Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Sepertinya ada yang aneh?


__ADS_3

Di perjalanan menuju taman belakang, Intan hanya diam tak mengatakan apapun. Setya terus menatap Intan dengan bingung. Wajah Intan terlihat murung dan tak bersemangat.


Sesampainya di taman belakang, Intan melepaskan genggaman tangannya dari Setya. Dia berjalan ke arah salah satu bangku kayu di bawah pohon besar. Dia menarik nafas dalam seakan berusaha menyegarkan pikirannya.


"Kamu kenapa?" Tanya Setya mendekati Intan yang membelakanginya.


"Aku mengantuk." Jawab Intan sambil duduk lalu membenamkan wajahnya di meja kayu.


Setya tentu saja tak bisa dibohongi dengan tingkah Intan itu. Dia mendekati Intan dan duduk disebelahnya.


"Ada apa? Gak mau cerita?" Tanya Setya sambil membelai rambut panjang Intan dengan lembut.


Intan hanya menggeleng pelan dan tetap dalam posisinya. Pikirannya masih berkecamuk. Ia tidak suka melihat Putri yang bersikap begitu manja pada Setya. Jelas sekali, kalau Putri sedang berusaha merebut perhatian Setya. Namun, Intan juga tidak bisa tiba-tiba marah dan melerang itu.


Memang dia pacarnya Setya, tapi sebelumnya Setya sudah mengatakan kalau hanya menganggap Putri sebagai adik. Jadi, dia gak mau mengekang Setya. Dia takut, kalau Setya justru tidak nyaman dengannya. Setya sendiri semakin bingung melihat Intan seperti itu. Akhirnya, dia menarik tubuh Intan agar menghadapnya. Setya cukup terkejut melihat mata Intan memerah, seperti menahan tangis.


"Ada apa?" Tanya Setya khawatir.


Intan tak menjawab dan memilih untuk menghambur ke pelukan Setya. Dia memeluk Setya dengan erat dan membenamkan wajahnya di dada bidang Setya. Intan memeluk Setya seakan tak ingin kehilangannya. Dengan pelukan Intan itu, Setya seakan mengetahui apa yang jadi alasan Intan seperti itu. Dia membalas pelukan Intan dengan erat.


"Aku gak bakal meninggalkanmu. Karna, waktuku akan berhenti jika aku melakukannya. Maafkan aku, sudah membuatmu seperti ini. Aku tidak akan membuatmu khawatir lagi." Ucap Setya dengan lembut.


Intan mengangguk pelan dan tetap memeluk Setya dengan erat.


Aku sudah membuat Intan seperti ini..


Aku sudah mengabaikannya dan membuatnya merasa sedih.. Bagaimana bisa aku melakukan ini?! ... Setya.


Setya pun merasa bersalah dan merutuki kebodohannya yang tanpa sadar sudah membuat Intan sedih. Padahal, dia sudah berjanji untuk selalu membuat Intan tersenyum.


Dari kejauhan, ternyata Putri mengamati Setya dan Intan. Sebelumnya, dia memang sedikit takut dengan ancaman Toni. Namun, dia juga tidak ingin menyerah semudah itu.


"Kak Setya, terlihat sangat mencintai pacarnya itu. Kalau begitu aku tak bisa menggunakan cara terang-terangan seperti sebelumnya ... Aku harus mendekati mereka secara perlahan. Diawal aku harus mendekati pacar kak Setya dulu, lalu mencari kelemahannya. Baru, nanti aku akan menunjukkannya pada kak Setya. Aku akan membuat kak Setya membenci pacarnya itu secara perlahan." Gumam Putri dengan rencana jahatnya. Setelah itu dia pergi meninggalkan Setya dan Intan.


...****************...


Sepulang sekolah..


"Sepertinya gadis bernama Putri itu sengaja mencari perhatianmu. Kau harus berhati-hati. Kalau kau sampai mengkhianati Intan, bukan hanya Ifa atau ayahnya yang akan marah padamu. Aku pun akan sangat kecewa padamu." Ucap Bayu dengan sorot mata yang memancarkan keseriusan.


"Itu tidak akan pernah terjadi. Kau sendiri juga tahu, bagaimana berartinya Intan bagiku. Aku harus memikirkan cara agar Putri tak seperti itu lagi padaku. Tanpa aku sadari itu membuat Intan terluka. Aku gak mau itu terjadi lagi." Jawab Setya tegas.


"Ya, aku percaya padamu! Kalau kau butuh bantuan, katakan saja padaku ... Dan ya, teman Intan si Toni itu dia juga bisa membantu. Tadi dia sudah memberikan peringatan tegas pada Putri juga." Ucap Bayu memberitahu.


Ternyata bocah itu menyadarinya lebih dulu. Sekarang aku paham tatapan tajamnya tadi padaku ... Setya


Setya dan Bayu segera menuju parkiran, karna Intan dan Ifa sudah berada di sana. Saat mereka hendak pulang, Putri meghampiri mereka.


"Anu ... Kak Intan ..." Ucap Putri mendekati Intan dengan kepala tertunduk.


Intan menoleh dan menatap Putri dengan bingung. Yang lain pun juga sama.


"Ada apa?" Tanya Intan bingung.

__ADS_1


"Putri mau minta maaf. Maaf kalau sikap Putri hari ini buat kak Intan marah sama Putri. Hari ini, Putri sangat senang bisa bertemu kak Setya lagi setelah sekian lama. Jadi, Putri sangat bersemangat. Maaf, kalau sikap Putri itu buat kak Intan gak suka. Kak Intan, mau maafkan Putri kan? Kak Intan mau jadi kakak Putri juga seperti kak Setya kan?" Ucap Putri dengan tatapan penuh harap.


Intan cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Putri. Tapi, melihatnya sampai memohon maaf seperti itu, membuat Intan merasa bersalah juga. Dia sudah mencurigai Putri dan bakal kesal padanya.


"Iya, kak Intan maafkan. Maaf juga karna sikapku terlihat dingin padamu sebelumnya. Tentu saja aku mau kok jadi kakaknya Putri juga." Jawab Intan dengan senyum ramah.


"Yey! Makasih kak Intan. Kak Intan baik banget!" Seru Putri senang sembari memeluk Intan dengan erat.


"Oh, maaf. Putri kalau senang, kebiasaan langsung peluk. Hehe." Ucap Putri malu.


"Hm, lain kali hati-hati ya. Jangan asal peluk semua orang." Ucap Intan lembut.


"Siap. Ehm, kalu gitu Putri pulang dulu. Sampai jumpa besok kakak-kaka semua." Ucap Putri sambil melambaikan tangannya dan berlalu pergi. