Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Tergelincir


__ADS_3

Bianca yang berjalan terlebih dahulu sudah sampai di tempat Arga memarkirkan mobilnya dan tak lama kemudian Argapun menghampiri Bianca.


"Apa kau lapar?" tanya Arga berusaha mengalihkan pembicaraan dari adegan yang baru saja terjadi.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya meskipun sebenarnya ia belum lapar saat itu. Arga kemudian mengendarai mobilnya bersama Bianca yang sudah duduk di sampingnya ke arah salah satu tempat makan yang berada di sekitar daerah perbukitan itu.


Sesampainya disana mereka segera berjalan masuk ke dalam tempat makan, mereka duduk dengan pemandangan keindahan daerah perbukitan di sekitar mereka.


Setelah beberapa lama menunggu, makanan yang mereka pesanpun sampai. Bianca dan Arga menikmati makanan hangat mereka dengan cuaca yang saat itu semakin dingin.


"Aku pikir kau akan ketakutan saat aku mengajakmu flying fox dan bungee jumping," ucap Arga.


"Kau salah, justru permainan yang menantang adrenalin seperti itu adalah yang paling aku suka," balas Bianca.


"Hmmm..... kau menggagalkan rencanaku," ucap Arga.


"Lain kali kau harus mengenalku lebih jauh sebelum kau membuat rencana jahat seperti itu!" ucap Bianca yang membuat Arga terkekeh.


"Apa kau tidak memiliki sesuatu yang membuatmu takut Bianca?" tanya Arga.


"Bukankah kau tahu apa yang membuatku takut?" balas Bianca.


Arga menganggukkan kepalanya pelan, ia tahu bagaimana takutnya Bianca saat ia berada di dalam ruangan yang gelap.


"Selain itu?" tanya Arga.


"Mmmmm .... entahlah, sepertinya aku tidak memiliki ketakutan lain selain apa yang kau tahu itu," jawab Bianca.


Arga tersenyum tipis mendengar jawaban Bianca, gadis di hadapannya itu benar-benar berbeda dengan gadis cantik pada umumnya.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu? apa kau sudah mempunyai rencana jahat untukku?" tanya Bianca.


"Tidak, aku hanya sedang memikirkanmu saja," jawab Arga.


"Jangan terlalu memikirkanku, kau akan jatuh cinta padaku nanti," ucap Bianca yang membuat Arga menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa kau pernah jatuh cinta Bianca? sepertinya gadis sepertimu tidak akan mudah untuk jatuh cinta," tanya Arga yang membuat Bianca segera membawa pandangannya menatap ke arah Arga.


"Memangnya aku gadis yang seperti apa Arga? aku sama saja seperti gadis lainnya yang bisa jatuh cinta," balas Bianca.


"Dari banyaknya perempuan yang aku kenal kau satu-satunya yang berbeda dari mereka Bianca, banyak hal yang menarik tentang dirimu," ucap Arga.


"Kau hanya belum terlalu mengenalku saja," balas Bianca.


"Kalau begitu aku akan belajar untuk lebih mengenalmu," ucap Arga.


Bianca hanya menganggukan kepalanya dengan tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun.


"Jika kau sudah pernah jatuh cinta apa artinya kau sudah pernah memiliki kekasih? atau mungkin sekarang kau masih berhubungan dengannya?" tanya Arga.


"Tidak, aku tidak pernah memiliki kekasih sampai saat ini, aku tidak pernah berhubungan terlalu jauh dengan laki-laki manapun," jawab Bianca.


"Lalu bagaimana dengan laki-laki yang membuatmu jatuh cinta? apa itu adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan?" tanya Arga penasaran.


"Aku tidak tahu apakah itu bisa disebut dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan atau tidak, tapi yang pasti aku sudah lama menyimpan perasaan padanya, kita saling peduli satu sama lain tetapi aku tidak tahu bagaimana perasaannya terhadapku, karena sampai sekarangpun hubungan kita masih belum jelas," jawab Bianca.


"Apa dia tahu tentang hubungan kita sekarang?" tanya Arga.


