Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Perhatian Bianca


__ADS_3

Tepat saat Karina baru saja meninggalkan ruangan Arga, Bianca turun dari mobil setelah pak Dodi menghentikan mobilnya di depan pintu utama perusahaan orang tua Arga.


Bianca sengaja ingin menghampiri Arga di tempat kerjanya dengan membawa kue yang baru saja ia beli.


Jika boleh jujur sejak meninggalkan tempat kost Lola Bianca memikirkan Arga, ia khawatir jika Arga kembali melakukan hal yang buruk pada dirinya sendiri.


Karena Daffa tahu bagaimana hubungan pernikahan Bianca dan Arga yang sebenarnya jadi Bianca tidak mungkin menanyakan keadaan Arga pada Daffa, karena tidak ingin Daffa berpikir jika ia sudah jatuh cinta pada Arga.


Alhasil Biancapun mencari alasan untuk bisa menemui Arga di kantor sekaligus melihat secara langsung bagaimana keadaan Arga saat itu.


Namun saat Bianca sedang berjalan di lobby, tiba-tiba seorang perempuan tanpa sengaja menabraknya hingga ia terjatuh bersama kue yang dibawanya.


Saat Bianca baru saja mengambil kuenya yang terhempas di lantai, perempuan yang menabraknya itu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun, namun Bianca bisa melihat jika perempuan itu tampak sedang menangis.


"Sepertinya dia sedang menangis," ucap Bianca dalam hati sambil memperhatikan perempuan yang baru saja menabraknya.


"Untung kuenya tidak rusak," ucap Bianca setelah ia memeriksa keadaan kue yang dia bawa.


Bianca kemudian membawa langkahnya ke arah lift lalu segera berjalan ke arah ruangan Arga setelah liftnya sampai di lantai tempat ada bekerja.


Sebelum masuk ke ruangan Arga, Bianca membawa pandangannya ke arah meja kerja Daffa dan tidak mendapati Daffa disana.


"Apa mereka sedang meeting?" batin Bianca bertanya dalam hati lalu membawa langkahnya mengintip ke arah ruangan Arga dan melihat Arga dan Daffa yang tampak sedang mengobrol dengan serius saat itu.


"Sepertinya dia baik-baik saja," ucap Bianca dengan tersenyum tipis lalu membawa dirinya duduk di kursi kerja Daffa sembari menunggu Daffa keluar dari ruangan Arga karena ia tidak ingin mengganggu Arga dan Daffa.


Karena cukup lama menunggu, Biancapun merasa begitu bosan hingga akhirnya ia tertidur di atas meja kerja Daffa.


Di sisi lain, Arga dan Daffa sedang membicarakan masalah yang terjadi di tempat mereka bekerja.


Mereka berusaha untuk mencari solusi yang tepat dan cepat sebelum orang tua Arga mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Lebih baik kita fokus untuk mengatasi kerugian yang sudah pasti terjadi daripada kita memikirkan apa yang sebenarnya perusahaan itu lakukan pada perusahaan kita," ucap Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Daffa.


"Jika kau mengizinkanku aku akan pergi ke luar negeri untuk menemui investor kita yang ada disana," ucap Daffa.


"Tapi kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk menemui para investor itu Daffa," balas Arga.


"Serahkan saja semuanya padaku, aku bisa pergi ke beberapa negara yang berbeda hanya dalam waktu beberapa hari asalkan kau memberi izin padaku," ucap Daffa.


"Aku akan memikirkannya sembari berusaha mencari cara lain," balas Arga.


"Baiklah tapi tentang apa yang baru saja Karina lakukan, aku harap itu tidak akan mengganggu fokusmu," ucap Daffa mengingat apa yang baru saja Karina lakukan di ruangan Arga.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya, tapi meskipun aku mengkhawatirkannya aku tahu siapa yang harus menjadi prioritasku," balas Arga.


"Siapa?" tanya Daffa memastikan.


"Tentu saja perusahaan papa, aku yang bertanggung jawab sepenuhnya atas perusahaan ini, kau tahu itu," jawab Arga.


