
Arga dan Bianca masih saling memeluk di trotoar jalan raya. Namun Arga merasa ada sesuatu yang janggal setelah ia mendengar apa yang Bianca ucapkan padanya.
"Apa seharusnya kita memberitahu mama dan papa? mungkin mereka memiliki solusi untuk penyakitmu," tanya Bianca yang membuat Arga segera melepaskan Bianca dari pelukannya.
"Penyakit? penyakit apa maksudmu?" tanya Arga pada Bianca.
"Penyakit yang sedang kau derita sekarang, jangan khawatir, aku akan menemanimu untuk memberitahu Mama dan papa," jawab Bianca.
"Siapa yang sakit Bianca? kenapa dari tadi kau mengatakan hal-hal yang aneh!"
"Bukankah kau baru saja mengetahui jika kau memiliki penyakit yang serius? itu kenapa kau tiba-tiba datang dan bersikap seperti ini padaku, kau pasti sangat terkejut dan merasa hancur bukan?" balas Bianca yang membuat Arga terkekeh.
"Kenapa kau tertawa? katakan padaku apa saja yang Dokter katakan padamu saat di rumah sakit tadi dan kenapa kau diperbolehkan pulang?" tanya Bianca.
"Kau dan pikiranmu itu......" ucap Arga menggantung kalimatnya sambil menyentuh kening Bianca dengan jari telunjuknya lalu berjalan pergi begitu saja.
"Arga, tunggu!" ucap Bianca yang berlari kecil mengejar Arga.
"Katakan padaku Arga, ada apa sebenarnya denganmu? benar kau sedang sakit bukan?" tanya Bianca sambil berjalan mundur di depan Arga.
Arga hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya pelan. Tiba-tiba Bianca yang berjalan mundur di hadapannya hampir saja terjatuh, membuat Arga dengan cepat meraih tangan Bianca, membuat Bianca jatuh ke dalam dekapannya.
Menyadari hal itu, Bianca segera melepaskan dirinya dari dekapan Arga lalu berjalan di samping Arga.
"Jadi kau berpikir jika aku memiliki penyakit yang mematikan? kanker stadium akhir, seperti itu?" tanya Arga dengan membawa pandangannya pada Bianca yang berjalan di sampingnya.
Biancapun menganggukkan kepalanya dengan pandangannya menatap Arga.
"Hahaha.... kau aneh sekali, kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Arga dengan tertawa.
"Jadi, apa yang aku pikirkan itu salah?" balas Bianca bertanya.
"Tentu saja salah, tidak ada penyakit yang serius dan dokter hanya memintaku untuk beristirahat saja," ucap Arga.
"Aaahhh.... sepertinya aku terlalu terbawa pikiranku sendiri," ucap Bianca dengan wajah polosnya menatap Arga.
"Apa kau mengkhawatirkanku?" tanya Arga.
"Tentu saja, kau tiba-tiba ada disini dengan keringat yang sangat banyak, lalu kau tiba-tiba menjatuhkan dirimu di bahuku dan ...."
Bianca menghentikan ucapannya, ia merasa terlalu malu untuk mengatakan apa yang Arga lakukan padanya beberapa saat yang lalu.
"Ada banyak hal yang mengganggu pikiranku Bianca, kepalaku terasa sangat berat dan itu membuatku tidak bisa berpikir dengan jernih," ucap Arga.
"Apa itu tentang pekerjaan?" tanya Bianca menerka.
"Iya," jawab Arga dengan menganggukkan kepalanya.
Arga sengaja berbohong, karena tidak mungkin ia mengatakan pada Bianca jika ia merasa kacau karena hubungannya dengan Karina, terlebih setelah apa yang terjadi di pantai beberapa saat yang lalu.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Bianca.
"Cukup rahasiakan hal ini dari mama dan papa, itu sudah sangat membantu, aku pasti bisa segera menyelesaikan semuanya," jawab Arga.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Setidaknya ia lega karena Arga tidak menderita penyakit apapun.
"Aku pikir kau marah padaku," ucap Arga.
"Kenapa aku harus marah?" balas Bianca bertanya.