"Tentu saja tidak, dia sedang kuliah di luar negeri dan akan kembali 2 tahun lagi dan saat itu kontrak kesepakatan kita sudah selesai, aku harap dia tidak akan pernah tahu tentang apa yang pernah terjadi antara kau dan aku," jawab Bianca.


"Bagaimana denganmu? kau pasti sudah pernah jatuh cinta bukan? mengingat banyak perempuan yang berusaha mendekatimu," lanjut Bianca bertanya pada Arga.


Arga hanya tersenyum tipis sambil menyeruput minumannya tanpa menjawab pertanyaan Bianca.


"Lupakan saja, aku tidak akan bertanya lagi," ucap Bianca lalu menyeruput minuman terakhirnya kemudian beranjak dari duduknya.


Arga dan Bianca kemudian kembali ke mobil, Arga mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu.


"Sepertinya aku tau siapa laki-laki yang membuatmu jatuh cinta," ucap Arga yang membuat Bianca membawa pandangannya pada arga.


"Siapa?" tanya Bianca.

__ADS_1


"Bara, benar bukan?" balas Arga


"Dari mana kau tau?" tanya Bianca.


"Sedikit banyak kau sudah menceritakan tentang kehidupan pribadimu padaku Bianca dan dari semua yang aku dengar hanya Bara nama laki-laki yang pernah kau sebut," jelas Arga.


"Aahhh begitu.... sepertinya aku terlalu banyak bercerita padamu!" ucap Bianca.


"Tidak masalah, aku senang mendengarnya," balas Arga.


"Tapi kau bahkan tidak pernah memberitahuku tentang masalah pribadimu," batin Bianca dalam hati.


"Apa yang membuatmu jatuh cinta pada laki-laki itu Bianca? dia pasti bukan laki-laki biasa karena berhasil membuatmu jatuh cinta padanya," tanya Arga.


"Kak Bara berbeda dari kebanyakan laki-laki yang berusaha mendekatiku, di saat mereka berusaha merayu dengan kata-kata manisnya, kak Bara justru menunjukkan kepedulian dan perhatiannya yang lebih padaku," jelas Bianca dengan tersenyum, membayangkan kebersamaannya bersama Bara.


"Kau sangat mencintainya?" tanya Arga.


Bianca membawa pandangannya pada Arga, menatapnya untuk beberapa saat lalu menundukkan pandangannya.


"Aku tidak tahu seperti apa cinta yang sebenarnya, tapi perhatian dan kepedulian kak Bara padaku membuatku ingin memilikinya, membuatku tidak ingin jika dia dimiliki oleh perempuan lain, membuatku ingin selalu bersamanya dan.... entahlah dalam hati dan pikiranku hanya ada kak Bara," ucap Bianca.


"Bagaimana jika dia tidak memiliki perasaan yang sama sepertimu?" tanya Arga yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga.


"Aku tidak bermaksud untuk menghancurkan harapanmu, hanya saja kau pasti akan semakin terluka jika kau mengharapkan sesuatu tanpa kepastian," ucap Arga.


"Aku tahu hubunganku dengan kak Bara memang masih abu-abu, kita sangat dekat tetapi tidak ada hubungan yang jelas di antara kita berdua, tetapi aku yakin setelah kak Bara menyelesaikan kuliahnya di luar negeri dia akan kembali dan menyatakan perasaannya padaku," ucap Bianca penuh keyakinan.


"Kenapa kau sangat yakin? apa dia mengatakan sesuatu padamu?" tanya Arga.


"Sebelum kak Bara pergi kak Bara memintaku untuk menunggunya, kak Bara akan mengatakan semuanya setelah dia kembali kesini dan sekarang aku hanya harus menunggu 2 tahun lagi sampai dia datang," jawab Bianca.


"Lalu apa yang kau harapkan saat dia kembali nanti? apa kau berharap dia akan menjadikanmu kekasihnya? dia bahkan tidak mengatakannya secara jelas, dia hanya membuatmu berharap dan menunggunya tanpa kepastian!"


Bianca terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar ucapan Arga. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Arga.


Pada kenyataannya Bara hanya memintanya untuk menunggu tanpa mengatakan dengan pasti apa tujuan Bianca menunggu kepulangan Bara.


