
Satu bulan kemudian ..
"Huh!" Dengus Intan kesal.
"Hei, ada apa sih? Dari tadi pagi kau selalu menghembuskan nafas panjang begitu?!" Tanya Toni sembari menoleh pada Intan yang meletakkan kepalanya dengan malas diatas meja.
"Kepo!" Seru Intan sambil membenamkan kembali wajahnya.
"Dasar kau ini ya! Aku tanya baik-baik kau malah begitu." Seru Toni kesal. Intan kembali mengangkat kepalanya menatap Toni.
"Blewwhh" Ejek Intan sambil menjulurkan lidahnya.
"Aww!! Sakit Ton!!" Pekik Intan, saat Toni mencubit pipinya dengan keras.
"Kalian ini, hentikan!" Seru Ifa menengahi.
"Tau tuh Toni.!" Seru Intan sambil mengelus kedua pipinya.
"Kamu juga ada apa sih Tan? Beberapa hari ini kelihatan lesu banget?" Tanya Ifa penasaran.
"Kak Setya belakangan ini jarang menghubungiku! Kalaupun menghubungi itu hanya pesan singkat, dia juga bales chatku dengan singkat-singkat saja. Huh! Ada apa ya dengan kak Setya?!" Seru Intan sedih.
"Haha. Mungkin dia sudah bosan denganmu, lalu dia mencampakkanmu?!" Sahut Toni dengan tawa mengejek.
"Gak mungkin! Kak Setya, gak mungkin begitu!!" Seru Intan kesal, ia memukuli punggung Toni dengan keras.
"Aww! Sakit, woy! ... Apa salahku coba, kan aku hanya menyampaikan kemungkinannya saja." Seru Toni membela diri.
Intan hanya diam, bagaimanapun Toni memang menyampaikan dugaan setelah mendengar ceritanya. Ahirnya, Intan kembali membenamkan wajahnya dengan lesu di meja.
Apakah benar, kak Setya sudah bosan denganku?
Apa benar kak Setya akan meninggalkanku?
Enggak! Enggak mungkin!! Aku percaya pada kak Setya! Dia gak mungkin menyakitiku..
...****************...
"Intan sayang kamu sudah siap, belum?" Seru bunda dari bawah.
"Iya, ini Intan turun bun." Jawab Intan sembari menuruni anak tangga.
"Bunda kira kamu pakai dress yang lebih cantik." Tanya bunda saat melihat pakaian Intan.
"Kenapa dengan yang ini? Apa Intan gak terlihat cantik?" Tanya Intan sambil memperhatikan pakaiannya.
"Apapun yang dikenakan tuan putri, itu selalu cantik. Karna, yang cantik itu adalah putriku." Seru ayah yang ikut mendekati Intan.
"Hehe. Makasih ayah." Jawab Intan sambil memeluk lengan ayah.
"Yasudah, yuk berangkat. Dika sudah menunggu di depan dari tadi." Ucap bunda lembut.
Malam itu, mereka mau makan malam keluarga di luar, untuk merayakan sweet seventeen Intan. Intan gak mau mengadakan pesta seperti Setya sebelumnya. Dia memang tak suka keramaian.
"Kita akan makan dimana ayah?" Tanya Intan penasaran, saat mobil mulai melaju meninggalkan komplek rumahnya.
"Di kafe X, disana makanannya enak." Jawab ayah lembut. Intan mengagguk mengerti.
Kak Setya ... Apa kakak gak tau kalau hari ini ulang tahunku?
Kenapa dari tadi pagi ponsel kakak gak aktif?
Padahal, aku berharap orang pertama yang mengucapkan adalah kakak..
Intan terlihat murung dengan menyandarkan kepalanya pada kaca mobil. Ia menatap kendaraan yang berlalu lalang malam itu. Pendar cahaya dari sorot lampu kendaraan terlihat memudar.
"Kita sampai." Seru ayah menyadarkan Intan dari lamunannya.
"Apa benar disini ayah? Kenapa sepertinya sepi ya di dalam?" Tanya Intan menatap kafe didepannya.
Kafe itu tak terlalu besar, apalagi cahaya di dalam kafe itu terlihat remang-remang. Juga tak ada terlihat pengunjung yang datang.
__ADS_1
"Hm, iya disini. Mungkin memang lagi sepi." Jawab ayah sambil mengangkat kedua bahunya.
"Sudah kita lihat saja. Aku sudah lapar!" Seru Dika sembari keluar dari dalam mobil.
