
Setelah sampai di rumah, Intan segera membersihkan dirinya, setelah itu dia akan pergi tidur. Tapi, Intan tak dapat memejamkan matanya. Akhirnya, Intan memutuskan untuk menuju kamar orang tuanya.
Tok ... Tok ... Tok
"Ayah-bunda, Intan boleh masuk?" Tanya Intan di luar kamar orang tuanya.
"Masuk saja sayang." Jawab ayah yang sebelumnya sudaj bersiap akan tidur.
Intanpun segera masuk dan berlari untuk tidur di tengah-tengah kedua orang tuanya. Melihat itu, ayah dan bunda menjadi kebingungan.
"Ada apa sayang?" Tanya ayah bingung.
"Gak apa-apa, ayah. Tapi, bolehkah malam ini dan semunggu kedepan Intan tidur bersama ayah dan bunda?" Tanya Intan penuh harap.
"Boleh saja. Tapi, kenapa tiba-tiba?" Tanya bunda bingung.
"Hm, gak apa-apa sih. Intan hanya ingin menghabiskan waktu Intan dengan ayah dan bunda sebelum menikah." Jawab Intan dengan tatapan sedih.
"Iyaya, putriku memang sudah besar. Bunda sampe gak sadar, kalau gadis kecil manja yang selalu menangis saat pertama kali diajarkan tidur sendiri ini, sekarang akan menikah." Ucap bunda sambil mengusap kepala sang putri.
"Hehe. Benarkah, bunda? Ingatan Intan agak samar-samar sih." Jawab Intan berusaha mengingat saat itu. Tapi, hanya ingatan buram yang teringat.
"Iya. Intan terus merengek minta tidur bareng ayah dan bunda. Padahal, waktu itu sudah ada Dika." Jawab bunda.
"Lalu, gimana Intan bisa diam?" Tanya Intan penasaran sekaligus antusias.
"Tentu saja ayah yang nenangin. Ayah terus nemenin Intan sampai Intan berani tidur sendiri. Ayah masih ingat, Intan terus memeluk lengan ayah sepanjang malam karna takut ayah akan ninggalin." Jawab ayah lembut.
"Benarkah? Sepertinya Intan sangat menyusahkan ya sewaktu kecil?"
"Enggak dong sayang. Ayah dan bunda sama sekali gak pernah merasa disusahkan. Walaupun terkadang kami capek, tapi ketika melihat senyuman Intan atau Dika, rasa capek itu langsung hilang." Jawab bunda lembut.
"Benar kata bunda. Intan dan Dika adalah anugrah terindah dari Tuhan untuk ayah dan bunda. Kehadiran kalian membawa warna baru untuk ayah dan bunda. Dan sekarang, putri kecil ayah ini akan menikah. Waktu memang cepat sekali berlalu." Ucap ayah sambil mencium kening Intan.
"Ayah, Intan akan selalu jadi putri kecil ayah. Walaupun, Intan sudah punya anak sekalipun. Intan akan tetap jadi putri kecil ayah." Seru Intan sambil memeluk sang ayah.
"Tentu saja sayang."
...****************...
Keesokan harinya sepulang kerja, Intan dan Ifa janjian akan belanja untuk membeli beberapa barang yang akan mereka bawa untuk bulan madu mereka.
"Aduduh, aura pengantin baru itu emang beda ya? Hehe.. Kamu terlihat berbeda lho. Bagaimana kemarin?" Tanya Intan dengan alis terangkat.
"Bagaimana apanya? Gak terjadi apapun tuh." Jawab Ifa santai.
"Huh? Bagaiman mungkin. Padahal kak Bayu keliatan sangat bersemangat kemarin."
"Aku kedatangan tamu." Jawab Ifa singkat.
"Bwahahahaha. Tepat sekali. Aku bisa membayangkan bagaimana ekspresi kecewa kak Bayu." Seru Intan sambil terbahak.
"Kamu benar. Dia terlihat murung, sampai pagi. Mangkannya aku mau belanja sama kamu aja. Gak enak banget liat wajah kak Bayu sekarang." Jawab Ifa sambil mengingat wajah kusut sang suami.
"Hahaha. Jangan begitu. Belikan hadiah atau apa gitu biar moodnya balik. Masa tega sih kamu liat suami sendiri cemberut gitu?!"
"Iya juga sih. Hm, aku beliin apa ya?" Tanya Ifa bingung.
"Hm, oh bagaimana kalau kita ke toko kue X? disana kita bisa buat kue sendiri lho. Kamu bisa hadiahkan ke kak Bayu. Kalau barang-barang kan, sekarang kamu juga belanja dari uangnya, jadi kesannya kurang greget gitu. Mending kasih kue yang dibuat sendiri. Pasti kak Bayu langsung luluh nanti." Ucap Intan meyarankan.
