Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Misi Arga dan Bianca


__ADS_3

Bianca berjalan memasuki rumahnya dan ia begitu terkejut saat Arga tiba-tiba keluar saat Bianca baru saja melewati pintu masuk rumahnya.


"Arga, kau membuatku terkejut!" ucap Bianca sambil memegang dadanya.


"Kenapa kau baru pulang Bianca? apa kau sudah makan siang?" tanya Arga.


"Belum," jawab Bianca sambil berjalan masuk ke kamarnya.


"Cepat ganti baju, aku sudah menyiapkan makan siang untukmu!" ucap Arga lalu berjalan ke arah meja makan.


Setelah Bianca mandi dan berganti pakaian, iapun membawa langkahnya ke arah meja makan.


"Kau yang menyiapkan semua ini?" tanya Bianca yang melihat banyak makanan di meja makanan.


"Tidak, bibi yang menyiapkan," jawab Arga.


"Tapi kau bilang....."


"Sssttt..... jangan banyak bertanya, makan saja!" ucap Arga memotong ucapan Bianca.


"Baiklah," balas Bianca lalu menikmati makanan di hadapannya bersama Arga.


"Kau belum makan siang, apa perutmu tidak sakit?" tanya Arga.


"Aku sudah makan roti tadi," jawab Bianca.


"Hanya itu yang Daffa belikan untukmu?" tanya Arga.


"Memangnya Daffa harus membeli apa untukku? makan siang yang mewah?" balas Bianca bertanya.


"Tidak, kau tidak boleh makan berdua bersama Daffa," ucap Arga.


"Kenapa? apa benar yang Daffa katakan tadi? apa mungkin kau cemburu melihatku bersama Daffa?" tanya Bianca dengan tersenyum mengejek Arga.


"Cemburu? itu hal paling mustahil Bianca, aku hanya tidak ingin orang lain berpikir yang tidak-tidak jika melihatmu makan berdua bersama Daffa," balas Arga.


"Apa kau juga tidak pernah makan berdua bersama perempuan lain selain aku?" tanya Bianca yang membuat Arga tiba-tiba terbatuk karena tersedak makanannya.


"Habiskan makananmu, jangan banyak bertanya," ucap Arga setelah ia minum dan berusaha menyembunyikan kegugupannya.


Bianca hanya tersenyum tipis lalu segera beranjak dari duduknya setelah ia menghabiskan makanannya.


Sedangkan Arga masih berada di tempatnya duduk. Setelah mendengar pertanyaan Bianca, Arga tiba-tiba teringat ucapan Daffa padanya.


"Dia diam bukan karena dia tidak tahu, dia hanya diam karena dia tidak peduli dan entah sampai kapan ketidakpedulian itu akan membuatnya tetap diam."


Arga menghela nafasnya panjang lalu menyeruput minuman miliknya.


"Daffa sudah menjelaskan pada Bianca tentang meeting yang sering aku lakukan, jadi tidak mungkin Bianca tau tentang Karina, mungkin Bianca hanya curiga dan pasti kecurigaannya sudah hilang setelah dia mendengar penjelasan Daffa," ucap Arga dalam hati.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Dering ponsel membuat Arga membawa pandangannya pada ponsel yang ada di hadapannya.


"Ponsel Bianca tertinggal," ucap Arga dalam hati sambil menatap ponsel yang ada di dekat piring Bianca.


Arga kemudian membawa pandangannya ke arah pintu kamar Bianca, memastikan jika Bianca tidak keluar dari kamarnya.


Arga lalu mengambil ponsel Bianca untuk melihat siapa yang mengirim pesan pada Bianca.


"Bara," ucap Arga membaca nama pengirim pesan di ponsel Bianca.


Arga kemudian membuka pesan itu dan hanya tersenyum tipis saat ia membaca pesan dari Bara.


"Seperti pagi yang selalu menunggu matahari, aku harap kaupun begitu, meskipun selalu tenggelam, tetapi matahari tidak pernah mengingkari janjinya untuk kembali saat pagi."


"Norak," ucap Arga lalu menghapus pesan masuk dari Bara.


Arga kemudian beranjak dari duduknya dan begitu terkejut saat melihat Bianca yang sudah berjalan ke arahnya.


"Ponselmu tertinggal," ucap Arga sambil mengulurkan tangannya, memberikan ponsel milik Bianca.