Akhirnya, semua mengikuti Dika. Ayah merangkul bahu Intan dan berjalan bersamanya ke arah kafe, diikuti bunda dan Dika dari belakang.
"Harusnya ayah jalannya sama bunda, bukan sama Intan." Ucap Intan sambil menoleh pada bunda dibelakangnya.
"Malam ini kan khusus acarnya Intan. Ayah ingin selalu bersama tuan putrinya ayah." Jawab ayah lembut. Intan hanya bisa tersenyum mendengarkan ucapan sang ayah.
Intan dan keluarganya mulai memasuki kafe, tapi kafe itu sangat gelap. Cahaya hanya berada di panggung kecil didepannya saja. Di dalam kegelapan Intan melihat sosok pria dengan setelah jas bewarna hitam perlahan berjalan ke atas panggung. Saat Pria itu menghadapnya, barulah ia melihat jelas wajah pria itu. Pria itu tak lain adalah Setya. Intan membulatkan mata dan menutup mulutnya karna terkejut.
"Kak Setya?" Gumam Intan melihat Setya didepannya.
"Selamat malam tuan Putri. Hari ini biarkan aku menyanyikan sebuah lagu untukmu." Ucap Setya tersenyum pada Intan.
Setelah itu ia mengambil sebuah gitar dan mulai memainkannya. Ia menyanyikan lagu 'Sempurna' dari Andra and the Backbone.
...🎶Kau begitu sempurna...
...Dimataku kau begitu indah...
...Kau membuat diriku akan s'lalu memujamu...
...Disetiap langkahku...
...Kukan s'lalu memikirkan dirimu...
...Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu...
...Janganlah kau tinggalkan diriku...
...Takkan mampu menghadapi semuaa...
...Hanya bersamamu ku akan bisa...
...Kau adalah darahku...
...Kau adalah hidupku...
...Lengkapi diriku...
...Oh sayangku, kau begitu...
...Sempurna, Sempurna...🎶...
Sepanjang nyanyiannya Setya dan Intan terus saling menatap. Seakan di dalam kafe itu hanya ada mereka berdua. Perlahan Intan melangkahkan kakinya menuju Setya. Saat ini ia sudah berdiri diatas panggung menatap Setya yang masih bernyanyi untuknya.
"Selamat tahun, tuan putriku." Ucap Setya lembut, setelah lagunya habis. Mata Intan berkaca-kaca karna terharu.
Tiba-tiba lampu kafe menyala dan semua orang dekat yang ia kenal mulai keluar dari persembunyiannya. Kelurga Intan, Tasya, Ifa-Bayu, Dharma-Linda, Toni-Putri. Semuanya datang. Mereka berjalan ke arah Intan dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Ifa berjalan ke arah Intan membawa kue dengan lilin diatasnya.
"Kalian menyiapkan semua ini untukku?" Ucap Intan terharu.
"Ini semua ide dari kak Setya, kak." Jawab Tasya dengan senyum lebar.
"Tapi, tentu saja dengan seizin ayah." Seru ayah yang cemburu karna Intan menatap Setya dengan senyum lebar.
"Intan tahu ayah. Terima kasih ayah, kak Setya dan semuanya. Intan sangattt senang!" Ucap Intan dengan mata berkaca-kaca, namun senyum lebar jelas terlihat menghiasi wajah cantiknya.
"Ayo tiup lilinnya!" Seru Ifa yang melihat lilin sudah mulai meleleh.
Intan segera memejamkan matanya dan berdo'a, setelah itu ia meniup lilinnya.
Aku harap kebahagiaan ini terus ada dan tidak pernah hilang..
Kemudian, mereka duduk di meja yang sudah disiapkan. Para pelayan juga mulai berdatangan untuk menghidangkan makanan malam itu. Para orang tua menjadi satu meja. Lalu Intan dengan Setya, Ifa-Bayu, Dika-Tasya. Sedangkan Dharma-Linda dan Toni-Putri ada di meja lain.
"Selamat ulang tahun, sayang." Ucap Setya sembari memberi Intan buket bunga mawar dengan hiasan ungu kesukaan Intan.
__ADS_1
"Terima kasih." Seru Intan menerima buket bunga itu dengan gembira.
"Sama-sama, sayang. Oh ya, masih ada lagi. Ini.." Ucap Setya mengeluarkan kotak bewarna biru pada Intan.
"Hm, apa ini? Boleh ku buka?" Tanya Intan penasaran.
"Tentu." Jawab Setya dengan senyuman diwajahnya. Intan segera membuka kotak itu. Matanya berbinar saat melihat sebuah kalung dengan liontin berbentuk angsa didalamnya.