"Ok bagus juga ide kamu, Tan. Setelah kita belanja ini, kamu temani aku ke toko kue itu yaa.." Pinta Ifa dengan senyum di wajahnya.
"Ok."
Akhirnya, mereka segera menyelesaikan acara belanja mereka. Setelah itu barulah mereka menuju ke toko kue yang dimaksud Intan.
__ADS_1
"Selamat datang mbak. Mau cari kue yang seperti apa?" Tanya pelayan ramah.
"Kami ingin membuat kue sendiri. Apa bisa?" Tanya Intan dengan ramah juga.
"Oh bisa mbak. Silahkan ikut ke sebelah sini." Jawab pelayan itu sopan.
Kemudian, dia mengantarkan Intan dan Ifa menuju ke dapur yang sudah lengkap dengan alat dan bahan untuk membuat kuenya.
"Selamat malam mbak-mbak. Saya yang akan membantu mbak-mbaknya ini untuk membuat kuenya." Ucap seorang wanita paruh baya yang terlihat ramah.
"Baik. Mohon bantuannya."
Kemudian, Intan dan Ifa dibantu wanita paruh baya itu dengan sangat telaten membuat kue. Intan juga ingin membuat kue untuk orang tuanya. Apalagi ayanya, dia pasti akan sangat suka. Beberapa saat kemudian, kue merekapun akhirnya jadi.
"Akhirnya, selesai juga!" Seru Ifa senang.
"Iya. Ini sangat melelahkan. Tapi, membayangkan orang-orang yang kita sayang akan senang memakannya, aku jadi sangat bersemangat." Imbuh Intan antusias.
"Kamu benar, Tan."
Kring ... Kring ... Kring
"Hallo?" Sapa Ifa mengangkat telponnya.
"Hallo sayang, kamu dimana? Kenapa daritadi gak angkat telpon aku? Ini sudah malam tapi kenapa kamu belum pulang?" Tanya Bayu khawatir. Ifa segera melirik jam tangannya. Benar saja hari sudah cukup larut saat itu.
"Maaf-maaf. Aku gak liat ponsel dari tadi. Aku di toko kue X sama Intan. Ini kami sudah selesai dan akan pulang." Jawab Ifa merasa bersalah.
"Tunggu disana, aku akan jemput kamu." Seru Bayu yang langsung mentup ponselnya.
"Tan, ternyata sekarang sudah sangat larut. Kak Bayu daritadi nyariin aku. Sekarang dia akan datang kesini untuk menjemputku." Adu Ifa pada Intan.
"Sepertinya aku juga ada masalah yang sama. Lihat ini." Seru Intan yang juga baru melihat ponselnya. Ada 100 panggilan tak terjawab dari ayah dan Setya.
"Wah, mereka seperti berlomba denganmu. Apakah kamu akan menghubungi mereka?" Tanya Ifa penasaran.
"Kalau gitu, bareng aku aja. Aku akan minta kak Bayu anterin kamu juga. Ini uda malem, bahaya dijalan." Ucap Ifa menyarankan.
"Ehm, baiklah. Makasih, yaa.."
Kemudian, mereka segera membungkus kue yang sudah mereka buat dan menunggu Bayu di depan toko kue. Tak berselang lama, Bayu datang dengn tergesa-gesa.
"Sayang, kamu gak apa-apa kan?" Tanya Bayu khawatir.
"Aku gak apa-apa oppa! Aku tadi terlalu serius buat kue, jadi gak lihat ponsel. Maaf ya uda buat oppa khawatir." Ucap Ifa dengan nada manja, agar Bayu luluh.
"Kamu ini ya. Lain kali kabarin dulu, supaya aku gak khawatir. Mama dan papa juga khawatirin kamu di rumah." Seru Bayu sambil mencubit pelan pipi Ifa.
"Maaf-maaf. Aku mau buat kejutan untuk kak Bayu. Supaya kak Bayu gak cemberut terus. Aku uda buatin kue spesial untuk kak Bayu, nih." Ucap Ifa sambil menunjukan kotak kue ditangannya.
"Ya ampun sayang. Maafkan aku ya, sampai buat kamu kepikiran. Aku gak apa-apa kok."
"Masa?! Padahal dari kemarin wajah kak Bayu terus terlihat kusut."
"Aku .."
"Anu ... Maaf menganggu obrolan kalian. Aku jadi dianter pulang enggak? Sudah malem. Kalo gak bisa anterin, aku bisa naik taxi saja?" Tanya Intan menyela perdebatan suami istri baru itu. Dia juga harus cepat pulang kalau tak ingin membuat orang tuanya dan Setya khawatir.
"Oh maaf Tan. Aku sampai lupa. Kak Bayu, kita anterin Intan dulu. Kalau enggak dua pawangnya bisa ngamuk." Seru Ifa tegas.
"Ba-baiklah." Jawab Bayu gugup sambil membayangkan wajah ayah Intan.
