Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Gak boleh!


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian..


Waktu terus berlalu tanpa henti, selayaknya cinta Setya dan Intan. Semenjak ulang tahun Setya waktu itu, hubungan mereka berdua semakin romantis saja membuat siapapun yang melihat merasa iri. Bayu dan Ifa pun sama, mereka juga semakin romantis. Keromantisan mereka membuat gadis-gadis tak lagi berani berpikir untuk mengambil hati Setya maupun Bayu, karna mereka sudah tau pasti jawaban apa yang akan mereka dapatkan.


...****************...


"Ayah bertanya sekali lagi, beneran kalian gak ambil cuti dan ikut ayah-bunda ke rumah sepupu kalian saja?" Tanya ayah memastikan.


Akhir pekan ini sepupu Intan yang ada di luar kota akan menikah. Dan hari ini ayah dan bunda akan berangkat ke sana. Ayah bertanya untuk memastikan sekali lagi pada ke dua anaknya, karna keduanya memilih tidak ikut.


Intan lebih memilih untuk bersama Setya di akhir pekan. Karna ia tahu jika ia memilih ikut, disana pasti ada keluarga besar. Dan hal yang paling Intan tidak suka adalah, obrolan para orang tua yang membanding-bandingkan anak mereka.


Ayah dan bunda yang tidak memiliki niat untuk bergabung dalam obrolan itu pun harus ikut, karna sifat ayah yang posesif itu tentu saja sulit terima kalau anak-anaknya direndahkan. Dan hal itulah yang membuat Intan paling menjauhi pertemuan keluarga besar. Dika juga merasakan hal yang sama dengan Intan, mangkannya dia juga memilih tidak ikut.


"Enggak ayah." Jawab Intan dan Dika serempak.


"Tapi, apakah kalian akan baik-baik saja di rumah sendiri?" Tanya ayah dengan wajah khwatir.


"Ayah, kita bukan anak kecil lagi. Berhentilah bersikap berlebihan." Jawab Dika sambil memutar bola matanya malas.


"Iya ayah. Intan sekarang juga kan uda SMA, bentar lagi malah mau UAS naik kelas dua. Ayah jangan khawatir ya. Intan dan Dika pasti bisa jaga diri kok. Intan akan jadi kakak yang ngelindungin adiknya dengan baik. Intan juga akan sering-sering telpon ayah." Jawab Intan meyakinkan sang ayah.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku bukan anak kecil.!!" Seru Dika yang tak terima diperlakukan seperti anak kecil. Padahal sekarang dia sudah remaja.


"Haha. Baiklah adikku sayang." Ejek Intan sambil mengacak rambut Dika. Dika tentu saja merasa tak senang dan menatap Intan dengan tajam.


"Ya uda kalau gitu, hati-hati ya di rumah. Jangan lupa makan dan jangan begadang. Kalau mau keluar di akhir pekan jangan pulang terlalu malam." Ucap bunda menasehati.


"Baik bunda." Jawab Intan dan Dika bersamaan lagi.


Walaupun berat, ayah akhirnya menyetujui keinginan kedua anaknya. Sebenarnya ayah masih khawatir kalau meninggalkan anaknya di rumah sendiri, karna sebesar apapun anak-anaknya sekarang, bagi orang tua mereka tetaplah seorang anak kecil.


"Oh, Intan berangkat dulu ya ayah-bunda. Kak Setya sudah menjemput. Ayah dan bunda hati-hati di jalannya ya. Kalau pulang jangan lupa bawa oleh-olehnya ... Assalamu'alaikum." Ucap Intan sembari mencium tangan ayah dan bunda bergantian.


"Wa'alaikum salam. Hati-hati ya tuan putri ayah." Jawab ayah sembari membelai lembut rambut sang putri. Intan pun mengangguk dan mencium pipi ayah sekilas sebelum berangkat.


Setelah itu, Intan baru benar-benar berlalu keluar dari rumah. Senyumnya semakin lebar saat melihat Setya yang melambaikan tangan dan tersenyum padanya.


"Selamat pagi tuan putri." Sapa Setya dengan senyum lembut.


"Pagi juga pangeran." Jawab Intan dengan senyum ceria.


Setelah itu, mereka berdua segera berangkat. Mereka sampai di sekolah bersamaan dengan Bayu dan Ifa.