"Aku memang mau mengambilnya," balas Bianca lalu kembali berjalan ke kamarnya dengan membawa ponselnya.


"Huuufftt, aman," ucap Arga sambil mengusap dadanya.


**


Waktu berlalu, sudah 2 hari sejak Bianca mendatangi tempat kos Lola, belum juga ada kabar apapun dari Lola.


Bianca sudah mencoba menghubungi Lola, namun selalu tidak tersambung dan semua pesan yang ia kirim tidak ada satupun yang terbaca.


Bianca bahkan berkali-kali bertanya pada Daffa, namun sama sepertinya, Daffa juga tidak bisa menghubungi Lola sama sekali.


Siang itu, Bianca memutuskan untuk mencari Lola ke rumah orang tua Lola. Namun sebelum pergi, Bianca menghubungi Arga dan berharap jika Arga akan mengizinkannya karena hari itu pak Dodi sedang tidak bekerja.

__ADS_1


"Arga, aku harus mencari Lola," ucap Bianca setelah Arga menerima panggilannya.


"Bukankah aku sudah memberi tahumu untuk lapor polisi saja?" balas Arga.


"Aku tidak bisa melakukan hal itu Arga, aku yakin Lola ada di rumah orang tuanya, aku...."


"Jika kau yakin dia ada di rumah orang tuanya, kenapa kau mengkhawatirkannya Bianca?" tanya Arga memotong ucapan Bianca.


"Kau tidak tau apa-apa Arga, jadi tolong biarkan aku pergi kesana!" ucap Bianca tanpa menjawab pertanyaan Arga.


"Baiklah, kau boleh kesana besok setelah pak Dodi kembali bekerja," ucap Arga.


"Tidak Arga, aku harus kesana sekarang juga!"


"Aku akan mengantarmu, tunggu aku, aku akan pulang lebih awal hari ini," ucap Arga.


"Tapi...."


"Tidak ada tapi Bianca, aku yang mengantarmu setelah aku pulang kerja atau kau pergi kesana besok bersama pak Dodi!" ucap Arga lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.


Bianca menghela nafasnya kesal lalu melempar ponselnya ke atas ranjangnya.


Sedangkan di tempat lain, Arga kembali fokus mengerjakan pekerjaannya setelah ia mengakhiri panggilan Bianca.


Arga sengaja tidak mengizinkan Bianca untuk pergi seorang diri, tanpa pak Dodi ataupun tanpa dirinya.


Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Bianca, meskipun sudah ada beberapa orang yang Arga perintahkan untuk menjaga Bianca dari jauh.


"Pasti ada sesuatu yang tidak beres, tidak mungkin Bianca mengkhawatirkan Lola yang pulang ke rumah orang tuanya jika tidak ada yang terjadi di rumah orang tua Lola," ucap Arga dalam hati yang membuatnya khawatir jika membiarkan Bianca pergi sendirian.


Argapun berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar ia bisa segera pulang.


Sejak Bianca memberi tahunya jika Lola menghilang, Bianca terlihat murung dan hal itu membuat Arga merasa tidak nyaman.


Arga merasa jika dirinya tidak bisa membiarkan Bianca terus menerus dalam suasana hati yang buruk hanya karena Lola tidak ada di tempat tinggalnya.


Arga sudah mengusulkan untuk membuat laporan pada polisi, namun Bianca menolak. Entah apa alasan Bianca, Arga tidak pernah mengetahuinya.


Beberapa jam telah berlalu. Arga merapikan meja kerjanya lalu keluar dari ruangannya dengan membawa beberapa map yang ia berikan pada Daffa.


"Tolong periksa semuanya dan taruh saja di meja kerjaku jika kau sudah memeriksanya!" ucap Arga pada Daffa.


"Kau mau kemana? pulang?" tanya Daffa yang melihat Arga berdiri di hadapannya dengan membawa tas kerjanya.


"Aku harus segera pulang, aku....."


"Sepertinya kau mulai tidak mempercayaiku sekarang, aku benar-benar akan pulang Daffa, hubungi saja Bianca jika tidak percaya!" balas Arga kesal lalu berjalan pergi meninggalkan Daffa.


Sedangkan Daffa hanya terkekeh melihat sikap Arga.


