Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Liburan Bianca dan Arga (2)


__ADS_3

Bianca mengambil selimut tebal yang ada di atas ranjang lalu membawanya duduk di sofa. Bianca menutup tubuhnya dengan selimut tebal itu sambil mengamati satu persatu foto-foto yang tersimpan di galeri ponselnya, foto yang ia ambil sejak ia baru menjejakkan kaki di Tokyo.


Di atas ranjang, Arga juga sedang asik dengan ponselnya. Ia memeriksa foto-foto yang diambilnya saat ia menikmati waktunya bersama Bianca disana.


"Bayangannya saja terlihat sangat cantik," ucap Arga dalam hati memuji kecantikan Bianca.


"Kau membuatku takut!" ucap Bianca yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Bianca.


"Kenapa?" tanya Arga tak mengerti.


"Kau tersenyum seperti seorang psikopat yang baru saja menemukan mangsanya," jawab Bianca sambil bergidik ngeri.


Arga tersenyum tipis lalu menaruh ponselnya di atas ranjang kemudian beranjak dari ranjangnya dan membawa langkahnya dengan pelan ke arah Bianca dengan senyum yang mencurigakan.


"Kau mau apa? apa yang mau kau lakukan Arga?" tanya Bianca gugup.


"Kau tahu saat-saat seperti apa yang paling menyenangkan bagi psikopat?" balas Arga bertanya.


"Jangan macam-macam denganku Arga, aku bisa memukulmu sampai pingsan, kau tau itu!" ucap Bianca berusaha menyembunyikan ketakutannya.


"Saat yang paling menyenangkan bagi seorang psikopat adalah saat ia melihat mangsanya ketakutan kemudian melihatnya mati dengan perlahan," ucap Arga yang semakin mendekat ke arah Bianca.


Namun belum sempat Arga menyentuh Bianca, Bianca segera menjulurkan kakinya, menendang tepat di perut Arga, membuat Arga seketika mundur dan terjatuh di lantai dengan memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Aaargghhh Bianca.... aku hanya bercanda, aaarrghhh....." ucap Arga mengerang kesakitan dengan memegangi perutnya.


Menyadari tendangannya yang terlalu kencang Biancapun segera beranjak dan memeriksa keadaan Arga


"Apa itu sangat sakit? apa aku harus menghubungi ambulans?" tanya Bianca khawatir.


"Aaarrghh..... sepertinya.... aku akan mati malam ini," ucap Arga sambil menjatuhkan kepalanya di lantai dengan masih memegangi perutnya.


"Jangan berkata seperti itu, kau membuatku takut, apa yang harus aku lakukan sekarang Arga? katakan padaku," tanya Bianca panik.


"Hahaha.........."


Arga tertawa lalu beranjak dan duduk di tepi ranjang dengan memegang perutnya. Tendangan Bianca memang membuat perutnya terasa sakit, tetapi ia sengaja membuat reaksi yang berlebihan agar Bianca panik dan ternyata rencana jahilnya itu berhasil membuat Bianca benar-benar panik.


"Kau berbohong?" tanya Bianca dengan menatap tajam ke arah Arga.


"Hahaha..... tendanganmu memang terasa sakit, tetapi tidak mungkin aku mati hanya karena satu tendanganmu, kau pikir aku selemah itu hahaha......" balas Arga dengan tertawa puas karena berhasil menjahili Bianca.


"Kau benar-benar keterlaluan, kau akan benar-benar merasa kesakitan setelah ini!" ucap Bianca sambil membawa langkahnya ke arah Arga.


Jiwa jahil Arga yang belum menghilang membuat Arga segera menjulurkan kakinya, membuat Bianca tersandung dan terjatuh tepat di depan Arga yang seketika membuat Arga jatuh terbaring di ranjang dengan Bianca di atasnya.


Kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat, membuat Bianca dan Arga tidak bisa menghindar dari adegan yang sama sekali tidak mereka berdua inginkan.


Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam dan saling menatap dengan jarak yang begitu dekat.


Detak jantung keduanya seolah berlomba membuat detakan yang semakin lama semakin cepat.


