
Untuk beberapa saat Bianca hanya terdiam. Ia tidak menyangka jika Tante yang sangat dipercaya sang papa itu ternyata sangat jahat.
"Ayolah Bianca, hanya 50 juta, kau bisa memintanya pada suamimu bukan?"
"Bianca akan memberikan uang itu pada Tante asalkan Tante janji untuk tidak melibatkan orang tua Arga," balas Bianca.
"Pilihan yang bijak, jadi kapan kau akan memberikan uang itu pada Tante?"
"Bianca akan mencicilnya setiap bulan, jadi...."
"Mencicilnya? tidak..... Tante menginginkan uang 50 juta itu sekarang juga, jika sampai besok pagi kau belum memberikan uang itu, Tante akan benar benar mendatangi mertuamu dan meminta uang itu pada mereka!"
"Tante, Bianca....."
"Ada apa sayang?" tanya Arga yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan menghampiri Bianca.
"Arga, kau sudah pulang?" balas Bianca yang begitu terkejut dengan kedatangan Arga.
"Iya, aku sengaja pulang cepat karena merindukanmu," ucap Arga sambil membelai rambut Bianca.
Tanpa Bianca tahu, sebenarnya Arga mendengar pembicaraan Bianca dengan Tante Felly.
"Waahh kalian romantis sekali," ucap Tante Felly.
"Siapa dia Bee?" tanya Arga pada Bianca dengan membawa pandangannya pada Tante Felly.
"Aahh ini Tante Felly yang...."
"Yang merawat Bianca setelah orang tuanya meninggal," sahut Tante Felly.
"Aaahh begitu, terima kasih sudah merawat Bianca dengan baik Tante," ucap Arga.
"Tante sudah menganggap Bianca seperti anak Tante sendiri Arga, jadi Tante sangat menyayanginya," balas Tante Felly.
"Kau beruntung sekali memiliki Tante yang sangat baik Bee," ucap Arga dengan tersenyum ke arah Bianca yang tampak kesal saat itu.
"Sebenarnya Tante kesini karena Tante ingin...."
"Masalah Tante dengan Bianca, jadi bicarakan saja dengan Bianca, sebaiknya Tante pulang dulu, besok Bianca akan menemui Tante di rumah," ucap Bianca memotong ucapan Tante Felly.
"Apa kau akan membawa semuanya besok?" tanya Tante Felly.
"Bianca akan mengusahakannya," jawab Bianca.
"Baiklah kalau begitu, Tante akan selalu bersabar padamu Bianca," ucap Tante Felly kemudian berpamitan pulang.
Kini hanya ada Arga dan Bianca di ruang tamu. Bianca menghela nafasnya panjang lalu menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Ada apa Bee?" tanya Arga pada Bianca.
"Bee?"
"Bianca!" balas Arga.
"Tidak ada apa-apa, aku ke kamar dulu," ucap Bianca kemudian berjalan masuk ke kamarnya.
"Kenapa kau tidak memberi tahuku Bianca? apa kau mempunyai uang 50 juta yang diminta tantemu?" batin Arga bertanya dalam hati.
Di dalam kamarnya, Bianca memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan untuk menghadapi Tante Felly.
Tapi sudah lama Bianca berpikir, tidak ada jalan lain selain memberikan apa yang Tante Felly inginkan.
"Tidak jalan lain yang bisa aku lakukan, untuk saat ini aku tidak bisa membuat orang tua Arga membenciku, setidaknya saat aku masih terikat kontrak dengan Arga," ucap Bianca.
Bianca kemudian memeriksa semua tabungannya dan seperti yang sudah ia duga, tabungan miliknya sangat jauh dari 50 juta.
Tiba-tiba Bianca teringat ATM yang Arga berikan padanya. Arga memberikan ATM itu pada Bianca dengan nominal 100 juta di dalamnya. Ditambah dengan uang yang selalu Arga transfer ke rekening itu setiap seminggu sekali.
"Aku tidak tahu pasti berapa uang yang ada di kartu ATM ini, tapi aku yakin pasti lebih dari 100 juta, apa aku harus menggunakan uang ini?" tanya Bianca dengan menatap kartu ATM di tangannya.
