Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
42. Ketakutan Akbi


__ADS_3

TIBA di lantai 12, Akbi mempererat genggamannya pada Kekira.


Begitu berjalan menuju apartemen paling ujung, tiba-tiba Akbi menarik Kekira memasuki tangga darurat.


“Aku nggak bisa serahin kamu sama dia!”


“Tapi, Bi.. gimana dengan Tara?”


“Aku bakal lakuin APAPUN untuk nyelametin Tara, tapi nggak dengan korbanin kamu.”


“Ini satu-satunya cara untuk bebasin Tara.”


Akbi mencengkeram lengan Kekira. “Aku nggak bisa ngelakuin itu! Kamu ngerti?!”


Kekira takut-takut menatapnya.


Akbi jelas mengkhawatirkannya.


Tapi ia melihat Akbi lebih takut jika terjadi apa-apa padanya.


“Bi, mungkin ini emang bahaya. Tapi kalau dengan cara ini Evan bisa ditangkap, maka ketakutan kita bisa berakhir. Aku yakin, akan selalu aman bersama kamu. Jadi tolong, biarin aku pergi. Aku cuma nggak mau ada korban lagi. Veni udah nggak ada. Kalau aja saat itu aku datang lebih awal, mungkin aku bisa cegah Mas Riga bunuh Veni. Kali ini aku nggak mau menyesal lagi. Tara harus selamat.”


Akbi menggeleng kuat dan menariknya dalam pelukannya.


“Tolong jangan bikin aku takut, Ki.”


Kekira menarik nafas berat. “Bi, aku lebih takut kalo kita terlambat nyelametin Tara. Gimana pun juga, dia cuma jadi korban. Lakuin apapun untuk selamatkan dia. Kalaupun kamu nggak ada perasaan sama Tara, lakukan ini untuk Tari yang kamu sayang.”


Akbi terperangah dan melepas pelukannya.


“Semua pasti baik-baik aja.” Kekira menyentuh pipi Akbi. “Kamu jangan takut. Kalau kamu percaya, kita akan selamat.”


Sungguh ia tidak ingin melepas Kekira, namun apa yang dikatakannya memang benar.


Tiba-tiba HP-nya berbunyi. Ada pesan.


#Temui gue di atap. Gue bakal bawa si lumpuh ke sana.#


Akbi makin geram. “Makin gila ni orang!”


“Ayo, Bi. Kita selesaikan semua sekarang.”


“Aku nggak siap biarin kamu nanggung resiko besar.”


“Aku udah terlanjur terlibat, Bi. Tapi aku percaya, kalau kita bisa lewatin ini semua, hidup orang lain juga bakal lebih tenang.”


***


“Gue udah dateng. Cepet lepasin Tara.”


“Weitsss… santai, bro… lo bawa kakak ipar gue nggak?”


Sebagai jawaban, Kekira muncul di atap apartemen.

__ADS_1


Tubuhnya langsung menegang melihat Tara di kursi roda, dengan pistol mengarah ke kepala.


Tara menangis ketakutan. “Bi, tolongin gue.”


“Van, kenapa lo mau bunuh Tara?” tanya Akbi keras. “Dia kan mantan pacar lo. Apa lo nggak ada rasa sayang sama dia?”


“Sayang?” Evan tergelak hebat. “Semua cewek sama aja, bisanya cuma mainin perasaan cowok. Contohnya ya si lumpuh ini. Disaat gue lagi sayang dia, dia malah ninggalin gue. Cewek kayak dia pantesnya mati! Gue udah muak waktu dia campakin gue demi lo! Makanya gue bunuh dia dengan cara seperti kecelakaan tabrak lari. Sayangnya, ternyata yang gue bunuh kembarannya. Dan gue tau lo nyari-nyari gue buat bales dendam. Lo cowok payah, gara-gara cewek jadi lemah. Tapi gue nggak bakal biarin ada cewek nguasain gue.”


“Van, tolong maafin gue.” Tara gemetar memohon. “Gue nggak sengaja.”