Saat tersadar, Bianca segera beranjak dan membawa langkahnya masuk ke kamar mandi, meninggalkan Arga yang masih terbaring di ranjangnya dengan tatapan kosong dan detak jantung yang tak beraturan.


Di dalam kamar mandi, Bianca segera membasuh wajahnya di wastafel. Ia memegang dadanya yang berdebar kencang saat itu. Ia berusaha keras untuk menahan gejolak aneh yang ia rasakan saat itu.


"Tenanglah Bianca, tenangkan dirimu," ucap Bianca dengan menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.


Bianca melakukan hal itu beberapa kali sampai ia yakin jika dirinya sudah benar-benar tenang saat itu.


Bianca kemudian keluar dari kamar mandi. Ia bisa bernafas lega saat melihat Arga yang sudah tampak tertidur.


Bianca kemudian membawa langkahnya ke arah sofa, membaringkan dirinya disana lalu menarik selimut untuk menutup tubuhnya.


Bianca memejamkan matanya, namun kepalanya terus saja memutar adegan yang baru saja terjadi antara dirinya dan Arga. Hal itu tentu saja membuat Bianca tidak tenang, ia merasa sesuatu dalam dirinya bergejolak dan membuatnya gelisah.


"Aku pasti sudah gila, cepatlah tidur Bianca, lupakan hal itu!" ucap Bianca dalam hati sambil berusaha untuk terlelap.


Namun sampai berjam-jam kemudian Bianca masih belum bisa tertidur. Matanya yang terpejam seolah berbanding terbalik dengan isi kepalanya yang memaksa Bianca untuk terjaga.


Tanpa Bianca tahu, sebenarnya Arga tidak sedang tidur saat itu. Beberapa saat setelah Bianca masuk ke kamar mandi, Arga tersadar dari lamunannya.


Ia memegang dadanya yang entah kenapa berdetak kencang saat itu. Arga tau, hal itu hanya pernah terjadi saat ia akan menyatakan perasaannya pada Karina.

__ADS_1


Degup jantung yang berdetak cepat, gelisah, gugup dan banyak perasaan aneh lainnya hanya pernah ia rasakan saat ia akan menyatakan perasaannya pada Karina.


Namun malam itu, semua rasa itu tiba-tiba saja kembali Arga rasakan tanpa alasan yang pasti, membuat Arga semakin tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


Karena tidak ingin terlalu memikirkannya dan berharap semua perasaan aneh itu segera pergi, Argapun sengaja memejamkan matanya, berusaha untuk terlelap agar pagi segera datang.


Namun apa yang Arga harapkan tidak terjadi, ia bahkan masih bisa mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka saat Bianca keluar dari kamar mandi.


Sampai malam semakin larut, Arga masih terjaga dengan perasaan aneh yang ia rasakan saat itu.


Arga kemudian merubah posisi tidurnya, berusaha mencuri pandang ke arah Bianca yang sudah berbaring di sofa.


"Sepertinya dia sudah tidur, apa cuma aku yang memikirkan kejadian yang baru saja terjadi?" batin Arga bertanya dalam hati.


Arga menghela nafasnya panjang lalu mengambil ponselnya. Baru saja ia membuka lockscreen ponselnya sudah ada foto Bianca yang Arga ambil diam-diam.


"Dia memang cantik, dia....."


Arga menghentikan ucapan dalam hatinya lalu segera menekan tanda keluar dari galeri ponselnya.


Arga kemudian membuka sosial medianya dan mengetik nama Karina.


"Aku hanya pernah jatuh cinta satu kali, tapi aku gagal mempertahankannya karena kebodohanku sendiri, sekarang aku akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkannya lagi," ucap Arga dalam hati.


"Maafkan aku Karina, aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja, terlalu banyak hal indah yang terjadi di antara kita, aku yakin aku pasti bisa membawamu kembali padaku, entah bagaimana caranya," batin Arga sambil menatap foto cantik Karina yang ada di sosial media.


Arga kemudian membawa pandangannya pada Bianca yang berbaring di sofa. Dalam hatinya ada sedikit rasa bersalah karena sudah memanfaatkan Bianca untuk kepentingan pribadinya.


"Maafkan aku karena harus melibatkanmu Bianca," ucap Arga dalam hati.