Arga kemudian mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, sudah ada Bianca yang menunggu kepulangannya.


"Bisakah kita berangkat sekarang? aku benar-benar mengkhawatirkannya!" tanya Bianca yang terlihat panik.


"Aku belum mandi dan...."


"Tidak perlu, kau sudah terlihat tampan bahkan tanpa mandi, ayo cepat!" ucap Bianca memotong ucapan Arga sambil menarik tangan Arga untuk masuk ke dalam mobil.


Argapun hanya mengikuti langkah Bianca lalu mengendarai mobilnya sesuai dengan petunjuk yang Bianca berikan.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sudah melewati batas kota.


"Apa rumah orang tua Lola berada di luar kota?" tanya Arga memastikan.


"Ikuti saja arahanku Arga, aku tau kita harus kemana!" jawab Bianca.


"Sebenarnya apa yang membuatmu sangat panik seperti ini Bianca? bukankah dia hanya sedang pergi ke rumah orang tuanya?" tanya Arga penasaran.


"Kau tidak perlu tau, aku harap apa yang aku takutkan tidak akan terjadi," jawab Bianca.


Satu jam berlalu, Arga kini mulai memasuki kawasan perumahan elit yang ada disana.


"Apa kau yakin orang tua Lola tinggal disini?" tanya Arga ragu.


"Tentu saja, ini alamat yang sesuai dengan alamat yang pernah Lola berikan padaku," jawab Bianca.


"Tunggu sebentar, apa maksudmu kau belum pernah ke rumahnya sebelumnya?" tanya Arga.


"Belum," jawab Bianca dengan menggelengkan kepalanya pelan yang membuat Arga seketika menginjak pedal remnya kuat-kuat.


"Arga, kau mau membunuhku?" tanya Bianca yang terkejut karena ia sedikit terpental ke depan akibat mobil yang tiba-tiba di rem oleh Arga.


"Apa kau gila Bianca? kau tau tempat apa yang akan kau datangi ini?" tanya Arga dengan menggeser posisi duduknya menghadap Bianca yang duduk di sampingnya.


"Memangnya tempat apa ini? bukankah hanya perumahan biasa? perumahan mewah tempat tinggal orang-orang kaya!" balas Bianca.

__ADS_1


"Asal kau tau Bianca, yang tinggal di perumahan itu adalah orang-orang tertentu yang memiliki kekuasaan tinggi di pemerintahan, kau akan dianggap sebagai mata-mata jika kau masuk kesana tanpa alasan yang jelas!" jelas Arga.


"Kenapa berlebihan sekali?"


"Memang seperti itu, ada banyak satpam yang bertugas di pintu masuknya, mereka akan menanyakan keperluanmu datang kesini dan siapa yang akan kau datangi, setelah itu mereka akan mengkonfirmasinya pada orang yang bersangkutan, jadi jika kau belum memiliki janji sebelumnya, kau tidak akan bisa masuk kesana!" jelas Arga.


"Bukankah itu seperti di rumahmu?" tanya Bianca yang membuat Arga menghela nafasnya panjang.


"Kau benar, intinya seperti itu, jadi bagaimana? apa kau akan tetap masuk kesana? kau bahkan tidak memiliki janji dengan Lola dan belum tentu juga Lola ada disana!"


"Tidak ada salahnya mencoba," balas Bianca.


"Baiklah," ucap Arga lalu melanjutkan mengendarai mobilnya mendekat ke arah pintu masuk.


Benar saja, beberapa petugas keamanan segera menghampiri mobil Arga untuk menanyakan tujuan Arga.


Biancapun menjelaskan jika Bianca ingin menemui temannya yang bernama Lola. Namun karena petugas keamanan itu tidak mengenal Lola, akhirnya Bianca memberi tahu siapa nama orang tua Arga.


Mendengar nama yang Bianca sebut, Argapun begitu terkejut karena ia tau dengan pasti jika nama yang Bianca sebut bukan orang sembarangan.


Petugas keamanan itu kemudian mengkonfirmasi kedatangan Bianca, namun ternyata kedatangannya di tolak. Argapun harus segera mengendarai mobilnya pergi dari tempat itu.


"Kenapa kau tidak memberi tahuku jika orang tua Lola adalah petinggi di pemerintahan?" tanya Arga pada Bianca.