"Jangan bersedih, untuk saat ini lupakan saja laki-lakimu itu dan nikmati liburanmu disini bersamaku!" ucap Arga sambil menepuk pelan kepala Bianca.


Melihat Bianca yang tampak bersedih Arga mengulurkan tangannya, berniat untuk menggenggam tangan Bianca namun dengan cepat Bianca menarik tangannya menjauh dan tersenyum lebar ke arah Arga.


"Aku sudah sangat lama berharap pada kak Bara dan harapanku tidak akan goyah hanya karena ucapanmu itu," ucap Bianca dengan penuh senyum.


Arga hanya menghela nafasnya kasar melihat sikap Bianca.


"Ternyata kau terlalu lugu dan sangat polos Bianca," ucap Arga dalam hati.


"Kak Bara sangat baik padaku, tidak mungkin kepedulian dan perhatiannya padaku tanpa alasan, jadi aku akan tetap pada pendirianku, menunggunya dan mengharapkannya," ucap Bianca sambil memejamkan matanya dan tersenyum membayangkan kebersamaannya bersama Bara.


Waktu berlalu, langit mulai terlihat gelap saat Bianca dan Arga sampai di salah satu tempat makan.


"Kau tidak akan mengajakku untuk makan sesuatu yang menjijikkan bukan?" tanya Bianca pada Arga saat Arga baru saja memarkirkan mobilnya.


"Ini sesuatu yang belum pernah kau makan sebelumnya, jadi kau harus mencobanya, aku yakin kau akan menyukainya," jawab Arga lalu keluar dari mobilnya kemudian membuka pintu mobilnya untuk Bianca.


Arga meraih tangan Bianca dan menggandengnya lalu berjalan masuk ke arah tempat makan.


Arga kemudian memesan beberapa makanan dan minuman. Setelah beberapa lama menunggu, seluruh pesanan Argapun datang.


"Sashimi, aku pikir sesuatu yang aneh!" ucap Bianca kemudian mengambil potongan daging di depannya menggunakan sumpit lalu mencelupkannya ke dalam kecap asin dan melahapnya tanpa ragu.


"Bagaimana? kau menyukainya?" tanya Arga yang memperhatikan Bianca menikmati makanan yang ia pesan.


"Sepertinya agak berbeda dari sashimi yang kemarin kita makan, but not bad," jawab Bianca kemudian mencoba makanan lain yang ada di hadapannya.


Setelah semua makanan habis, Arga dan Biancapun beranjak dari duduknya lalu keluar dari tempat makan itu.


"Kapan kita akan kembali ke kota Arga? sepertinya di sini semakin dingin," tanya Bianca sambil merapatkan jaket tebalnya.


"Apa kau masih ingin melihat salju?" balas Arga bertanya.

__ADS_1


"Tentu saja, dimana kita bisa melihat salju?" jawab Bianca sekaligus bertanya dengan penuh semangat.


Arga kemudian menunjukkan pada Bianca layar ponselnya, dimana tertulis jika sudah ada laporan tentang turunnya salju di beberapa daerah.


"Apa kau akan mengajakku kesana?" tanya Bianca pada Arga.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu kesana, tapi sepertinya kau ingin segera kembali ke kota," jawab Arga lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Bianca yang juga segera masuk ke dalam mobil.


"Tidak, aku tidak ingin cepat kembali ke kota, aku ingin melihat salju sekarang juga, kau bisa membawaku kesana bukan?" ucap Bianca sekaligus bertanya dengan penuh harap.


"Apa yang akan aku dapatkan jika aku membawamu kesana sekarang?" tanya Arga.


"Kau akan mendapatkan apapun yang kau mau," jawab Bianca tanpa ragu.


"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu?" tanya Arga.


"Aku yakin Arga, sangat yakin," jawab Bianca penuh keyakinan.


"Oke baiklah, kita kesana sekarang!" ucap Arga lalu menyalakan mesin mobilnya, mengendarai mobilnya ke arah tempat dimana salju pertama mulai turun.


Bianca sudah tidak sabar ingin melihat salju, karena menurut laporan media salju akan turun dalam waktu yang berbeda-beda di wilayah yang berbeda, jadi Bianca tidak ingin melewatkan kesempatan itu karena keberadaannya disana hanya tinggal beberapa hari lagi.


