
Bianca masih berada di ruang tamu dengan memegangi perutnya yang semakin terasa sakit hingga akhirnya ia menyadari jika darah mulai merembes membasahi pakaiannya.
Bianca yang panik dan takutpun segera berteriak memanggil bibi, membuat bibi segera berlari ke arah Bianca dan begitu terkejut dengan apa yang terjadi pada Bianca.
"Astaga non, apa yang terjadi? bibi akan menghubungi tuan Arga sekarang juga!"
"Tidak bi..... Bianca harus ke rumah sakit sekarang..... tolong bawa Bianca ke rumah sakit bi....." ucap Bianca dengan menahan sakit yang semakin menjalar ke setiap bagian tubuhnya.
Dengan dibantu bibi, Bianca segera pergi ke rumah sakit bersama pak Dodi.
"Apa bibi sudah menghubungi tuan Arga?" tanya pak Dodi pada bibi.
"Belum pak, bibi sangat panik jadi tidak tau apa yang harus bibi lakukan," jawab bibi yang duduk di kursi belakang bersama Bianca.
Pak Dodi kemudian memberikan ponselnya pada bibi lalu meminta bibi untuk segera menghubungi Arga.
"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk......"
"Tidak tersambung pak," ucap bibi pada pak Dodi.
"Coba lagi bi," balas pak Dodi yang membuat bibi kembali menghubungi Arga.
"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk, silahkan....."
"Tetap tidak tersambung pak," ucap bibi pada pak Dodi.
"Mungkin tuan Arga sedang sibuk, yang penting sekarang kita harus bisa cepat sampai di rumah sakit," balas pak Dodi.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, pak Dodipun sampai di rumah sakit. Pak Dodi segera berlari mencari dokter dan perawat untuk memberi tahu keadaan Bianca yang ada di dalam mobil.
Dokter dan beberapa perawatpun segera berlari dengan membawa brankar lalu segera memindahkan Bianca dari mobil ke atas brankar lalu membawanya ke ruangan UGD.
Sedangkan pak Dodi dan bibi menunggu di depan ruang UGD dengan pak Dodi yang berusaha untuk menghubungi Arga.
"Astaga, kenapa tuan Arga tidak bisa dihubungi sejak tadi," ucap pak Dodi panik.
Di sisi lain, Bianca berteriak kesakitan saat ia berada di ruang UGD.
"Dok..... tolong selamatkan anak saya dok.... apapun yang terjadi..... " ucap Bianca pada dokter.
"Kita akan berusaha melakukan yang terbaik untuk ibu dan bayinya," jawab dokter yang mulai memeriksa keadaan Bianca dan bayinya.
Setelah beberapa lama memeriksa, dokter akhirnya memberi tahu Bianca jika ia harus melahirkan bayinya saat itu juga.
"Tapi usia kehamilan saya baru 8 bulan dok," ucap Bianca.
"Terjadi pendarahan dan kontraksi yang berlebihan, membuat janin masuk ke jalan lahir, tapi karena leher rahim belum terbuka dengan benar, satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah dengan operasi," jelas dokter.
"Operasi? tidak dok, saya tidak mau melakukan operasi, saya harus melahirkan anak saya dengan normal dok, saya..... aaaarggghhh......"
"Operasi adalah satu-satunya jalan terbaik yang bisa kita usahakan untuk menyelematkan keduanya, tapi jika pasien atau wali tidak menyetujuinya maka kami tidak bisa melakukan apapun," ucap dokter.
Bianca menggelengkan kepalanya dengan berusaha menahan rasa sakit di setiap bagian tubuhnya.
Bianca sama sekali tidak ingin melahirkan anaknya dengan cara operasi, ia merasa tidak bisa menjadi ibu yang sempurna jika ia tidak bisa melahirkan anaknya dengan cara normal.
Meskipun dokter dan para suster sudah berusaha menjelaskan dan membujuk Bianca, Bianca tetap pada pendiriannya karena ia yakin ia bisa melahirkan anaknya tanpa harus melakukan operasi.