"Saat kau keluar dari mobil tadi kau seperti sedang marah," ucap Arga.
"Aku hanya kesal, apa lagi saat aku sadar jika aku tidak bisa masuk ke kamar karena tidak membawa kartu akses, aku jadi semakin kesal padamu," balas Bianca.
"Tapi sekarang kau tidak terlihat marah, kau justru mengkhawatirkanku!"
"Aku bukan tipe orang yang suka memendam kemarahan Arga, aku hanya kesal padamu saat itu saja, setelah itu berlalu, kekesalanku padamu sudah hilang, apa lagi saat melihatmu sangat berkeringat, aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu," jelas Bianca
"Maafkan aku Bianca, seharusnya aku tidak memintamu turun tadi," ucap Arga yang merasa bersalah.
"Orang-orang mungkin melihat kita sebagai pasangan suami istri, tapi pada kenyataannya kita hanya dua orang asing yang dipaksa keadaan untuk terlihat dekat, padahal kita bahkan belum mengenal satu sama lain dengan baik," balas Bianca.
"Aku selalu ingat siapa aku dalam hidupmu Arga, selama 2 tahun ini aku hanya bermain peran, jadi aku berusaha untuk tidak melibatkan hatiku terlalu jauh dalam peran ini, agar aku tidak merasa kecewa atau marah dengan semua sikapmu padaku," lanjut Bianca.
"Kau membuatku semakin merasa bersalah Bianca," ucap Arga.
"Tidak perlu merasa seperti itu, jalani saja hidupmu sesuai dengan alur yang sudah kau rencanakan," balas Bianca.
Arga tersenyum dengan menghela nafasnya panjang lalu merangkul bahu Bianca, namun Bianca dengan cepat menghindar.
"Jaga batasanmu Arga," ucap Bianca.
__ADS_1
"Kita sedang di luar sekarang, biarkan mereka melihat kita sebagai pasangan suami istri yang bahagia," balas Arga beralasan.
"Baiklah," ucap Bianca dengan menghela nafasnya kasar.
Arga hanya terkekeh lalu kembali merangkul bahu Bianca dan berjalan kembali ke hotel.
"Apa kau mau pergi ke tempat yang menyenangkan lagi?" tanya Arga pada Bianca
"Tidak, aku tidak mau kesana lagi!" jawab Bianca
"Kenapa?"
"Asal kau tau Arga, rasanya sangat tidak nyaman jika kau melupakan sesuatu yang sudah terjadi padamu, aku bahkan tidak ingat kapan aku meninggalkan tempat itu bersamamu," jawab Bianca.
"Itu karena kau terlalu banyak meminumnya Bianca, aku akan memilih jenis alkohol yang lebih ringan dan kau hanya boleh meminumnya sedikit, dengan begitu mungkin kau bisa lebih mengendalikan dirimu saat mabuk," ucap Arga.
"Apa aku bisa mengingat semua kejadian yang terjadi nanti?" tanya Bianca.
"Mungkin," jawab Arga dengan menganggukkan kepalanya pelan.
"Kau saja masih ragu," ucap Bianca.
"Tidak ada yang tahu batasan alkoholmu sebelum kau mencari tahunya sendiri Bianca," balas Arga.
"Hmmm.... kau benar," ucap Bianca dengan menganggukkan kepalanya pelan.
"Jadi, kau mau pergi kesana?" tanya Arga.
"Tidak, hahaha....." jawab Bianca sambil melepas tangan Arga dari bahunya lalu berlari meninggalkan Arga.
Arga hanya tersenyum tipis melihat sikap Bianca. Ia kemudian berlari mengikuti Bianca sampai mereka tiba di hotel.
"Kau terlihat sangat berantakan sekali Arga!" ucap Bianca sambil merapikan rambut Arga
"Tapi aku tetap tampan bukan?" tanya Arga dengan kedua tangannya memegang pinggang Bianca.
"Arga, jangan berlebihan," ucap Bianca dengan berbisik setelah apa yang Arga lakukan padanya.
"Tidak ada yang berlebihan Bianca, kita sudah menikah," balas Arga sambil menarik pinggang Bianca, membuat Bianca semakin mendekat pada Arga.