"Tidak..... aku tidak mungkin menggunakannya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menggunakan uang ini dan akan mengembalikannya pada Arga setelah kontrak kita selesai," ucap Bianca kemudian kembali menyimpan kartu ATM pemberian Arga.
**
Di tempat lain, Arga sedang duduk di tepi ranjangnya dengan memegang sebuah map yang berisi beberapa lembar kertas.
Di dalamnya berisi semua informasi tentang Bianca dan keluarganya yang ia dapatkan dari orang suruhannya.
"Sudah ku duga, Bianca memang anak tunggal, apa mungkin Bara adalah saudaranya? dilihat dari perhatiannya pada Bianca sepertinya tidak mungkin jika mereka tidak memiliki hubungan apapun," ucap Arga.
"Apa sebaiknya aku menanyakannya pada Lola? aahhh tidak.... Lola sangat membenciku, mana mungkin dia mau memberi tahuku tentang Bara, lagipula aku tidak ingin dia berpikir jika aku benar-benar peduli pada Bianca!"
__ADS_1
Kriiing..... kriiing..... kriiing.....
Telepon di kamar Arga berdering, Argapun segera mengambil gagang telepon yang ada di atas mejanya.
"Maaf mengganggu Tuan, sepertinya saya menemukan cincin milik ibu di dapur," ucap bibi.
"Cincin milik mama? apa bibi yakin itu milik mama?" tanya Arga.
"Iya Tuan, ada nama ibu yang terukir di bagian dalam cincinnya," jawab bibi.
"Bibi bawa saja naik, Arga akan memeriksanya," ucap Arga.
"Baik Tuan."
Tak lama kemudian bibi datang. Argapun memeriksa cincin yang bibi bawa dan benar saja, itu adalah cincin sang mama.
"Kenapa cincin mama ada di dapur bi?" tanya Arga.
"Sepertinya terjatuh saat ibu sedang memasak kemarin Tuan," jawab bibi.
"Mama memasak?" tanya Arga mengulang ucapan bibi.
"Iya, kemarin ibu memasak dan makan siang bersama non Bianca," jawab bibi.
"Aahhh jadi mama tidak pergi setelah Arga pergi?" tanya Arga yang dibalas anggukan kepala oleh bibi.
"Baiklah bi, terima kasih sudah mengembalikan cincin mama, Arga akan memberi tahu mama nanti," ucap Arga.
Arga kemudian menaruh cincin sang mama di dalam laci lalu menghubungi sang mama untuk memastikan dan benar saja sang mama memang kehilangan cincin itu.
"Arga akan memberikannya pada mama saat Arga kesana," ucap Arga pada sang mama.
"Baiklah, tolong jaga cincin itu sayang, itu cincin pemberian papa!"
"Iya ma, tapi apa yang Mama lakukan disini kemarin? bukankah mama pergi setelah Arga pergi?"
"Tidak, mama hanya menyuruh supir mama pergi, tapi mama tetap di rumahmu, kau pikir mama tidak tahu jika kau sedang bertengkar dengan Bianca?"
"Apa Bianca yang memberi tahu mama?" tanya Arga.
"Tentu saja tidak, dia selalu berusaha terlihat baik-baik saja di depan mama, tapi mama tahu jika memang terjadi sesuatu diantara kalian berdua," jawab Nadine.
"Tidak, dia hanya lebih banyak diam kemarin, mama yang banyak berbicara padanya, sekedar menasihatinya agar dia bisa memahami sifatmu yang terkadang sangat keras kepala!" jelas Nadine.
"Mama tidak memarahinya bukan?"
"Tentu saja tidak, mama sangat menyayanginya seperti mama menyayangimu, mama sudah menganggap dia seperti anak mama sendiri," jawab Nadine.
"Mama berlebihan sekali!" ucap Arga.
"Mama serius Arga, dia memang perempuan yang sempurna untukmu, mama harap kalian bisa mempertahankan pernikahan kalian sampai maut menjemput," balas Nadine.
Arga hanya diam. Dalam hatinya ada rasa bersalah pada sang mama mengingat jika pernikahannya dengan Bianca hanyalah sebatas kontrak yang sudah ia sepakati dengan Bianca.
