
Daffa terdiam mendengar apa yang Bianca katakan padanya tentang kepergian Arga ke luar kota. Sebagai sahabat sekaligus partner kerja Arga, Daffa mengetahui dengan pasti jika Arga tidak pergi ke luar kota apalagi sampai 3 hari.
"Ada apa Daffa? apa Arga tidak memberitahumu jika dia keluar kota?" tanya Bianca menyadarkan lamunan Daffa.
"Aahh iya, aku lupa jika dia sedang berada di luar kota," balas Daffa beralasan.
"Kalau begitu aku pergi dulu, ada pekerjaan yang masih harus aku selesaikan," ucap Daffa berpamitan lalu pergi meninggalkan Bianca dan Lola
Bianca kemudian mengajak Lola masuk ke dalam rumah, seperti biasa mereka mengobrol di dalam kamar Bianca.
"Apa benar Arga pergi ke luar kota Bianca?" tanya Lola pada Bianca.
"Iya sudah 3 hari dia tidak pulang," jawab Bianca.
"Sepertinya ada yang aneh," ucap Lola.
"Kenapa?" tanya Bianca.
"Apa kau tidak memperhatikan bagaimana respon Daffa setelah kau mengatakan jika Arga sedang berada di luar kota? dia seperti terkejut dan tidak mengetahui hal itu, padahal Daffa bekerja langsung dibawa Arga jadi tidak mungkin jika Daffa tidak mengetahuinya," jelas Lola.
Bianca terdiam beberapa saat, sebenarnya ia juga memikirkan hal yang sama dengan Lola tetapi Bianca berusaha untuk tetap berpikir positif dan tidak ingin terlalu memikirkannya.
"Sepertinya Arga berbohong padamu," ucap Lola yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Lola.
"Mungkin Daffa memang benar-benar lupa, jangan hanya karena hal itu kau berpikir jika Arga berbohong padaku," balas Bianca.
"Bukan hanya karena respon Daffa yang terkejut Bianca, tetapi Daffa juga mengatakan sesuatu padaku yang membuatku yakin jika Arga memang berbohong padamu!" ucap Lola.
"Memangnya apa yang Daffa katakan padamu?" tanya Bianca.
"Saat dalam perjalanan kemari Daffa memberitahuku jika beberapa hari ini Arga selalu pulang lebih cepat dari biasanya, itu artinya Arga tidak berada di luar kota Bianca, itu artinya Arga sudah berbohong padamu," jawab Lola menjelaskan.
"Benarkah seperti itu? apa Arga memang berbohong padaku?" batin Bianca bertanya dalam hati.
"Sekarang cepat hubungi Arga dan tanyakan dimana keberadaannya, dia tidak mungkin berada di luar kota karena sejak beberapa hari yang lalu Arga masih berangkat ke kantor bahkan pulang lebih cepat," ucap Lola pada Bianca.
"Tidak perlu, lagi pula aku tidak mau tahu apa yang dia lakukan di luar sana," balas Bianca.
"Tapi dia sudah berbohong padamu Bianca, setidaknya dia harus menjelaskan apa yang dia lakukan di luar sana selama 3 hari ini dan kenapa dia berbohong padamu, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan darimu Bianca!" ucap Lola.
"Aku tidak peduli dengan apapun yang dia lakukan di luar sana Lola, apa kau lupa jika pernikahanku dengan Arga bukan pernikahan sungguhan? kita memang suami istri yang sah di mata hukum dan agama tapi kita bukan suami istri yang saling mencintai," ucap Bianca.
Seketika Lola terdiam mendengar ucapan Bianca. Untuk beberapa saat Lola lupa tentang pernikahan Bianca dan Arga yang sebenarnya.
"Aku dan Arga memang berstatus sebagai suami istri, kita juga tinggal dalam satu atap tapi kita menjalani kehidupan kita masing-masing sampai kontrak pernikahan kita selesai, kau harus ingat itu Lola!" ucap Bianca.
"Tapi kenapa Arga berbohong padamu? apa mungkin dia memiliki seseorang yang lain di luar sana?" tanya Lola.
"Entahlah aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu," jawab Bianca lalu mengambil boneka manusia salju miliknya dan memeluknya.
