
Hari telah berganti. Pagi itu Arga sengaja menunggu Bianca keluar dari kamarnya sebelum Arga berangkat ke kantor.
Setelah beberapa lama menunggu, ia melihat pintu kamar Bianca terbuka dan Biancapun keluar dari kamarnya.
"Arga, kau belum berangkat?" tanya Bianca yang melihat Arga masih duduk di ruang tengah.
"Aku menunggumu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," jawab Arga.
"Ada apa?" tanya Bianca.
"Tentang Tante Felly, aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja setelah apa yang dia lakukan padamu, aku harus membuatnya jera agar dia tidak melakukan hal yang sama lagi padamu, tapi aku janji aku tidak akan menyakitinya," jelas Arga.
Bianca menganggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan Arga. Setidaknya ia mengerti jika apa yang Arga lakukan hanya untuk membuat sang Tante jera.
Apa yang sudah Tante Felly lakukan padanya memang sudah keterlaluan, tetapi Bianca tidak akan membiarkan Arga melakukan hal yang di luar batas pada sang Tante.
Bagaimanapun juga Tante Felly pernah menerima kehadirannya setelah kepergian kedua orang tuanya, terlepas dari bagaimana niat Tante Felly saat itu.
Bianca hanya tidak ingin menyimpan dendam dalam hatinya. Ia membiarkan dirinya melupakan hal buruk itu tanpa menyimpan dendam.
"Baiklah kalau begitu, aku berangkat ke kantor dulu!" ucap Arga yang kembali di balas anggukan kepala dan senyum oleh Bianca.
Argapun membawa langkahnya keluar dari rumah, sedangkan Bianca segera berjalan ke meja makan untuk menikmati makanan buatan bibi.
Saat Bianca baru saja menyelesaikan sarapannya, tiba-tiba bibi menghampirinya.
"Maaf atas kejadian kemarin non Bianca, bibi tidak sengaja," ucap bibi pada Bianca.
"Kejadian apa maksud bibi?" tanya Bianca tak mengerti.
"Kejadian kemarin, saat bibi menjatuhkan gelas, bibi tidak sengaja melihatnya dan terkejut, membuat bibi tidak sadar jika gelas yang bibi bawa terjatuh," jelas bibi.
"Aaahhh tentang itu..... lupakan saja bi hehe..." balas Bianca salah tingkah saat ia mengingat kejadian semalam.
"Sekali lagi bibi minta maaf non, tapi bibi merasa sangat senang sekali," ucap bibi.
"Senang kenapa?" tanya Bianca.
"Bibi sangat senang ketika melihat non Bianca dan Tuan Arga berpelukan seperti itu," jawab bibi.
Bianca hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun.
"Maaf non, bibi tidak bermaksud untuk ikut campur dalam hubungan non Bianca dan Tuan Arga, tapi bibi bisa melihat bagaimana tuan Arga sangat memperhatikan non Bianca," ucap Bianca.
"Itu karena Bianca istrinya bi," balas Bianca.
"Tapi tatapan dan perhatian tuan Arga sangat berbeda dengan saat pertama kali non Bianca tinggal disini, sepertinya sekarang tuan Arga semakin mencintai non Bianca," ucap bibi dengan tersenyum.
"Mencintai?"
Bianca tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya.
"Bibi tau bagaimana hubungan Bianca dan Arga, jadi Bianca harap apa yang bibi tau akan tetap bibi simpan sendiri, Bianca dan Arga sangat mempercayai bibi," ucap Bianca.
"Iya non, bibi mengerti," balas bibi dengan menganggukkan kepalanya.
Bianca tersenyum pada bibi lalu membawa langkahnya kembali masuk ke kamarnya. Di dalam kamar, Bianca segera membuka laptopnya.
Namun untuk beberapa saat Bianca terpikirkan ucapan bibi yang baru saja bibi katakan padanya.
"Mencintai? itu adalah hal yang paling mustahil bagi Arga, aku bahkan tidak tau apakah pernikahan ini hanya untuk menghindar dari Clara atau ada hal lain yang Arga sembunyikan dariku, bahkan dari orang tuanya!"
