
Arga masih bersama Bianca di balkon. Ia menikmati setiap detik kebersamaannya bersama Bianca meskipun Bianca sedang tertidur saat itu.
Karena udara malam yang semakin dingin, Arga kemudian memutuskan untuk membawa Bianca masuk.
Dengan pelan Arga mengangkat tubuh Bianca, membopong Bianca masuk ke dalam kamarnya lalu membaringkan Bianca di atas ranjangnya.
"Mimpi indah Bianca," ucap Arga lalu mendaratkan kecupan singkatnya di kening Bianca sebelum ia menarik selimut untuk menutup tubuh Bianca.
Dengan penuh senyum Arga membawa dirinya untuk duduk di sofa lalu berbaring disana dengan menatap Bianca yang tertidur di atas ranjang.
Dalam hatinya ia senang karena malam itu ia bisa tidur dalam satu ruangan yang sama dengan Bianca seperti saat mereka berada di rumah sakit.
**
Malam yang panjang telah berlalu, pagi itu Arga baru saja keluar dari kamar mandi lalu mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke kantor.
Di sisi lain Bianca yang baru saja bangun dari tidurnya mengerjapkan matanya dan segera membuka matanya lebar-lebar saat ia melihat Arga di hadapannya.
Bianca kemudian segera beranjak dari tidurnya dan menyadari jika ia sedang berada di kamar Arga saat itu.
"Kau sudah bangun?" tanya Arga yang melihat Bianca bangun dari pantulan cermin yang ada di hadapannya.
"Kenapa aku ada disini?" balas Bianca bertanya sambil membawa dirinya duduk di tepi ranjang Arga.
Arga hanya tersenyum lalu membawa langkahnya mendekati Bianca dan berjongkok di depan Bianca kemudian meraih kaki Bianca.
"Apa yang kau lakukan Arga?" tanya Bianca sambil sedikit mendorong bahu Arga.
"Aku hanya ingin memijat kakimu, dokter Galih bilang aku harus melakukannya setiap pagi sampai kau benar-benar pulih," jawab Arga.
"Aku bisa melakukannya sendiri Arga," ucap Bianca yang merasa enggan untuk menerima pijatan di kakinya.
"Apa aku tidak boleh memijat kakimu? apa kau merasa tidak nyaman karena aku menyentuhnya?" tanya Arga dengan mendongkakkan kepalanya menatap Bianca yang duduk di tepi ranjangnya.
"Bukan seperti itu, aku hanya.... aku...."
"Aku hanya akan melakukannya sebentar Bianca, kau bisa melanjutkannya sendiri nanti," ucap Arga memotong ucapan Bianca.
Dengan pelan Arga memijat kedua kaki Bianca bergantian, sedangkan Bianca hanya diam tanpa mengatakan apapun.
"Sudah, sekarang waktunya untuk sarapan!" ucap Arga lalu berdiri di hadapan Bianca dan mengulurkan tangannya pada Bianca.
Bianca meraih tangan Arga kemudian perlahan turun dari ranjang dengan berpegangan pada tangan Arga.
Dengan langkahnya yang pelan Bianca keluar dari kamar Arga, namun ia menghentikan langkahnya saat ia akan menuruni tangga.
Dengan sigap Argapun segera mengangkat tubuh Bianca, menggendongnya menuruni tangga sampai di meja makan lalu menundukkan Bianca disana.
Merekapun menikmati sarapan mereka berdua. Setelah selesai sarapan, Arga membantu Bianca untuk duduk di kursi roda.
"Jangan berjalan sendiri tanpa ada yang mengawasimu, tetap pakai kursi roda ini dan panggil bibi jika kau membutuhkan sesuatu!" ucap Arga pada Bianca.
"Iya aku mengerti," balas Bianca.
"Aku akan pulang cepat hari ini, jadi tunggu aku!" ucap Arga lalu menepuk pelan kepala Bianca kemudian membawa langkahnya keluar dari rumah.
Bianca hanya diam di atas kursi rodanya, menatap punggung Arga yang semakin menjauh darinya.