**


Hari telah berganti, Arga mengerjapkan matanya dan melihat Bianca yang sedang mengenakan jaket tebalnya di depan cermin.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? kenapa rasanya canggung sekali?" batin Arga bertanya dalam hati sambil memperhatikan Bianca.


"Cepatlah bangun, aku tidak ingin menghabiskan waktu di dalam hotel selama aku disini!" ucap Bianca yang tanpa Arga tahu melihat pantulan Arga dari cermin di hadapan Bianca.


Arga hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari ranjang dan berjalan masuk ke kamar mandi. Bukan untuk mandi, melainkan hanya untuk membasuh wajah, sikat gigi dan berganti pakaian.


Setelah selesai bersiap, Arga dan Biancapun keluar dari kamar. Mereka memutuskan untuk memulai hari mereka dengan menikmati sarapan mereka di restoran hotel.


"Apa ada tempat yang ingin kau datangi disini Bianca?" tanya Arga pada Bianca.


"Aku ingin mendatangi semua tempat yang ada disini," jawab Bianca.


"Waktu kita tidak akan cukup untuk mendatangi semua tempat yang ada disini Bianca," balas Arga.


"Kalau begitu terserah kau saja," ucap Bianca.


"Oke baiklah, jangan menyesal karena sudah mengatakan hal itu padaku," balas Arga dengan tersenyum tipis.


"Jangan macam-macam denganku jika kau tetap ingin tubuhmu sehat," ucap Bianca dengan tatapan tajam yang membuat Arga terkekeh.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Bianca dan Argapun meninggalkan restoran. Arga mengendarai mobilnya ke arah daerah perbukitan dimana ia akan mengajak Bianca untuk melakukan kegiatan yang akan memacu adrenalin.


Sesampainya di tempat tujuan, Bianca masih tidak tahu apa yang sebenarnya Arga rencanakan saat itu.


Mereka kemudian keluar dari mobil, Arga meraih tangan Bianca lalu mengajaknya berjalan menaiki bukit yang di ujungnya terdapat sebuah bangunan yang cukup besar.


Disana mereka akan melakukan flying fox di atas ketinggian lebih dari 1500 mdpl dengan panjang lintasan sejauh 1 km.


Arga sengaja mengajak Bianca kesana karena ia berpikir jika Bianca akan ketakutan dan ia akan memaksa Bianca agar tetap melakukannya.


Namun ternyata justru Bianca begitu bersemangat saat ia tau apa yang akan ia lakukan di tempat itu.


Bianca bahkan dengan cepat meminta petugas disana untuk memasang alat pengaman padanya agar ia bisa segera menikmati pemandangan indah dengan berayun di bawah tali panjang yang menghubungkan dua bukit disana.


Melihat Bianca yang begitu bersemangat, Argapun hanya terdiam, membiarkan Bianca melakukannya terlebih dahulu.


"Oke baiklah, mungkin ini menyenangkan buatmu, tapi aku yakin setelah ini kau akan ketakutan sampai pucat," ucap Arga sambil memperhatikan Bianca yang sudah bergantungan di bawah tali yang membawa Bianca ke arah bukit yang lain.


Setelah Arga melakukan hal yang sama dengan Bianca, Argapun mengajak Bianca ke tempat lain.

__ADS_1


Dengan masih bergandengan tangan, mereka berjalan di tepi sungai yang lebar dengan arus yang cukup deras.


"Apa lagi yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Bianca pada Arga.


"Jangan terlalu bersemangat Bianca, setelah ini mungkin kau akan ketakutan dan....."


"Arga lihatlah!" ucap Bianca memotong ucapan Arga sambil menunjuk ke arah sebuah jembatan tinggi yang tidak jauh dari tempat mereka berjalan.


"Itu bungee jumping Arga, ayo kesana!" lanjut Bianca lalu melepaskan tangannya dari genggaman Arga kemudian berlari meninggalkan Arga begitu saja.


Arga terdiam untuk beberapa saat ketika melihat Bianca yang berlari meninggalkannya.


"Ternyata dia tidak takut," ucap Arga tak percaya.


"Arga cepatlah!" ucap Bianca setengah berteriak.