"Pagi kak Bayu-Ifa." Sapa Intan dengan senyum lebar.


"Kau kenapa keliatan bahagia banget sih?" Tanya Ifa heran dengan tingkah Intan.

__ADS_1


"Ehm, hehe. Lagi seneng aja, karna aku gak perlu ikut ayah-bunda ke luar kota. Di rumah sendirian tuh menyenangkan banget. Oh ya, malam ini mau menginap? Kita bisa mengobrol atau maraton drama bersama semalaman nanti." Seru Intan antusias.


"Serius? Asyik!! Baiklah, nanti aku akan menginap ... Tapi, tumben ayah membolehkanmu sendiri di rumah?" Tanya Ifa heran, karna biasanya Intan pasti dititipkan di rumahnya kalau ditinggal luar kota.


"Sebenarnya masih ada Dika di rumah. Tapi, abaikan saja anak itu. Hehe. Kita puaskan nanti malam!" Jawab Intan senang.


"Gak boleh!" Seru Setya dan Bayu bersamaan. Intan dan Ifa pun menoleh bersamaan ke arah Setya dan Bayu dengan bingung.


"Kenapa?" Tanya mereka bersamaan.


"Begadang itu enggak baik! Apalagi, buat liat drama." Seru Bayu sambil menbayangkan Ifa menganggumi wajah aktor tampan dalam drama itu semalaman.


"Bahaya juga kalau kalian di rumah tanpa oramg dewasa. Lebih baik Intan menginap di rumah Ifa!" Seru Setya menambahi.


Intan dan Ifa cemberut mendengar omelan Setya dan Bayu.


"Kan gak setiap hari. Apalagi besok kan hari libur. Kita bisa tidur sepuasnya nanti." Bantah Ifa tak mau mendengarkan ocehan Bayu.


"Kenapa bahaya? Sebelum masuk kompleks rumah kan ada satpam yang menjaga. Lagian, kalau malam ada satpam yang keliling kok. Ayah dan bunda juga uda kasih izin." Seru Intan juga tak mau kalah.


"Tetep gak boleh!" Seru Bayu dan Setya bersamaan lagi.


"Huh, terserah deh. Yuk Tan, kita ke kelas. Kita rencanakan mau maraton drama apa nanti." Seru Ifa antusias, sambil menarik Intan pergi meninggalkan Setya dan Bayu.


"Intan!!"


Panggil Setya dan Bayu berusaha menyusul Intan dan Ifa. Namun, yang dipanggil malah semakin mempercepat langkah mereka.


Dan selama seharian itu Setya dan Bayu msih terus berusaha meyakinkan Intan dan Ifa agar tidak bermalam di rumah Intan. Namun, tentu saja Intan dan Ifa tidak mau mendengarnya.


"Kamu yakin gak mau nginep aja di rumah Ifa? Itu lebih aman, daripada disini tanpa orang dewasa." Ucap Setya lembut berusaha meyakinkan Intan. Saat ini Setya di depan rumah Intan setelah mengantarnya.


"Tidak apa-apa kak. Keamanan disini terjamin. Kalau tidak, ayah gak bakal memberikan izin." Jawab Intan dengan senyuman.


"Ehm, kalau gitu bagaimana dengan makanan? Gak ada bunda yang masakin kan? Apa kamu akan selalu keluar untuk beli makanan?" Tanya Setya mencari alasan lain.


"Aku kan sekarang uda bisa masak kak Setya. Lagian, sekarang kan uda banyak aplikasi buat beli makan tanpa harus keluar rumah. Sudah, kak Setya tidak perlu terlalu cemas. Nanti aku akan sering menghubungi kak Setya, ok?" Ucap Intan berusaha meyakinkan Setya. Akhirnya, Setya juga tidak bisa membantah lagi. Dia hanya bisa mengiyakan.


"Jangan terlalu cemas. Sebagai gantinya kita bisa menghabiskan akhir pekan bersama. Cup ... Sayang kakak." Ucap Intan lembut sambil mencium pipi Setya.


Setya mau tidak mau akhirnya bisa tersenyum. Intan paling bisa membuatnya tak lagi marah atau khawatir dengan ekspresi menggemaskannya saat ini.