"Ini hanya perasaanku saja atau memang sikapnya benar-benar berubah padaku?" batin Bianca bertanya dalam hati.
Bianca kemudian masuk ke kamarnya dengan menggunakan kursi rodanya, ia mengambil ponsel yang ada di atas mejanya untuk memeriksa pesan dan panggilan masuk, namun ia hanya menghela nafasnya kesal karena sama sekali tidak ada pesan ataupun panggilan masuk dari Bara.
Bianca lalu menghubungi Bara, namun tidak terjawab bahkan pesan yang ia kirim beberapa hari yang lalu belum juga dibaca oleh Bara.
Hal itu membuat Bianca semakin kesal, terlebih saat ia teringat suara perempuan yang menerima panggilannya saat ia menghubungi Bara.
"Kemana sebenarnya kak Bara? apa yang dia lakukan disana dan kenapa ada suara perempuan yang menerima panggilanku saat itu?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore saat Bianca mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya.
Saat Bianca mengintipnya dari jendela kamar, ia melihat mobil Arga yang sudah terparkir di halaman rumah.
Tanpa sadar sebuah senyum tersungging di bibir Bianca, ia kemudian mendorong kursi rodanya keluar dari kamar untuk menyambut kedatangan Arga.
Melihat Bianca yang baru saja keluar dari kamar, Argapun tersenyum senang dan mempercepat langkahnya menghampiri Bianca lalu berjongkok di hadapan Bianca yang saat itu duduk di kursi rodanya.
__ADS_1
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Arga dengan menatap kedua mata Bianca.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.
"Tunggu disini sebentar, aku akan segera bersiap dan kita akan segera pergi ke pantai!" ucap Arga yang kembali dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Bianca.
Arga kemudian membawa langkahnya menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya. Setelah ia selesai bersiap, ia segera turun untuk menemui Bianca.
"Apa sudah siap?" tanya Arga.
"Sudah," jawab Bianca penuh semangat.
Arga kemudian mendorong kursi roda Bianca keluar dari rumah lalu membantu Bianca untuk masuk ke dalam mobil kemudian menaruh kursi roda Bianca dalam bagasi.
"Apa kau sudah memberitahu Lola jika kau mengajaknya pergi ke pantai hari ini?" tanya Arga pada Bianca.
"Aku sudah memberitahunya tetapi dia baru meninggalkan kantornya saat pukul 05.00 jadi lebih baik kita berangkat lebih dulu, dia pasti akan menyusul setelah dia pulang bekerja," jawab Bianca.
"Oke baiklah," ucap Arga lalu mengendarai mobilnya ke arah pantai.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di area pantai. Arga segara membuka pintu mobilnya dan membantu Bianca untuk turun dari mobil.
"Bagaimana dengan kursi rodanya?" tanya Bianca sebelum dia turun dari mobil.
"Sepertinya kita tidak memerlukannya, lagi pula kita tidak bisa membawa kursi rodanya ke tepi pantai bukan!" balas Arga.
"Kau benar, lagi pula keadaan kakiku juga sudah semakin membaik," ucap Bianca lalu meraih tangan Arga untuk turun dari mobil.
Dengan menggandeng tangan Arga, Bianca membawa langkahnya berjalan ke arah pantai dengan langkahnya yang pelan.
"Katakan padaku jika kau merasa lelah, aku tidak ingin kau terlalu memaksakan dirimu!" ucap Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Setelah berjalan cukup lama karena langkah Bianca yang sangat pelan, akhirnya mereka sampai di bibir pantai.
Arga berdiri di hadapan Bianca dengan menggenggam kedua tangan Bianca dan Biancapun berjalan pelan, berusaha untuk menjaga keseimbangannya meski ombak beberapa kali menghantam kakinya.
Setelah cukup lama Bianca melakukan hal itu bersama Arga, ia merasa kakinya sudah semakin stabil karena ia lebih bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya yang artinya kekuatan kakinya sudah semakin membaik.
"Sepertinya kau bisa melepaskan tanganku sekarang!" ucap Bianca pada Arga.
"Apa kau yakin?" tanya Arga memastikan.