“Simpen muka memelas lo! Gue nggak bakal kasian! Gara-gara cewek kayak lo berdua, banyak hubungan rusak. Gue nggak bisa lupain gimana sakitnya nyokap gue begitu dicampakin bokap gara-gara cewek kayak kalian! Sampai nyokap gue bunuh diri. Lo semua nggak akan pernah ngerti apa yang udah gue rasain!”


“Lo nggak seharusnya lampiasin semua dendam lo sama orang lain. Nyokap lo pasti sedih kalo lo begini terus.” Akbi berusaha menahan emosi.


“Lo tau apa tentang nyokap gue!” bentak Evan. “Lo nggak pernah rasain apa yang gue rasain!”


Akbi masih berusaha menenangkan Evan, namun Evan keburu menodongkan pistolnya.


“Cukup basa-basinya! Sekarang, lo serahin Adinda, baru gue bebasin si lumpuh ini.”


Kekira dan Akbi saling pandang.


Genggaman tangannya mengeras.


Angin mengibarkan pakaian yang mereka kenakan saking kencangnya.


“Lepasin Tara lebih dulu. Dia nggak bisa jalan.”


“Lo pikir gue bego?”


Nampaknya Evan terpengaruh omongan Akbi.


Begitu kursi roda Tara bergerak ke arahnya, dengan cepat Kekira menariknya menjauh.


“Sialan lo! Kalian coba nipu gue!”


Akbi maju menyerang Evan, hingga senjatanya terpental jauh.


Terjadilah perkelahian antara mereka.


Segalanya terjadi begitu cepat.


DORRR!!


Kepalanya berputar cepat.


Darahnya mendidih melihat Riga dengan pistol di udara.


Lebih emosi karena Kekira berada dalam cengkeraman cowok gila itu.


“Tadinya gue nggak niat bunuh Veni kalo aja dia mau bungkam soal tempat persembunyian gue dari polisi. Sayangnya cewek mulutnya emang nggak bisa dipercaya. Jadi gue bunuh dia, supaya dia diem.”


“Riga, jangan lo sakitin dia!”

__ADS_1


“Lo suka kan sama mantan tunangan gue ini? Selametin dia kalo lo bisa!”


Tanpa diduga, Riga menendang kursi roda Tara hingga melaju menuju pagar pembatas.


“Tara!!!” jerit Kekira.


Akbi bingung harus menyelamatkan siapa dulu.


“Biraaa tolongin gue!”


Evan menerjang Akbi hingga Akbi makin emosi.


“Akbi!!” teriak Kekira histeris, karena Riga mencekal lehernya dengan pistol mengarah ke kepala.


Buaakkkkk!!


Evan terpental jatuh.


Akbi menarik kerahnya dan melayangkan tinjunya ke wajah Evan.


“Mas, tolong lepasin aku…” Kekira meronta takut.


“Tenang aja, Sayang. Aku nggak akan sakitin kamu, kecuali kepepet.” Riga mengecup pipi Kekira yang langsung menghindar.


Melihat Evan terdesak, Riga mengarahkan pistol pada Akbi.


Kekira histeris dan menarik tangan Riga, hingga tiba-tiba pelatuk terlepas.


DOOORRR!!


“Brengsek ni cewek!”


Buaakkkkk!!


Kekira pingsan seketika ketika kepalan Riga menghantam kepalanya.


Akbi menangkap tubuh Evan yang terjatuh lemas.


Riga kaget karena tembakannya malah mengenai adiknya sendiri.


Peluru itu langsung menembus jantung Evan.


“ANDRAAAA!!” pistol terlepas dari genggaman Riga begitu polisi datang dan langsung meringkusnya.


Riga hanya menatap kosong tubuh adiknya yang tidak bergerak.


Tara berhasil diselamatkan ketika nyaris kursi rodanya terjun bebas dari lantai 20.


Akbi terduduk lemas, lega semua sudah berakhir.


Ia hanya menatap Kekira yang diangkut tim medis.


Dendamnya terbalas sudah.

__ADS_1


***


__ADS_2