Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Bertemu Orang Tua Arga


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat Bianca tengah duduk di hadapan cermin rias milik Lola. Di hadapannya Lola sedang memoleskan make up pada seluruh wajah Bianca sebelum Bianca bertemu dengan kedua orang tua Arga.


Setelah beberapa lama fokus dengan wajah cantik di hadapannya, Lolapun menatap wajah sahabatnya itu dengan penuh kebanggaan pada dirinya sendiri.


"Waahh sepertinya aku berbakat dalam hal ini!" ucap Lola mengagumi hasil riasannya yang membuat Bianca semakin tampak cantik.


"Itu karena wajahku yang memang sudah cantik sebelum aku memakai make up," balas Bianca yang membuat Lola memanyunkan bibirnya.


Biancapun terkekeh lalu meraih pinggang Lola yang berdiri di sampingnya untuk ia peluk.


"Terima kasih Lola, kau memang sahabat terbaikku!" ucap Bianca.


"Kau beruntung memiliki sahabat sepertiku, karena jika tidak kau pasti harus membeli baju baru untuk bisa datang menemui orang tua Arga!"


"Hahaha kau benar, aku sama sekali tidak memiliki pakaian seperti ini, tapi..... bagaimana dengan sepatunya? aku tidak mungkin memakai sneakers bukan?"


"Jangan khawatir, aku masih memiliki sepatu yang lain, meskipun bukan dari merk ternama seperti yang kau buang waktu itu," balas Lola dengan menatap tajam Bianca melalui ekor matanya.


"Aku pasti akan menggantinya Lola, walaupun aku tidak tahu kapan aku akan menggantinya," ucap Bianca yang merasa terintimidasi oleh tatapan tajam Lola.


"Hmmm.... terserah kau saja, pakai ini!" ucap Lola lalu memberikan sepasang sepatu dengan hak tinggi pada Bianca.


"Aaahhh sepatu sialan ini lagi...." gerutu Bianca karena tumitnya terluka saat ia mengenakan sepatu hak tinggi milik Lola sebelumnya.


"Apa kau bilang? sepatu sialan? baiklah jika kau tidak mau menggunakan sepatu ini, gunakan saja sepatu sneakersmu itu!" ucap Lola yang hendak kembali mengambil sepatu yang baru saja ia berikan pada Bianca.


"Hehehe aku hanya bercanda!" ucap Bianca sambil mempertahankan sepatu Lola yang sudah ada di tangannya.


Lola hanya melipat kedua tangannya di dada dengan kesal melihat sikap Bianca.


Meskipun begitu ia berharap jika pertemuan Bianca dengan orang tua Arga akan berjalan dengan lancar, karena bagaimanapun juga Bianca harus segera mendapatkan uang 50 miliar untuk melunasi hutang papanya.


Setelah mempersiapkan dirinya dengan baik, Bianca hanya tinggal menunggu Arga datang. 10 menit kemudian ponsel Bianca berdering, sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenalnya.


"Keluarlah, aku sudah di depan!"


Bianca kemudian berpamitan pada Lola sebelum ia keluar dari kamar kost Lola.

__ADS_1


"Do'akan aku Lola!" ucap Bianca saat ia memeluk Lola.


"Semoga semuanya berjalan dengan baik Bianca, semoga kau bisa merebut hati orang tua Arga!" balas Lola sambil menepuk-nepuk punggung Bianca.


Bianca kemudian membawa langkahnya keluar dari kamar kost Lola dan mendapati Arga yang sudah berdiri di depan mobil mewahnya.


Arga yang melihat Bianca berjalan ke arahnya untuk beberapa saat terdiam tanpa berkedip menatap gadis cantik di hadapannya.


Pakaian khas perempuan feminim yang menampakan kedua bahunya serta sepatu hak tinggi membuat penampilan Bianca semakin terlihat luar biasa malam itu.


Make up natural dan geraian rambut yang dihiasi dengan penjepit rambut itu membuat Bianca bak Putri yang baru saja keluar dari istananya.


Tanpa sadar Arga tersenyum mengagumi gadis cantik yang sudah berdiri di hadapannya.


Dengan pakaian feminim namun tidak terlalu terbuka itu lebih dari cukup untuk memberikan kesan jika Bianca adalah gadis cantik yang anggun.


