Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Jangan-Jangan?


__ADS_3

Kedatangan mama Setya saat itu bukan hanya karna merindukan putra dan menantunya, tapi juga untuk membawakan beberapa bahan masakan untuk Intan dan Setya. Karna, mama tahu Intan tak akan sempat untuk membeli bahan masakan. Padahal, sebelumnya bunda juga sudah membawakan beberapa bahan masakan untuk Intan.


"Makasih ya ma. Intan jadi gak perlu belanja lagi." Ucap Intan ramah.


"Sama-sama sayang, mama tahu kamu pasti capek setelah pulang dari luar negeri. Besok kamu juga langsung kerja lagi?"


"Iya ma. Intan sudah izin 2 minggu. Itu sudah cukup lama. Intan gak bisa ninggalin murid-murid Intan lagi."


"Kamu benar. Tapi, jangan terlalu kecapekan ya. Tetap jaga kesehatan. Supaya cucu mama bisa lebih cepat jadi." Ucap mama dengan mata berbinar.


"Bismillah ya ma. Do'akan Intan dan kak Setya." Jawab Intan dengan senyuman.


"Do'a mama dan semuanya selalu bersama kamu dan Setya sayang." Ucap mama penuh kasih sayang.


"Cucu mama gak bakalan jadi, kalo mama menggangguku dan Intan seperti tadi." Seru Setya yang baru saja selesai mandi. Dia masih terlihat kesal.


"Dasar! Mama kan gak tau kalau kamu mau buat cucu. Ini masih sore." Seru mama tak mau disalahkan. Intan yang mendengar itu menjadi malu sendiri.


"Mama, kak Setya ... Debatnya nanti saja ya, Intan mau masak untuk makan malam dulu." Ucap Intan menengahi perdebatan anak dan ibu itu.


"Yauda, Setya sana pergi dari sini. Mama mau masak bareng menantu mama! Hush-Hush.." Seru mama dengan gerakan tangan yang mengusir Setya.


"Kenapa Setya harus pergi. Setya kan juga mau bantu masak istri Setya." Seru Setya yang juga tak mau mengalah.


"Kak Setya, masih mau disini? Gak inget sama ini?" Tanya Intan sambil menunjukkan jarinya yang terluka tadi.


"Ah ... Baiklah, aku akan pergi." Seru Setya yang baru teringat janjinya pada Intan tadi yang tak akan menganggu Intan memasak lagi. Mama tersenyum puas saat melihat Setya kalah dan harus pergi.


Akhirnya hanya mama yang membantu Intan memasak. Sedangkan, Setya memilih mengobrol dengan papa dengan topik yang hanya diketahui oleh para lelaki. Kalau, Tasya sendiri lebih memilih berkeliling di rumah baru kakaknya. Juga melihat oleh-oleh yang dipilih oleh Intan saat honeymoon sebelumnya.


Setelah makan malam..


"Mama, Papa, Tasya apa gak menginap di rumah kami aja? Ini sudah malam." Ucap Intan tak enak hati jika harus membiarkan mertuanya pulang.


Setya menatap sang mama seperti mengancam dan menyuruh agar pulang saja. Intan yang melihat itu langsung saja mencubit lengan Setya pelan.


"Enggak deh sayang. Kami pulang saja dulu. Biar cucu mama cepet jadinya." Ucap mama penuh harap. Intan sampai merasa malu di buatnya. Tasya sendiri lebih memilih cuek dengan pembicaraan itu.


"O-Oh begitu.. Kalau gitu hati-hati ya ma-pa." Ucap Intan yang sedikit gugup.


"Iya, sayang. Bersenang-senanglah." Ucap mama sambil tersenyum jahil.


Kemudian, mama-papa dan Tasya segera pulang ke rumah. Dan menyisakan Setya dan Intan seorang diri.