**
Hari berganti, pagi itu Arga meninggalkan rumah lebih pagi dari biasanya. Bukan untuk pergi ke kantor, melainkan untuk menemui Tante Felly tanpa sepengetahuan Bianca.
Sesampainya di rumah Tante Felly yang merupakan rumah milik orang tua Bianca, Argapun keluar dari mobilnya.
"Arga, apa itu kau?" tanya Tante Felly yang saat itu sedang menyiram tanaman di halaman kecilnya.
"Iya Tante," jawab Arga.
Dengan penuh senyum Tante Fellypun membuka gerbang rumahnya lalu mempersilakan Arga masuk.
"Arga tidak akan lama karena Arga harus pergi ke kantor," ucap Arga.
"Aahh iya, tapi kenapa kau datang kesini sepagi ini? apa Bianca yang memintamu datang?"
"Tidak, Bianca tidak tahu jika Arga menemui Tante Felly sekarang," jawab Arga yang membuat Tante Felly mengernyitkan keningnya.
"Sebenarnya Arga mendengar semua pembicaraan Tante dengan Bianca," ucap Arga yang membuat Tante Felly sedikit terkejut.
"Aahh kau mendengarnya ternyata, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Tante Felly.
Arga kemudian mengeluarkan selembar kertas yang merupakan cek dengan nominal 60 juta, lebih dari yang Tante Felly inginkan.
"Arga harap Tante Felly tidak akan mengganggu Bianca lagi mulai sekarang," ucap Arga.
Tante Felly tersenyum senang saat ia melihat angka 60 juta pada lembar cek yang ia terima dari Arga.
__ADS_1
"Apa maksudmu Arga? kenapa kau berkata seperti itu? tante hanya meminta apa yang menjadi hak tante, mungkin apa yang Tante ucapkan pada bianca terdengar seperti ancaman, tapi sebenarnya tidak begitu!"
"Perlu Tante tahu, Arga memberikan cek ini bukan karena ancaman Tante, tapi karena Arga tidak ingin Bianca merasa memiliki hutang pada Tante," ucap Arga.
"Itu tidak penting, yang penting Tante mendapatkan uang Tante," balas Tante Felly.
"Arga harap ini adalah pertemuan kita yang terakhir, jika Tante mengganggu Bianca lagi maka jangan salahkan Arga jika Arga akan bersikap tidak sopan pada Tante Felly!" ucap Arga dengan penuh ketegasan.
"Ucapanmu terdengar sangat sombong anak muda, yang kaya raya sebenarnya adalah orang tuamu, kau....."
"Tante tidak tahu apapun tentang Arga dan keluarga Arga, jika Tante ingin menguji seberapa besar kekuasaan yang Arga miliki, silakan saja, tapi itu akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidup Tante," ucap Arga memotong ucapan Tante Felly.
"Kau benar benar....."
"Aahhh ya satu lagi, semua media di negara ini ada dalam kendali Arga, jika sampai Tante membocorkan masa lalu Bianca maka sangat mudah bagi Arga untuk membawa Tante masuk ke dalam jeruji besi, ini bukan ancaman, ini hanya peringatan agar Tante bijak dalam bertindak!" ucap Arga.
Seketika Tante Felly terdiam. Ucapan Arga yang tanpa ragu membuat nyalinya menciut.
"Tolong ingat kata-kata Arga dengan baik Tante, jangan pernah mencari masalah dengan Bianca jika Tante ingin hidup dengan tenang, Arga permisi!" ucap Arga kemudian berjalan pergi begitu saja.
Sedangkan Tante Felly masih berdiri di tempatnya dengan memegang cek pemberian Arga. Jantungnya berdetak kencang, ada rasa takut dalam dirinya atas ancaman yang Arga berikan padanya.
"Apa tidak seharusnya aku menerima uang 60 juta ini?" tanya Tante Felly pada dirinya sendiri.
"Aahhh bodo amat, dia yang memberikannya padaku, ini tidak akan jadi masalah asalkan aku tidak mengganggu Bianca lagi!"
Belum lama setelah Arga pergi, Bianca sudah datang dan segera menghampiri Tante Felly.
"Bianca.... kenapa kau kesini?" tanya Tante Felly gugup.
