dokter Galih menahan tubuh Bianca agar Bianca tidak terjatuh.
"Ini lebih sulit dari yang Bianca kira dok," ucap Bianca yang mulai merasa lelah.
"Kita beristirahat saja dulu," balas dokter Galih lalu membantu Bianca untuk duduk di tengah hamparan pasir pantai.
Di sisi lain, Arga masih mengendarai mobilnya ke tempat ia akan bertemu dengan klien pentingnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Panggilan masuk dari sang Mama membuat Arga segera menepikan mobilnya untuk menerima panggilan dari sang mama.
"Halo ma, ada apa apa ma? apa mama sudah berada di pantai bersama Bianca?" tanya Arga setelah ia menerima panggilan sang mama.
"Justru Mama menghubungimu karena Mama ingin memberitahumu jika mama terlambat untuk menemani Bianca terapi, jadi Mama meminta Bianca dan dokter Galih untuk berangkat ke pantai lebih dulu," jelas Nadine.
"Apa maksud Mama, Mama membiarkan Bianca dan dokter Galih berdua ke pantai?" tanya Arga yang terkejut mendengar ucapan sang mama.
"Dokter Galih adalah dokter yang sibuk Arga, tidak mungkin dokter Galih menunda terapinya bersama Bianca hanya untuk menunggu Mama, jadi Mama membiarkan Bianca dengan dokter Galih berangkat ke pantai lebih dulu, setelah ini Mama akan segera menyusulnya jadi jangan khawatir," jelas Nadine.
Arga yang kesal segera mengakhiri panggilannya pada sang mama lalu mencari nama Daffa di penyimpanan kontaknya untuk segera menghubungi Daffa.
"Kau dimana sekarang?" tanya Arga setelah Daffa menerima panggilannya.
"Aku masih di rumah, aku baru saja mau menghubungimu karena ada sedikit masalah yang sepertinya membuat kita harus menunda meeting di luar kota," jawab Daffa.
"Baguslah kalau begitu, aku akan menemuimu sekarang dan memberikan berkas-berkas yang harus kau bawa untuk menemui klien penting kita sekarang juga!" ucap Arga.
"Apa maksudmu kau memintaku untuk menggantikanmu menemui klien penting kita?" tanya Daffa.
Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt
Panggilan terputus karena Arga sengaja mengakhiri panggilannya begitu saja. Arga segera menginjak pedal gas mobilnya dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Daffa.
Sesampainya disana ia segera menemui Daffa dan memberikan tas kerjanya yang sudah berisi laptop dan beberapa map yang sudah ia siapkan untuk menemui klien pentingnya.
"Aku sudah menyiapkan semuanya disini, kau bisa mempelajarinya sebelum kau menemui klien kita," ucap Arga pada Daffa.
"Tapi ini sangat mendadak Arga, mana mungkin aku bisa melakukannya!" balas Daffa.
"Aku percaya padamu Daffa, kau pasti bisa melakukannya!" ucap Arga sambil menepuk bahu Daffa lalu segera berlari kembali ke mobilnya dan mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Daffa begitu saja.
Dengan kecepatan tinggi Arga mengendarai mobilnya ke arah pantai tempat Bianca dan dokter Galih melakukan terapi terakhir Bianca.
Ia tidak ingin membiarkan Bianca dan dokter Galih berdua terlalu lama, meskipun ia percaya jika Bianca tidak mungkin menyukai dokter Galih, tapi ia tidak percaya pada dokter Galih yang terlihat sangat ramah pada Bianca.
Sesampainya Arga di tempat yang dituju, ia segera keluar dari mobilnya dan berlari ke arah pantai.
Arga mengedarkan pandangannya ke sekitarnya untuk mencari keberadaan Bianca dan dokter Galih. Hingga tiba-tiba seseorang memanggilnya.
__ADS_1
"Arga!" panggil Bianca dengan melambaikan tangannya pada Arga.
Arga tersenyum melihat Bianca yang melambaikan tangan padanya. Argapun segera menghampiri Bianca yang saat itu tengah duduk di salah satu gazebo yang ada disana.