"Kak Setya! Intan kesal tahu gak sama kakak! Gara-gara kakak, aku tuh jadi malu banget sama mama dan papa!" Seru Intan dengan berkacak pinggang sambil mendelik ke arah Setya di sampingnya.

__ADS_1


"Apa salahku? Mama kan memang mengganggu kita yang mau buatin cucu untuk mereka." Jawab Setya santai.


"Ya, tapi kan gak kayak gitu juga dong kak Setya!" Seru Intan kesal.


"Sudahlah. Sekarang, kita fokus buat cucu saja. Ya kan? Kita teruskan yang terputus tadi sore. Hehe.."


"Ahh! Kak Setya mesum!" Seru Intan saat Setya tiba-tiba mengangkatnya dan membawanya ke kemar mereka.


"Kalo aku gak mesum. Mama bakal lebih lama dapet cucunya lho." Goda Setya dengan alis yang terangkat.


Setelah pernikahan Intan dan Setya, tahun selanjutnya satu persatu teman dekat Intan mulai menyusul untuk menikah. Diawali oleh pasangan Alex-Anisa, kemudian Toni-Putri dan terakhir Robby-Bunga. Semua sudah mulai memasuki babakan baru dalam kehidupan mereka.


...****************...


Hari itu di rumah Ifa dan Bayu. Bayu yang baru saja bangun dari tidurnya, cukup terkejut saat melihat Ifa belum bangun dari tidurnya seperti biasa.


"Sayang, kamu gak bangun? Gak kerja kah hari ini?" Tanya Bayu sambil mengguncangkan pelan tubuh Ifa.


"Hmm? Hari ini aku mau izin aja deh kak. Badanku rasanya gak enak." Ucap Ifa yang masih terpejam dan tetap meringkuk di dalam selimut.


"Kamu sakit? Mana yang sakit sayang?" Seru Bayu khawatir.


"Tenanglah kak Bayu. Aku sepertinya kecapekan saja. Istirahat untuk hari ini pasti nanti akan sembuh." Ucap Ifa berusaha menenangkan suaminya yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.


"Gak usah kak Bayu. Kakak siap-siap aja ke kantor. Oh ya, Ifa harus kasih tau mama kalo gak bisa bantu buatin sarapan.." Seru Ifa seakan teringat akan mertuanya. Dia berusaha bangun, tapi kepalanya yang pusing membuatnya oleng dan akan jatuh terjerembab.


"Sayang, uda-uda. Biar aku aja yang kasih tau mama. Kamu istirahat aja, ok?" Seru Bayu sambil membantu Ifa untuk berbaring kembali.


"Makasih ya kak." Ucap Ifa dengan senyuman diwajah pucatnya.


"Sama-sama sayang, bentar yaa.." Ucap Bayu sambil berlalu keluar kamarnya untuk mencari sang mama.


"Mama.." Panggil Bayu saat melihat sang mama sudah berada di dapur pagi itu.


"Ada apa Bay? Oh ya, dimana menantu mama? Tumben, biasanya Ifa duluan lho yang ada di dapur daripada mama." Tanya mama bingung.


"Ifa lagi sakit ma. Kepalanya pusing, dia kelihatan lemas banget. Jadi, Bayu larang dia buat ke dapur bantuin mama." Jawab Bayu memberitahu.


"Apa? Kenapa bisa Ifa sakit? Apa parah? Perlu kita bawa ke rumah sakit?!" Seru mama panik.


"Tenang ma. Ifa bilang kalo dia sepertinya kecapekan saja. Jadi, dia maunya istirahat aja di rumah seharian ini ... Bayu, sebenarnya ingin di rumah aja jagain Ifa, tapi hari ini Bayu ada jadwal sama Setya ke rapat penting. Jadi, Bayu gak bisa izin. Mama bantu jagain istri Bayu ya?" Pinta Bayu pada sang mama.