"Kau tidak boleh memberontak disini atau mereka akan mencurigai hubungan kita," ucap Arga berbisik di telinga bianca.
Bianca hanya tersenyum meskipun dalam hatinya ia ingin menendang Arga saat itu juga. Tapi ia menahannya dan berniat untuk melakukannya saat mereka sudah berada di dalam kamar.
Seseorang itu kemudian membawa langkahnya mendekati Arga dan Bianca, berniat untuk mengganggu momen romantis Bianca dan Arga.
Namun tiba-tiba seorang wanita menahan tangannya dan menariknya pergi menjauh dari tempat itu
"Apa yang kau lakukan disini Karina? apa kau mengikuti Arga?" tanya Nadine pada Karina yang akan berjalan ke arah Arga dan Bianca.
"Tante, kenapa Tante ada disini? kebetulan sekali kita bertemu disini, Karina...."
"Tidak perlu berbasa-basi Karina, kau pasti sengaja datang kesini untuk mengikuti Arga bukan? kau pasti mau menggangu Arga dan Bianca bukan?"
"Kenapa Tante selalu berpikiran buruk pada Karina, memangnya hanya Arga dan tante yang boleh pergi kesini?" balas Karina dengan kesal.
"Melihat sikapmu seperti ini membuat Tante semakin bersyukur karena Arga tidak berjodoh denganmu," ucap Nadine.
"Arga juga bukan laki-laki yang baik, dia sangat egois karena selalu sibuk dengan pekerjaannya, kita lihat saja sejauh mana Bianca bisa bertahan dengan Arga!" balas Karina.
"Kau....."
"Mama, apa yang mama lakukan disini?" tanya David yang segera menghampiri sang istri, sebelum terjadi pertengkaran yang bisa menarik banyak perhatian orang disana.
"Dia pasti kesini untuk mendekati Arga, pa," jawab Nadine dengan membawa pandangannya pada Karina.
" Tidak om, Karina kesini karena tunangan Karina yang menyiapkan liburan Karina disini," ucap Karina.
"Ayo ma, kita pergi, jangan membuat keributan disini!" ucap David sambil membawa sang istri pergi, tanpa menghiraukan ucapan Karina padanya.
Karina hanya diam di tempatnya dengan perasaan kesal, terlebih saat ia sudah tidak melihat Arga dan Bianca disana.
"Apa yang sebenarnya aku lakukan disini? kenapa aku bertindak sejauh ini hanya untuk Arga? aku pasti sudah gila!"
Dengan kesal, Karinapun berjalan ke arah kamarnya lalu memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper karena ia harus segera pergi besok pagi.
"Kenapa Arga terlihat sangat romantis dengan Bianca? dia tidak mungkin mendekatiku jika dia tidak berharap untuk kembali padaku, tapi kenapa..... aaarrggghhh semua rencanaku hancur disini, aku bahkan tidak bisa bersenang-senang bersama Arga!"
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Karina berdering, sebuah panggilan masuk dari Bian.
__ADS_1
"Kau dimana?" tanya Bian tanpa basa-basi.
"Aku..... di rumah," jawab Karina ragu.
"Di rumah mana yang kau maksud? aku di rumahmu sekarang!"
"Di rumahku? bukankah kau pergi ke luar negeri? kau pasti berbohong bukan?"
"Cepat jawab pertanyaanku Karina, kau dimana sekarang? aku tau kau tidak di rumah sekarang!"
Karina terdiam untuk beberapa saat, ia ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Bian.
"Aku minta maaf atas sikapku beberapa hari yang lalu, tapi kau tidak bisa pergi begitu saja Karina, jadi cepat katakan dimana kau sekarang, aku akan segera menjemputmu!"
"Aku... sedang ingin sendiri, besok aku akan pulang," balas Karina.
"Benarkah? aku akan menunggumu di rumahmu, jadi cepatlah pulang!"
"Baiklah," balas Karina.
Setelah panggilan berakhir, Karina menjatuhkan dirinya di atas ranjang, memikirkan tentang hubungannya dengan Bian.