Lola menghela nafasnya panjang lalu membaringkan dirinya di atas ranjang Bianca.
"Arga memang penuh misteri, kita bahkan tidak tahu apa sebenarnya alasan Arga menikahimu, apa benar cuma karena dia menghindar dari perjodohannya dengan Clara atau ada hal lain yang semua orang tidak tahu," ucap Lola.
"Sudahlah Lola jangan membahasnya lagi, aku bahkan tidak peduli dengan hal itu," balas Bianca.
Lola menganggukkan kepalanya pelan lalu menarik tangan Bianca agar berbaring di sampingnya.
"Baguslah kalau begitu, kau memang tidak perlu terlalu mempedulikannya, dia memang sangat baik tapi tidak cukup baik untuk dijadikan sebagai pasangan hidup jadi memang lebih baik jika kau tidak perlu terlalu memikirkannya agar kau tidak terluka nantinya," ucap Lola.
Bianca hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.
Dalam hatinya sebenarnya Bianca memikirkan semua yang Lola katakan padanya.
Kenapa Arga berbohong padanya? apa yang sebenarnya Arga lakukan di luar sana? dan apa rahasia yang Arga sembunyikan dari semua orang bahkan Daffa sebagai sahabatnyapun tidak mengetahui hal itu.
Namun Bianca sadar akan posisinya dalam hidup Arga, hubungan mereka berdua tidak lebih sebatas pernikahan di atas kontrak yang sudah mereka sepakati.
__ADS_1
**
Di tempat lain, setelah Daffa meninggalkan Bianca dan Lola, Daffa menghentikan mobilnya di tepi jalan lalu segera menghubungi Arga.
Sudah beberapa kali Daffa mencoba untuk menghubungi Arga namun tidak pernah terjawab.
"Kemana kau sebenarnya Arga? kenapa kau berbohong pada Bianca?" tanya Daffa sambil terus berusaha untuk menghubungi Arga hingga akhirnya panggilannya diterima oleh Arga.
"Halo Daffa, ada apa?" tanya Arga setelah ia menerima panggilan Daffa.
"Kau dimana sekarang? ada yang harus aku bicarakan denganmu," balas Daffa.
"Aku..... aku ada di rumah, kita bicara besok saat di kantor, aku sedang sibuk sekarang," ucap Arga beralasan.
"Tapi aku harus bertemu denganmu sekarang Arga, aku akan menemuimu sekarang juga," ucap Daffa.
"Lebih baik kita bertemu di luar rumah, aku akan....."
"Kenapa?" tanya Daffa memotong ucapan Arga.
"Kenapa? apa maksudmu?" tanya Arga tak mengerti.
"Kenapa kau tidak memperbolehkanku ke rumahmu? apa kau takut jika aku mengetahui kebohonganmu?" balas Daffa bertanya yang membuat Arga begitu terkejut.
"Apa kau baru saja dari rumahku?" tanya Arga.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu untuk membicarakan masalah pekerjaan tetapi Bianca memberitahuku jika kau pergi ke luar kota sejak 3 hari yang lalu," jawab Daffa.
Hening, tidak ada sepatah katapun yang Arga katakan pada Daffa karena memang kebohongannya sudah diketahui oleh Daffa.
"Katakan padaku Arga, dimana kau sekarang!" ucap Daffa.
"Aku..... aku akan menjelaskan semuanya padamu besok, tapi tolong untuk saat ini jangan mengatakan apapun pada Bianca," balas Arga.
"Apa kau bersama Karina?" tanya Daffa menerka.
"Tapi....."
Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt
Arga mengakhiri panggilannya begitu saja, membuat Daffa semakin kesal pada Arga.
"Kenapa kau bodoh sekali Arga? kenapa kau meninggalkan berlian seperti Bianca demi bantuan sungai yang tidak bernilai seperti Karina!" ucap Daffa kesal lalu kembali mengendarai mobilnya pergi.
**
Hari telah berganti, seperti biasa Arga berangkat ke kantor dari tempat tinggal Karina setelah ia menyiapkan sarapan untuk Karina dan mengganti perban yang ada di kepala Karina.