"Kamu nih apa'an sih?! Tanpa kamu minta juga mama bakalan jagain putri mama. Sana kamu siap-siap aja. Mama akan masak dan buatin Ifa bubur juga, supaya dia bisa minum obat." Ucap sang mama perhatian.


"Waahh. Mama memang mertua idaman. Makasih mama." Seru Bayu sambil mencium sekilas pipi sang mama sebelum dia pergi untuk kembali bersiap berangkat kerja.

__ADS_1


Selama bersiap-siap, Bayu terus menatap sang istri yang masih meringkuk tak berdaya di bawah selimut dengan mata terpejam. Rasa ingin membolos kerja begitu besar Bayu rasakan. Tapi, Bayu juga tahu tentang tanggung jawabnya. Akhirnya, dengan berat hati dia harus meninggalkan istrinya.


"Sayang, aku berangkat dulu yaa. Nanti, jangan lupa makan bubur buatan mama terus minum obat. Hari ini kamu istirahat aja, jangan lakukan apapun di rumah, ya." Pesan Bayu sebelum berangkat. Ifa menggangguk lemah sebagai jawaban.


"Cepat sembuh sayang. Cup.." Ucap Bayu sambil mencium kening Ifa sebelum dia berangkat.


"Ma, kalau ada apa-apa langsung hubungi Bayu yaa..". Pesan Bayu pada sang mama sebelum dia berangkat kerja.


Setelah itu Bayupun berangkat. Bayu menghembuskan nafas panjang mengingat keadaan istrinya. Padahal, rencananya nanti malam dia ingin mengajak Ifa makan malam di luar untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke 1. Yah, sudah satu tahun mereka menjalani lika-liku hidup berumah tangga. Dan tak terasa waktu cepat berlalu.


"Cepat sembuh ya sayang.." Gumam Bayu sambil terus memikirkan sang istri.


Di rumah, setelah mama selesai membuatkan bubur untuk Ifa, dia segera pergi ke kamar Ifa untuk memberikan buburnya.


"Sayang, masih pusing? Makan bubur dulu ya? Supaya bisa minum obat." Ucap mama lembut pada Ifa.


Ifa mengangguk lemah, mama dengan sangat lembut membantu Ifa untuk duduk dan menyuapinya makan. Tapi, tiba-tiba saat aroma amis ayam dari bubur masuk ke dalam indra penciuman Ifa. Seketika, seperti ada yang bergejolak di dalam perutnya. Ifa segera berlari ke kamar mandi.


Hoekk..Hoekk..


"Ifa sayang, kamu kenapa?" Seru mama khawatir sambil memijit pelan leher Ifa yang terus mual di wastafel.


"Ifa gak apa-apa ma. Cuman bau amis ayamnya buat Ifa mual." Jawab Ifa yang masih merasa mual. Mama terdiam dan sedikir berpikir.


"Sayang, kapan terakhir kali kamu kedatangan tamu?" Tanya mama memastikan.


"Kedatangan tamu? Hmm. Kapan ya? Eh, Ifa kelihatannya dua bulan yang lalu deh ma. Ifa juga baru sadar." Jawab Ifa sambil mengingat-ingat siklus tamunya.


"Sayang, apa jangan-jangan kamu?" Tebak mama dengan mata berbinar.


"A-Apakah mungkin ma?" Tanya Ifa yang juga cukup terkejut dengan jawaban yang ada di kepalanya saat ini.


"Uda, kalau gitu kita pastikan ke rumah sakit aja dulu. Bismillah, semoga hasilnya sesuai dengan apa yang kita harapkan." Ajak mama dengan semangat.


"Baik ma. Ifa siap-siap dulu." Jawab Ifa dengan senyuman. Akhirnya, mama dan Ifa pun segera bersiap. Di saat Ifa bersiap, dengan lembut dia menyentuh perutnya sendiri.


"Apakah mungkin disini ada kehidupan baru?" Gumam Ifa sambil mengusap pelan perut datarnya.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2