
Toni merasa kesal karna Intan lama sekali ke kantin. Padahal, ia sedang membutuhkan isolasi itu segera.
"Huh, dia pasti langaung ke lapangan basket untuk melihat pacarnya!" Gerutu Toni kesal.
Akhirnya, ia meminta bantuan pada teman-teman yang lain untuk menjaga stan sejenak. Kemudian, ia bergegas ke lapangan basket untuk menghampiri Intan.
Pertandingan basket sudah berjalan dari tadi. Sebentar lagi babak pertama akan segera berakhir. Sesampainya Toni di lapangan basket, ia segera mengedarkan pandangan mencari Intan, namun ia tak bisa menemukannya. Ia hanya melihat Ifa.
"Fa, mana Intan? Anak itu sudah lama sejak dia ke kantin untuk membeli isolasi sekaligus minum pacarnya itu. Mana dia? Aku butuh isolasi dengan cepat." Gerutu Toni kesal pada Ifa. Ia masih mengira bahwa Intan bersembunyi atau berada disudut lain lapangan yang tak terlihat olehnya.
"Intan? Dia belum kesini sama sekali. Apakah dia tidak ada di stan dari tadi?" Tanya Ifa terkejut.
"Ya. Dia tadi berpamitan padaku untuk membeli isolasi di koperasi, sekaligus membelikan minum untuk pacarnya. Tapi, dia tak kunjung kembali. Ku kira dia kesini, apakah sungguh dia tidak kesini sama sekali?!" Tanya Toni yang mulai kebingungan.
"Tidak! Dia tidak kesini sama sekali. Kenapa kamu membiarkan dia sendirian?! Kamu kan tahu kalau aku dan dia sedang diincar oleh kak Irhas mesum itu?!" Seru Ifa yang mulai panik.
Tanpa pikir panjang dia langsung berlari ke lapangan disaat permainan masih berlangsung untuk menghampiri Setya dan Bayu.
"Fa, ada apa? Ini berbahaya!" Seru Bayu yang melindungi Ifa yang hampir saja terkena bola basket.
"Intan menghilang!" Seru Ifa dengan panik.
"Apa katamu? Intan kenapa?!" Seru Setya terkejut.
"Kata Toni dia tadi ke koperasi untuk membeli isolasi sekaligus ke kantin untuk membelikan minum untuk kakak. Tapi, sudah begitu lama dia belum juga kembali. Bagaimana ini?!" Ucap Ifa yang mulai menangis.
Setya tak membuang waktu lagi dan segera berlari menuju arah kantin. Toni yang masih bingung dengan situasi saat itu memilih ikut berlari bersama Setya. Sedangkan, Bayu berusaha untuk menenangkan Ifa sejenak.
"Ada apa ya? Kenapa pacar Bayu tadi tiba-tiba menghentikan permainan dan menangis seperti itu?"
"Benar. Setya juga tiba-tiba berlari meninggalkan lapangan dengan wajah panik."
Semua murid yang menyaksikan itu saing berbisik dan terlihat bingung, apa yang terjadi.
Setya terus berlari ke arah kantin dengan pikiran yang kalut. Ia merutuki kebodohannya sendiri karna meninggalkan Intan.
Ku mohon.. Ku mohon jangan terjadi sesuatu!!
Irhas, kalau kau benar-benar melakukan sesuatu yang buruk pada Intan, aku akan menghabisimu!!
Setya sudah sampai di koperasi juga kantin. Tapi, dia tak melihat keberadaan Intan. Disana sangat sepi.
"Bu, apakah ibu melihat seorang siswi yang membeli minuman disini tadi?" Tanya Setya pada salah satu ibu kantin.
"Ya. Tapi, dia sudah pergi dari tadi." Jawab ibu kantin yang terlihat bingung karna melihat Setya yang terlihat panik.
"Kita harus berpencar untuk mencari Intan. aku akan memeriksa ruang kontrol cctv." Seru Toni mengusulkan. Setya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Ia juga segera meninggalkan kantin untuk kembali mencari Intan. Saat ia melewati koridor di depan gedung olah raga ia melihat kantung plastik berisi isolasi dan botol air minum yang tergeletak tak jauh disana. Sebelumnya, ia tak melihat itu karna ia terburu-buru untuk menuju kantin. Ia mengederkan pandangnnya mencari keberadaan Intan.
