Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
21. Korban Penculikan


__ADS_3

KEKIRA begitu lemah.


Bahkan dia muncul dengan memapah Fifi yang tak jauh lebih lemah.


Jelas saja, seharian mereka tidak makan.


Tubuh mereka kotor dan banyak luka.


Bahkan jilbab Kekira sampai sobek.


“Alhamdulillah Fifi juga ketemu.” Reno lega pencariannya tidak sia-sia.


Bahkan sekaligus bisa ditemukan.


Bibir Kekira tergagap ingin mengatakan sesuatu.


Akbi memberikan minum.


“Jangan bicara dulu, Ki.”


Setelah diberi makan roti dan minum, Fifi sudah lebih baik dan menangis ketakutan, namun belum bicara apa-apa.


Sementara Kekira terkulai lemas di pangkuan Akbi.


Api unggun kecil dinyalakan di depan pondok. Setidaknya mereka tidak terlalu kedinginan.


“Bi, apa baik kalo kita bawa mereka keluar hutan sekarang?”


Akbi menatap Kekira yang menggigil.


“Gue rasa begitu. Di sini juga nggak aman karena cuaca makin dingin. Gue takut kita nggak bisa bertahan di sini.”


Kekira mengerjapkan mata. Akbi teringat sesuatu.


“Ki, minum ini.” Akbi memberikan obat.


“Kamu pasti kuat. Inget Ayah Bunda nunggu kita di rumah.”


Mendengar nama Ayah Bunda membuat Kekira membuka mata.


Dibantu Akbi, ia bisa meminum obatnya.


Lalu membuka jaketnya yang basah.


Kekira menggigil hanya mengenakan kaos panjang.


Akbi mengeluarkan jaket cadangan yang dibawanya dalam tas dan memakaikannya pada Kekira.


Akbi menatap Kekira lekat. Rasa bersalah memenuhi hatinya, sudah membiarkan Kekira mengalami hal buruk.


“Lo siap? Kita turun sekarang?” tanya Reno sambil membantu Fifi berdiri.

__ADS_1


Melihat kondisi Kekira, Akbi tidak punya pilihan.


“Oke gue siap!” ia menggendong Kekira di punggungnya.


“Lo yakin mau gendong dia turun gunung?” Reno memastikan.


“Dia nggak akan sanggup jalan sendiri.”


Reno mengangguk. “Oke kita jalan sekarang.”


***


Pencarian berakhir dengan ditemukannya Kekira dan Fifi dalam kondisi selamat.


Walau belakangan Akbi dan Reno kena marah tim SAR dan yang lain.


Menjelang pagi, mereka berempat tiba di posko.


Akbi langsung ambruk kelelahan karena menggendong Kekira sepanjang turun.


Namun lega karena Kekira selamat.


Kekira masih shock namun sudah bisa diajak bicara.


Setelah Akbi membaik, ia mencoba bicara dengan Kekira.


“Tolong jangan bilang sama Ayah Bunda tentang ini. Mereka pasti khawatir. Aku kan udah nggak pa-pa.” Kekira masih lemah.


Kini dia dan Reno menemani Kekira di puskesmas karena Kekira tidak mau bicara dengan yang lain.


“Sekarang bisa kamu ceritain apa yang terjadi sebenernya?” tanya Reno.


Kekira menegang dan menunduk.


Akbi menggenggam tangannya.


“Pelan-pelan aja.”


Setelah menarik nafas, Kekira mulai bercerita.


“Saat itu ada yang sekap aku sampai pingsan. Begitu sadar, aku sudah diikat dengan tali. Trixie dan Fifi juga disekap di sana. Aku berhasil kabur membawa Trixie dan Fifi. Trixie udah lemah karena sebelumnya dia disiksa karena terus teriak-teriak. Dan Fifi, dipukuli karena nangis terus. Kami kabur dari sana. Sayangnya di tengah jalan, Trixie jatuh agak dalam dan aku nggak bisa nyelametin dia.”


“Kami udah nemuin Trixie.”


Kekira tercekat. “Di mana dia sekarang?”


“Udah aman sama orangtuanya.”


Kekira menghela nafas lega.


“Trus kamu liat wajah penculiknya?”

__ADS_1


“Mereka pake topeng. Jumlahnya 2 orang.”


“Laki-laki apa perempuan?”


“Dari posturnya sih laki-laki.”


Akbi masih kebingungan. “Kalian disekap di mana? Kamu ingat posisinya?”


Kekira berpikir keras. “Aku nggak inget. Tapi tempatnya gua yang gelap. Aku berhasil lepasin talinya dan lepasin Trixie juga Fifi, waktu penculik lagi pada tidur.”


“Kamu inget, kira-kira berapa lama kamu jalan dari gua itu sampai Trixie jatuh?”


“Ngg kayaknya belum lama. Sekitar setengah jam.”


“Gue rasa tempatnya nggak jauh dari lokasi kita temuin Trixie.” Reno memberi tanda di peta.


“Apa lagi yang kamu inget?”


Kekira berpikir lagi. “Kami melewati jalan terjal sekitar jurang. Jalannya berbatu. Lalu… oh ya, pas keluar dari gua, aku denger suara air. Kayak aliran sungai gitu. Suaranya nggak begitu jelas, tapi aku dengar.”


“Oke. Gue lapor dulu ke tim SAR dan polisi. Mereka bakal lakuin investigasi ke gua itu. Mungkin kita dapet petunjuk untuk nyelametin korban-korban lainnya.”


Begitu Reno pergi, Kekira menatap Akbi.


“Bi, ada hal yang ngeganggu pikiran aku.”


“Apa itu?”


“Kayaknya aku kenal salah satu penculik.”


Akbi kaget. “Kamu kenal? Siapa?”


“Ya aku sih masih belum yakin. Tapi aku ngerasa pernah liat dia.”


“Kamu sempet liat wajahnya?”


Kekira mengangguk. “Waktu dia buka topengnya untuk ngerokok. Walau nggak begitu jelas, tapi aku yakin pernah liat dia.”


“Kamu inget dia siapa?”


Kekira menggeleng. “Aku belum inget.”


Akbi mengusap bahunya. “Ya udah, jangan dipaksain. Kalau kamu udah inget, kamu kasih tau aku.”


“Tapi aku bener-bener takut, Bi. Mereka sakit jiwa. Mereka siksa perempuan tanpa perasaan. Bahkan mereka nggak segan-segan nyakitin korbannya.”


Akbi menatap Kekira dan memeluk bahunya.


“Kamu tenang. Sekarang udah aman. Ada aku di sini. Aku nggak akan pernah tinggalin kamu sendiri.”


Kekira menyandarkan kepala di bahu Akbi.

__ADS_1


***


__ADS_2