"Oke baiklah," ucap Arga yang dengan pelan melepaskan genggaman tangannya pada Bianca.
Bianca hanya berdiri beberapa saat, mencoba menjaga keseimbangannya saat ombak menghantam kakinya dan ia tidak memiliki apapun sebagai pegangannya.
Setelah ia merasa jika dirinya sudah bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, ia mulai melangkahkan kakinya dengan pelan.
Meskipun beberapa kali ia hampir terjatuh, Arga selalu sigap menahan Bianca karena Arga selalu berada di samping Bianca.
"Sudah cukup Bianca, jangan terlalu memaksakan dirimu, kau sudah jauh lebih baik sekarang!" ucap Arga pada Bianca.
Arga dan Bianca kemudian duduk di tepi pantai, sedikit menjauh dari ombak yang menyapu pantai.
Bersama sinar jingga yang mulai terlihat di ujung barat langit sore, Bianca dan Arga duduk berdua disana.
"Waaahhh lihatlah cahayanya, indah sekali Arga!" ucap Bianca sambil menunjuk sunset yang terlukis indah di hadapannya.
"Sebentar lagi akan gelap, apa kau mau tetap disini?" ucap Arga sekaligus bertanya.
"Apa kau tidak keberatan jika kita tetap disini?" balas Bianca.
"Tentu saja tidak, aku akan menemanimu sampai kau puas berada disini," ucap Arga.
Bianca hanya tersenyum tipis lalu membawa pandangannya ke arah langit jingga dihadapannya, sampai perlahan gelap benar-benar menghilangkan cahaya jingga itu.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu Arga," ucap Bianca dengan membawa pandangannya pada Arga.
"Ada apa Bianca? katakan saja," balas Arga.
"Tentang kecelakaan itu, aku harap kau melupakannya, aku tidak ingin apa yang sudah terjadi padaku menjadi beban untukmu," ucap Bianca.
"Aku sama sekali tidak menganggapnya sebagai beban Bianca, tapi aku juga tidak bisa melupakannya begitu saja, kau sudah menyelamatkan hidupku dan aku sangat berterima kasih padamu," balas Arga.
"Aku tidak berpikir panjang saat itu, aku hanya berusaha agar kau menghindar dari mobil yang melaju kencang dan aku tidak tahu jika akhirnya akan seperti itu," ucap Bianca.
"Jangan terlalu memikirkannya Bianca, yang terpenting sekarang semuanya sudah baik-baik saja," balas Arga.
__ADS_1
"Bagaimana dengan pengemudi mobil itu?" tanya Bianca.
"Daffa sudah menyelesaikan masalah itu dan pengemudi mobil itu juga sudah berada di penjara sekarang," jawab Arga.
"Apa kau mengenal pengemudi itu? apa mungkin dia sengaja melakukan hal itu?" tanya Bianca.
"Aku tidak mengenalnya dan menurut pemeriksaan polisi, pagi itu dia mengendarai mobilnya dengan pengaruh alkohol jadi mungkin dia tidak bisa mengendalikan dirinya karena pengaruh alkohol yang diminumnya," jelas Arga.
"Aaahh begitu, pantas saja dia mengendarai mobilnya tanpa kendali," ucap Bianca dengan mengganggu-anggukkan kepalanya.
"Kau tidak mengalami trauma karena hal itu bukan?" tanya Arga memastikan.
"Tidak, tapi jika hal itu membuatku harus kehilangan nyawaku mungkin aku tidak akan sedih, karena itu artinya aku akan bertemu dengan mama dan papa di duniaku yang baru," jawab Bianca dengan tersenyum.
"Apa kau merindukan mereka?" tanya Arga.
"Merindukan orang yang sudah tiada adalah rasa rindu yang paling sakit Arga dan aku sudah sering merasakannya," jawab Bianca.
"Kau pasti akan bertemu dengan mereka Bianca, tapi tidak sekarang dan mungkin kau akan bertemu dengan mereka bersamaku," ucap Arga dengan tersenyum.
"Bersamamu? kenapa bersamamu?" tanya Bianca tak mengerti.
"Bianca!!"