"Intan?! Dimana kamu?!!" Teriak Setya frustasi.
...****************...
Di lain sisi di dalam gudang di sudut gedung olah raga itu Intan masih berusaha menghindari Irhas yang terus mendekat ke arahnya. Dengan susah payah Intan melemparkan apapun yang ada disekitarnya pada Irhas. Namun, dengan mudah Irhas menghindar.
"Pergi.!! Jangan mendekat!!" Teriak Intan ketakutan.
"Teriaklah. Aku semakin bergairah mendengar teriakanmu." Ucap Irhas dengan seringainya. Ia mulai membuka kancing baju kemejanya.
"Jangan!! Ku mohon lepaskan aku!!" Pinta Intan memohon.
"Kenapa aku harus melepaskanmu?!" Tanya Irhas sembari melepas kemejanya dan menyisakan kaos dalamnya.
"Mundur atau aku akan memukulmu!!" Ancam Intan sembari mengacungkan tongkat bisbol pada Irhas.
Bukannya takut, Irhas malah tertawa dengan kencang. Ia semakin mendekati Intan lalu menarik tongkat bisbol ditangan Intan dengan mudah dan membuangnya ke sembarang arah.
"Kau begitu lemah, kenapa masih melawan?! Menurut saja dan biarkan semua ini berjalan dengan mudah." Ucap Irhas dengan senyum diwajahnya. Senyum yang sangat menjijikkan dimata Intan. Intan menggeleng ketakutan. Ia menangis dengan frustasi.
Irhas semakin mendekat ke arah Intan. Dengan gerakan cepat ia menarik tangan Intan sehingga Intan langsung berada di dekapannya.
"Hm, rambutmu sangat harum ... Wajahmu juga cantik, lihatlah bibir ini ... Ini sangat menggoda." Ucap Irhas pelan sambil membelai wajah Intan dengan tangannya.
Intan masih berusaha memberontak, namun tubuhnya terkunci dalam dekapan Irhas.
"Jangan takut. Kita bahkan belum mulai." Ucap Irhas di telinga Intan. Kemudian Ia mendorong Intan hingga terduduk di lantai.
Kaki Intan terasa lemas, walaupun begitu ia masih berusaha menghindari Irhas. Irhas menyeringai melihat Intan. Ia menarik kaki Intan, kemudian mendekatinya. Kini Intan terkukung dibawah tubuh Irhas. Intan berusaha memberontak dengan memukul Irhas dengan membabi buta.
"Lepaskan aku!! Tolong!!" Teriak Intan.
"Berisik!!" Seru Irhas, akhirnya ia membekap mulut Intan dengan tangan kirinya.
Sedangkan tangan kanannya mulai menyusuri leher jenjang Intan sampai kepada kemaja Intan. Ia melepaskan dasi Intan dengan paksa dan mulai membuka kancing kemeja Intan. Intan masih berusaha berontak dengan tubuh yang semakin gemetar hebat. Air mata terus keluar, ia menangis dengan sangat buruk.
Kak Setya ... Tolong aku!!
Saat Irhas semakin hendak membuka kancing kemeja Intan, tiba-tiba ia ditarik oleh seseorang dari belakang.
"Brengsek!!" Seru Setya yang akhirnya menemukan keberadaan Intan. Ia menarik Irhas dan memukul wajahnya dengan kencang hingga membuat Irhas tersungkur.
Sebelumnya Setya memeriksa ke dalam gedung olah raga, karna sepi ia sempat akan pergi. Namun, samar-samar dia mendengar kegaduhan dari gudang disudut gedung olah raga itu. Setyapun bergegas memeriksa gudang itu.
Matanya terbelalak saat melihat Irhas yang sedang menahan Intan dibawahnya dan ia sedang berusaha membuka kemeja Intan. Seketika darah ditubuhnya terasa mendidih. Ia berjalan dengan cepat ke arah Irhas, menariknya menjauhi Intan dan segera melayangkan tinjuannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan padanya, huh?!" Teriak Setya dengan aura membunuh yang sangat kuat. Sorot matanya terlihat dingin dengan kemarahan yang benar-benat nyata.
