
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam namun Bianca masih duduk di tepi ranjangnya, menatap ke arah luar jendela kamarnya untuk menunggu kedatangan Arga.
Berkali-kali Bianca memeriksa jam yang terpasang di dinding dengan perasaan gelisah. Untuk pertama kalinya, ia mengharapkan kepulangan Arga.
"Ini sudah hampir tengah malam dan Arga belum pulang juga," ucap Bianca yang masih menatap ke arah luar jendela kamarnya.
Beberapa kali Bianca menguap saat rasa kantuk sudah menyerangnya, tapi ia masih duduk di tempatnya sejak tadi.
Bianca kemudian keluar dari kamar, pergi ke dapur dan mencari minuman yang bisa menyegarkan matanya.
Setelah membuat minuman di dapur, Bianca kemudian membawanya ke ruang tamu.
"Aku harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan kantukku!" ucap Bianca setelah menyeruput minumannya.
Bianca kemudian naik ke lantai 2, mengambil sebuah buku dan membawanya kembali ke ruang tamu.
Menit menit berlalu, jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 11 namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Arga.
"Mataku sangat lelah dan aku benar-benar sudah mengantuk," ucap Bianca sambil menguap.
Bianca lalu mengambil ponselnya, membuka YouTube untuk menonton video-video yang ia harap bisa menghilangkan kantuknya.
Namun baru 10 menit berlalu, Bianca sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya. Videonya masih menyala dan Bianca sudah terlelap dengan posisi duduk di sofa.
Hampir jam 12 malam Arga akhirnya tiba di rumahnya. Arga yang baru saja masuk ke dalam rumah begitu terkejut melihat Bianca yang tidur dengan posisi duduk di sofa.
Arga kemudian berjalan pelan menghampiri Bianca, mengambil ponsel di tangan Bianca lalu mematikan video yang masih menyala.
"Apa dia sengaja menungguku?" batin Arga bertanya setelah ia melihat minuman dan buku yang ada di meja.
Arga menghela nafasnya dengan menatap Bianca yang terpejam di hadapannya lalu dengan pelan menyentuh tangan Bianca.
"Bianca, bangunlah," ucap Arga dengan pelan.
Bianca mengerjap lalu membuka matanya dan begitu terkejut melihat Arga yang ada di sampingnya.
"Arga, kau sudah pulang?" tanya Bianca yang segera duduk dengan tegak.
"Iya aku baru pulang, kenapa kau tidur disini? apa kau menungguku?" balas Arga sekaligus bertanya.
"Tidak, aku hanya.... aku.... membaca buku disini," jawab Bianca beralasan.
Arga hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya.
"Masuklah ke kamarmu dan segera tidur, ini sudah sangat malam," ucap Arga lalu berjalan pergi.
Bianca hanya diam di tempatnya duduk, menatap Arga yang sudah berjalan meninggalkan ruang tamu.
"Dia terlihat sangat lelah, dia pasti tidak akan tidur dengan nyenyak sebelum masalahnya selesai," ucap Bianca dalam hati.
Bianca kemudian beranjak dari duduknya, bukan untuk pergi ke kamarnya melainkan pergi ke dapur.
Ia membuat minuman coklat hangat untuk Arga lalu membawanya menaiki tangga. Bianca menghentikan langkahnya tepat di bawah tangga lantai 3 karena itu adalah batas area yang tidak boleh dimasukinya.
"Arga, apa kau sudah tidur?" tanya Bianca setengah berteriak.
Tak ada jawaban namun tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka.
"Ada apa Bianca? kenapa kau belum tidur?" tanya Arga yang berjalan menghampiri Bianca dengan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya, sedangkan bagian atas dadanya ia biarkan terbuka.
"Tidak bisakah kau memakai baju sebelum keluar dari kamar?" balas Bianca bertanya dengan mengalihkan pandangannya sejak ia melihat Arga yang hanya mengenakan handuk.
"Aku baru saja selesai mandi dan kau memanggilku," ucap Arga memberi alasan.
