Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Panggilan dari Bara


__ADS_3

Pagi itu Bianca hanya berdiam diri di dalam kamar Lola, memperhatikan Lola yang tengah sibuk dengan laptop dan beberapa buku di sekitarnya.


"Apa kau tidak akan pulang? apa kau tidak akan memberitahu tante Felly jika kau sudah membayar hutang itu?" tanya Lola pada Bianca.


"Tidak, biarkan saja tanpa Felly berpikir jika aku masih belum membayar hutang itu, lagi pula setelah ini aku sudah tidak akan pernah kembali lagi ke rumah itu," jawab Bianca.


"Jadi kau akan membiarkan tante Felly tidak tahu tentang pernikahanmu?" tanya Lola yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Bagaimana jika tante Felly menghubungiku dan menanyakan tentangmu? apa yang harus aku katakan?"


"Tenang saja, tante Felly tidak akan mencariku, selama para penagih hutang itu tidak mengganggunya," jawab Bianca.


"Baiklah kalau begitu, lalu apa rencanamu hari ini? apa kau hanya akan berdiam diri di atas ranjang?"


"Entahlah aku benar-benar tidak bisa berpikir apapun saat ini," jawab Bianca sambil membaringkan badannya di atas ranjang Lola.


"Ada apa lagi Bianca? apa kau masih memikirkan sikap Arga?"


"Aku hanya tidak menyangka jika besok aku akan menikah, apalagi dengan laki-laki yang baru aku kenal, kenapa takdir selalu tidak berpihak padaku Lola? apa aku sudah melakukan kesalahan besar di masa lalu?"


"Di mataku kau adalah gadis yang beruntung Bianca, kau bertemu dengan Arga laki-laki tampan kaya raya yang membantumu untuk melunasi hutang papamu, walaupun kau harus menikah dengannya setidaknya pernikahan kalian hanya akan terjadi selama 2 tahun," balas Lola.


Bianca kemudian beranjak dari ranjang lalu duduk di lantai bersama Lola, ia menghela nafasnya panjang lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Lola.


"Kau benar, mungkin aku saja yang kurang bersyukur, setidaknya aku sudah tidak dikejar oleh hutang yang ditinggalkan papa," ucap Bianca.


"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah kau menjadi istri Arga? apa kau akan bekerja atau kau hanya akan menjadi istri yang berdiam diri di rumah?" tanya Lola.


"Sepertinya dia tidak akan mengizinkanku bekerja, seperti yang kau tahu Arga dan keluarganya adalah orang terpandang, jika aku melakukan sedikit saja kesalahan pasti itu akan berimbas pada Arga dan keluarganya," jawab Bianca.


"Sepertinya kebebasanmu akan direnggut setelah kau menikah, tetapi itu sepadan dengan uang 50 miliar yang Arga berikan untuk melunasi hutang papamu," ucap Lola.


"Sepertinya dunia Arga dan duniaku sangat berbeda, aku harus berusaha keras untuk bisa beradaptasi dengan dunia baruku nanti, semoga saja aku bisa melewati 2 tahun itu dengan mudah," ucap Bianca.


"Kemudahan apalagi yang kau inginkan Bianca? kau memiliki suami tampan yang kaya raya, dia pasti akan memberikan apapun yang kau inginkan!"


"Kebahagiaan bukan hanya tentang materi dan ketampanan Lola, aku juga memiliki hal lain yang ingin aku lakukan!" ucap Bianca.


"Jangan bilang jika kau masih mengharapkan kak Bara!" ucap Lola menerka yang hanya dibalas senyum tipis oleh Bianca.

__ADS_1


"Tidak bisakah kau melupakannya saja? jika memang kak Bara memiliki perasaan padamu tidak mungkin kak Bara mengabaikanmu selama ini!"


"Kak Bara tidak mengabaikanku, dia hanya sedang sibuk dengan kuliahnya, lagi pula dia juga masih beberapa kali menghubungiku ataupun sekedar mengirim pesan," balas Bianca yang masih membela Bara.


"Hmmmm..... terserah kau saja, kau memang keras kepala!" ucap Lola yang kembali fokus dengan buku dan laptop di hadapannya.


**


Waktu berlalu, malampun tiba. Bianca yang baru saja membeli nasi goreng bersama Lola begitu terkejut saat melihat Arga yang berdiri di depan mobilnya yang terparkir di depan tempat kost Lola.


