Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Kebetulan?


__ADS_3

Arga masih berada di bar bersama Bianca yang terus merengek karena meminta alkohol yang baru saja diminumnya.


"Aku mau minum......." ucap Bianca merengek dengan menarik lengan tangan Arga.


Arga kemudian meminta air putih lalu memberikannya pada Bianca, namun Bianca menolaknya dan menggeser air putih itu ke arah Arga.


"Kak..... Bianca ingin minuman yang tadi....." ucap Bianca dengan nada manja pada bartender yang ada di hadapannya.


Seketika Arga segera menggelengkan kepalanya pada bartender itu sebagai kode agar bartender itu tidak perlu menuruti apa yang Bianca minta.


Bianca kemudian menundukkan kepalanya, ia merasa sedikit pusing, namun tiba-tiba saja ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kerumunan tempat beberapa orang menari bersama.


Argapun segera menahan Bianca dan membawa Bianca kembali duduk.


"Ayo menari seperti mereka Arga.... ayolah!" ucap Bianca sambil menarik lengan tangan Arga.


"Lebih baik kita pulang sekarang, kau sudah benar-benar mabuk!" ucap Arga lalu membantu Bianca untuk berjalan keluar dari ruangan itu.


Namun saat Arga baru saja membuka pintu, Bianca menghentikan langkahnya dan menarik seseorang yang berada di dekatnya.


"Tolong saya pak.... saya haus....." ucap Bianca dengan merengek pada seseorang yang ada di dekatnya.


"Bianca..... lepaskan!" ucap Arga sambil melepaskan tangan Bianca yang menarik pakaian seseorang yang berada di dekat Bianca.


"Sorry, she is my wife," ucap Arga pada seseorang itu lalu segera membawa Bianca keluar dari sana.


Saat mereka baru saja menuruni tangga, Bianca tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berjongkok di bawah tangga.


"Aku lelah!" ucap Bianca.


Arga menghela nafasnya pelan lalu segera membopong Bianca dan membawanya keluar dari gedung itu.


Arga kemudian menurunkan Bianca di samping mobil. Namun saat Arga baru saja membuka pintu mobilnya, ia sudah tidak melihat Bianca di sampingnya, ia melihat Bianca yang sudah berjalan cukup jauh darinya.


Argapun segera mengejar Bianca lalu kembali membopong Bianca dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Aaahhh rasanya kepalaku sangat pusing," ucap Bianca dengan memegang kepalanya.


"Bersandarlah padaku dan pejamkan matamu," ucap Arga sambil membawa kepala Bianca bersandar di bahunya.


Arga kemudian menghubungi sang papa untuk meminta tolong agar mengirimkan sopir padanya.


Setelah beberapa lama menunggu, seorang pria yang merupakan sopir suruhan papa Arga datang.


Sopir itupun segera melakukan tugasnya, mengendarai mobil Arga untuk mengantar Arga dan Bianca kembali ke hotel.


Sesampainya di hotel, Arga segera membopong Bianca masuk ke kamar lalu membaringkan Bianca di atas ranjang.


"Sepertinya menjadi badut adalah hal yang menyenangkan, sepertinya itu akan menjadi cita-citaku yang baru," ucap Bianca dengan tersenyum pada Arga yang berdiri di tepi ranjang.


Arga hanya tersenyum tipis lalu duduk di tepi ranjang dan melepas alas kaki Bianca.


"Tidurlah agar kau tidak pusing," ucap Arga sambil menarik selimut untuk menutup tubuh Bianca, namun bukannya tidur Bianca justru beranjak dan duduk di hadapan Arga.


"Apa kau mau pergi?" tanya Bianca dengan kedua matanya yang sudah sayu.


"Tidak, aku hanya akan berganti pakaian lalu tidur di sofa," jawab Arga.


"Bukankah kau suamiku? kenapa kau tidur di sofa?" tanya Bianca dengan menyentuh wajah Arga.


"Tidurlah Bianca, kau akan menyesal jika kau mengingat kejadian ini besok pagi," ucap Arga sambil memalingkan wajahnya dari Bianca.


