Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Memasak Bersama


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 petang. Arga dan Bianca memutuskan untuk memasak di dapur bersama setelah mereka membicarakan banyak hal di balkon.


"Oke, jadi kita akan memasak apa untuk makan malam hari ini?" tanya Arga saat ia sudah berada di dapur bersama Bianca.


"Mari kita lihat apa yang disimpan bibi di kulkas," balas Bianca sambil membuka kulkas.


"Oke aku tahu apa yang akan kita masak," ucap Arga setelah beberapa detik ia melihat bahan-bahan yang ada di kulkas.


"Memangnya apa yang akan kita masak? kau bahkan baru saja melihatnya," tanya Bianca.


"Serahkan padaku, keluarkan semua sayuran dan ayam yang ada di kulkas," jawab Arga.


"Baik chef," balas Bianca.


Bianca kemudian mengeluarkan bahan-bahan sesuai dengan perintah Arga.


"Cuci sayur-sayur ini setelah itu potong, aku akan mengurus ayamnya!" ucap Arga pada Bianca.


"Baik chef," balas Bianca lalu mencuci satu per satu sayur yang ada di hadapannya.


Bianca kemudian memotong sayur itu satu per satu dengan sangat pelan.


"Apa kau akan terus seperti itu memotongnya?" tanya Arga memperhatikan Bianca yang memotong sayuran dengan sangat pelan.


"Apa ada yang salah? apa ini terlalu besar atau terlalu kecil?" tanya Bianca.


"Ukurannya sudah sesuai, tapi kau terlalu lambat Bianca," jawab Arga.


"Jika aku memotongnya dengan cepat ukurannya akan berbeda-beda dan itu akan mempengaruhi tingkat kematangannya, benar seperti itu bukan!" balas Bianca.


"Kau benar, tapi kita akan makan malam setelah matahari terbit jika kau terus seperti itu," ucap Arga yang kemudian mengambil alih pisau yang Bianca pegang.


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Bianca.


"Perhatikan saja chef yang tampan ini hahaha...." jawab Arga sambil menunjukkan keterampilannya dalam memotong sayur.


"Aku tidak bisa mencela karena memang kau memiliki kemampuan yang bisa kau sombongkan!" ucap Bianca dengan menganggukkan kepalanya.


"Hahaha.... ini hanya hal kecil Bianca, jika kau sering melakukannya kau pasti akan terbiasa," balas Arga.


"Baik chef, saya akan sering memasak mulai sekarang," ucap Bianca.


"Tidak, jangan lakukan itu, itu adalah tugas bibi," balas Arga.


"Tapi aku tidak akan pernah bisa memasak jika aku tidak mencobanya," ucap Bianca.


"Kau akan tetap terlihat cantik meskipun tidak bisa memasak Bianca, jadi pastikan kau mendapatkan suami yang kaya raya agar dia bisa menggaji asisten rumah tangga untuk memasak," ucap Arga.


Bianca hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Ucapan Arga seolah memastikan jika Arga bukanlah suami untuk selamanya baginya, karena pada kenyataannya memang hubungan suami istri dalam pernikahan mereka hanya akan berjalan selama 2 tahun.


"Kita akan membuat sup ayam kesukaanku," ucap Arga setelah ia selesai memotong sayuran.


"Kenapa kau sangat menyukai sup ayam? bibi bilang kau selalu meminta makan sup ayam saat kau sakit," tanya Bianca penasaran.


"Aku juga tidak tahu, semua makanan terasa hambar di lidahku selain sup ayam buatan bibi," jawab Arga.


"Apa bibi sudah bekerja cukup lama disini?" tanya Bianca.


"Bibi bekerja bersama orang tuaku sejak aku masih kecil Bianca dan setelah aku dewasa mama meminta bibi untuk ikut denganku setelah aku memutuskan untuk tinggal di rumahku sendiri," jelas Arga.


"Aaahhh pantas saja bibi sangat mengenalmu dengan baik," ucap Bianca.


"Memangnya kenapa? apa bibi mengatakan sesuatu padamu?" tanya Arga yang segera dibalas gelengan kepala oleh Bianca.


"Tidak," jawab Bianca.