Arga menghela nafasnya lalu segera berlari mengejar Bianca. Mereka kemudian menaiki satu per satu anak tangga untuk menuju ke jembatan yang akan menjadi awal mereka untuk melakukan bungee jumping.


Seperti sebelumnya, Bianca yang penuh semangat segera meminta petugas untuk memasang alat keamanan pada dirinya.


"Aku akan menunggumu di bawah," ucap Bianca pada Arga lalu menjatuhkan dirinya dari ketinggian dengan tali yang terikat di kakinya.


Seketika teriakan Bianca menggema dan terdengar oleh Arga. Setelah Bianca mendarat dengan selamat, kini giliran Arga yang menyusul Bianca.


Setelah Arga mendarat di tempat yang sama dengan Bianca, mereka kemudian berjalan keluar meninggalkan area perbukitan itu.


"Benar-benar menyenangkan sekali, rasanya aku ingin mencobanya lagi," ucap Bianca dengan raut wajah berseri.


"Apa kau sangat menyukainya?" tanya Arga.


"Tentu saja, aku sangat menyukai kegiatan seperti ini, semakin adrenalinku terpacu, semakin aku menyukainya," jawab Bianca.


"Berhenti sebentar, aku sangat lelah," ucap Arga lalu duduk di salah satu batu besar yang ada disana.


"Huh, lemah sekali!" ucap Bianca mencibir.


Tanpa Bianca tahu, sejak tadi Arga berusaha untuk menahan kakinya yang gemetar setelah ia melakukan bungee jumping, karena sejujurnya itu adalah yang pertama kali baginya dan ia menyesal sudah melakukannya.


Di sisi lain, Bianca berjongkok karena sedang asik dengan hewan mungil di hadapannya. Bianca kemudian mengambilnya dengan menggunakan daun lalu menunjukkannya pada Arga.


"Arga, lihatlah!" ucap Bianca sambil menyodorkan sebuah daun dengan ulat yang ada di atasnya.


"Apa yang kau lakukan Bianca? menjijikkan sekali!" balas Arga yang segera membawa dirinya menjauh dari Bianca.


"Menjijikkan? binatang selucu ini kau bilang menjijikkan? tega sekali kau!"


"Kembalikan ke tempatnya Bianca, kau membuatku geli," ucap Arga sambil menggeliat geli.


"Kau takut?" tanya Bianca sambil mendekatkan ulat itu pada Arga.


"Tentu saja tidak, aku hanya.... aku..... geli," jawab Arga beralasan.


"Kau pasti takut," ucap Bianca yang berjalan semakin mendekat ke arah Arga.


"Jangan mendekat padaku Bianca, aku akan benar-benar meninggalkanmu disini jika kau mendekat padaku!" ancam Arga yang membuat Bianca terkekeh.


"Hahaha..... seorang Arga ternyata takut dengan ulat," ucap Bianca lalu menaruh ulat itu kembali di pepohonan.


"Apa kau tidak kasihan pada mereka Arga? apa yang akan terjadi pada mereka saat salju turun nanti?" tanya Bianca sambil memperhatikan ulat yang berjalan menaiki pohon.


"Aku tidak peduli pada mereka," balas Arga lalu berjalan di belakang Bianca.


"Dasar tidak berperikehewanan!" ucap Bianca lalu berjalan mengikuti Arga.


"Mereka hewan yang menjijikan Bianca," balas Arga dengan membalikkan badannya, membawa pandangannya pada Bianca yang berjalan di belakangnya.


"Tapi mereka..... aaaaa......."


Tanpa sengaja Bianca tersandung akar pohon yang membuatnya jatuh tepat di depan Arga, dengan sigap Argapun menahan Bianca, membuat mereka berpelukan tanpa sengaja.


Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam karena degup jantung yang tiba-tiba berdetak dengan cepat dan tak beraturan.


Namun setelah Bianca tersadar, ia segera melepaskan dirinya dari dekapan Arga kemudian berjalan cepat meninggalkan Arga.

__ADS_1


"Aaargghh sial, kenapa ini terjadi lagi!" ucap Bianca dalam hati sambil mempercepat langkahnya.


__ADS_2