"Baiklah kalau begitu. Sering-sering hubungi aku." Seru Setya memperingatkan.


"Siap bos!" Jawab Intan dengan senyum lebar.


Setelah itu Intan masuk ke dalam rumah. Rumah sudah sepi karna ayah dan bundanya sudah berangkat. Sedangkan Dika belum pulang dari sekolah. Akhirnya, setelah berganti pakaian Intan memulai aksinya untuk membersihkan rumah dan memanaskan makanan untuk makan malam nanti. Setelahnya, karna kelelahan, Intan pun tertidur sampai malam.

__ADS_1


Saat ia bangun, terlihat langit sudah berubah gelap dari jendela kamarnya. Dia segera keluar kamar dan melihat Dika sedang bermain ponsel di ruang keluarga.


"Sudah pulang?" Tanya Intan mendekati adiknya.


"Ya. Kenapa kakak tidak mengunci pintu saat tidur begitu pulas di kamar?! Untung tak terjadi apa-apa!" Omel Dika pada Intan.


Sebelumnya, dia cukup terkejut saat memasuki rumah yang tidak dikunci. Ia kira, kakanya sedang terjaga, ia sangat terkejut saat melihat sang kakak tertidur pulas di dalam kamar. Setelah memastikan semua baik-baik saja, Dika bisa bernafas lega.


"Ma-Maaf. Aku kecapekan habis bersihin rumah dan menyiapkan makan malam." Jawab Intan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ya sudah, sana mandi dan makan bersama." Seru Dika melihat penampilan Intan terlihat lelah dan acak-acakan.


"Kamu makam saja dulu. Aku masih belum lapar. Dan jangan bersikap seperti kakak. Disini aku yang kakak." Jawab Intan tajam sembari meninggalkan Dika. Dika hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan sang kakak yang seperti anak kecil itu.


"Haih, aku sering bingung, disini yang jadi kakak itu sebenarnya siapa." Gumam Dika sambil menatap punggung Intan.


"Dia selalu bertingkah seperti orang dewasa. Padahal yang kakak kan aku. Hm!! ... Tapi, aku juga emang ceroboh sih. Ah, biarin deh." Gerutu Intan sembari menuju kamar mandi.


Setalah membersihkan dirinya, Intan melihat jam di nakas yang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ia heran, kenapa Ifa belum datang. Ia segera mengambil ponselnya dan hendak mengirimi Ifa pesan, tapi disaat yang bersamaan ponselya berdering tanda telpon masuk dari Ifa.


"Hallo Ifa, kamu dimana? Apa sudah di depan?" Tanya Intan setelah mengangkat telpon dari Ifa.


"Hallo Tan, maaf aku gak jadi menginap di rumahmu." Jawab Ifa merasa bersalah.


"Hah? Kenapa?" Seru Intan terkejut, ia juga merasa kecewa.


"Kak Bayu tiba-tiba ke rumahku dan menceritakan rencana kita ke mama. Akhirnya, mama gak bolehin aku nginep. Mama juga malah nyaranin kau buat menginap di rumahku aja." Jawab Ifa cemberut sambil menatap Bayu disebelahnya dengan kesal.


Sedangkan Bayu hanya tersenyum senang, karna berhasil membuat Ifa tak perlu melihat aktor drama itu semalaman.


"Haih, kak Bayu rese banget coba! Padahal aku tadi uda bisa ngeyakinin kak Setya. Ya sudahlah, gak apa-apa. Bilangin ke mama, aku gak bisa nginep. Aku di rumah aja sama Dika." Jawab Intan pada akhirnya. Sebenarnya dia juga merasa kesal sekaligus kecewa. Dia sudah menyiapkan semuanya untu begadang malam ini.


"Iya, maaf ya, Tan. Lain kali kalau kita ada rencana seperti ini lagi, kita tak perlu bilang pada kak Setya dan kak Bayu." Seru Ifa dengan masih menatap Bayu tajam.


"Haha. Baiklah." Jawab Intan. Setelah itu mereka mengkahiri panggilannya dengan Intan.


"Huh.. Padahal aku uda stock banyak snack. Kak Bayu rese!" Gumam Intan sambil menatap setumpuk snack yang dia beli sebelumnya.


.


.


.


Bersambung..


(Chapter selanjutnya akan rilis nanti sore jam 17.00)🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2