**
Di tempat lain, Arga sedang memimpin meeting sejak pukul 10 siang. Ia menyadari ponselnya yang berdering saat ia sedang menjelaskan materi meetingnya, namun saat ia melihat ponselnya, ternyata sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.
Argapun mengabaikan pesan itu dan melanjutkan menjelaskan materi meetingnya, bahkan saat ponselnya kembali berdering karena sebuah pesan masuk, Arga sengaja mengabaikannya karena berpikir jika yang mengirim pesan adalah nomor yang sama.
Tiba-tiba sebuah panggilan masuk yang membuat Arga begitu kesal, karena ia tau jika yang menghubunginya saat itu adalah Karina.
Arga kemudian membuat ponselnya menjadi mode diam agar Karina yang terus menghubunginya tidak mengganggu konsentrasinya.
Saat Arga selesai menjelaskan presentasinya, Arga kemudian duduk di kursinya dan dilanjutkan Daffa yang menjelaskan bagiannya.
Saat baru saja duduk, Arga memeriksa ponselnya dan mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari anak buahnya yang ditugaskan untuk menjaga dan mengikuti Bianca, serta beberapa panggilan tak terjawab dari pak Dodi.
Arga juga membuka pesan masuk dari Bianca dimana Bianca mengirim sebuah foto kue dan ucapan terima kasih pada Arga.
Seketika Arga segera beranjak dari duduknya, membuat semua yang ada disana begitu terkejut dengan apa yang Arga lakukan.
__ADS_1
"Ada apa pak? apa ada....."
"Selesaikan semuanya Daffa, aku harus segera pergi!" ucap Arga memotong ucapan Daffa lalu segera berlari pergi meninggalkan ruangan meeting.
Arga berlari ke ruangannya untuk mengambil kunci mobilnya lalu berlari ke arah basement dan segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit karena orang suruhannya memberi tahu jika mobil yang dikendarai pak Dodi pergi ke rumah sakit bersama Bianca.
Arga mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, berharap tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada Bianca.
"Aku sama sekali tidak mengirim kue itu pada Bianca, jika sampai terjadi sesuatu pada Bianca karena kue itu, aku pastikan aku akan membalas siapapun yang melakukan hal itu pada Bianca!" ucap Arga dengan raut wajahnya yang menegang penuh amarah.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Arga segera menanyakan keberadaan Bianca lalu segera berlari ke arah ruangan Bianca dan mendapati bibi yang duduk disana bersama pak Dodi.
"Bi, apa yang terjadi pada Bianca bi?" tanya Arga khawatir.
"Non Bianca....."
"Apa anda walinya?" tanya dokter yang baru saja keluar dari ruangan Bianca.
"Iya dok, saya suaminya," jawab Arga.
Dokter kemudian menjelaskan pada Arga tentang bagaimana keadaan Bianca dan apa yang sebaiknya dilakukan, dokter juga menjelaskan jika Bianca bersikukuh untuk menolak operasi yang merupakan jalan terbaik satu-satunya yang Bianca miliki.
"Jika dibiarkan semakin lama, tidak hanya membahayakan nyawa bayi dalam kandungannya, tapi juga bisa membahayakan sang ibu," ucap dokter di akhir penjelasannya.
"Bisakah saya berbicara dengannya dok?" tanya Arga.
"Tentu saja, akan lebih baik jika pasien bisa berubah pikirkan agar bisa segera dilakukan operasi," jawab dokter.
Arga menganggukkan kepalanya lalu masuk ke ruangan Bianca.
"Arga...." panggil Bianca setelah ia melihat Arga yang masuk ke ruangannya.
"Bee.... dokter sudah menjelaskan semuanya padaku, kau harus melakukan operasi Bee, hanya itu cara terbaik untuk menyelematkanmu dan bayi kita," ucap Arga sambil menggenggam tangan Bianca.
"Tapi aku tidak ingin melakukan operasi Arga, aku harus melahirkannya dengan normal, aku tidak mau dianggap sebagai ibu yang gagal jika aku melakukan operasi," balas Bianca.
