Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Aktivitas di rumah baru..


__ADS_3

Pagi harinya setelah sarapan, seperti yang dikatakan Intan dan Setya mereka akan pulang ke rumah mereka.


"Ayah-bunda, kami pulang dulu yaa. Ayah dan bunda bisa datang ke rumah kami kapanpun." Ucap Setya sopan.


"Iya, hati-hati di jalan." Ucap bunda lembut.


"Ayah, Intan pulang dulu ya. Nanti, pasti Intan akan datang lagi." Ucap Intan sambil memeluk sang ayah.


"Iya sayang. Hati-hati ya. Jangan lupa telpon ayah tiap hari, ok?" Pinta ayah dengan tatapan penuh harap.


"Iya ayah. Tentu saja." Jawab Intan dengan meyakinkan sang ayah.


"Sudahlah, pulang saja sana! Jangan lupa tutup semua pintu dan jendela sebelum tidur. Kalau tidak tidur kalian akan terganggu dengan suara kucing!" Seru Dika dengan nada menyindir.


Intan dan Setya hanya bisa tersenyum kikuk menanggapi perkataan Dika. Sedangkan ayah dan bunda biasa saja. Mereka tak tahu kalau perkataan Dika itu sebenarnya menyindir Intan dan Setya.


Di perjalanan.


"Huh! Aku malu sekali." Seru Intan sambil menutup wajahnya mengingat ekspresi Dika.


"Sebenarnya aku juga, tapi biarin aja. Nanti dia juga akan tahu. Lagian, kalo di rumah kita nanti gak bakalan ada yang dengerin kok." Ucap Setya tanpa merasa bersalah, malahan Setya tersenyum dengan lebar. Intan hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan suaminya itu.


Sesampainya mereka di rumah. Intan dan Setya membagi tugas untuk membersihkan rumah dan memasang beberapa perabot, seperti pengharum ruangan, dll. Intan juga menyuci baju-bajunya saat di korea kemarin. Siangnya, Intan pertama kali akan memasak untuk Setya di rumah barunya.



Setya melihat sang istri yang sedang serius memasak di dapur dengan mengenakan apron. Entah kenapa Intan terlihat lebih cantik saat itu. Intan yang merasa terus ditatap pun jadi salah tingkah.


"Jangan menatapku seperti itu terus. Aku jadi gak fokus!" Seru Intan pada Setya.


"Habis kamu keliatan cantik banget sayang. Baiklah aku gak akan menatapmu lagi. Tapi ..."


Setya segera bangkit dari duduknya dan mendekati Intan. Sebelum, Intan sempat bereaksi Setya memeluk Intan dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Intan dengan manja.


"Kak Setya, apa yang kakak lakukan sih? Berat tau, aku mau masak!" Seru Intan sambil berusaha melepaskan pelukan Setya. Tapi Setya sama sekali tak bergeming.


Akhirnya, Intan mengalah dan membiarkan Setya memeluknya. Terkadang Setya juga mencium atau memainkan rambutnya. Intan hanya bisa diam menerima kejahilan sang suami.


"Aww!!" Seru Intan saat tangannya tak sengaja terkena pisau, karna terkejut saat Setya mencium tengkuknya.


"Kenapa?! Lho, kamu berdarah sayang!!" Seru Setya panik melihat ujung jari Intan yang berdarah.


Setya segera menarik tangan Intan ke wastafel untuk menghentikan pendarahannya. Setelah itu, Setya meniup-niup luka Intan dengan wajah sedih.


"Maaf ya, karna aku kamu jadi terluka." Ucap Setya sambil menunduk sedih.


"Mangkannya, jangan ganggu Intan kalau lagi masak ya suamiku sayang. Istrimu ini juga butuh kefokusan saat memasak." Ucap Intan sambil menyentuh wajah Setya dengan lembut.


"Baiklah. Aku akan menunggu dengan patuh." Jawab Setya.


Kemudian, dia membantu Intan memasang plester di jari Intan. Setelah itu tak lupa, Setya mencium ujung jari Intan sekilas.


"Cepat sembuh ya sayang.." Ucap Setya dengan lembut. Intan sampai tersentuh dengan perlakuan Setya padanya itu.