Tiba-tiba Bianca mendekat dan memegang kedua pipi Arga lalu membawa pandangan Arga ke arahnya.


"Jangan menghindar dariku, jangan pergi dariku, aku sangat sedih," ucap Bianca dengan menatap kedua mata Arga lalu menundukkan kepalanya karena merasa pusing.


"Aku tidak akan pergi Bianca, ini sudah malam dan kita harus tidur," ucap Arga sambil menggenggam tangan Bianca di pipinya.


"Apa aku boleh memelukmu?" tanya Bianca yang kembali membawa pandangannya menatap kedua mata Arga.


Arga hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya lalu menggeser posisi duduknya lebih dekat kemudian membawa Bianca ke dalam dekapannya.


"Apa pelukan ini membuatmu nyaman?" tanya Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


Bianca kemudian melepaskan dirinya dari pelukan Arga dan membawa kedua matanya yang sudah sangat layu itu menatap Arga yang berada sangat dekat dengannya saat itu.


"Kau sangat tampan Arga, kau laki-laki yang nyaris sempurna, aku pasti sudah melakukan kebaikan di masa lalu karena aku memilikimu sekarang," ucap Bianca dengan tersenyum yang tanpa ia sadar satu tangannya menyentuh bibir Arga dengan lembut.

__ADS_1


Arga hanya terdiam mendapat perlakuan dari Bianca yang tidak terduga. Debaran dalam dadanya seolah memaksanya untuk tetap terdiam menikmati sentuhan Bianca yang semakin membuat detak jantungnya berdetak tak beraturan.


"Siapa yang kau cintai selain keluargamu Arga?" tanya Bianca yang semakin mendekatkan wajahnya pada Arga.


"Kau," jawab Arga tanpa berpikir panjang.


Seketika Arga sadar akan jawabannya yang tiba-tiba meluncur dengan mulus dari mulutnya.


"Maksudku kau sangat mabuk Bianca, kau....."


CUUUUPPPPP


Satu kecupan singkat mendarat di bibir Arga dengan tiba-tiba, membuat Arga begitu terkejut dan hanya bisa membeku di tempatnya.


Sedangkan Bianca hanya menatap Arga dengan senyum di wajahnya.


"Kau memang sangat tampan suamiku," ucap Bianca dengan penuh senyum.


Bianca kemudian menjatuhkan dirinya di hadapan Arga, membuat Arga dengan cepat menangkap Bianca ke dalam dekapannya.


Arga hanya diam tanpa mengatakan apapun, begitu juga Bianca yang hanya diam dalam dekapan Arga sampai dia tertidur.


Arga kemudian membaringkan Bianca, namun saat ia akan beranjak Bianca menahan tangan Arga dan memeluknya dengan erat.


"Tidak bisakah kau di sini saja? aku ingin tidur tanpa kesepian, malam ini saja," ucap Bianca dengan kedua mata yang masih terpejam.


Argapun membiarkan Bianca memeluk tangannya, membuatnya harus berbaring di samping Bianca.


Sepanjang malam Arga sama sekali tidak bisa tertidur. Ia masih memikirkan apa yang baru saja Bianca lakukan padanya dan apa yang sudah ia katakan pada Bianca.


Ia tidak habis pikir kenapa ia bisa mengatakan satu kata yang bisa membuat Bianca salah paham, satu kata itu bahkan seolah keluar tanpa bisa ia cegah.


"Kau..... Kenapa bisa aku mengatakan hal itu, aku pasti sudah mabuk," ucap Arga dalam hati.


Arga menghela nafasnya panjang, debaran dalam dadanya masih bergemuruh dengan hebat saat kecupan Bianca kembali terngiang di kepalanya.


Sentuhan lembut dan hangat di bibirnya membuat detak jantung Arga terus berdetak semakin cepat.


Arga kemudian membawa pandangannya pada Bianca, satu tangannya mengusap rambut Bianca dengan lembut dan entah mendapat bisikan dari mana Arga tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan singkatnya di kening Bianca yang sedang tertidur nyenyak saat itu.


