
Lebih dari 7 jam telah berlalu, akhirnya Bianca dan Arga sampai di Tokyo, Jepang. Setibanya mereka disana, mereka disambut oleh beberapa orang yang sudah menyiapkan mobil dan hotel untuk Bianca dan Arga.
Seseorang itu kemudian mengantarkan Bianca dan Arga ke hotel. Sesampainya di hotel mereka beristirahat sebelum mereka mulai melakukan kegiatan lain.
Mama Arga sengaja meminta seseorang untuk menyiapkan segala kebutuhan Arga dan Bianca selama mereka di Jepang. Namun Arga menolaknya dengan alasan tidak ingin ada orang lain yang mengganggu bulan madu mereka.
Mama Argapun menyetujuinya dan hanya meminta seseorang itu untuk menyiapkan mobil dan hotel.
"Berapa lama kita disini Arga?" tanya Bianca yang berdiri di tepi jendela, menatap pemandangan di luar hotel.
"Satu Minggu," jawab Arga singkat.
Bianca menghela nafasnya lalu duduk di sofa yang ada di dalam kamar hotel itu.
"Kenapa kau tidak bersemangat seperti itu? bukankah dari kemarin kau yang paling bersemangat?" tanya Arga.
"Aku pikir setelah aku sampai, aku bisa melihat banyak salju disini, tapi bahkan tidak ada salju sama sekali," jawab Bianca.
"Ini memang sudah masuk musim dingin, udara juga sudah semakin dingin, jika kita beruntung dalam waktu satu minggu kita akan bisa menikmati salju pertama di tahun ini, bukankah itu lebih istimewa?"
"Tapi bagaimana jika sampai kita pulang belum ada salju yang turun?" tanya Bianca.
"Mmmm..... aku akan mengajakmu ke mall untuk bermain salju hehehe...." jawab Arga yang membuat Bianca semakin kehilangan semangatnya.
Waktu berlalu, langit mulai terlihat sedikit gelap saat Bianca berdiri di tepi jendela.
"Jangan murung hanya karena salju belum turun, tidak hanya salju yang indah disini," ucap Arga sambil merapikan rambutnya.
"Tapi salju adalah alasan kenapa aku ingin kesini," balas Bianca yang masih berdiri di tempatnya.
Arga tersenyum tipis lalu membawa langkahnya mendekati Bianca. Arga berdiri di samping Bianca lalu meraih kedua bahu Bianca dan menggeser posisinya agar berhadapan dengan Arga.
"Kau terlalu fokus dengan apa yang kau inginkan Bianca, membuatmu tidak bisa melihat keindahan lain yang ada di sekitarmu," ucap Arga dengan menatap kedua mata Bianca.
Untuk beberapa saat Bianca terdiam. Laki-laki tampan di hadapannya itu seolah telah menyihir dirinya.
"Satu lagi, jaga hatimu agar tidak jatuh cinta padaku, tatapanmu seperti sedang menatap laki-laki yang kau cintai," ucap Arga dengan tersenyum yang membuat Bianca segera tersadar dari lamunannya.
Bianca segera menepis kedua tangan Arga lalu berjalan keluar dari kamar diikuti oleh Arga yang berlari kecil di belakang Bianca.
"Kau gugup? apa kau mulai jatuh cinta padaku? apa....."
"Arga stop, kau semakin membuatku kesal sekarang!" ucap Bianca mengentikan langkahnya sambil menatap Arga yang sudah ada di belakangnya.
"Oke baiklah, kita nikmati saja waktu kita disini," balas Arga sambil merangkul pundak Bianca.
"Lepaskan!" ucap Bianca sambil sedikit meronta.
"Baiklah," balas Arga lalu melepaskan tangannya dari pundak Bianca dan segera meraih tangan Bianca, lalu menggenggamnya.
"Kau tidak boleh menolaknya, kau adalah istriku disini!" ucap Arga dengan tersenyum penuh kemenangan.
"Apa harus seperti ini? sepertinya banyak suami istri disini dan mereka tidak bergandengan tangan!"
"Ssssttt.... jangan banyak protes, lakukan peranmu dengan baik, maka aku juga akan melakukan peranku dengan sangat baik," ucap Arga yang membuat Bianca memutar kedua bola matanya.