Akhirnya, Bayu dan Ifa segera mengantar Intan pulang. Sang ayah ternyata sudah menunggu di teras dengan cemas.
"Tan, kami ikut turun kah?" Tanya Bayu yang melihat ekspresi menyeramkan dari ayah Intan.
__ADS_1
"Gak perlu kak. Kak Bayu dan Ifa langsung pulang saja. Biar Intan yang ngurusin ayah. Kalian juga jangan lama-lama ngambek-ngambekannya. Kak Bayu ingat, tamu wanita itu gak bisa ditebak ato ditunda datengnya ... Ya sudah, aku pulang dulu. Makasih tumpangannya. Daaaahhhh.." Ucap Intan sebelum turun dari mobil Bayu. Setelah itu Bayu segera mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah Intan.
"Assalamu'alaikum ayah. Kenapa diluar? Diluar dingin lho." Tanya Intan dengan khawatir.
"Wa'aalikum salam. Intan dari mana saja? Kenapa baru pulang? Siapa tadi? Itu bukan mobil Setya kan?" Tanya ayah beruntun.
"Ayah, Intan jelasin di dalam ya. Di luar dingin. Intan gak mau ayah sakit." Ucap Intan sambil menggandeng lengan sang ayah menuntunnya masuk ke rumah. Intan membawa sang ayah ke meja makan.
"Sayang baru pulang? Darimana saja? Ayah dan bunda khawatir." Seru bunda yang ikut mendekat.
"Ayah-bunda maafkan Intan ya. Tadi, Intan itu belanja sama Ifa. Setelahnya, kami buat kue di toko kue X. Ini kue buatan Intan sendiri. Karna, terlalu serius buat kue, jadi Intan sama sekali gak sempet cek ponsel ... Tadi yang anterin Intan itu kak Bayu dan Ifa. Intan langsung suruh mereka pulang, karna sudah malam. Mangkannya gak sempet turun dan menyapa ayah dulu tadi. Maaf yaa.." Ucap Intan menjelaskan.
"Duh, sayang. Lain kali kabarin kami dulu ya. Setya daro tadi juga terus menghubungi kami. Sampe Dika juga dibuat kesal karna terus dihubungi Setya. Sekarang, dia masih keluar cari kamu." Ucap bunda memberitahu.
"Benarkah? Aku akan menghubunginya agar pulang saja ..."
"Gak perlu. Aku sudah pulang!" Seru Dika yang baru saja datang.
"Oh, hai adikku sayang ..."
"Gak usah sok manis deh kak. Kakak ini kebiasaan deh buat orang lain khawatir. Apa gunanya punya ponsel?! Kenapa gak hubungi kami coba?! Haihh.. Mending kakak langsung kabari kak Setya. Kalo enggak dia bisa-bisa keliling kota semaleman buat cari kakak." Omel Dika panjang lebar.
"Iya-iya. Maaf.."
"Tapi, kenapa tuan putri ingin buat kue?" Tanya ayah bingung.
"Intan buatin kue spesial untuk ayah dan bunda. Lihat, taraaa..." Seru Intan sambil menunjukkan kue buatannya
Diatas kue itu sudah dihias oleh Intan dengan tulisan 'I love you more, Ayah-bunda' ... Melihat itu, ayah dan bunda pun luluh dan merasa terharu.
"Makasih sayang. I love you too." Ucap sang ayah sambil memeluk Intan, diikuti bunda.
Dika hanya memutar bola matanya malas melihat drama itu. Sedangkan, Dika masih terua dihubungi oleh Setya. Akhirnya, Dika yang mengabari Setya tentang Intan.
...****************...
Di jalan, Bayu terus menggenggam tangan Ifa dengan lembut.
"Maafkan aku ya, uda buat kamu kepikiran. Aku sungguh gak apa-apa sayang. Maaf yaa.." Ucap Bayu sambil sesekali mencium tangan Ifa.
"Iya, kak Bayu. Gak apa-apa. Tapi, jangan cemberut lagi ya. Aku gak suka liat wajah cemberut kak Bayu, tahu!" Seru Ifa memperingati.
"Iya-iya. Aku salah. Aku gak akan gitu lagi." Seru Bayu sungguh-sungguh. Ifa tersenyum menanggapi.
"Aku gak sabar makan kue buatan kamu deh, sayang." Ucap Bayu melihat kotak kue dipangkuan Ifa.
"Nanti kita makan sama-sama dengan mama dan papa yaa.. Mereka pasti sangat khawatir. Aku jadi merasa bersalah." Ucap Ifa tak enak hati.
"Gak apa-apa. Nanti aku yang jelasin." Ucap Bayu menenangkan.
"Makasih, suamiku."
"Sama-sama istriku, sayang."
.
.
.
Bersambung..
...----------------...
__ADS_1
Yuk-Yuk, nanti sore datang ke nikahannya Setya dan Intan ya guys😁🤗
...----------------...