**
Di tempat lain, Arga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tepat pukul 10 siang, Arga keluar dari ruangannya lalu menghampiri Daffa.
"Kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Arga.
"Sudah, ayo berangkat," jawab Daffa sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam tas kerjanya.
Arga dan Daffa kemudian meninggalkan kantor dengan menggunakan mobil Arga. Daffa duduk di balik kemudi sedangkan Arga duduk di samping Daffa.
"Sepertinya malam ini aku akan menemui mereka," ucap Arga.
"Aku akan ikut denganmu," balas Daffa.
"Tidak perlu, aku akan mendatangi mereka bersama orang-orangku," ucap Arga.
"Aku harus ikut Arga, aku tidak bisa membiarkanmu menemui mereka tanpaku," ucap Daffa memaksa.
"Apa kau tidak ada janji dengan Lola?" tanya Arga.
"Tidak, bahkan jika adapun aku akan membatalkannya," jawab Daffa.
"Kenapa?"
"Persahabatan kita adalah prioritas utama bagiku Arga, kau harus tau itu!" jawab Daffa.
__ADS_1
"Hahaha.... benarkah? apa bukan karena kau hanya bermain-main dengan Lola?" balas Arga.
"Tentu saja tidak, aku sudah lelah bermain-main Arga, aku akan mengakhiri semuanya bersama Lola," jawab Daffa.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu?" tanya Arga meragukan ucapan Daffa.
"Tentu saja, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya," jawab Daffa meyakinkan Arga.
"Kenapa kau bisa seyakin itu? apa Lola begitu istimewa di matamu?" tanya Arga penasaran.
"Dia berbeda dari kebanyakan perempuan Arga, dia memang tidak lebih cantik dari Bianca, tapi dia membuatku tidak bisa berhenti memikirkannya, sejak aku melihatnya aku berpikir untuk bisa mendekatinya," jawab Daffa.
"Dan saat aku sedang mendekatinya, dia membuatku berpikir untuk bisa mendapatkannya dan sekarang dia membuatku yakin jika dia adalah pelabuhan terakhirku," lanjut Daffa dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Aku tidak mengerti bagaimana seseorang sangat mudah jatuh cinta pada seseorang yang baru dikenalnya," ucap Arga.
"Cinta memang sulit ditebak Arga, kau tidak akan tahu berapa berharganya cinta yang kau miliki sebelum kau kehilangan orang yang kau cintai, jadi selama dia masih ada di sampingmu, jaga dia baik-baik, jangan biarkan dia pergi darimu," balas Daffa.
"Tapi aku sudah terlambat, aku tidak bisa menjaganya dengan baik, aku sendiri yang membuatnya pergi meninggalkanku," ucap Arga dengan menghela nafasnya panjang.
"Cinta yang sejati tidak akan pernah pergi meninggalkanmu Arga, apa lagi menduakanmu," balas Daffa yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Daffa.
Arga terdiam untuk beberapa saat, Arga mengerti jika ucapan Daffa ia tujukan pada Karina, gadis yang sangat Arga cintai tetapi pergi demi laki-laki lain yang merupakan selingkuhannya.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Arga dan Daffapun sampai di tempat tujuan. Mereka akan melakukan meeting di perusahaan lain siang itu.
Hampir 2 jam telah berlalu, meetingpun selesai. Daffa mengendarai mobil Arga meninggalkan perusahaan itu bersama Arga yang duduk di sampingnya.
"Apapun rencanamu nanti, aku akan tetap ikut denganmu Arga!" ucap Daffa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.
"Lalu bagaimana dengan tante Bianca? apa kau juga akan menemuinya?" tanya Daffa.
"Aku tidak bisa menemuinya sekarang, tapi aku pastikan jika dia akan menyesali apa yang sudah dia lakukan pada Bianca, dia akan menyesal karena sudah meremehkanku," jelas Arga.
"Apa kau sudah membicarakannya dengan Bianca?" tanya Daffa.
"Sudah dan dia menyetujuinya," jawab Arga.