"Wah, cantiknya." Seru Intan senang.
"Biar aku bantu pakaikan." Ucap Setya, sembari bangkit dari duduknya, lalu ia mengambil kalung itu dan memakaikannya dileher Intan.
"Aku memilih angsa, karna angsa melambangkan kesetiaan. Aku ingin kamu tahu, bahwa orang yang akan aku cintai saat ini dan seterusnya adalah kamu. Aku berharap hubungan kita bisa seperti angsa ini. Bertahan selamanya sampai akhir." Ucap Setya lembut. Intan tersenyum mendengarnya.
"Cantik." Puji Setya setelah ia selesai memakaikan kalung itu dileher Intan.
"Terima kasih." Jawab Intan dengan senyuman.
Ayah melihat itu dari mejanya dengan cemburu. Ia menggenggam sendok ditangannya dengan erat.
"Kenapa kita harus pisah meja sih?! Aku kan ingin bersama putriku." Gerutu ayah kesal.
"Sudahlah, biarkan anak-anak menghabiskan waktu mereka. Kita orang tua jangan menganggunya." Seru papa santai.
"Huh! Kamu belum saja merasakan putrimu direbut pria lain." Sahut ayah yang masih kesal.
"Putriku masih bersamaku sekarang. Tapi, jika ada yang ingin merebutnya, aku juga gak bakal diam!" Seru papa serius.
Bunda dan mama hanya bisa menggelengkan kepala pasrah melihat suami mereka yang sangat posesif pada putrinya.
"Jadi, kakak belakangan ini gak bisa dihubungi karna menyiapkan semua ini untuk Intan?" Tanya Intan antusias.
"Ya. Maaf ya sudah membuatmu khawatir. Tapi, sekarang kamu sudah bisa merasakn bukan apa yang aku rasakan saat kamu mengerjaiku juga waktu itu?" Tanya Setya dengan senyum senang.
"Huh! Jadi kakak membalas dendam padaku?! Dasar!" Seru Intan sambil mengerucutkan mulutnya.
"Mangkannya, jangan lakukan hal itu lagi ya. Aku benar-benar gak sanggup kalau melihatmu marah padaku." Ucap Setya sambil menggenggam tangan Intan lembut. Intan pun tersenyum mengiyakan.
"Sudah hentikan perkataan kalian. Itu menggelikan!" Seru Dika yang belum terbiasa dengan percakapan itu.
Setya dan Intan pun tersadar bahwa disana juga ada Dika dan Tasya. Mereka pun tersenyum kikuk dan malu. Berbeda dengan Dika yang terus menggerutu Tasya tersenyum melihat hubungan Setya dan Intan.
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" Tanya Dika heran pada Tasya.
"Tidak. Aku hanya suka melihat hubungan kak Setya dan kak Intan. Hm, aku jadi ingin memiliki hubungan seperti mereka. Aku ingin memiliki kekasih yang sangat mencintaiku seperti kak Setya pada kak Intan." Ucap Tasya dengan mata berbinar menatap kakaknya dan Intan. Dika terus memperhatikan Tasya yang terlihat penuh harap.
Dasar gadis bodoh! Keinginannya kekanak-kanakan sekali ...
Bukankah memang harus kekasihnya nanti mencintainya. Lagian, pengungkapan cinta gak harus sepeti ini kan. Hmm ... Dika
"Ada apa?" Tanya Tasya yang melihat Dika memperhatikannya.
"Makanmu belepotan." Ucap Dika acuh sambil memalingkan pandangannya. Tasya kelabakan dan segera mencari cermin, tapi ia tak menemukan belepotan yang dimaksud Dika.
"Kamu mengerjaiku lagi?! Dasar nyebelin!!" Seru Tasya marah. Dika hanya bisa tertawa melihatnya.
"Sepetinya di meja sana sangat heboh." Ucap Linda melihat perdebatan Dika dan Tasya. Tapi, itu terlihat lucu.
"Benar sekali." Jawab Dharma yang ikut melihat itu. Toni dan Putri juga melihatnya.
Diam-diam Putri mencuri pandang pada Toni. Tatapannya menjadi sedih saat tahu arah pandang Toni bukan melihat keributan Tasya dan Dika melainkan pada Intan. Sorot matanya menunjukkan kesedihan walau bibirnya tersenyum.
Jadi, kak Toni masih menyukai kak Intan?
Ahh, hatiku sakit ... Bagaimana ini, sepertinya aku mulai menyukai kak Toni ...
Kak Toni, bisakah kamu mulai melihatku? ...
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..