"Kau beruntung banyak orang-orang baik di sekitarmu seperti bibi dan Daffa, pasti karena kau juga sangat baik pada orang-orang di sekitarmu," lanjut Bianca.


Arga hanya tersenyum sambil memasukkan potongan wortel dan kentang ke dalam air yang baru saja direbusnya.


"Aahh iya Lola mengatakan padaku jika dia akan berlibur bersama Daffa selama 2 hari, apa Daffa juga mengatakannya padamu?" ucap Bianca sekaligus bertanya pada Arga.


"Iya dia meminta cuti selama 2 hari dan dia memohon kepadaku agar aku tidak mengganggunya selama dia cuti," balas Arga.


"Apa kau memang selalu mengganggunya saat dia sedang libur?" tanya Bianca.


"Banyak hal yang terjadi diluar perkiraan Bianca, tidak ada orang lain yang aku percaya selain Daffa, jadi ya... begitulah hehehe....."


"Sebegitu besarnya rasa percayamu pada Daffa?" tanya Bianca.


"Tentu saja, dia yang selama ini selalu membantuku dalam banyak hal," jawab Arga.


"Bahkan dalam hal kotor sekalipun," lanjut Arga dalam hati.

__ADS_1


"Sepertinya Daffa benar-benar menyukai Lola," ucap Arga.


"Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" tanya Bianca.


"Dia sering bercerita tentang Lola padaku, dia berpikir jika Lola berbeda dari semua perempuan yang pernah dia dekati dan sejauh yang aku tahu tidak akan sulit bagi Daffa untuk mendapatkan perempuan manapun yang dia sukai kecuali Lola yang membuatnya harus memikirkan banyak cara untuk bisa mendekatinya," jelas Arga.


"Tapi sepertinya aku tidak akan mudah percaya dengan ucapanmu itu karena kau adalah temannya, teman sekaligus partner in crime!" ucap Bianca.


"Kau benar, memang tidak seharusnya kau mudah mempercayai ucapan orang lain bahkan orang terdekatmu sekalipun," balas Arga.


Setelah beberapa lama berkutat di dapur akhirnya dua mangkok sup ayam hangatpun telah tersaji di atas meja.


Arga dan Biancapun menikmati masakan yang sudah mereka berdua buat bersama.


"Hmmm ..... ini enak sekali, tidak kalah dengan sup ayam buatan bibi," ucap Bianca.


"Aku sudah lama mempelajari masakan ini dari bibi, jadi aku pastikan rasanya akan mirip dengan buatan bibi," balas Arga.


Setelah menghabiskan makan malam mereka, mereka belum beranjak dari duduknya karena membicarakan banyak hal.


Sesekali terdengar tawa yang memenuhi rumah itu saat Arga dan Bianca saling melempar candaan mereka.


"Aahh ya, apa saat kau menemui orang-orang itu kau bersama Daffa?" tanya Bianca.


"Iya aku bersamanya, dia sendiri yang meminta untuk ikut," jawab Arga.


"Apa dia juga terluka sepertimu?" tanya Bianca khawatir.


"Tidak, apa kau mengkhawatirkannya?" balas Arga.


"Tentu saja, jika aku tahu kalian berdua akan menemui orang-orang itu aku pasti sudah melarang, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kalian berdua," ucap Bianca.


"Jika kau memiliki suami yang kau cintai nanti jangan khawatirkan laki-laki lain seperti itu, kau pasti akan membuat suamimu cemburu!" ucap Arga.


"Apa kau sedang cemburu sekarang?" tanya Bianca dengan tersenyum.


"Cemburu? tentu saja tidak, untuk apa aku cemburu pada Daffa? dia bukan sainganku karena aku jauh lebih baik daripada dia," jawab Arga dengan kesombongannya.


"Kau dan kesombonganmu itu yang membuatmu sangat berbeda dengan Daffa," ucap Bianca.


"Aku menyombongkan apa yang aku miliki, apa aku salah?" balas Arga.


"Hmmm..... terserah kau saja," ucap Bianca sambil beranjak dari duduknya lalu membawa mangkok miliknya dan milik Arga ke dapur.