__ADS_1


"Pasti akan cepat sembuh.. Kan dokternya suamiku yang paling tampan ini. Makasih sayang. Muach.. Sekarang, tunggu istrimu ini memasak dulu ya. Jangan ganggu lagi." Ucap Intan lembut dengan sekilas mencium pipi Setya.


Setya pun tersenyum mengiyakan. Dia berjalan ke meja makan dengan terus memegang pipi yang baru saja di cium oleh Intan dengan senyum lebar.


Beberapa saat kemudian..


"Bagaimana rasanya? Apakah cocok dengan lidah kakak?" Tanya Intan khawatir.


"Enak kok. Memang berbeda dengan masakan mama. Tapi, itulah istimewanya. Sampai kapanpun mama dan kamu akan punya cita rasa sendiri yang akan membuatku selalu merindukan kalian." Ucap Setya dengan senyuman diwajahnya. Intan juga tersenyum mendengar jawaban Setya.


Memang benar, masakan seorang ibu tak akan ada yang bisa menandingi. Tapi, bukan berarti masakan yang lain tak enak. Atau harus dipaksa sama. Justru, dari perbedaan itulah yang menjadikan masing-masingnya spesial dan tak akan pernah terlupa.


Di tempat lain, Ifa juga baru saja selesai membantu sang mertua memasak untuk makan siang. Dan saat ini dia juga sedang menunggu bagaimana reaksi suami dan mertuanya tentag rasa masakannya. Ifa begitu gugup, dia takut kalau masakannya akan mengecewakan.


Tiba-tiba saat baru mencicipi satu suapan Bayu dan kedua orang tuanya dengan berurutan meletakkan alat makannya. Ifa sangat gugup dan takut. Dia sudah berpikir kalau masakannya pasti gak enak.


"Kak Bay, ma, pa ... Masakan Ifa gak enak ya? Maaf yaa.." Ucap Ifa lirih.


"Ehm, masakan kamu tuh ... begini ..." Seru Bayu sambil mengacungkan dua ibu jarinya pada Ifa diikuti oleh mama dan papa.


"Mak-Maksudnya, masakan Ifa enak?" Tanya Ifa yang masih terkejut.


"Iya sayang. Masakan putri mama ini enak banget. Juara deh." Puji mama.


"Benar kata mama, papa juga seperti makan di resteroran deh. Kalau dijual pasti laris nih " Puji papa.


"Mama-papa itu terlalu berlebihan. Hehe. Tapi, makasih yaa.. Ifa akan terus berusaha memberikan yang terbaik." Ucap Ifa dengan mata berkaca-kaca.


Ifa sangat beruntung mendapatkan mertua seperti orang tuanya Bayu. Mereka sangat menyanyangi Ifa sudah seperti anaknya sendiri.


Di rumah Intan, setelah lelah beres-beres rumah seharian, Intan dan Setya tertidur dengan pulas dan saling berpelukan. Saat Setya bangun terlebih dulu, dia tersenyum hangat melihat Intan yang masih tertidur pulas di hadapannya. Dengan sayang, Setya mengusap kepala Intan dan juga mencium keningnya dengan penuh cinta.


Setelah itu, kara tak mau membangunkan sang istri, dia bangun dengan perlahan dan berjalan dengan mengendap-endap meninggalkan kamar mereka. Setya menuju ke ruang tengah. Disana, Setya melihat ponsel Intan yang tergeletak di atas meja.


Dengan iseng Setya membuka ponsel sang istri dan melihat galeri. Disana banyak sekali foto Intan diberbagai momen. Termasuk foto Intan saat masih kecil. Setya tersenyum dengan mata berbinar melihat itu. Intan terlihat sangat menggemaskan saat kecil. Ini pertama kali Setya melihatnya.


"Intanku memang dari dulu yang paling cantik ... Kalau seumpama nanti aku punya seorang putri, dia pasti akan sangat imut dan menggemaskan seperti ibunya ini." Gumam Setya sambil tersenyum membayangkannya.


"Tapi ... Kalau aku punya putri, kasian dia nanti. Aku pasti akan sangat protektif padanya. Bisa-bisa dia gak bisa menikah karna aku. Huh, bagaimana ini?!"


"Kak Setya lagi ngapain?" Tanya Intan yang baru saja bangun.


Intan terlihat bingung saat melihat suaminya senyum-senyum dan bergumam sendiri. Karna penasaran Intan pun mendekat ke arah Setya untuk bertanya. Dia sangat terkejut saat melihat Setya ternyata sedang melihat foto masa kecilnya.