Sesampainya di kantor, Arga menghela nafasnya panjang saat ia melihat Daffa yang sudah berdiri di depan lobby, ia tahu jika Daffa sudah menunggunya pagi itu.
"Arga....."
"Jangan disini," ucap Arga memotong ucapan Daffa.
Dilihat dari raut wajahnya tampak jelas sekali bagaimana Daffa terlihat sangat kesal pagi itu. Arga mengerti kekesalan Daffa adalah karena Daffa mengetahui jika ia sudah berbohong pada Bianca tentang kepergiannya ke luar kota.
Arga tidak ingin terjadi keributan yang bisa memancing perhatian semua yang ada disana, itu kenapa Arga meminta Daffa untuk tidak membicarakan apapun saat mereka berada di lobby.
Mereka berjalan menaiki lift, sesampainya di lantai 7 Arga membawa langkahnya masuk ke ruangannya, namun sebelum Arga membuka pintu ruangannya Daffa sudah terlebih dahulu menarik bahu Arga dengan kasar.
"Jelaskan semuanya padaku sekarang!" ucap Daffa pada Arga.
"Masuklah!" balas Arga lalu membuka pintu ruangannya kemudian membawa langkahnya duduk di kursi kerjanya.
Arga menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan sebelum akhirnya ia mengatakan yang sebenarnya pada Daffa.
"Kau benar, aku memang bersama Karina sejak beberapa hari yang lalu," ucap Arga yang membuat Daffa meradang.
__ADS_1
"Apa kau gila? kau sudah beristri Arga, bagaimana bisa laki-laki yang sudah memiliki istri menghabiskan waktunya berhari-hari dengan perempuan lain!" ucap Daffa penuh emosi.
"Aku masih mencintai Karina, bukankah kau tahu bagaimana pernikahanku dengan Bianca? apa bisa kau menyebutnya sebagai istriku!" balas Arga.
"Bagaimanapun juga kau dan Bianca sudah menikah dan pernikahan kalian sah secara hukum dan agama, terlepas dari kalian saling mencintai atau tidak tapi pernikahan kalian sakral kalian tidak bisa mempermainkan pernikahan kalian seperti ini!" ucap Daffa.
"Kau benar, tetapi pernikahan sama sekali tidak bisa membuatku melupakan Karina, pada kenyataannya aku masih mengharapkannya dan selama 2 tahun ini aku akan berusaha untuk membuat Karina kembali padaku," balas Arga.
"Kau benar-benar gila Arga, kau sudah berbohong pada Bianca, kau sudah melibatkan Bianca terlalu jauh dengan masalah pribadimu!" ucap Daffa yang kecewa dengan sikap Arga.
"Karina sedang membutuhkanku Daffa, tidak ada yang bisa membantunya selain aku, jadi aku tidak punya pilihan selain melakukan hal ini, aku harap kau bisa mengerti dan tidak memberitahu Bianca tentang hal ini," balas Arga.
"Apa kau lupa jika Karina sudah memiliki tunangan?" tanya Daffa.
"Tentu saja aku ingat, dia bukanlah laki-laki yang baik untuk Karina dan saat ini dia sedang berada di luar kota tanpa mengetahui bagaimana keadaan Karina yang sebenarnya," jawab Arga.
"Apapun alasanmu kau benar-benar membuatku sangat kecewa padamu!" ucap Daffa.
"Tidak perlu terlalu berlebihan Daffa, biarkan aku menjalani apa yang sudah menjadi pilihanku," balas Arga.
"Kau sangat egois Arga, apa kau tidak memikirkan Bianca sama sekali? entah apa yang membuat kalian berdua membuat perjanjian konyol seperti itu tapi yang pasti Bianca pasti tersiksa dengan semua hal ini, dia hanya menjalankan apa yang menjadi pilihanmu tanpa dia tahu apa yang sebenarnya kau rencanakan!" ucap Daffa.
"Kenapa kau sangat membelanya Daffa? apa kau menyukainya?" tanya Arga.
Daffa tersenyum kecil dengan menundukkan kepalanya sebelum ia menjawab pertanyaan Arga.