"Baguslah kalau begitu, aku akan pergi untuk membeli makan siang lalu membawanya kesini," ucap Daffa lalu beranjak dari duduknya.


"Tidak perlu membawanya kesini, aku sedang tidak nafsu makan," balas Arga yang juga beranjak dari duduknya, berniat untuk keluar dari ruangannya karena ingin pergi ke toilet.


Namun saat Arga dan Daffa baru saja membuka pintu, mereka begitu terkejut saat mendapati Bianca yang tampak tertidur pulas di meja kerja Daffa.


"Bianca, sejak kapan dia disini?" tanya Daffa dengan membawa pandangannya pada Arga.


"Aku juga tidak tahu, semoga dia tidak mendengar apapun yang kita bicarakan di dalam," jawab Arga lalu segera membawa langkahnya mendekati Bianca, sedangkan Daffa lebih memilih untuk segera pergi membiarkan Arga bersama Bianca.


Arga kemudian membelai pelan rambut Bianca, membuat Bianca segera terbangun dari tidurnya.


"Arga, kau membuatku terkejut!" ucap Bianca yang terkejut melihat keberadaan Arga di dekatnya.


"Apa yang kau lakukan disini Bianca? kenapa kau tidak masuk ke ruanganku?" tanya Arga.


"Aku melihatmu mengobrol bersama Daffa, kalian terlihat sangat serius jadi aku tidak ingin mengganggu dan memilih untuk menunggu disini, tapi ternyata aku tertidur," jelas Bianca.


"Masuklah ke ruanganku, kau pasti tidak nyaman tidur disini," ucap Arga lalu membawa langkahnya masuk ke ruangannya diikuti Bianca.

__ADS_1


"Apa kau sudah makan siang? aku membawa kue ini untukmu," tanya Bianca sambil memberikan kotak kue pada Arga.


"Aku sedang tidak nafsu makan, tapi sepertinya ini kue yang enak," jawab Arga sambil membuka kotak kue yang ia terima dari Bianca.


"Aku membelinya dari toko kue tempatku bekerja dulu, cobalah kau pasti menyukainya!" ucap Bianca.


Arga kemudian mencoba kue itu dan memakannya lalu mengangguk-anggukkan kepalanya menikmati rasa manis yang memenuhi mulutnya.


"Manis," ucap Arga lalu mengambil kue itu lagi dan memberikannya pada Bianca.


"Apa yang membuatmu tiba-tiba kesini Bianca? apa kau mengkhawatirkanku?" tanya Arga sambil menikmati kue yang Bianca berikan padanya.


"Aku hanya tidak sengaja lewat, sesekali menghampirimu kesini tidak masalah bukan?" balas Bianca beralasan.


"Justru akan lebih baik jika kau sering datang kesini agar semua orang semakin yakin jika kita adalah pasangan suami istri yang romantis," ucap Arga sambil kembali memberikan potongan kue pada Bianca.


"Bagaimana hari ini? apa ada perkembangan?" tanya Bianca sambil mengunyah kue yang baru saja Arga berikan padanya.


"Aku dan Daffa belum menemukan jalan keluar, tetapi Daffa baru saja memberikan ide yang sebenarnya aku ragu untuk menyetujuinya," jawab Arga.


"Kenapa?" tanya Bianca.


"Daffa ingin menemui para investor yang berada di luar negeri dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, sedangkan kita harus segera membereskan masalah ini dengan cepat," jelas Arga.


"Apa tidak ada cara lain selain itu?" tanya Bianca.


"Aku belum menemukan cara apapun Bianca, bahkan cara yang Daffa katakanpun belum tentu berhasil meskipun Daffa mengatakan padaku jika dia bisa pergi ke beberapa negara hanya dalam waktu beberapa hari, tetapi itu sangat beresiko dan hasilnyapun belum tentu sesuai dengan apa yang kita inginkan," jelas Arga.


Bianca terdiam untuk beberapa saat, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana tekanan pekerjaan membuat Arga tampak terbebani.


"Katakan padaku jika ada sesuatu yang bisa aku lakukan untukmu Arga," ucap Bianca pada Arga.