"Ih, kak Sstya ngapain liatin itu!" Seru Intan malu sambil berusaha merebut ponselnya dari Setya.


"Eits. Kenapa gak boleh? Kamu terlihat menggemaskan kok disini sayang. Benar-benar imut!" Ucap Setya sambil mengangkat ponsel Intan tinggi-tinggi agar Intan tak bisa mendapatkannya.


"Kak Setya balikin. Aku malu!" Seru Intan yang masih berusaha mengambil ponselnya.


"Kenap harus malu karna foto ini? Lagian, bagaian mana dari kamu yang belum aku lihat sih sayang. Hm?" Tanya Setya dengan alis terangkat dan nada menggoda.


"Kak Setya!. Ahh!!" Pekik Intan yang malah jatuh menimpa Setya, karna Setya bersih keras tak mau memberikan ponselnya.

__ADS_1



"Duhduh. Sepertinya kamu merindukanku ya sayang?" Goda Setya sambil menatap Intan di atasnya.


"Apa'an sih?! Ini kan karna kak Setya yang gak mau ngasih ponselnya Intan!" Seru Intan tak mau disalahkan.


"Ok, aku akan memberikannya. Tapi, setelah aku memakanmu!!" Seru Setya sambil membalikkan keadaan dan dia kini yang berada diatas Intan.



"Kak Setya!! Awas!! Kita sama-sama bau habis bersih-bersih dari tadi lho." Seru Intan sambil berusaha mendorong tubuh Setya menjauh darinya.


"Aku gak mau! Sekalian aja baunya!" Jawab Setya santai dan mulai mencium Intan.


Intan yang awalnya menolak, akhirnya ikut hanyut juga dalam ciuman Setya yang begitu lembut. Saat suasana semakin panas tiba-tiba bel rumah berbunyi.


"Mmph.. Ka-Kak Setya! Mmmph ... Ber-Berhenti dulu!" Seru Intan sambil mendorong Setya menjauh.


"Apa sih sayang?!" Tanya Setya yang terlihat tak suka aktivitasnya terganggu.


"Ada tamu itu. Cepat bukakan pintu dulu!" Ucap Intan mengingatkan.


"Biarin aja deh. Kalau kita gak keluar pasti dia akan pergi." Jawab Setya santai dan kembali melanjutkan ciumannya.


Tapi, bel rumah masih terus berbunyi membuat Setya kesal. Dengan malas diapun menyeret kakinya untuk melihat siapa tamu yang datang dan mengganggunya.


"Kamu tuh ngapain aja sih?! Kenapa lama banget baru buka pintunya?!" Omel mama Setya. Ternyata yang datang adalah keluarga Setya.


"Nah mama sendiri, kenapa gak ngabarin kalo mau kesini?!" Seru Setya yang masih kesal.


"Emang kita gak boleh kesini ya kak?!" Seru Tasya dengan nada sinis.


"Oh, apa mama menganggu?" Tanya mama yang paham maksud Setya.


"Tau ah!" Jawab Setya yang langsung masuk ke dalam rumah.


"Kak Setya siapa yang datang? Kakak mau kemana?!" Tanya Intan bingung.


"Lihat aja sendiri. Aku mau mandi." Seru Setya yang terus saja menggerutu disepanjang jalan.


"Oh, mama-papa, Tasya. Kenapa datang kesini? Padahal rencananya nanti Intan dan kak Setya yang mau ke rumah." Tanya Intan yang ikut keluar melihat tamu yang datang.


"Maaf ya Intan, sudah menganggu kamu dan Setya. Habisnya mamamu ini uda gak sabar buat ketemu kamu." Jawab papa pengertian.


"Gak apa-apa kok ma, pa. Rumah kami selalu terbuka untuk kalian. Jangan hiraukan kak Setya. Dia ..."


"Sudah gak usah dilanjutkan. Keliatan sekali dia terganggu. Maafkan mama ya uda mengacau. Padahal, kalau mama gak datang, mungkin mama akan segera mendapat cucu." Ucap mama dengan nada menggoda. Seketika Intan jadi tersipu.


Dasar kak Setya! Dia membuatku malu di depan papa dan mama! Awas aja ya nanti..


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2