
Bianca tidak mengerti kenapa Arga tiba-tiba meminta maaf padanya. Dalam hatinya Bianca berpikir apakah Arga akan mengatakan yang sebenarnya tentang kepergiannya ke luar kota atau ada hal lain yang membuat Arga tiba-tiba meminta maaf padanya.
Setelah beberapa saat waktu terhenti, Bianca segera menarik tangannya setelah ia tersadar dari lamunannya.
"Kenapa kau tiba-tiba meminta maaf padaku?" tanya Bianca.
"Aku..... aku hanya ingin minta maaf saja," jawab Arga lalu berjalan pergi meninggalkan Bianca, ia bahkan berlari kecil memasuki rumah.
Bianca hanya menghela nafasnya kasar lalu membawa langkahnya masuk ke dalam rumah.
Bianca menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya, memikirkan apa yang baru saja Arga katakan padanya.
"Apa yang sebenarnya ingin dia katakan? kenapa dia tiba-tiba meminta maaf padaku?" batin Bianca bertanya dalam hati.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan dari seseorang yang sama sekali tidak ia harapkan.
Biancapun memilih untuk mengabaikan panggilan itu, namun sepertinya seseorang itu tidak menyerah untuk terus menghubungi Bianca. Alhasil Biancapun terpaksa menerima panggilan itu.
"Halo tante, ada apa?" tanya Bianca setelah ia menerima panggilan tante Felly.
"Bianca..... tolong tante...." jawab Tante Felly dengan suara bergetar.
"Ada apa Tante? apa yang terjadi pada tante?" tanya Bianca khawatir.
"Tolong datanglah ke rumah Bianca, tante benar-benar membutuhkanmu, orang-orang suruhan rentenir sedang berada di rumah tante sekarang, mereka memaksa tante untuk membayar uang mereka sekarang juga," jelas tante Felly.
"Rentenir? sejak kapan tante berhubungan dengan rentenir?" tanya Bianca.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya Bianca, cepatlah datang kesini atau tante akan benar-benar mati di tangan mereka!" ucap Tante Felly tanpa menjawab pertanyaan Bianca
"Tapi tante......"
"Cepat datang dan bawa sebanyak apapun uang yang kau punya, setidaknya uangmu bisa mencicil sedikit hutangnya atau aku akan benar-benar menghabisi wanita ini!" ucap salah seorang pria yang kini memegang ponsel milik tante Felly.
"Apa kau akan pergi setelah kau mendapatkan uang itu?" tanya Bianca memastikan.
"Tentu saja, aku juga tidak ingin terjadi keributan disini jadi cepatlah kemari dan jangan banyak bertanya lagi!"
Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt
Panggilan berakhir begitu saja, Biancapun segera menyambar tas ranselnya lalu berlari keluar dari kamarnya.
Arga yang saat itu sedang mencari barang miliknya di dalam mobil melihat Bianca yang berlari keluar dari rumah.
"Bianca, kau mau kemana?" tanya Arga pada Bianca yang tampak terburu-buru.
Bianca tidak menjawab pertanyaan Arga karena ia tidak mendengarnya. Biancapun segera menaiki taksi di depan rumah lalu segera pergi dengan menggunakan taksi itu.
Arga yang khawatirpun segera mengendarai mobilnya untuk mengejar taksi yang membawa Bianca pergi.
Sepanjang perjalanan mengikuti taksi, Arga berusaha untuk menghubungi Bianca beberapa kali namun tidak pernah terjawab karena tanpa Arga tahu Bianca meninggalkan ponselnya di kamarnya.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Arga baru menyadari jika jalan yang ia lewati adalah jalan menuju ke rumah tante Felly.
"Bukankah ini jalan ke rumah tante Felly? kenapa Bianca terburu-buru kesini?" tanya Arga pada dirinya sendiri.
Benar saja, tak lama kemudian taksi yang dinaiki Bianca berhenti tepat di depan rumah tante Felly. Arga melihat Bianca yang keluar dari taksi lalu segera berlari masuk ke dalam rumah.