**
Hari telah berganti, pagi itu Arga dan Bianca memulai hari mereka untuk makan di salah satu tempat makan yang cukup terkenal di dekat hotel.
Mereka kemudian pergi ke berbagai tempat ikonik di sekitar Tokyo. Tak seperti gadis pada umumnya yang suka berfoto, Bianca justru hanya mengambil foto pemandangan yang ia lihat atau sekedar berfoto dengan menunjukkan tangan atau kakinya.
"Sepertinya kau tidak suka berfoto," ucap Arga yang menyadari hal itu.
"Aku tidak terlalu percaya diri untuk melakukan hal itu," balas Bianca.
"Sejauh yang aku tau kau adalah perempuan yang selalu penuh percaya diri, tapi kenapa kau merasa tidak percaya diri saat berfoto?"
"Entahlah, rasanya aneh melihat wajahku sendiri di foto, aku lebih suka melihat foto seperti ini," jawab Bianca dengan menunjukkan hasil fotonya pada Arga.
"Bagus," ucap Arga dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Selama mereka pergi ke berbagai tempat, tak jarang Arga diam-diam mengambil foto Bianca dari belakang. Arga juga mengeditnya agar hanya menampakkan siluet Bianca saja.
"Cantik sekali," ucap Arga pelan saat ia sedang memfokuskan kameranya untuk mengambil foto Bianca.
"Arga, aku....."
Bianca menghentikan ucapannya lalu segera mengalihkan pandangannya saat ia menyadari jika kamera Arga mengarah padanya.
Arga tersenyum tipis lalu membawa langkahnya mendekati Bianca.
__ADS_1
"Jika aku memberikan fotomu pada agensi, kau pasti akan menjadi model atau artis seperti Clara," ucap Arga.
"Apa kau suka mempunyai istri seperti Clara?" tanya Bianca.
"Tidak, aku lebih suka istri sepertimu," jawab Arga sambil melihat satu per satu hasil jepretannya, tanpa ia sadar jika ucapannya bisa membuat Bianca salah paham.
Bianca hanya terdiam dengan mengalihkan pandangannya setelah ia mendengar ucapan Arga yang terdengar ambigu.
"Arga, aku lapar," ucap Bianca lalu berjalan pergi meninggalkan Arga.
Argapun segera berlari kecil mengikuti Bianca. Mereka kemudian pergi ke salah satu kedai makanan yang sangat ramai.
Karena khawatir akan kehabisan tempat duduk, Arga meminta Bianca untuk mencari tempat duduk terlebih dahulu, sedangkan Arga yang akan memesan makanannya.
"Apa yang kau pesan?" tanya Bianca pada Arga yang kini sudah duduk di depannya.
"Kau akan tau nanti," jawab Arga.
Setelah cukup lama menunggu, pesanan mereka akhirnya datang. Sebuah mangkok dengan makanan yang mirip dengan sup di dalamnya.
Bianca tidak tahu makanan apa yang ada di hadapannya saat itu, tapi ia melihat orang-orang di sekitarnya banyak yang memesan makanan seperti miliknya.
"Itadakimasu!" ucap Arga lalu menyendok makanan di hadapannya.
Biancapun mulai menyendok makanan itu setelah ia melihat Arga tampak menikmati makanannya.
Baru saja makanan itu masuk ke mulut Bianca, Arga tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat Bianca begitu terkejut.
"Ini adalah sup sarang walet, kau tau bukan jika....."
"Hmmmppp!"
Arga menghentikan ucapannya saat Bianca menutup mulutnya seolah menahan sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya
"Ada apa Bianca?" tanya Arga pada Bianca yang terlihat pucat saat itu.
Bianca kemudian beranjak dari duduknya dan segera berjalan cepat ke arah toilet. Arga yang khawatirpun segera meninggalkan mejanya untuk mengikuti Bianca.
Setelah beberapa lama menunggu di depan toilet, Biancapun keluar dengan raut wajahnya yang masih pucat
"Ada apa denganmu? apa kau sakit?" tanya Arga khawatir.