Melihat hal itu Arga segera beranjak dari duduknya, raut wajahnya kini tampak menegang.
Daffa kemudian membawa langkahnya mendekati Arga, berdiri tepat di depan meja kerja Arga lalu mendekatkan wajahnya pada Arga.
"Bianca cantik, lebih cantik dari Lola bahkan mungkin lebih cantik dari semua perempuan yang pernah bersamaku, dia baik dan sangat menyenangkan jadi bagaimana mungkin laki-laki yang mengenalnya tidak akan jatuh cinta padanya," ucap Daffa dengan tersenyum seolah mengejek Arga.
"Jaga ucapanmu Daffa, jangan memancing emosiku disini!" balas Arga yang segera menarik kerah kemeja Daffa ke arahnya.
"Kenapa kau marah padaku? bukankah dia hanya istri di atas kontrak bagimu? apa kau tidak sadar jika sikapmu ini sangat berlebihan sebagai laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya?" tanya Daffa yang membuat Arga seketika melepaskan tangannya dari kerah kemeja Daffa.
Daffa hanya tersenyum tipis sambil merapikan kerah kemeja dan dasinya. Ia bisa melihat bagaimana Arga sangat marah atas apa yang ia ucapkan.
"Aku tahu bagaimana kau dulu sangat mencintai Karina tapi apa hatimu saat ini juga masih sama seperti dulu? atau kau mengejar Karina hanya untuk pelampiasan ambisimu saja?" tanya Daffa yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Dafa.
"Kau yang paling tahu tentang apa yang ada di hatimu Arga, sebagai sahabatmu aku hanya berharap kau tidak akan salah melangkah atau kau akan menyesal seumur hidupmu!" ucap Daffa lalu berjalan keluar dari ruangan Arga.
Arga menghela nafasnya kasar sambil melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.
Arga memikirkan apa yang Daffa katakan padanya, tentang bagaimana Daffa memuji Bianca dan tentang perasaan yang ada dalam hatinya yang sebenarnya.
Arga juga tidak mengerti kenapa ia begitu kesal mendengar apa yang Daffa katakan tentang Bianca.
"Aku tahu apa yang aku lakukan, semua ini demi Karina, bahkan aku melakukan hal bodoh ini demi membawa Karina kembali padaku, jika aku tidak melakukan hal ini tidak akan mungkin ada Bianca dalam hidupku," ucap Arga dengan menghela nafasnya kasar.
Waktupun berlalu, namun Arga tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Bukan memikirkan Karina tetapi memikirkan ucapan Daffa tentang Bianca.
"Apa benar Daffa menyukai Bianca? tapi bukankah dia sedang mendekati Lola?" batin Arga bertanya dalam hati yang membuatnya tanpa sadar mengetik nama Bianca pada file yang sedang ia kerjakan.
"Aku sangat mengenal Daffa, dia memang sangat pandai mendekati perempuan dan apa yang Daffa ucapkan tentang Bianca memang benar, siapapun laki-laki yang dekat dengan Bianca pasti akan dengan mudah jatuh cinta padanya," ucap Arga dalam hati.
"Aaargghhh apa yang aku pikirkan, Daffa tidak mungkin menyukai Bianca, dia tidak mungkin menyukai istri sahabatnya sendiri," ucap Arga dalam hati.
Arga menghela nafasnya panjang lalu berusaha untuk fokus pada layar komputer di hadapannya dan iapun begitu terkejut saat ia menyadari begitu banyak nama Bianca yang tertulis di layar komputernya.
"Astaga apa yang sudah aku lakukan, aaarrghhh...... semua ini benar-benar sudah membuatku bodoh!" ucap Arga lalu segera menghapus semua hasil ketikannya.
Arga menghela nafasnya panjang, berusaha untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya meskipun pada akhirnya ia hanya dia menatap kosong layar komputer di hadapannya tanpa melakukan apapun.
Bukan karena Arga malas tetapi ia masih belum bisa menghilangkan apa yang sudah Daffa katakan padanya tentang Bianca.
Tanpa sadar hal itu benar-benar sudah mengganggu konsentrasi Arga bahkan membuat emosi dalam dadanya bergemuruh.
__ADS_1