"Biarkan bibi yang mencucinya Bianca," ucap Arga pada Bianca.


"Kita yang membuat dapur ini berantakan Arga, setidaknya aku harus bertanggung jawab," balas Bianca.


"Oke baiklah, sekali-kali meringankan tugas bibi," ucap Arga lalu berdiri di samping Bianca dan menggeser posisi Bianca.


"Apa yang kau lakukan? pergilah, apa tidak ada pekerjaan lain yang harus kau kerjakan?" tanya Bianca sambil merebut mangkok kotor dari tangan Arga.


Arga hanya tersenyum dengan menatap Bianca, tanpa Bianca tahu tangan Arga sedang menyentuh busa sabun yang cukup banyak lalu segera menempelkannya di pipi Bianca saat Bianca lengah.


"Arga... kau bisa membuat wajahku berjerawat!" ucap Bianca kesal lalu ikut mengambil busa di tangannya, berniat untuk membalas perbuatan Arga.


Namun Arga menahan tangan Bianca yang memegang busa, membuat Bianca kesulitan untuk menyentuh wajah Arga dengan busa di tangannya.


"Arga, kau curang!" ucap Bianca yang terus berusaha menyentuh wajah Arga.


"Hahaha.... ini namanya taktik Bianca," balas Arga.


"Ehem!!"


Suara deheman yang cukup keras membuat Bianca dan Arga seketika membawa pandangan mereka ke arah sumber suara.


Mereka begitu terkejut saat melihat Mama Nadine yang sudah berdiri disana dengan tersenyum.


Menyadari tangannya yang masih dipegang oleh Arga, Biancapun segera menarik tangannya dari Arga.


"Sejak kapan mama disini?" tanya Arga pada sang mama.


"Lanjutkan saja, mama tidak akan mengganggu," ucap Nadine dengan tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Arga.


Nadine kemudian berjalan meninggalkan dapur, sedangkan Bianca dan Arga segera melanjutkan mencuci barang dapur yang kotor di hadapan mereka.


Setelah semua cucian itu bersih, Bianca segera membawa langkahnya untuk keluar dari dapur. Namun Arga segera menahan tangan Bianca dan menghapus busa yang ada di pipi Bianca.


"Kau tidak mungkin menemui mama dalam keadaan seperti ini bukan!" ucap Arga dengan tersenyum.


"Aku belum kalah Arga, aku akan membalasmu suatu hari nanti," balas Bianca lalu keluar dari dapur setelah memastikan tidak ada busa di wajahnya.


Arga hanya terkekeh lalu mengikuti langkah Bianca untuk menemui sang Mama yang menunggu mereka di ruang tengah.

__ADS_1


"Apa kalian memang sering mencuci piring selama ini?" tanya Nadine dengan membawa pandangannya pada Arga dan Bianca yang baru saja duduk.


"Mencuci piring?" tanya David yang juga berada disana saat itu.


"Tidak ma, pa, kebetulan malam ini kita baru saja memasak bersama jadi sekalian kita yang mencuci semua peralatan dapur yang kotor," jelas Arga.


"Memasak bersama? waahh romantis sekali," ucap Nadine penuh senyum.


"Anak papa memang selalu pandai menyenangkan perempuannya," sahut David yang membuat Bianca dan Arga hanya tersenyum canggung.


"Ada apa mama dan papa kesini? biasanya kalian selalu meminta Arga untuk datang kesana jika ada yang harus dibicarakan," tanya Arga pada mama dan papanya.


"Sebenarnya mama ragu apakah mama harus mengatakan hal ini pada kalian atau tidak, tapi.... sepertinya mama harus mengatakannya," jawab Nadine ragu.


"Sebelumnya jangan salah paham atas apa yang Mama ucapkan pada kalian, ini hanyalah sebagai bentuk perhatian mama dan papa pada kalian berdua," ucap David.


"Kenapa mama dan papa serius sekali? memangnya apa yang ingin mama katakan?" tanya Arga.


"Mama ingin mengenalkan kalian berdua pada teman Mama yang berprofesi sebagai dokter obgyn di salah satu rumah sakit, mama...."


"Arga dan Bianca tidak membutuhkannya ma," ucap Arga memotong ucapan sang mama.