"Baguslah kalau begitu, setidaknya tidak akan ada kesalahpahaman diantara kalian berdua," ucap Daffa dengan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Daffa baru saja membereskan meja kerjanya.
Daffa kemudian membawa langkahnya masuk ke ruangan Arga.
"Tidak ada, pulanglah," jawab Arga yang masih fokus dengan komputer di hadapannya.
"Kapan kau akan menemui orang-orang itu?" tanya Daffa.
"Aku akan menghubungimu nanti, aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu," jawab Arga.
"Oke baiklah, aku pergi dulu!" ucap Daffa yang dibalas anggukan kepala oleh Arga.
Daffa kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan kantor, bukan untuk pulang melainkan untuk menemui Lola.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Daffapun sampai di tempat kos Lola. Daffa segera keluar dari mobilnya dan mendapati Lola yang sedang duduk di depan kamar kosnya.
"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Daffa lalu duduk di samping Lola.
"Aku tidak menunggumu, bukankah kau bilang tidak bisa menemuiku?" balas Lola.
"Maafkan aku, ada pekerjaan mendadak yang harus segera aku selesaikan bersama Arga," ucap Daffa.
Lola hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Malam itu sebenarnya Lola dan Daffa sudah berencana untuk bertemu.
Mereka bertemu untuk membahas tentang video yang akan Lola unggah ke sosial medianya. Daffa juga sudah berjanji untuk membantu Lola mempelajari cara mengedit video.
Tapi karena ada hal lain yang harus Daffa lakukan bersama Arga, Daffapun membatalkan rencananya dengan Lola.
"Apa kau marah padaku?" tanya Daffa yang melihat Lola hanya diam tanpa mengatakan apapun.
"Tidak, pergilah, bukankah kau harus melanjutkan pekerjaanmu?" balas Lola.
"Aku menyempatkan waktuku untuk menemuimu karena aku tau kau pasti sangat marah padaku," ucap Daffa.
"Tidak, aku tidak marah padamu," balas Lola.
"Aku bisa melihatnya dengan jelas Lola, kerutan di wajahmu akan terlihat jika kau sedang marah," ucap Daffa yang membuat Lola segera membawa pandangannya pada Daffa.
"Benarkah? apa kau sungguh melihat kerutan di wajahku?" tanya Lola panik.
"Iya, aku jelas melihatnya," jawab Daffa sambil membawa dirinya semakin mendekati wajah Lola yang menatapnya.
"Aku melihatnya dengan sangat jelas, benar-benar terlihat jelas kecantikanmu," lanjut Daffa dengan tersenyum.
Mendengar apa yang Daffa katakan, Lola seketika mengalihkan pandangannya dengan menghela nafasnya kesal.
__ADS_1
"Hahaha..... kau mudah sekali tertipu rupanya," ucap Daffa dengan tertawa.
"Pergilah, kau membuatku semakin kesal!" ucap Lola sambil beranjak dari duduknya.
Daffa hanya tersenyum tipis lalu segera beranjak dan menarik tangan Lola sebelum Lola masuk ke dalam kamar.
Daffa menggenggam tangan Lola dan menariknya ke arah dadanya lalu menatap Lola dengan tatapan yang begitu dalam.
"Di mataku kau akan selalu terlihat cantik Lola, tidak peduli bagaimanapun keadaan wajahmu," ucap Daffa.
Apa yang Daffa lakukan seketika membuat Lola terdiam. Jantungnya berdetak kencang, membuatnya gugup dan hanya bisa terdiam.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Daffa berdering, membuat Lola seketika menarik tangannya dari Daffa lalu segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Aaarrgghh sial!" ucap Daffa kesal saat ia melihat nama Arga yang baru saja mengirim pesan padanya.
Daffa kemudian mengetuk pintu kamar Lola beberapa kali sebelum ia pergi.
"Lola, aku harus pergi," ucap Daffa dari depan kamar Lola.
Tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar, Daffapun memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat kos Lola.
Daffa duduk di balik kemudinya untuk memeriksa pesan yang masuk dari Arga.
"Aku menunggumu di tempat biasa!"