"Kau sangat menjijikkan Arga," jawab Bianca yang membuat Arga mengernyitkan keningnya.
"Kau tau bukan sarang walet itu terbuat dari apa?"
"Iya aku tau, apa kau seperti ini karena sup sarang walet itu?"
"Itu makanan paling menjijikkan yang pernah masuk ke dalam mulutku, bisa-bisanya kau mengajakku makan makanan yang terbuat dari air liur burung!"
"Hahaha..... kau sangat berlebihan Bianca, makanan itu adalah makanan best seller dan sangat langka disini, kau harus mencobanya dulu!" ucap Arga.
"Tidak, lebih baik aku kelaparan daripada memakan air liur burung," balas Bianca kemudian berjalan meninggalkan kedai itu.
Arga yang masih merasa gemas dengan sikap Bianca terus tertawa di belakang Bianca, membuat Bianca semakin kesal.
"Jangan mengikutiku!" ucap Bianca saat Arga sudah berjalan di sampingnya.
"Kau mau kemana? apa kau tau arah tujuanmu?" tanya Arga yang membuat Bianca menghentikan langkahnya.
"Kau akan tersesat jika berjalan sendiri disini, ayo!" ucap Arga sambil meraih tangan Bianca dan menggenggamnya.
Bianca hanya diam dan menurut, mereka berjalan menyusuri jalan dengan bergandengan tangan untuk mencari kedai makanan yang sesuai dengan keinginan Bianca.
Sesekali Arga tampak tertawa puas saat berhasil membuat Bianca kesal. Tak jarang juga Bianca terlihat menahan senyumnya saat melihat kekonyolan Arga.
Laki-laki dingin dan angkuh itu terlihat seperti orang yang berbeda saat dia sedang bersama Bianca. Dia terlihat begitu hangat dan menyenangkan.
"Kau pernah memakan sirip ikan hiu?" tanya Arga pada Bianca.
"Tidak, tapi aku tau jika itu adalah salah satu makanan yang sangat mahal," jawab Bianca.
"Jika kau tidak mau mencoba sarang burung walet, kau harus mencoba sirip ikan hiu, aku yakin kau tidak akan menyesal setelah mencobanya," ucap Arga.
"Apa tidak ada makanan lain yang lebih normal?" tanya Bianca yang membuat Arga terkekeh.
"Aku hanya ingin membuat liburan kali ini berkesan untukmu Bianca!"
"Tapi aku....."
"Tidak, kau tidak bisa menolaknya karena aku sudah memesannya!" ucap Bianca memotong ucapan Arga sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
__ADS_1
"Bagaimana jika rasanya tidak cocok untukku?" tanya Bianca.
"Jangan terlalu dipikirkan, aku yakin kau akan menyukainya," jawab Arga lalu kembali meraih tangan Bianca dan menggandengnya untuk masuk ke dalam mobil.
Arga kemudian mengendarai mobilnya ke arah salah satu restoran yang ada disana. Sesampainya disana mereka segera masuk dengan bergandengan tangan.
Setelah beberapa lama menunggu, pesanan Arga pun datang. Sama seperti sebelumnya, sirip ikan hiu yang Arga pesan dimasak seperti sup dengan bahan-bahan lain di dalamnya.
Dengan ragu Bianca menyendok makanan di hadapannya lalu memasukkannya ke dalam mulut. Saat sup kental dan hangat itu menyentuh lidahnya, Bianca terdiam untuk beberapa saat lalu membawa pandangannya pada Arga dengan berbinar.
"Bagaimana?" tanya Arga.
Bianca menggelengkan kepalanya dengan tersenyum lalu kembali menyendok makanan di hadapannya.
Argapun tersenyum senang karena melihat Bianca yang tampak menikmati makanan yang ia pesan.
Setelah menyelesaikan makan siang mereka, merekapun keluar dari restoran itu.
"Sudah ku duga, kau pasti menyukainya!" ucap Arga saat mereka berjalan di trotoar.
"Ternyata rasanya seperti yang orang-orang katakan, harga memang bisa memberikan rasa yang istimewa, tidak sia-sia kau mengeluarkan banyak uangmu untuk membelinya," balas Bianca.