"Baiklah, ini untukmu, minumlah sebelum kau tidur, ini akan membantu membuatmu tidur dengan nyenyak," ucap Bianca sambil memberikan segelas coklat hangat pada Arga, namun dengan pandangannya yang tidak berani menatap Arga.
Melihat hal itu, Arga tersenyum tipis lalu menerima gelas dari Bianca dan dengan cepat menarik tangan Bianca menaiki tangga.
"Arga, apa yang kau lakukan?" tanya Bianca yang berusaha menarik tangannya dari Arga.
"Aku membutuhkan bantuanmu," jawab Arga yang tidak melepaskan tangan Bianca sampai mereka masuk ke ruang kerja Arga.
Arga kemudian menaruh gelasnya di meja lalu mendudukkan Bianca di kursi kerjanya.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Bianca yang sedikit gugup karena posisinya yang sangat dekat dengan Arga saat itu.
Arga yang saat itu berdiri di samping Bianca hanya diam lalu menyalakan komputer yang ada di depan Bianca.
__ADS_1
"Ini adalah beberapa file yang menurutku mencurigakan, kau bisa menganalisisnya bukan?" ucap Arga sekaligus bertanya pada Bianca.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Ia berusaha untuk menjaga dirinya agar tidak memperlihatkan kegugupannya saat itu.
Berada sangat dekat dengan Arga benar-benar membuat jantungnya berdebar, terlebih dengan keadaan Arga yang hanya terbalut handuk di bagian bawah tubuhnya.
"Kau tidak perlu mengerjakannya sekarang, pindahkan saja ke USB lalu segeralah tidur, kau bisa mengerjakannya besok pagi," ucap Arga yang kembali dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Arga kemudian keluar dari ruang kerjanya dan masuk ke kamarnya untuk mengenakan pakaian tidurnya, meninggalkan Bianca yang akhirnya bisa bernafas lega.
"Aku bisa gila jika terus seperti ini!" ucap Bianca dalam hati sambil memegang dadanya yang bergemuruh.
Bianca kemudian menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan, begitu sampai beberapa kali untuk membuat dirinya tenang.
Setelah ia bisa menguasai dirinya sendiri, Bianca kemudian fokus pada komputer yang ada di hadapannya.
Di sisi lain, setelah mengenakan pakaian tidurnya Arga mengambil beberapa map dari tas kerjanya lalu membawanya ke ruang kerja.
"Kenapa kau masih disini Bianca? apa kau belum selesai memindahkannya ke USB?" tanya Arga pada Bianca yang tampak fokus dengan komputer di hadapannya.
"Aku sedang mengerjakannya," jawab Bianca.
"Kau tidak harus mengerjakannya sekarang Bianca, kau....."
"Aku sudah hampir selesai," ucap Bianca memotong ucapan Arga.
"Benarkah? cepat sekali?" tanya Arga tak percaya lalu memeriksa apa yang baru saja Bianca kerjakan.
"Aku sudah membuat rinciannya, tetapi kau akan semakin mudah memahaminya dengan menggunakan tabel, jadi aku msih harus membuat tabelnya," ucap Bianca.
"Waaahh.... kau memang sangat pintar Bianca," ucap Arga sambil menepuk pelan kepala Bianca.
"Cepat minum coklatnya sebelum dingin," ucap Bianca sambil menggeser gelas yang berisi coklat hangat buatannya.
Arga kemudian mengambil gelas itu, menyeruput pelan coklat hangat yang Bianca buat untuknya.
"Kenapa kau membawa map ini? apa kau akan mengerjakan sesuatu?" tanya Bianca yang melihat Arga baru saja menaruh beberapa map di atas meja kerja.
"Iya, aku harus menyelesaikannya sekarang," jawab Arga.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Bianca.
"Jika aku bisa membantumu, pekerjaanmu akan cepat selesai dan kau juga akan cepat tidur Arga!" balas Bianca.
Pada akhirnya Bianca dan Arga saling berbagi tugas untuk menyelesaikan pekerjaan Arga lebih cepat.
Waktu berlalu membawa Bianca dan Arga tenggelam dalam kesibukan mereka berdua hingga akhirnya mereka berdua tertidur di ruang kerja Arga.