Di sisi lain, Bianca yang baru saja sampai tanpa ragu masuk ke dalam rumah itu lalu membawa langkahnya ke arah salah satu kamar yang ada disana.
Namun saat Bianca baru saja membuka pintu tiba-tiba seorang pria mendekap Bianca, dengan cepat pria yang lainnya melumpuhkan Bianca dengan mengikat tangan dan kaki Bianca lalu menutup mulut Bianca dengan lakban.
Bianca hanya terdiam dengan membawa pandangan yang menatap tante Felly yang berdiri di antara para pria itu. Bianca tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, ia hanya bisa diam dengan tanda tanya besar dalam kepalanya.
"Maafkan tante Bianca, tante tidak punya pilihan lain," ucap tante Felly.
"Apa kau yakin laki-laki itu akan datang kesini dan memberikan banyak uang untuk menyelamatkan perempuan ini?" tanya salah satu pria itu pada tante Felly.
"Aku yakin, dia akan datang untuk menyelamatkan istrinya," jawab Tante Felly.
"Bagaimana jika dia melaporkan hal ini pada polisi?" tanya pria yang lain.
"Dia tidak akan melakukan hal itu jika dia tidak ingin kita melukai istrinya," jawab salah satu pria yang ada disana.
"Saat dia datang, pastikan kalian segera memukulnya dengan balok kayu yang kalian bawa, segera lumpuhkan dia agar dia cepat memberikan uang yang kita butuhkan," ucap seorang pria pada pria yang lainnya.
__ADS_1
"Setelah ini kau harus menepati janjimu, setelah kau mendapatkan uang 50 juta dari laki-laki itu kau akan pergi dan tidak akan menggangguku lagi," ucap Tante Felly pada salah satu pria yang ada di sampingnya.
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Bianca yang hanya terdiam menyimak pembicaraan mereka kini mengerti apa yang sebenarnya terjadi
Ia kini sadar jika ia dijadikan "tumbal" oleh sang tante. Namun tak ada apapun yang bisa Bianca lakukan selain menatap tajam tante Felly yang berdiri bersama para pria itu.
"Tante sudah pernah memberitahumu Bianca, tante membutuhkan uang itu tetapi kau malah mengembalikan uang yang sudah Arga berikan pada tante," ucap Tante Felly pada Bianca.
Tante Felly kemudian membuka tas selempang Bianca untuk mencari ponsel milik Bianca, namun ia tidak menemukannya disana.
Tante Felly juga memeriksa seluruh saku di pakaian Bianca namun ia tetap tidak menemukan ponsel Bianca.
"Apa kau tidak membawa ponselmu?" tanya Tante Felly yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Bianca.
"Aaarrgghh bodoh sekali!" ucap Tante Felly kesal.
Tiba-tiba.....
"Bianca..... kau dimana, Bianca?"
Terdengar suara Arga yang membuat Bianca begitu terkejut.
"Arga, kenapa dia ada disini?" batin Bianca bertanya dalam hati.
"Itu Arga, aku yakin itu suara Arga," ucap tante Felly yang mengenali suara Arga.
Salah satu pria itu kemudian menarik dengan kasar lakban di mulut Bianca, membuat Bianca merintih kesakitan.
"Panggil suamimu itu agar dia datang kesini!" ucap pria itu pada Bianca.
Namun bukannya memanggil Arga, Bianca justru hanya tersenyum tipis dengan menggelengkan kepalanya.
"Jangan memintanya untuk melakukan apapun, dia tidak akan menuruti ucapanmu!" ucap Tante Felly pada pria itu.
Pria itu kemudian melayangkan tangannya dan tanpa ragu menampar Bianca dengan keras, namun Bianca masih berusaha untuk tetap diam tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun.
"Memohonlah pada laki-laki itu atau aku akan benar-benar menghajarmu!" ucap pria itu mengancam.
Lagi-lagi Bianca hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa sedikitpun raut wajah ketakutan yang terlihat dari wajahnya.