"Apalagi yang kita tunggu?" tanya Bianca membuyarkan lamunan Arga.


"Tidak ada, masuklah!" jawab Arga lalu segera berjalan masuk ke dalam mobilnya dan duduk di balik kemudi, begitu juga Bianca yang segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Arga.


"Tentu saja, aku takut jika orang tuamu tidak bisa menerimaku karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengambil hati orang tuamu," jawab Bianca sambil memainkan jari-jari tangannya karena gugup.


Melihat hal itu Argapun berinisiatif untuk menenangkan kegugupan Bianca.


Entah mendapat dorongan dari mana, Arga membawa tangannya menggenggam tangan Bianca yang tentu saja membuat Bianca begitu terkejut dan segera menepis tangan Arga.


"Apa yang kau lakukan? tolong jangan melewati batas!"


"Aku.... aku hanya berusaha membuatmu untuk tidak gugup," jawab Arga.


"Tidak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri!" ucap Bianca.


"Oke baiklah mari kita bertemu mama dan papa!" ucap Arga lalu mengendarai mobilnya ke arah rumah orang tua Arga.


Setelah beberapa lama berkendara, Argapun sampai di rumah orang tuanya. Melihat betapa mewahnya rumah orang tua Arga membuat Bianca semakin gugup.


Bianca merasa jika dirinya berbeda level dengan Arga dan keluarganya, terlebih saat ia tahu jika orang tua Arga sudah menjodohkan Arga dengan Clara yang sudah jelas jauh lebih baik daripada dirinya.

__ADS_1


"Jangan gugup, orang tuaku bukan orang jahat yang akan tiba-tiba mengusirmu tanpa alasan, jadi bersikaplah santai dan buat dirimu senyaman mungkin!" ucap Arga yang melihat kegelisahan Bianca saat itu.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu berniat untuk keluar dari mobil Arga namun tiba-tiba Arga mencegahnya.


"Kenapa?" tanya Bianca.


"Arga Narendra, CEO perusahaan X yang sebentar lagi akan menjadi suamimu," ucap Arga sambil mengulurkan tangannya pada Bianca.


Biancapun tersenyum tipis lalu menerima uluran tangan Arga.


"Bianca Titania, gadis biasa yang terpaksa bersedia untuk menjadi istrimu," balas Bianca lalu segera melepaskan tangannya dari jabatan tangan Arga.


"Perkenalan yang aneh," batin Bianca dalam hati lalu membuka pintu mobil Arga.


"Sepertinya bergandengan tangan tidak terlalu berlebihan bagi sepasang kekasih," ucap Arga sebelum ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah bersama Bianca.


Bianca menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya.


Arga kemudian meraih tangan Bianca, menggenggamnya lalu berjalan bersama Bianca memasuki rumahnya.


Bianca begitu terkesima melihat betapa mewah dan luasnya rumah Arga.


"Sebenarnya dimana kita akan makan malam?" tanya Bianca berbisik pada Arga karena mereka sudah berjalan cukup jauh dari pintu utama namun belum juga sampai di tempat mereka akan makan malam.


"Jangan berbisik seperti itu," ucap Arga tanpa menjawab pertanyaan Bianca.


"Waaahhh rumah ini benar-benar sangat luas, untuk berjalan ke tempat makan malam saja rasanya sangat jauh dari pintu utama," batin Bianca dalam hati.


Sampai akhirnya Bianca melihat meja panjang dengan berbagai macam hidangan di atasnya serta dua orang yang sudah duduk disana, Biancapun sudah bisa menerka jika mereka adalah orang tua Arga.


Dengan penuh senyum Arga menggandeng tangan Bianca ke arah kedua orang tuanya.


"Ma, pa kenalkan ini Bianca yang sebelumnya sudah Arga ceritakan pada mama dan papa," ucap Arga memperkenalkan Bianca.


Biancapun tersenyum dengan sedikit menundukkan kepalanya pada mama dan papa Arga.


Mama Argapun menatap Bianca, memperhatikannya dari atas sampai bawah dengan detail. Matanya dengan jeli menilai penampilan Bianca yang Arga kenalkan sebagai kekasihnya malam itu.

__ADS_1


__ADS_2