Entah siapa yang lebih dulu tertidur, tapi saat itu Bianca tertidur dengan posisinya yang masih duduk di kursi kerja Arga dan kepalanya yang ia baringkan di meja kerja Arga.
Sedangkan Arga tertidur dengan duduk di depan meja kerjanya dengan membaringkan kepalanya di meja kerjanya.
Malam yang singkat akhirnya berlalu. Arga mengerjap dan membuka matanya pelan. Seketika sebuah senyum tergaris di bibirnya saat ia melihat wajah cantik Bianca yang tertidur pulas tepat di hadapannya.
Arga kemudian sedikit menggeser kepalanya agar ia bisa menatap wajah Bianca dengan lebih jelas.
"Dia masih sangat cantik bahkan saat tertidur seperti ini," ucap Arga dalam hati sambil menyibakkan sehelai rambut Bianca yang ada di depan matanya.
Untuk beberapa saat Arga hanya diam, menatap Bianca dengan senyum penuh kekaguman.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Arga berdering, membuat Arga tersadar dari apa yang ia lakukan. Arga segera mengangkat kepalanya dan memeriksa ponselnya.
"Spam iklan sialan!" ucap Arga kesal lalu kembali menatap Bianca yang masih tampak tertidur nyenyak.
Arga kemudian memegang bahu Bianca, berniat untuk membangunkan Bianca.
"Bianca, bangunlah," ucap Arga pelan, namun Bianca tidak bergerak sama sekali.
Beberapa kali Arga mencoba membangunkan Bianca, namun Bianca sama sekali tidak terganggu dan masih tampak tertidur dengan sangat nyenyak.
"Dia pasti kelelahan," ucap Arga lalu beranjak dari duduknya.
"Maafkan aku Bianca, aku tidak bermaksud kurang ajar padamu, aku tidak mungkin membiarkanmu tidur disini sampai siang bukan!" ucap Arga sebelum ia memegang kedua bahu Bianca.
Dengan pelan Arga berusaha mengangkat tubuh Bianca dari kursi kerjanya lalu membopong Bianca masuk ke kamarnya dan membaringkan Bianca di atas ranjangnya.
__ADS_1
"Waaahh, dia sama sekali tidak terbangun!" ucap Arga yang melihat Bianca hanya menggeliat di atas ranjangnya.
Arga kemudian masuk ke kamar mandi. Setelah selesai bersiap-siap, Arga kembali menatap Bianca yang masih nyenyak di atas ranjangnya.
"Entah sudah berapa kali aku membandingkannya dengan Karina, tapi memang Bianca sangat berbeda dengan Karina, Bianca bahkan rela menahan kantuknya untuk menungguku pulang, Bianca juga membantuku mengerjakan pekerjaanku meskipun dia sudah mengantuk," ucap Arga dalam hati.
Arga kemudian membawa pandangannya ke arah laci yang ada di dekat ranjangnya. Arga membukanya dan melihat sebuah buku yang di dalamnya terdapat foto Karina.
Arga lalu menutup laci itu dan menguncinya kemudian menyimpan kuncinya agar tidak ada yang bisa membuka laci itu kecuali dirinya sendiri.
Arga kemudian duduk di tepi ranjangnya, membelai pelan wajah cantik Bianca yang tertidur. Namun seketika Arga teringat apa yang Bianca lakukan padanya saat Bianca mabuk.
Tanpa sadar Arga menyentuh bibir Bianca, membuat jantungnya berdetak cepat dengan debaran dalam dadanya yang semakin bergemuruh.
Bianca yang sedang tertidur nyenyak tiba-tiba menggeliat pelan, membuat Arga segera menarik tangannya dan beranjak dari tepi ranjangnya.
"Astaga apa yang aku lakukan, aku pasti sudah gila!" ucap Arga sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Arga kemudian merapikan pakaiannya di depan cermin sebelum akhirnya ia keluar dari kamarnya.
Sebelum meninggalkan rumah, Arga menemui bibi di dapur.
"Bi, tolong biarkan saja Bianca tidur di kamar Arga, jangan dibangunkan, tapi jika dia bangun segera suruh dia makan!" ucap Arga pada bibi.