"Selama beberapa hari ini mungkin aku akan lebih banyak menghabiskan waktuku di kantor Bianca, apa kau tidak masalah dengan hal itu?"


"Lakukan apapun yang kau mau selama kau tahu itu hal yang baik, aku akan mendukungmu dan siap untuk membantu apapun yang bisa aku lakukan untukmu, maksudku..... untuk perusahaanmu.... mmmm.... perusahaan papa hehe....." ucap Bianca yang tiba-tiba gugup karena merasa ia salah mengatakan satu kata terakhirnya.


Argapun hanya tersenyum tipis lalu kembali memberikan potongan kue pada Bianca.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, karena tiba-tiba saja jantungnya kembali berdetak dengan kencang.


Ia tidak ingin apa yang ia katakan memperlihatkan kegugupannya, jadi dia lebih memilih untuk diam dan menganggukkan kepalanya.


Arga kemudian menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Bianca lalu menyandarkan kepalanya di bahu Bianca sambil menikmati kue yang Bianca bahwa untuknya.


"Benar-benar sangat manis," ucap Arga dengan tersenyum.


"Benarkah? apa kau tidak menyukainya?" tanya Bianca yang sedikit merasa aneh karena sejauh yang ia tahu kue yang ia beli tidak memiliki rasa yang terlalu manis.


"Aku menyukainya, sangat menyukainya," jawab Arga sambil mengunyah kue coklat yang terus memenuhi mulutnya.


Bianca hanya tersenyum tipis, membiarkan Arga melakukan apapun yang dia mau asalkan tidak melewati batas yang sudah Bianca tentukan.


Bianca merasa saat itu adalah saat dimana Arga merasa tidak baik-baik saja karena masalah yang sedang dihadapinya.


Hal itu membuat Bianca sedikit memberikan kelonggaran pada Arga yang ingin bersandar di bahunya.


Jika bukan karena masalah yang sedang Arga hadapi saat itu, Bianca pasti sudah memukul kepala Arga yang bersandar di bahunya.


"Mungkin aku terlalu lama tidak pernah merasakan rasa nyaman yang seperti ini, membuatku merasa jika ini adalah hal ternyaman yang paling membuatku tenang," ucap Arga dalam hati.


Sesekali Arga tampak menghela nafasnya panjang seolah mengeluarkan beban berat yang ada di kedua bahunya.


Tidak hanya tentang masalah pekerjaan, ia juga memikirkan apa yang baru saja Karina lakukan di ruangannya. Ia tidak mengerti kenapa Karina tiba-tiba melakukan hal itu, namun yang pasti Arga yakin dengan apa yang sudah ia lakukan.


Ia tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya hanya demi Karina, terlebih saat perusahaan sang papa sedang bermasalah seperti saat itu.


"Kenapa kau sangat berbeda dengan Bianca, Karina? aku sangat mencintaimu tetapi kau tidak pernah mengerti tentangku dan pekerjaanku, kau selalu mempermasalahkan pekerjaan yang merupakan tanggung jawabku," batin Arga dengan menghela nafasnya panjang.


"Di lobby tadi ada seseorang yang menabrakku, sepertinya dia sedang menangis," ucap Bianca yang membuat Arga segera mengangkat kepalanya dari bahu Bianca.

__ADS_1


"Seseorang siapa?" tanya Arga yang dalam hatinya sudah menerka jika seseorang yang Bianca maksud adalah Karina.


"Aku tidak tahu, aku belum sempat menanyakan apapun padanya karena dia sudah pergi begitu saja, untung saja kuenya tidak rusak," jawab Bianca.


"Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" tanya Arga.


"Tidak, setelah dia menabrakku dan kita sama-sama terjatuh, dia segera beranjak dan pergi tanpa menoleh sedikitpun padaku, tapi aku bisa melihat wajahnya yang sedang menangis saat itu," jelas Bianca.


"Apa mungkin kau mengenalnya?" lanjut Bianca bertanya pada Arga.


"Ada banyak perempuan yang bekerja disini Bianca, tidak mungkin aku mengenalnya tanpa kau menyebutkan namanya," jawab Arga beralasan.