Berkali-kali Arga berusaha untuk tertidur namun matanya selalu terjaga, menatap Bianca yang berbaring dengan lelap di hadapannya membuat Arga sama sekali tidak merasakan rasa kantuk di sepanjang malam.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, dengan kedua mata yang masih terpejam Bianca meraba sekitarnya dan begitu terkejut saat ia menyadari jika ada seseorang yang berada di sampingnya.


"AAAAAAAAAA!!!!!!" teriak Bianca yang segera beranjak dari tidurnya lalu mendorong Arga dengan kuat hingga Arga terjatuh dari atas ranjang.


"Aaargggghhh Bianca....... apa kau mau membunuhku?" balas Arga berteriak dengan kesal karena ia begitu terkejut dengan apa yang Bianca lakukan padanya.


"Apa yang kau lakukan disini? kenapa kau berada di atas tempat tidur? kenapa kau tidur di sampingku? katakan padaku apa yang sudah kau lakukan padaku? apa jangan-jangan......"


Bianca menghentikan ucapannya dan meraba berapa bagian tubuhnya untuk memastikan pikiran buruknya tentang apa yang semalam dilakukan Arga padanya.


Menyadari pakaian yang dipakainya masih lengkap, Biancapun bernafas lega.


"Pikiranmu kotor sekali!" ucap Arga sambil memukul Bianca dengan bantal setelah Arga beranjak dari lantai.


"Aaahhh kepalaku...." ucap Bianca dengan sedikit merintih sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.


"Kenapa? apa kau merasa pusing?" tanya Arga.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, katakan padaku kenapa kau tidur disini? bukankah kau seharusnya tidur di sofa?" tanya Bianca yang tidak mempedulikan pertanyaan Arga.


"Kau yang memintaku untuk tidur disampingmu, kau bahkan memegang tanganku saat aku akan pergi," balas Arga lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang, membuat Bianca segera menggeser posisinya menjauh dari Arga.


"Tidak mungkin aku melakukan hal bodoh itu," ucap Bianca dengan menggelengkan kepalanya tak percaya.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca kembali berdering, Bianca segera mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan melihat sebuah pesan masuk dan beberapa panggilan tak terjawab dari Nadine.


"Astaga ternyata Mama sudah menghubungiku berkali-kali!" ucap Bianca yang baru menyadari jika banyak panggilan tak terjawab dari mama mertuanya.

__ADS_1


Bianca kemudian membuka pesan dari Nadine.


"Sepertinya tidurmu sangat nyenyak sekali, mama dan papa berniat untuk mengajak sarapan bersama, tapi sepertinya mama dan papa akan pergi lebih dulu, nikmati waktumu dengan baik Bianca, mama dan papa tidak akan mengganggu."


Bianca menepuk pelan kepalanya setelah ia membaca pesan dari Nadine, ia kemudian membalas pesan Nadine.


"Maaf ma, Bianca dan Arga baru saja bangun, sepertinya semalam kita tidur terlalu malam jadi terlambat bangun."


Bianca kemudian menaruh ponselnya di atas meja dan membawa pandangannya pada Arga yang terpejam di atas ranjang.


"Kenapa dia terlihat sangat lelah? memangnya apa saja yang dia lakukan semalam?" batin Bianca bertanya dalam hati lalu membawa langkahnya ke kamar mandi sambil memijat kepalanya yang terasa pusing.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Bianca kemudian duduk di sofa dan tak lama kemudian bel pintu kamarnya berbunyi.


Bianca kemudian membukanya dan mendapati staf hotel yang membawakan minuman dan beberapa makanan ringan.


"Minuman apa ini?" tanya Bianca sambil memperhatikan minuman yang ada di hadapannya.


"Lemon dan madu," jawab Arga dengan kedua mata yang masih terpejam.


"Lemon dan madu? untukmu?" tanya Bianca.


Arga menghela nafasnya panjang lalu dengan malas membuka matanya dan beranjak dari ranjang.