"Kau benar-benar keras kepala!" ucap pria itu sambil menarik rambut Bianca dengan kencang lalu mendorong Bianca hingga Bianca terhempas ke lantai, membuat bagian keningnya berdarah.
Bianca sengaja melakukan hal itu agar Arga tidak masuk ke dalam ruangan itu, karena ia tidak ingin jika para pria itu menyakiti Arga.
Hingga akhirnya suara ketukan pintu membuat semua yang ada di ruangan itu kompak menoleh ke arah pintu.
"Bianca, apa kau ada di dalam?" tanya Arga sambil kembali mengetuk pintu ruangan itu.
Bianca hanya diam berusaha untuk menahan sakit yang ia rasakan saat itu. Namun tiba-tiba tamparan keras kembali mendarat di pipi Bianca.
Meskipun Bianca tidak bersuara, namun Arga bisa mendengar dengan jelas suara tamparan yang berasal dari dalam ruangan itu.
Tanpa banyak berpikir Argapun segera membuka pintu ruangan itu dan begitu terkejut saat mendapati Bianca yang terikat dengan keningnya yang berdarah.
"Bianca....."
BUUUGGGHHHHH
Pukulan keras mendarat di punggung Arga beberapa kali, membuat Arga terjatuh di lantai. Saat itulah Arga menyadari jika ada beberapa pria yang berada dalam ruangan itu.
"Rupanya kau sangat mencintai istrimu, aku bahkan belum sempat menghubungimu tetapi kau sudah datang!" ucap Tante Felly pada Arga.
"Lepaskan dia, aku akan memberikan apapun yang kalian inginkan!" ucap Arga tanpa ragu.
"Kau sombong sekali anak muda, kau membuatku kesal dengan kesombonganmu itu!" ucap salah satu pria yang ada disana.
"Kesombongannya itulah yang akan membayar kalian semua!" sahut Bianca yang sudah menahan amarahnya sejak tadi.
PLAAAAAKKKKK
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bianca entah untuk yang ke berapa kali. Melihat hal itu Arga segera beranjak dan melayangkan tinjunya pada pria yang menampar Bianca sebelum akhirnya pria lain menahan kedua tangan Arga.
"Kalian akan menyesali apa yang sudah kalian lakukan padanya!" ucap Arga penuh emosi.
"Cepat cari ponselnya dan paksa dia mentransfer uangnya, aku sudah sangat muak berurusan dengannya!" ucap pria yang baru saja mendapat pukulan keras dari Arga.
Beberapa pria itu akhirnya berhasil mendapatkan ponsel Arga. Mereka memaksa Arga untuk mentransfer uang 50 juta pada mereka.
__ADS_1
Karena para pria itu berhasil melumpuhkan pergerakan Arga, Argapun tidak bisa melakukan hal lain selain menuruti permintaan mereka agar mereka berhenti menyakiti Bianca.
Setelah mentransfer uang yang diminta oleh para pria itu, Arga membawa pandangannya pada tante Felly dengan tatapan tajam penuh emosi.
"Arga pastikan tante juga akan menyesali apa yang sudah tante lakukan," ucap Arga pada tante Felly.
"Lakukan saja apa yang bisa kau lakukan karena setelah ini aku akan pergi dan kau tidak akan pernah bisa menemukanku," balas Tante Felly lalu keluar dari ruangan itu bersama semua pria yang ada disana.
Kini hanya ada Bianca dan Arga yang berada di ruangan itu. Arga segera mendekati Bianca dan berusaha untuk melepaskan tali tambang yang mengikat tangan dan kaki Bianca.
Entah kenapa hatinya terasa begitu sakit melihat keadaan Bianca saat itu. Arga kemudian memeluk Bianca, namun Bianca segera mendorong Arga menjauh darinya.
"Diamlah Bianca!" ucap Arga dengan sedikit meninggikan suaranya sambil kembali membawa Bianca ke dalam pelukannya.
Bianca yang pada awalnya berusaha untuk meronta kini mulai melunak setelah ia menyadari jika Arga memeluknya dengan tubuhnya yang bergetar.