"Arga, dengarkan mama dulu," ucap Bianca pada Arga.


"Mama tau kalian berdua pasti baik-baik saja, mama juga tidak memaksa kalian, tapi memulai program hamil sejak sekarang tidak ada salahnya bukan?"


"Mama dan papa tolong jangan bahas masalah ini lagi, biarkan Arga dan Bianca sendiri yang memutuskan," ucap Arga lalu beranjak dari duduknya.


"Arga, duduklah," ucap Bianca sambil menahan tangan Arga.


"Aku lelah, aku ingin tidur," balas Arga lalu menarik tangannya dari Bianca kemudian berjalan pergi begitu saja.


"Maaf ma, pa, sepertinya Arga sedang lelah," ucap Bianca pada mama dan papa Arga.


"Dia memang tidak suka jika kita membicarakan hal ini, tolong bicarakan hal ini pada Arga baik-baik Bianca, mama dan papa hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua," ucap Nadine pada Bianca.


"Jangan memaksa mereka ma, biarkan mereka menjalani pernikahan mereka sesuai dengan keinginan mereka," sahut David.


"Tapi pa....."


"Sudah sudah, lebih baik kita pulang sekarang," ucap David memotong ucapan sang istri.


"Bianca, tenangkan Arga dan sampaikan permintaan maaf mama dan papa padanya," lanjut David.


"Iya pa," balas Bianca.


Nadine dan David kemudian keluar dan mengendarai mobil mereka pergi. Sedangkan Bianca segera membawa langkahnya ke arah kamarnya.


Untuk pertama kalinya ia ragu untuk masuk ke dalam kamar, karena ia tau jika Arga ada di dalam kamarnya.


Bianca menghela nafasnya panjang sebelum ia mengetuk pintu lalu masuk ke kamarnya. Bianca mendapati Arga yang duduk di tepi ranjangnya dengan menatap jendela kamar Bianca yang masih terbuka.


Bianca kemudian membawa langkahnya ke arah jendela dan menutupnya.


"Apa kau masih marah?" tanya Bianca yang berdiri di depan Arga.


"Kenapa pernikahan selalu dibayang-bayangi dengan kehamilan dan anak? bukankah kita bisa memilikinya tanpa harus dipaksa seperti ini?" balas Arga bertanya dengan kesal.


"Mama dan papa tidak bermaksud untuk memaksa Arga, mereka hanya....."


"Sudah berkali-kali mama membicarakan hal itu denganku Bianca dan berkali-kali juga aku memberi tahu mama jika aku tidak ingin terlalu terburu-buru," ucap Arga memotong ucapan Bianca.


"Mama dan papa berpikir jika tidak ada yang salah dengan pernikahan kita, wajar jika mereka berharap agar aku segera hamil," ucap Bianca.


"Maafkan aku Bianca, aku membuatmu tersudut karena keadaan ini!" ucap Arga dengan menundukkan kepalanya.


"Ini bukan kesalahanmu, pernikahan ini adalah kesepakatan kita berdua," balas Bianca.


Arga menghela nafasnya panjang lalu beranjak dari duduknya. Arga terdiam beberapa saat dengan menatap Bianca yang berdiri di hadapannya.


Arga kemudian menjatuhkan kepalanya di bahu Bianca tanpa mengatakan apapun.


"Arga, apa....."


"Tolong biarkan seperti ini Bianca, sebentar saja," ucap Arga dengan suara yang begitu pelan.


Biancapun membiarkan Arga melakukan hal itu. Entah karena terlalu nyaman atau karena Arga yang memang sudah mengantuk dan lelah, tanpa sadar Arga tertidur dengan posisi seperti itu.


"Arga, apa kau tertidur?" tanya Bianca sambil menyentuh lengah tangan Arga.


Tak ada jawaban, Arga sangat tenang, bahkan Bianca bisa merasakan hembusan nafas Arga yang begitu tenang.


Bianca kemudian memegang kedua tangan Arga dan dengan pelan menjatuhkan Arga di atas ranjangnya.

__ADS_1


Tak lupa Bianca menutup tubuh Arga dengan selimut miliknya.


__ADS_2