Daffa kemudian mengendarai mobilnya ke tempat biasa ia bertemu Arga. Sesampainya disana Arga yang melihat kedatangan Daffa segera masuk ke mobil Daffa.
"Bagaimana dengan orang-orangmu?" Tanya Daffa pada Arga yang sudah duduk di sampingnya.
"Mereka sudah di tempat," jawab Arga.
Daffa kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu menuju ke tempat dimana para pria yang akan ditemuinya tinggal.
"Sepertinya kali ini tidak akan mudah, kau berurusan dengan rentenir yang pastinya memiliki banyak anak buah!" Ucap Daffa pada Arga.
"Aku tidak ada urusannya dengan rentenir itu, aku hanya butuh para pria yang aku temui di rumah Tante Felly," balas Arga.
"Tapi mereka bekerja berdasarkan perintah rentenir itu," ucap Daffa
"Aku tidak peduli, kita lihat saja nanti," balas Arga.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Daffa menghentikan mobilnya di salah satu bangunan 2 lantai.
Arga dan Daffa kemudian turun dari mobil lalu berjalan ke arah bangunan gelap itu. Seperti dugaan Arga, mereka dihadang oleh dua orang pria yang menanyakan maksud kedatangan mereka.
"Panggil saja bos kalian jika kalian tidak ingin kehilangan pekerjaan disini!" Ucap Arga.
Dua orang pria itu saling pandang beberapa saat sebelum akhirnya salah satu diantara mereka masuk.
Tak lama kemudian pria yang masuk itupun keluar lalu menyuruh Arga dan Daffa untuk masuk menemui bos mereka.
Arga dan Daffapun masuk untuk menemui seorang pria yang sudah bisa Arga terka jika dialah si rentenir itu.
"Ada apa dua anak muda sombong ini ingin menemuiku?" Tanyanya pada Arga dan Daffa.
Arga hanya tersenyum tipis lalu melemparkan sebuah map ke meja yang ada di hadapan pria itu.
Pria itupun membuka map itu dan begitu terkejut setelah ia membaca isinya. Seketika ia berdiri dan menatap Arga yang berdiri di hadapannya.
"Apa yang kau inginkan dariku?" Tanyanya dengan raut wajah yang tampak panik.
"Aku menginginkan orangmu," jawab Arga sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
"Apa maksudmu? Kau....."
"5 orang yang ada disana, serahkan mereka padaku atau aku akan membuat bisnismu hancur sebelum matahari terbit besok pagi," ucap Arga sambil menunjuk segerombolan pria yang sedang duduk di sudut ruangan itu.
Tanpa banyak bertanya pria itu kemudian memanggil 5 orang yang Arga tunjuk lalu meminta mereka untuk mengikuti Arga.
"Aaahh ya satu lagi, 5 orang ini akan mendekam di penjara besok pagi, aku tidak peduli apakah mereka akan menyeret namamu di kantor polisi atau tidak, itu bukan urusanku," ucap Arga lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
"Ada apa ini bos?" Tanya salah satu pria itu pada bos mereka.
"Ikuti saja dia," jawab si bos.
"Kalian sudah berurusan dengan orang yang salah, cepat keluarlah!" Ucap Daffa sambil menyuruh 5 orang itu untuk keluar dari ruangan itu.
Di luar ruangan itu, Arga segera menarik satu orang pria lalu tanpa ragu melayangkan tinju padanya.
Melihat hal itu, teman pria itupun segera bertindak untuk menolong temannya. Namun sebelum itu terjadi, Daffa dan orang-orang suruhan Arga segera membawa 4 orang itu pergi.
"Ini tidak akan menyakitkan jika kalian tidak banyak melawan," ucap Daffa pada 4 pria itu.
4 pria itupun segera menyerang Daffa, namun orang-orang suruhan Arga sudah terlebih dahulu menangkis serangan mereka dan berbalik menyerang 4 orang itu tanpa ampun.
__ADS_1
"Biarkan mereka tetap hidup, setidaknya patahkan saja satu tulangnya hahaha...." Ucap Daffa lalu berjalan pergi.