Terdengar suara seseorang memanggil nama Bianca, membuat Bianca dan Arga seketika membalikkan badan mereka dan melihat Lola yang berlari ke arah mereka berdua bersama Daffa.
"Maaf aku terlambat, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Lola sambil memeluk Bianca lalu duduk di samping Bianca.
"Karena banyak pekerjaan atau karena memang kau menunggu Daffa?" tanya Bianca menggoda Lola.
"Aku tidak tahu jika Lola memiliki janji denganmu, aku datang ke tempatnya bekerja dan ternyata dia sudah ada janji denganmu, jadi aku mengantarnya kesini," sahut Daffa memberi penjelasan.
"Bagaimana keadaan kakimu? apa sudah lebih baik?" tanya Lola pada Bianca.
"Aku merasa sudah lebih baik, tapi aku tetap harus memastikannya dengan melakukan pemeriksaan pada dokter Galih," jawab Bianca.
"Disini sudah gelap, bagaimana jika kita ke kafe?" sahut Daffa kau bertanya.
Mereka semuapun setuju. Bianca kemudian beranjak dari duduknya dengan dibantu oleh Lola dan Arga.
Mereka berempat berjalan pelan mengimbangi langkah Bianca yang belum cukup kuat untuk bisa berjalan dengan cepat.
"Kalian bisa pergi ke kafe lebih dulu, kalian akan bosan menungguku berjalan yang seperti siput," ucap Bianca pada Lola dan Daffa.
"Bagaimana jika aku menggendongmu?" tanya Lola sambil menepuk punggungnya.
"Sepertinya aku meragukan kekuatanmu hehehe...." balas Bianca yang membuat Lola memayunkan bibirnya.
"Bagaimana denganku?" tanya Daffa yang ikut menepuk punggungnya yang membuat Arga dengan cepat memukul punggung Daffa.
Mereka semuapun tertawa dengan masih berjalan pelan menyeimbangkan langkah Bianca.
Sesampainya di kafe, mereka berempatpun duduk lalu memesan beberapa makanan dan minuman.
"Sepertinya aku ingin pergi ke toilet," ucap Bianca.
"Aku akan mengantarmu," ucap Lola yang segera beranjak dari duduknya.
Lola kemudian membantu Bianca untuk beranjak dari duduknya kemudian berjalan ke arah toilet dengan menggandeng tangan Bianca.
Lola menunggu Bianca di depan wastafel saat Bianca masuk ke dalam bilik toilet. Tak lama kemudian Bianca keluar dan membasuh tangannya di wastafel.
"Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan padamu Lola," ucap Bianca.
"Ada apa Bianca? apa terjadi sesuatu?" tanya Lola khawatir.
"Sebenarnya tidak ada sesuatu yang buruk, hanya saja aku merasa aneh dengan sikap Arga akhir-akhir ini," jawab Bianca.
"Apa maksudmu? memangnya apa yang Arga lakukan padamu?" tanya Lola.
"Arga memang selalu berusaha untuk memperlakukanku dengan baik selama ini, tapi sepertinya aku merasa sikapnya berbeda kali ini, dia sangat perhatian padaku, dia juga bersikap lembut bahkan sangat sabar padaku, bukankah kau tahu jika dulu dia selalu memarahiku hanya karena hal-hal kecil yang aku lakukan!" jelas Bianca.
Lola hanya tersenyum mendengar apa yang Bianca katakan, karena ia tahu jika Arga memang sedang berusaha untuk membuat Bianca jatuh cinta.
"Selama dia tidak melakukan hal yang buruk padamu biarkan saja, nikmati saja hari-harimu sebagai istri yang sangat diperhatikan oleh suamimu," ucap Lola dengan penuh senyum.
"Kau berkata seperti itu seolah kau tidak tahu bagaimana pernikahanku dengan Arga yang sebenarnya, dia melakukan semua itu pasti karena dia merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi padaku," balas Bianca.
__ADS_1
"Bagaimana jika ternyata dia melakukan semua itu bukan karena dia merasa bersalah tapi karena dia jatuh cinta padamu?" tanya Lola yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Lola.