"Aaahh yaa, tentang makanan yang aku pesan di tempat makan tadi, apa kau tahu jenis daging apa yang pertama kali kau makan tadi?" tanya Arga pada Bianca.


"Entahlah, mungkin ikan atau sapi," jawab Bianca.


Arga menggelengkan kepalanya dengan menahan senyum di kedua sudut bibirnya, membuat Bianca menatap dengan penuh tanda tanya.


"Jangan bilang itu daging hewan yang menjijikkan!" ucap Bianca.


"Sebenarnya bukan hewan yang menjijikkan, tetapi sedikit tidak lazim untuk dikonsumsi hehehe....." balas Arga.


"Sebaiknya kau tidak perlu mengatakan padaku jenis daging apa yang tadi aku makan, aku tidak ingin......."


"Daging kuda," ucap Arga memotong ucapan Bianca yang membuat Bianca menatap Arga dengan membulatkan matanya.


"Kau pasti bercanda bukan?" tanya Bianca tak percaya.


"Namanya basashi, terbuat dari daging kuda yang dipercaya bisa menghangatkan badan dan sangat cocok untuk dimakan saat musim dingin seperti ini," jelas Arga yang membuat Bianca terdiam seketika.


Bianca kemudian mengambil ponselnya, berniat untuk mencari tahu tentang apa yang baru saja Arga jelaskan. Namun ternyata tidak ada sinyal sama sekali pada ponselnya.


"Tidak perlu terlalu memikirkannya Bianca, bukankah kau juga menyukainya hahaha....." ucap Arga dengan tertawa puas.


"Aku sudah menduganya, rasanya sedikit aneh, aku tidak akan memakannya jika aku tahu itu adalah daging kuda," balas Bianca kesal.


"Tidak ada yang salah dengan memakan daging kuda Bianca, di beberapa daerah kuda memang dijadikan makanan, bahkan di negara kitapun ada masyarakatnya yang mengkonsumsi daging kuda juga," ucap Arga.


"Kau memang sangat menyebalkan Arga, mulai sekarang aku sendiri yang akan memesan makanan, aku pastikan tidak ada makanan aneh yang aku pesan, entah itu air liur burung, sirip hiu ataupun daging kuda," ucap Bianca yang membuat Arga terkekeh.


"Padahal aku hanya ingin membuat liburanmu disini semakin berkesan dengan makanan-makanan yang aku pesan itu," ucap Arga.


"Terima kasih atas niat baikmu itu Arga, tetapi lebih baik kau tidak melakukannya lagi atau kau akan membuat liburanku semakin terasa menyebalkan," balas Bianca.


"Bianca, lihatlah!" ucap Arga yang membuat Bianca segera mengikuti arah pandangan Arga.


Bianca terdiam untuk beberapa saat ketika melihat salju-salju yang menghujani jalanan yang dilewati oleh mobil Arga.


"Arga, bisakah kita turun disini saja?" tanya Bianca pada Arga.


"Tidak bisa Bianca, jalanan disini cukup kecil, kita akan menghalangi kendaraan yang lewat jika kita turun disini," jawab Arga.


"Cepatlah Arga, aku ingin merasakan salju-salju itu!" ucap Bianca tak sabar.


Arga hanya tersenyum tipis lalu sedikit mempercepat laju mobilnya. Tanpa Arga sadar, salju yang turun membuat jalanan saat itu menjadi lebih licin.


Jalanan pegunungan yang berliku dan licin membuat Arga tiba-tiba kehilangan kendali atas mobilnya.


"Argaaa!!!!!" teriak Bianca saat mobil mulai melaju cepat tanpa kendali dan akhirnya menerobos pembatas jalan.


Arga yang berusaha untuk tetap menjaga kendali atas mobilnya tidak menyerah meski mobilnya sudah meluncur menuruni bagian samping jalanan yang cukup curam.

__ADS_1


"Pejamkan matamu Bianca, percaya padaku!" ucap Arga sambil menutup mata Bianca dengan satu tangannya.


Biancapun menutup matanya dengan berpegangan erat pada kursi mobil. Jantungnya berdetak kencang, kilas balik masa lalunya kini terulang kembali dalam hidupnya.


__ADS_2