"Lola ingin merahasiakannya dari semua orang, banyak hal yang terjadi yang tidak bisa aku ceritakan padamu dengan detail Arga, aku harap kau bisa mengerti," jawab Bianca.


"Baiklah, sekarang kita pulang dan...."


"Tidak, stop Arga, hentikan mobilnya disini!" ucap Bianca memotong ucapan Arga, membuat Arga seketika menghentikan mobilnya.


"Kenapa Bianca? kau tidak mungkin menunggu Lola disini bukan?" tanya Arga.


"Aku tidak punya pilihan lain Arga, aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada Lola," jawab Bianca.


"Memangnya hal buruk apa yang akan di lakukan orang tua pada anaknya, Bianca?"


"Asal kau tau Arga, Lola pernah berada di rumah sakit dengan keadaan kritis karena perlakukan orang tuanya dan sekarang tiba-tiba seseorang memaksa Lola untuk pulang ke rumahnya, menurutmu apa yang akan terjadi pada Lola?" balas Bianca yang membuat Arga terdiam.


Bianca menghela nafasnya panjang sambil mengacak-acak rambutnya dengan kesal karena akhirnya rahasia antara dirinya dan Lola tidak bisa Bianca jaga dengan baik.


"Seharusnya aku tidak mengatakan hal ini padamu," ucap Bianca menyesal.


"Aku tau apa yang harus kita lakukan," ucap Arga lalu mengendarai mobilnya pergi.


Arga kemudian mengentikan mobilnya di mini market kemudian menghubungi seseorang.


"Apa yang mau kau lakukan Arga?" tanya Bianca.


"Jangan bertanya apapun, tunggu saja," balas Arga.


Setelah cukup lama menunggu, sebuah mobil berhenti di depan Arga. Seseorang kemudian turun dari mobil lalu memberikan beberapa pakaian dan aksesoris yang harus Bianca dan Arga kenakan.


Setelah mengenakan semuanya, Arga kemudian meminta seseorang itu untuk bertukar mobil.


"Ini adalah misi kita Bianca, jangan sampai petugas keamanan mengenali kita," ucap Arga lalu mengendarai mobilnya kembali ke perumahan itu.


"Tapi bagaimana kita bisa masuk, Arga? mereka akan bertanya tentang...."


"Sssstttt.... lihat saja bagaimana aku menjalankan misi ini!" ucap Arga memotong ucapan Bianca.


Setelah Arga menghentikan mobilnya di depan para petugas keamanan, Arga kemudian menyebutkan nama seseorang yang ingin ia temui disana.


Setelah petugas keamanan mengkonfirmasi kedatangan Arga, Argapun dipersilahkan untuk masuk.


"Arga, kau berhasil!" ucap Bianca senang.


Arga hanya tersenyum tipis, membanggakan dirinya sendiri atas apa yang baru saja ia lakukan.


"Tapi kenapa kau berhasil masuk? siapa yang ingin kau temui?" tanya Bianca.


"Aku mengenal beberapa orang yang tinggal disini dan beberapa dari mereka pernah menjadi partner kerjaku," jawab Arga.


"Waaaahhh.... baru kali ini aku merasa beruntung menikah denganmu," ucap Bianca yang membuat Arga tersenyum tipis.


Bianca dan Arga kemudian melepaskan jaket dan aksesoris yang mereka pakai untuk mengelabuhi petugas keamanan sebelum Arga menemui seseorang yang dikenalnya.


Bagaimanapun juga Arga harus benar-benar menemui seseorang itu meskipun hanya untuk berbasa-basi.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan seseorang yang Arga kenal, Arga kemudian mengendarai mobilnya ke arah salah satu rumah yang merupakan rumah milik orang tua Lola.


"Kita sudah sampai disini tapi kita tidak bisa masuk ke rumah itu untuk mencari Lola, orang tuanya pasti akan memanggil petugas keamanan untuk mengusir kita," ucap Arga.


"Kau benar, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah menunggunya disini, jika kau tidak keberatan," balas Bianca.


"Sampai kapan kita harus ada disini Bianca?" tanya Arga.

__ADS_1


"Sampai malam, sampai aku melihat lampu kamar Lola menyala," jawab Bianca sambil menatap salah satu jendela yang ada di rumah besar di hadapan Bianca dan Arga.


__ADS_2