"Jika kau suka kita bisa kembali lagi kesini besok!" ucap Arga.
"Benarkah? kau serius?" tanya Bianca penuh semangat.
"Tentu saja, jika kau mau kita bisa makan disini setiap hari," jawab Arga tanpa ragu.
"Tapi tunggu dulu, berapa harga makanan tadi?" tanya Bianca.
"Mmmmm..... seharga sepatu yang pernah aku berikan padamu," jawab Arga.
"Sepatu? sepatu yang mana? kau memberikan banyak sepatu untukku!"
Arga kemudian menyebutkan salah satu merk sepatu yang pernah Arga berikan pada Bianca, membuat Bianca seketika menghentikan langkahnya karena terkejut.
"Kau bercanda bukan?" tanya Bianca tak percaya.
"Tidak, sup itu terbuat hampir dari 90% sirip hiu, jadi sesuai dengan harganya, yang biasa di jual di tempat dengan harga di bawah itu biasanya hanya beberapa persen saja sirip hiunya dan lebih banyak bahan lainnya sebagai campuran," jelas Arga.
"Astaga, kenapa kau tidak memberi tahuku dari tadi Arga!" ucap Bianca yang segera menjatuhkan dirinya di kursi yang ada di dekatnya.
"Kenapa? apa ada masalah?" tanya Arga.
"Aku sudah memakan uang lebih dari 20 juta dan aku belum merasa kenyang sama sekali, jika tau seperti itu aku akan lebih memilih untuk makan yang lainnya saja," jawab Bianca.
"Nikmati saja apa yang ada Bianca, jangan memikirkan harganya, serahkan semuanya padaku!" ucap Arga yang terdengar sombong di telinga Bianca.
"Uangmu memang sangat banyak Arga, aku tau itu, tapi bukan berarti aku harus menggunakannya untuk berfoya-foya!" balas Bianca.
"Kita tidak sedang berfoya-foya Bianca, kita sedang menikmati liburan kita!" ucap Arga.
"Aahh entahlah, rasanya tiba-tiba saja aku kenyang setelah aku tau harga sup itu," ucap Bianca kemudian beranjak dari duduknya.
"Tidak, kita akan mencari makanan lain sekarang!" ucap Arga sambil melanjutkan langkahnya.
"Tidak Arga, sudah cukup kau menghabiskan uangmu hari ini!" ucap Bianca yang enggan berjalan mengikuti Arga.
"Ayolah Bianca, kau harus banyak makan dan menjaga kesehatanmu disini!" ucap Arga sambil menarik tangan Bianca.
Arga yang terus menarik tangan Bianca akhirnya berhasil menggoyahkan Bianca. Mereka kemudian makan siang untuk ke tiga kalinya di tempat yang berbeda, di tempat yang Bianca tentukan sendiri.
Setelah menghabiskan makanannya, merekapun berjalan kembali ke arah restoran tempat Arga memarkirkan mobilnya.
"Apa kau sudah kenyang?" tanya Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
"Kenapa kau khawatir sekali dengan pengeluaranku Bianca? apa kau takut aku akan miskin jika aku banyak menggunakan uangku?" tanya Arga.
"Sebenarnya aku tidak peduli dengan uangmu, aku hanya tidak terbiasa menikmati uang dengan berlebihan," jawab Bianca.
Arga hanya tersenyum tipis lalu meraih tangan Bianca dan menggandengnya. Hampir di setiap saat Arga selalu menggandeng tangan Bianca.
Kini Biancapun sudah terbiasa dengan hal itu dan membiarkan Arga menggandeng tangannya kapanpun Arga mau.
Setelah langit mulai gelap, Arga mengendarai mobilnya untuk kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, mereka bergantian ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Malam ini aku yang akan tidur di ranjang dan kau tidur di sofa!" ucap Arga pada Bianca saat Bianca baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya, aku tau," balas Bianca
Sejak malam pertama mereka di Tokyo, mereka memang sudah sepakat untuk bergantian tidur di ranjang.
__ADS_1
Beruntung, sofa di kamar hotel itu cukup panjang dan luas, membuat Arga bisa tidur dengan nyenyak disana.