"Tapi sepertinya dia tidak bekerja disini," ucap Bianca.


"Dari mana kau tahu?" tanya Arga.


"Aku tidak melihatnya mengalungkan name tag di lehernya," jawab Bianca.


"Lupakan saja, mungkin dia mengenal seseorang yang bekerja disini," ucap Arga yang kembali menyandarkan kepalanya di bahu Bianca.


Di luar ruangan Arga, Daffa yang tidak tahu jika Bianca berada di ruangan Arga segera membuka pintu ruangan Arga begitu saja dan mendapati Arga yang sedang duduk bersama Bianca dengan posisi yang sangat dekat saat itu.


"Sepertinya aku mengganggu," ucap Daffa yang masih berdiri di pintu ruangan Arga, membuat Arga segera mengangkat kepalanya dan sedikit menggeser posisi duduknya menjauh dari Bianca.


"Apa kau sudah selesai makan siang?" tanya Arga pada Daffa.


"Sebenarnya sudah, tapi sepertinya aku akan makan siang lagi hehe...." jawab Daffa.


Bianca hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Daffa lalu beranjak dari duduknya.


"Kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian lagi, aku akan pulang," ucap Bianca.


"Kenapa kau buru-buru sekali? kau bisa menemani Arga disini bahkan sampai nanti malam!" ucap Daffa.


"Aku hanya kesini untuk memberikan kue, aku pikir Arga akan membaginya denganmu tapi sepertinya dia sudah menghabiskannya sendiri," balas Bianca dengan membawa pandangannya pada kotak kue yang sudah hampir kosong.


"Kau yang menghabiskan semua kue itu?" tanya Daffa pada Arga.


"Tidak, Bianca juga memakannya," awab Arga.


"Aku hanya memakannya dua potong, kau yang lebih banyak memakannya!" sahut Bianca.


"Waaahhh sejak kapan kau menyukai makanan yang manis? sepertinya ini pertama kalinya kau menghabiskan banyak makanan manis!" ucap Daffa dengan membawa pandangannya pada Arga dengan tatapan mengejek.


"Apa Arga tidak menyukai makanan yang manis?" tanya Bianca pada Daffa.


"Dia bahkan selalu menghindari makanan manis sejak kecil," jawab Daffa tanpa ragu.


"Benarkah? tapi tadi......"


"Daffa tidak tahu apa-apa, pulanglah Bianca, kau harus beristirahat di rumah!" ucap Arga sambil mendorong Bianca keluar dari ruangannya.


Biancapun keluar dari ruangan Arga, membiarkan Arga mencari jalan keluar dari masalah yang ia hadapi bersama Daffa.


"Sepertinya banyak hal yang tidak aku tahu antara kalian berdua," ucap Daffa lalu duduk di hadapan Arga.


"Tidak ada apapun yang terjadi antara aku dan Bianca," balas Arga sambil membuka satu map yang ada di mejanya.


"Benarkah? tetapi sepertinya kalian semakin dekat, apa mungkin sudah ada debar-debar dalam dadamu saat kau sedang bersama Bianca?" tanya Daffa yang sengaja menggoda Arga.


"Apa yang kau bicarakan Daffa, itu tidak mungkin terjadi," ucap Arga yang berpura-pura membaca map yang ada di tangannya.


"Benarkah? tapi kenapa kau sekarang membaca laporan dengan terbalik?" tanya Daffa sambil membalik map yang ada di hadapan Arga, karena memang sejak tadi map itu terbalik dan Arga tidak menyadarinya.


"Aku memang sengaja melakukan hal ini, aku..... aku sedang ingin melatih konsentrasiku," ucap Arga beralasan sambil kembali membalik map yang ada di hadapannya.


Melihat apa yang Arga lakukan Daffa hanya tertawa, menertawakan sahabatnya yang terlihat gugup saat itu.


"Hahaha.... kau terlihat gugup sekali!"

__ADS_1


"Aku tidak gugup Daffa, aku hanya sedang fokus," balas Arga yang semakin memberikan alasan yang tidak masuk akal, membuat Daffa semakin tertawa lepas mendengarnya.


__ADS_2