"Aku memang menyesal karena sudah terlalu mempercayai Bian, tapi sekarang tidak ada yang bisa aku lakukan selain tetap bertahan dengannya, karena hanya dia yang bisa memberi apa yang aku butuhkan," ucap Karina dengan menatap langit-langit kamarnya.
"Aku hanya harus bertahan menghadapi sikapnya yang sering berubah, tiba-tiba marah dan tiba-tiba begitu baik, asalkan dia tetap memberikan apa yang aku butuhkan, semuanya akan baik-baik saja," ucap Karina dengan menghela nafasnya panjang.
**
Di tempat lain, Bianca baru saja berganti pakaian di kamar mandi. Ia kemudian membawa dirinya duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Apa kau akan tidur di sofa malam ini?" tanya Arga yang sudah berada di atas ranjang.
"Tentu saja, dimana lagi aku harus tidur," balas Bianca.
"Kau bisa tidur disini bersamaku, bukankah semalam kita berdua tidur satu ranjang!"
"Itu karena aku sedang mabuk dan tidak sadar dengan apa yang aku lakukan, jadi jangan harap hal itu akan terulang lagi," balas Bianca.
"Apa kau masih tidak mengingat apapun?" tanya Arga.
"Mmmm..... aku hanya mengingat potongan-potongan kejadian yang terjadi, tapi tidak begitu jelas," jawab Bianca.
"Apa saja yang kau ingat?" tanya Arga
"Aku ingat saat aku minum minuman itu dan kau merebutnya dari tanganku, aku juga ingat saat kau memaksaku untuk tetap duduk dan entah apa yang terjadi setelah itu tapi yang terakhir kali aku ingat saat aku duduk di ranjang bersamamu," jawab Bianca.
"Hanya duduk?" tanya Arga.
"Sepertinya kita membicarakan sesuatu, tapi aku tidak mengingatnya," jawab Bianca.
"Apa kau lupa apa yang kau lakukan waktu itu?" tanya Arga yang dibalas gelengan kepala oleh bianca.
"Memangnya apa yang aku lakukan? apa aku memukulmu? apa aku melakukan sesuatu yang memalukan?" tanya Bianca penasaran.
Arga hanya tersenyum tipis lalu menarik selimutnya.
"Lupakan saja, aku sendiri yang akan mengingatnya," jawab Arga.
Bianca kemudian beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Arga lalu menarik selimut Arga.
"Katakan padaku apa yang terjadi malam itu, jangan membuatku penasaran, Arga!"
"Lupakan saja Bianca, tidurlah di tempatmu, aku sudah mengantuk!" balas Arga dengan kedua mata yang masih terpejam.
"Tidak Arga, aku tidak akan pergi dari sini sebelum kau memberi tahuku!" ucap Bianca.
Arga kemudian beranjak dari tidurnya lalu duduk di atas ranjangnya dan membawa pandangannya menatap Bianca yang duduk di hadapannya.
"Kau sungguh ingin tau apa yang kau lakukan disini malam itu?" tanya Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
"Baiklah, aku akan memberi tahumu asalkan kau berjanji untuk tidak marah padaku!" ucap Arga.
"Baiklah, aku janji," balas Bianca tanpa berpikir panjang.
"Malam itu aku membaringkanmu di ranjang, saat aku akan pergi, kau menahan tanganku dan memintaku untuk tetap disini, saat aku duduk disini, kau ikut duduk dan menatapku seperti ini," ucap Arga dengan kedua tangannya memegang kedua pipi Bianca, membawa pandangan Bianca padanya.
"Arga, kau berlebihan," balas Bianca sambil melepaskan kedua tangan Arga dari pipinya dan mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak berlebihan Bianca, kau melakukan hal itu padaku," ucap Arga.
"Untuk apa aku melakukan hal itu, aku...."
__ADS_1
"Kau memaksaku untuk menatap kedua matamu seperti ini," ucap Arga memotong ucapan Bianca dengan kedua tangannya yang kembali memegang kedua pipi Bianca dan mengarahkan pandangan Bianca padanya.
Bianca hanya terdiam, degup jantungnya berdetak begitu cepat. Rasa gugup kini menyelimuti dirinya. Ia seperti tersihir oleh apa yang Arga lakukan padanya.