"Baik Tuan," balas bibi.
"Terima kasih Bi," ucap Arga lalu berjalan keluar dan mengendarai mobilnya meninggalkan rumah.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi saat Bianca masih menggeliat di atas ranjang.
Bianca kemudian membuka matanya dan mengedarkan pandangannya ke sekitarnya dengan tingkat kesadaran yang masih tipis.
Namun Bianca segera membuka matanya dengan lebar saat ia menyadari jika ia tidak berada di kamarnya saat itu.
Bianca seketika beranjak dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing karena terbangun dengan tiba-tiba.
"Kenapa aku bisa ada disini? semalam..... aahhh bodohnya, aku pasti tertidur di ruang kerja, apa semalam Arga membawaku kesini? apa semalam aku dan Arga tidur di satu ranjang?" tanya Bianca yang segera meraba tubuhnya, takut jika terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.
"Tidak, Arga tidak mungkin melakukan hal itu padaku," ucap Bianca dengan bernafas lega.
Di sisi lain, Lola yang baru saja tiba di rumah Bianca segera membawa langkahnya masuk karena satpam rumah Bianca sudah mengenali Lola sebagai teman baik Bianca.
"Maaf, sepertinya non Bianca masih tidur," ucap bibi pada Lola saat Lola menanyakan keberadaan Bianca.
"Kalau begitu Lola akan membangunkannya bi," balas Lola yang berjalan ke arah kamar Bianca.
"Tapi non Bianca tidur di kamar tuan Arga dan Tuan Arga tidak mengizinkan orang lain naik ke lantai 3 apalagi masuk ke kamarnya," jelas bibi yang membuat Lola begitu terkejut.
"Bianca tidur di kamar Arga? bibi serius?" tanya Lola tak percaya.
"Tentu saja bibi serius, Tuan Arga sendiri yang memberi tahu bibi agar bibi tidak membangunkan non Bianca," jawab bibi.
"Kalau begitu apa Lola boleh menunggunya disini bi? mungkin sebentar lagi Bianca akan bangun!"
"Boleh, silakan," balas bibi.
Saat Lola akan duduk di sofa ruang tengah, ia melihat Bianca yang menuruni tangga dengan keadaan rambutnya yang tampak berantakan.
"Waaahh waaaahh waahhh, sepertinya nyonya Arga baru bangun," ucap Lola sambil memperhatikan Bianca yang menuruni tangga.
"Lola, kenapa kau disini? sejak kapan kau disini?" tanya Bianca yang terkejut melihat keberadaan Lola disana.
"Aku baru saja datang, apa kau baru bangun? ceritakan padaku apa saja yang terjadi semalam, apa kau dan Arga sudah...."
"Ssstttt..... jangan berpikir yang tidak-tidak, aku masih sangat mengantuk sekarang," ucap Bianca sambil menguap.
"Waaaahhh sepertinya semalam kalian berdua sangat sibuk," ucap Lola menggoda Bianca.
"Kau benar, aku dan Arga memang sangat sibuk, aku bahkan belum tidur sampai lewat tengah malam," balas Bianca sambil menjatuhkan dirinya di sofa.
"Benarkah? sepertinya banyak yang aku tidak tau, cepat ceritakan padaku apa saja yang sudah terjadi diantara kalian berdua!"
"Tidak ada apapun yang terjadi Lola, aku hanya membantu Arga mengerjakan pekerjaannya di ruang kerja lalu aku tertidur," balas Bianca.
"Benarkah? tapi kenapa kau bisa tidur di kamar Arga? bukankah lantai 3 adalah area terlarang untukmu, apa lagi kamar Arga!"
__ADS_1
Bianca hanya diam, ia tidak tau harus mengatakan apa pada Lola karena memang ia tidak tau bagaimana ia bisa berada di kamar Arga saat pagi.
"Arga pasti menggendongmu seperti ini, lalu membaringkanmu di ranjangnya dan mencium keningmu sebelum dia tidur di sampingmu, aaahhh romantis sekali....." ucap Lola sambil memperagakan apa yang ia pikirkan.