"Temui dia, aku masuk dulu!" ucap Lola lalu berjalan masuk ke kamarnya meninggalkan Bianca yang berjalan menghampiri Arga.


"Ada apa kau kesini?" tanya Bianca pada Arga.


"Apa kau marah padaku?" balas Arga bertanya tanpa menjawab pertanyaan Bianca.


"Tidak, untuk apa aku marah padamu!" balas Bianca.


"Aku minta maaf jika ucapanku kemarin menyinggung perasaanmu," ucap Arga.


"Ucapan yang mana maksudmu, aku sama sekali tidak merasa tersinggung dengan ucapanmu," balas Bianca yang sebenarnya mengerti maksud dari ucapan Arga.


"Jaga sikapmu, aku bukan perempuan sembarangan yang mudah kau sentuh!" ucap Bianca.


"Aku hanya ingin memakaikan ini," ucap Arga sambil menunjukkan sebuah gelang emas dengan hiasan berbentuk angsa yang merupakan simbol dari sebuah brand perhiasan yang terkenal.


"Untuk apa?" tanya Bianca.


"Kau tidak terlihat mengenakan perhiasan sama sekali, aku ingin kau memakai ini di pesta pernikahan kita besok," jawab Arga sambil memberikan gelang itu pada Bianca.


"Aku bisa memakainya sendiri," ucap Bianca lalu mengenakan gelang itu di tangan kirinya.


"Kau bilang tidak sedang marah padaku tetapi sikapmu sangat dingin, apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?" ucap Arga sekaligus bertanya.


"Kenapa kau peduli sekali? seolah-olah aku memang calon istrimu sungguhan," tanya Bianca.


"Besok adalah hari pernikahan kita, aku tidak ingin suasana hatimu buruk, kau pasti tahu bukan jika akan ada banyak mata dan kamera yang memperhatikan kita berdua," balas Arga.


"Aku tahu, tenang saja aku akan memerankan peranku dengan sangat baik, kau tidak perlu khawatir!" ucap Bianca.

__ADS_1


"Aku....."


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Arga menghentikan ucapannya saat ponsel Bianca berdering. Melihat nama yang ada di layar ponselnya, Biancapun tersenyum senang


Tampak jelas sekali raut wajah Bianca yang tadi tak terlihat kesal kini tampak tiba-tiba berubah drastis.


"Siapa?" tanya Arga penasaran.


"Kau tidak perlu tahu, pergilah sampai bertemu besok!" ucap Bianca lalu berjalan pergi begitu saja sambil menerima panggilan di ponselnya.


"Halo kak Bara!" ucap Bianca yang suaranya masih dengan jelas terdengar di telinga Arga yang saat itu masih berdiri di tempatnya.


"Siapa yang menghubunginya? kenapa dia tiba-tiba terlihat senang seperti itu?" batin Arga bertanya dalam hati lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya pergi.


Sedangkan Bianca masih mengobrol bersama Bara melalui sambungan telepon di ponselnya.


"Maaf karena jarang sekali mengabarimu Bianca, kegiatan kampus benar-benar membuatku sangat sibuk," ucap Bara pada Bianca.


"Bianca mengerti kak, kak Bara juga harus fokus dengan tugas kampus bukan agar nilai kak barang tidak turun untuk mempertahankan beasiswa yang kak Bara dapatkan," balas Bianca.


"Kau benar sekali, belum lagi aku juga harus membagi waktuku untuk bekerja part time, rasanya benar-benar melelahkan," ucap Bara.


"Semangat kak, beberapa tahun lagi mimpi kak Bara akan tercapai!" ucap Bianca.


"Kau pasti menungguku bukan?" tanya Bara yang membuat Bianca terdiam untuk beberapa saat.


"Halo Bianca!" ucap Bara membuyarkan lamunan Bianca.


"Iya halo, maaf Bianca sedikit melamun tadi hehehe....."


"Apa kau sedang memikirkan laki-laki lain?" tanya Bara.


"Tentu saja tidak," balas Bianca cepat.


Setelah beberapa lama mengobrol, panggilanpun berakhir.


Dengan penuh senyum Bianca membawa langkahnya masuk ke kamar kost Lola.

__ADS_1


__ADS_2