"Tidak Bee, bagaimana kau melahirkannya, kau akan tetap menjadi ibu yang terbaik, kau tetap berjuang mempertaruhkan nyawamu demi anak kita Bianca," ucap Arga.
"Tidak Arga, aku..... aaaarggh......"
"Kau adalah istri sekaligus ibu terbaik Bianca, kau menahan semua rasa sakit ini demi anak kita, sekarang waktunya kau untuk menerima saran dokter, demi keselamatanmu dan juga anak kita, aku mohon padamu Bianca," ucap Arga yang semakin erat menggenggam tangan Bianca.
Bianca hanya diam menahan rasa sakit yang semakin menyiksa bersama air mata yang luruh dari kedua sudut matanya.
Setelah beberapa lama Arga berusaha membujuk Bianca, akhirnya Bianca menerima saran dokter untuk melakukan operasi.
Dengan ditemani oleh Arga yang berdiri di samping ranjang Bianca dan menggenggam tangan Bianca, perlahan pandangan Bianca mulai kabur hingga akhirnya ia terpejam dan tidak merasakan apapun.
Untuk beberapa saat Bianca seperti menghilang dari kehidupannya.
"Bertahanlah Bee, aku yakin kau pasti bisa melewati semua ini," ucap Arga dalam hati dengan menggenggam erat tangan Bianca.
Setelah beberapa waktu berlalu, dokter akhirnya berhasil melakukan tugasnya dengan baik.
Bayi mungil dengan suara tangisannya yang terdengar pelan itu mulai dibawa masuk ke dalam inkubator.
Seketika Arga tidak bisa menahan rasa harunya, air matanya menetes begitu saja melihat bayi mungilnya yang baru saja menghirup udara baru.
Dokter kemudian menjelaskan pada Arga jika semuanya berjalan dengan lancar. Ibu dan bayi bisa melewati semuanya dengan baik meskipun si bayi masih harus tinggal beberapa lama dalam inkubator.
"Terima kasih Bee, kau sudah menjadi ibu yang hebat sekarang," ucap Arga lalu mendaratkan kecupan singkatnya pada Bianca yang masih terpejam.
Arga kemudian menghubungi orang tuanya, memberi tahu tentang keadaan Bianca dan bayinya yang baru saja lahir dengan cara operasi.
Meskipun tidak berjalan sesuai dengan rencana yang sudah disiapkan oleh orang tua Arga, tetapi orang tua Arga tetap bersyukur karena semuanya berakhir baik-baik saja.
**
Hari berganti. Bianca kini sudah bisa melihat bayi mungilnya meskipun ia hanya bisa menyentuhnya tanpa menggendongnya.
"Dia sangat tampan sepertimu Arga," ucap Bianca sambil menyentuh tangan mungil sang bayi.
"Tentu saja, dia akan menjadi laki-laki yang lebih hebat daripada aku, dia juga akan menjadi laki-laki yang ceria sepertimu Bee," balas Arga.
Setelah puas menyentuh dan menatap bayi mungilnya, Bianca kemudian kembali ke ruangannya karena ia juga harus beristirahat dengan cukup untuk memulihkan kondisinya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Daffa dan Lola datang, Lola menemani Bianca di dalam ruangan, sedangkan Arga keluar bersama Daffa.
"Aku sudah memeriksa sisa kue yang Bianca makan, aku membawanya ke lab dan ternyata ada kandungan oksitosin yang memicu kontraksi rahim dan sangat tidak disarankan untuk digunakan pada kehamilan sebelum usia 9 bulan," jelas Daffa.
"Bagaimana dengan CCTV? apa kau sudah memeriksanya?" tanya Arga.
"Sudah, memang ada seseorang dengan menggunakan jaket kurir yang mengantar kue itu pada Bianca tapi setelah aku mencari tau lebih jauh, ternyata dia adalah....."
"Karina?" terka Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Daffa.
Arga tersenyum tipis lalu membawa dirinya duduk di kursi yang ada di dekatnya.
"Ternyata dia belum tau sejauh apa aku bisa bertindak," ucap Arga.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang Arga? apa aku harus mencari keberadaannya?" tanya Daffa.