"Aku memesannya untukmu, minumlah!" ucap Arga sambil memberikan minuman itu pada Bianca.


"Kenapa kau memberiku lemon dan madu?" tanya Bianca tak mengerti.


"Untuk meredakan efek alkohol yang kau minum semalam," jawab Arga sambil menyeruput minuman miliknya.


"Efek alkohol?" tanya Bianca yang berusaha mengulas ingatannya tentang apa yang terjadi semalam.


"Astaga, apa semalam aku mabuk?" tanya Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.


"Aaahh pantas saja kepalaku pusing sekali, ini semua karena kau yang memaksaku untuk minum minuman itu!" ucap Bianca.


"Aku hanya memintamu untuk mencobanya, tetapi kau hampir menghabiskannya," balas Arga.


Bianca terdiam untuk beberapa saat, berusaha mengingat semua kejadian yang terjadi pada malam itu.


Namun Bianca tidak bisa mengingat apapun selain ingatan terakhirnya saat ia mencoba minuman yang Arga berikan padanya.


"Tidak perlu berusaha mengingatnya, lebih baik lupakan saja, lagi pula tidak ada yang penting untuk diingat," ucap Arga sambil membawa langkahnya ke kamar mandi.


"Tapi aku tidak melakukan apapun padamu bukan?" tanya Bianca yang membuat Arga menghentikan langkahnya saat ia baru saja membuka pintu kamar mandi.


Tiba-tiba saja dada Arga berdebar, jantungnya berdetak dengan cepat saat kepalanya mengulas kembali apa yang semalam terjadi, saat tiba-tiba Bianca mendaratkan kecupan singkat di bibirnya.


"Aku pasti sudah gila," ucap Arga dalam hati sambil memegang bibirnya tanpa sadar.


"Aaahh sial, aku pasti melakukan hal yang memalukan lagi," ucap Bianca yang membuat Arga tersadar dari lamunannya.


"Satu-satunya hal memalukan yang kau lakukan semalam adalah saat kau merengek pada orang yang tidak kau kenal, kau bahkan memegang lengan tangannya, benar-benar memalukan," balas Arga lalu masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan cepat.


"Merengek? pada orang yang tidak aku kenal?tidak..... aku tidak mungkin melakukan hal memalukan itu!" ucap Bianca sambil menggelengkan kepalanya.


Tak lama kemudian Arga keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi.


"Kenapa kau hanya diam? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Arga pada Bianca yang sedang melamun sambil menyisir rambutnya di depan cermin.


"Aku hanya sedang berusaha mengingat semua kejadian yang terjadi semalam," jawab Bianca.


"Tidak perlu mengingatnya, aku sudah bilang kau hanya akan malu saat kau sudah mengingat apa yang terjadi semalam," ucap Arga.


"Sepertinya kau benar, membayangkannya saja sudah membuatku sangat malu, bagaimana mungkin aku merengek pada seseorang yang tidak aku kenal, itu sama sekali bukan diriku," ucap Bianca dengan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


Bianca dan Arga kemudian meninggalkan kamar hotel karena mereka akan menyusul mama dan papa Arga yang sudah berada di pantai.


"Tunggu saja di depan, aku akan mengambil mobil," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


Bianca kemudian berjalan ke arah lobby, sedangkan Arga berjalan ke arah basement. Namun saat Arga baru saja masuk ke dalam mobilnya, ia begitu terkejut saat melihat seseorang yang berada tidak jauh dari tempatnya.


Argapun segera keluar dari mobilnya lalu berlari kecil menghampiri seseorang itu.


"Karina, apa yang kau lakukan disini?" tanya Arga yang sudah berada di hadapan Karina.


"Aku menginap di hotel ini, jangan bilang kau juga menginap disini," balas Karina.

__ADS_1


"Aku tidak tahu ini adalah kebetulan atau takdir, tapi aku juga menginap disini sejak kemarin," ucap Arga dengan penuh senyum.


"Benar-benar kebetulan yang tidak terduga," ucap Karina dengan senyum manisnya yang selalu bisa meluluhkan hati Arga.


__ADS_2