Entah apa yang Arga rasakan saat itu tetapi Bianca merasa ada sesuatu yang terjadi pada Arga.
Biancapun membiarkan Arga memeluknya sampai akhirnya ia merasa jika Arga sudah lebih tenang dari sebelumnya.
Arga kemudian melepaskan Bianca dari pelukannya dan menatap Bianca tanpa mengatakan apapun.
"Apa kau baik-baik saja? sepertinya mereka memukul punggungmu cukup keras," tanya Bianca mengkhawatirkan Arga.
"Aku baik-baik saja," jawab Arga sambil membantu Bianca untuk berdiri.
Bianca kemudian memegang punggung Arga membuat Arga terkejut dan merintih karena memang punggungnya begitu sakit saat itu.
"Kau bohong!" ucap Bianca.
"Kita harus ke rumah sakit untuk mengobati lukamu!" ucap Arga mengabaikan ucapan Bianca.
"Ini hanya luka kecil, aku bisa mengobatinya sendiri di rumah," balas Bianca.
"Apa saja yang mereka lakukan padamu Bianca? Apa mereka juga memukulmu dengan balok kayu itu?" tanya Arga mengkhawatirkan Bianca.
"Tidak, mereka hanya menamparku," jawab Bianca.
"Aku bisa melihatnya, aku pastikan aku akan membalas apa yang mereka lakukan padamu," ucap Arga.
"Apa yang akan kau lakukan pada mereka Arga?" tanya Bianca.
"Kau tidak perlu tahu," jawab Arga lalu masuk ke dalam mobilnya bersama Bianca.
"Apa kau bisa mengendarai mobilmu? apa tidak sebaiknya kita pulang menggunakan taksi?" tanya Bianca khawatir.
"Tidak perlu," balas Arga lalu mengendarai mobilnya meninggalkan rumah itu bersama Bianca.
Sepanjang perjalanan Bianca dan Arga hanya diam tanpa mengatakan apapun hingga akhirnya mereka sampai di rumah.
"Tunggulah disini, aku akan mengobati punggungmu!" ucap Bianca saat mereka baru saja memasuki ruang tamu.
Arga kemudian membawa langkahnya untuk duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Bianca segera berlari kecil ke kamarnya untuk mengambil kotak P3K.
"Buka bajumu!" ucap Bianca yang duduk di samping Arga sambil membuka kotak P3K yang dibawanya.
"Apa yang mau kau lakukan padaku?" tanya Arga sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Di saat seperti inipun kau masih bisa berpikiran kotor?" balas Bianca bertanya.
"Lukamu ada di punggung, bagaimana aku bisa mengobatinya jika kau tidak membuka bajumu!" lanjut Bianca.
"Aaaahhh iya, kau benar!" ucap Arga lalu membuka bagian belakang bajunya.
Dengan pelan Bianca kemudian mengoleskan obat pada luka memar yang memanjang di bagian punggung Arga.
"Astaga, mereka benar-benar memukulmu dengan sangat keras!" ucap Bianca saat ia melihat luka memar Arga yang cukup parah.
Setelah Bianca mengobati luka Arga, kini Arga yang bergantian mengobati luka Bianca. Namun sebelum itu, Arga melepas gelang yang melingkar di tangan Bianca lalu menggunakannya untuk mengikat rambut Bianca.
Posisi duduk mereka yang saling berhadapan saat itu sangat dekat satu sama lain, membuat Bianca bahkan bisa menghirup aroma parfum Arga.
Entah kenapa tiba-tiba jantung Bianca berdetak begitu cepat, membuatnya terdiam dan gugup.
Setelah mengikat rambut Bianca, Arga kemudian membersihkan luka di kening Bianca lalu mengobatinya dan menutupnya dengan plester.
Arga menghela nafasnya panjang saat ia melihat memar di pipi Bianca. Bekas tamparan itu membuat emosi Arga kembali memuncak.
__ADS_1
Jika bukan karena kalah jumlah dari para pria yang ada disana Arga pasti sudah meluapkan emosinya pada pria yang menampar Bianca.