Ia menarik kaos Irhas agar dia berdiri. Kemudian ia memukulnya lagi dan lagi hingga membuat wajah Irhas lebam dengan darah disudut bibir dan hidungnya.
"Hahaha. Kenapa kau marah padaku? Salahkan dirimu yang tidak becus menjaga pacarmu!" Seru Irhas dengan seringai diwajahnya. Ia sama sekali tak merasa bersalah.
Setya kembali memukuli Irhas dengan menbabi buta. Ia meluapkan semua kekesalan dan rasa amarah padanya.
"Setya, hentikan!!" Seru pak Say yang datang bersama Bayu, Ifa dan Toni.
Bayu dan Ifa yang memanggil pak Say untuk melaporkan Intan yang menghilang. Kebetulan setelah itu ia berpapasan dengan Toni yang akan menuju ke ruang cctv. Akhirnya, mereka memeriksa rekaman cctv bersama dan melihat Irhas yang menculik Intan. Setelah itu mereka bergegas menuju gedung olah raga.
Setya tak mendengarkan ucapan pak Say. Dia masih memukuli Irhas dengan brutal. Rasa ingin membunuh benar-benar Setya rasakan. Pandangannya gelap. Di kepalanya hanya terlintas gambaran bagaimana Irhas yang menahan Intan dan berusaha membuka kemejanya.
"Setya, cukup dan lihatlah keadaan Intan!!" Teriak Bayu mengingatkan.
Mendengar nama Intan, Setya akhirnya sadar. Ia melepaskan cengkraman tangannya dari kaos Irhas dan menoleh ke tempat Intan berada. Dapat ia lihat Intan yang meringkuk disudut ruangan sambil memeluk tubuhnya sendiri yang masih bergetar hebat.
Setya merasa dadanya sesak melihat Intan seperti itu. Dia mengepalkan tangannya kuat untuk menahan emosinya lagi. Kemudian, ia berjalan mendekat ke arah Intan.
"Intan ..." Panggil Setya lembut sembari mengulurkan tangan hendak menyentuh Intan.
Tapi, Intan reflek memundurkan tubuhnya menghindari Setya. Dia masih sangat syok dan ketakutan. Bahkan, ia masih belum mengenali Setya. Melihat itu, Setya semakin frustasi. Ia merutuki kebodohannya karna meninggalkan Intan sendiri. Ia ingin berteriak dan memukul dirinya sendiri, tapi dia harus menahannya jika tidak ingin membuat Intan semakin takut.
"Intan, ini aku Setya ... Kamu sudah aman sekarang. Aku berjanji ..." Ucap Setya lembut berusaha menyadarkan Intan.
Perlahan Intan mendongak menatap pria di hadapannya. Ia menatap Setya dengan mata sembab dan sorot mata ketakutan. Setya semakin tersiksa melihat sorot mata Intan itu. Intan tak mengenalinya.
"Ka-Kak Setya?" Gumam Intan pelan seakan memastikan bahwa pria dihadapannya memanglah Setya.
"Iya, ini aku. Setya." Ucap Setya lembut sambil mengangguk mengiyakan.
Perlahan Setya dapat melihat Intan mulai mengenalinya. Setelah kesadaran Intan kembali sepenuhnya, tangisnya pun pecah.
"Ka-kak Setya ... Ak-Aku takut!!" Seru Intan terbata disela isak tangisnya. Akhirnya, Setya memeluk Intan dengan erat membiarkan Intan meluapkan tangisnya. Dapat Setya rasakan tubuh Intan masih bergetar dengan hebat.
"Tenanglah, sekarang sudah aman. Semua akan baik-baik saja." Ucap Setya dengan lembut sembari membelai rambut Intan dengan lembut.
Dilain sisi pak Say, sudah menahan Irhas. Ifa yang melihat kondisi Intan juga menangis dipelukan Bayu. Begitupun juga Toni, rasanya ia juga ingin menghajar Irhas jika tidak diamankan oleh pak Say.
Tangis Intan semakin kencang, ia seakan mengeluarkan semua ketakutan dan emosi yang baru saja ia rasakan. Setya juga semakin memeluk Intan dengan erat untuk memberi rasa aman pada Intan.
"Semua sudah baik-baik saja. Sudah aman sekarang." Ucap Setya berulang kali dengan lembut.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..