"Tidak perlu, kau sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik Daffa dan aku sangat berterima kasih, sekarang biarkan aku yang melanjutkan sisanya," jawab Arga.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Arga masih menemani Bianca di ruangannya.
"Kapan kau akan mulai bekerja, Arga?" tanya Bianca pada Arga.
"Aku bisa bekerja dari sini Bee, aku tidak akan pergi ke kantor sebelum keadaanmu pulih," jawab Arga.
"Apa Daffa akan baik-baik saja jika kau tidak pergi ke kantor?" tanya Bianca.
"Semuanya tetap berjalan seperti biasa Bee, hanya saja aku tidak berada di kantor dan Daffa yang menggantikan meetingku, jadi jangan terlalu memikirkan hal itu," jawab Arga.
Biiiiippp biiiipp biiiiipp
Ponsel Arga berdering, sebuah pesan masuk dari Daffa.
"Aku menunggumu di depan."
"Bee, aku harus menemui Daffa sebentar di depan, kau beristirahatlah, ini sudah malam," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Arga kemudian membawa langkahnya keluar dari ruangan Bianca lalu berjalan menemui Daffa.
"Katakan padaku Arga, apa rencanamu untuk membalas perbuatan Karina pada Bianca!" ucap Daffa pada Arga.
"Aku masih memikirkannya, tapi yang pasti aku akan membuatnya jera," balas Arga.
"Apa kau belum melakukan apapun padanya?" tanya Daffa.
"Belum, aku....."
"Lihatlah!" ucap Daffa memotong ucapan Arga sambil menunjukkan sebuah artikel yang baru saja terbit.
Baru Saja Kabur dari Penjara, Karina Aurora Ditemukan Bunuh Diri di Rumahnya
"Tidak, ini tidak mungkin," ucap Arga dengan menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya.
"Apa kau baru mengetahui hal ini?" tanya Daffa memastikan.
"Aku belum melakukan apapun padanya Daffa, aku belum membalas dendamku padanya dan aku belum membuatnya menyesali perbuatannya," jawab Arga dengan raut wajahnya yang penuh emosi.
Keputusan Karina yang mengakhiri hidupnya membuat Arga begitu marah. Emosi dan dendam yang ia pendam belum sempat terlampiaskan pada perempuan yang sudah mencelakakan istri dan calon buah hatinya.
"Apa yang membuatmu sangat marah Arga? bukankah ini hal yang baik agar tidak ada lagi yang mengganggu hubunganmu dengan Bianca?" tanya Daffa tak mengerti.
"Apa kau belum mengenalku dengan baik Daffa? aku tidak pernah melepaskan orang-orang yang aku benci dengan mudah, setidaknya aku harus membuat dunianya hancur, membuatnya hidup seperti di neraka dan membuatnya menyesali perbuatannya," jelas Arga.
"Sekarang buang jauh-jauh semua kebencianmu pada Karina, dia sudah memilih untuk menyerah dan pergi, sudah tidak ada lagi yang bisa kau perbuat untuk membalas dendammu padanya, jadi lebih baik fokus saja pada keluarga kecilmu dan lupakan semua kebencian dan dendammu, Arga!"
Arga hanya diam, ia masih tidak bisa menerima kenyataan jika Karina benar-benar sudah mengakhiri hidupnya sebelum Arga membalaskan dendamnya pada Karina.
**
2 bulan berlalu, Bianca dan Arga menikmati waktu mereka sebagai orang tua baru yang sibuk dengan bayi mungil mereka.
Perlahan, Arga mulai melupakan tentang kebencian dan dendamnya pada orang-orang yang mencari masalah dengannya.
Kini Arga mulai bisa mengendalikan emosinya dan berpikir dengan lebih jernih sebelum melakukan tindakan yang biasa ia lakukan untuk membalas orang-orang yang bermasalah dengannya.
Kehadiran bayi mungil di dalam rumahnya membawa lebih banyak kebahagiaan bagi Bianca dan Arga. Mereka sama-sama berusaha untuk menjadi orang tua yang terbaik bagi bayi mungil mereka yang kini sudah tumbuh dengan sehat.
__ADS_1