"Kenapa? tentu saja untuk membicarakan uang yang Tante minta," balas Bianca.
"Aahhh itu.... mmmm.... lupakan saja, tante sudah tidak membutuhkannya," ucap Tante Felly.
Bianca mengernyitkan keningnya, ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Tante Felly tidak menginginkan uang itu setelah sebelumnya memaksa Bianca bahkan mengancam Bianca agar memberikan uang itu.
"Pulanglah, Tante sedang sibuk," ucap Tante Felly lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Namun bukannya pergi, Bianca malah berjalan cepat ke arah Tante Felly dan menahan tangan Tante Felly.
"Ada apa Tante? kenapa Tante tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Bianca yang merasa ganjal dengan sikap sang Tante.
"Tidak ada apa-apa, tidak seharusnya Tante tidak melakukan hal itu padamu, maafkan Tante," ucap Tante Felly lalu berjalan masuk ke dalam rumah namun Bianca kembali menahan tangan Tante Felly.
Tiba-tiba selembar kertas terjatuh dari tangan Tante Felly, membuat bianca segera mengambilnya dan membacanya.
Ia begitu terkejut saat ia melihat kertas apa yang ada di tangannya saat itu.
"Apa Arga baru saja menemui tante?" tanya Bianca.
"Tidak," jawab Tante Felly sambil berusaha merebut cek itu dari tangan Bianca, namun dengan cepat Bianca menghindar.
"Kembalikan Bianca, itu milik Tante!" ucap Tante Felly.
"Jawab pertanyaan Bianca dengan jujur Tante, apa cek ini pemberian Arga?" tanya Bianca.
"Iya, itu memang pemberian Arga, sekarang cepat kembalikan pada Tante!" jawab Tante Felly yang masih berusaha merebutnya dari tangan Bianca, namun tidak berhasil.
"Kenapa Tante menerimanya? bukankah Bianca sudah bilang jika masalah ini antara Bianca dan Tante?"
"Arga memberikan lebih dari yang Tante inginkan Bianca, wajar bukan jika Tante menerimanya, seharusnya kau berterima kasih pada Arga karena dengan begini kau tidak perlu membayarnya pada Tante!"
"Tidak, Bianca akan mengembalikan cek ini pada Arga," ucap Bianca lalu berjalan pergi dengan membawa cek milik tante Felly.
"Kau tidak bisa membawanya Bianca, itu milik Tante!" ucap Tante Felly sambil berlari kecil mengejar Bianca.
"Bianca akan memberikan 50 juta yang Tante inginkan, suka atau tidak Bianca akan mencicilnya semampu Bianca, terserah apa yang akan Tante lakukan setelah ini tapi seperti yang Tante tahu, Arga tidak akan tinggal diam jika ada yang mengusiknya," ucap Bianca dengan tegas.
Seketika Tante Felly terdiam, sedangkan Bianca segera berjalan pergi meninggalkan Tante Felly.
"Aaargghhh siiaaallll!!!" teriak Tante Felly kesal.
Di tempat lain, Bianca segera pulang ke rumah dengan menggunakan taksi. Ia tau jika ada mobil hitam yang mengikutinya sejak tadi, tapi ia mengabaikannya karena ia tau jika mereka adalah orang-orang suruhan Arga.
Sesampainya di rumah, Biancapun segera membawa langkahnya menaiki tangga. Namun saat ia sampai di lantai dua, ia ragu untuk melanjutkan langkahnya.
Ia ingat jika Arga melarangnya untuk naik ke lantai 3. Namun setelah beberapa lama berpikir, Bianca akhirnya membawa langkahnya menaiki satu per satu anak tangga.
"Terserah dia akan marah atau tidak, aku ke lantai 3 hanya untuk menaruh cek ini di bawah pintu kamarnya," ucap Bianca lalu menaruh selembar cek di bawah pintu kamar Arga kemudian kembali turun ke lantai satu.
"Aku pasti bisa memberikan 50 juta itu dengan uangku sendiri, walaupun aku tidak tahu kapan aku bisa menyelesaikan 50 juta itu dengan cicilan yang tidak seberapa!" ucap Bianca dalam hati.
__ADS_1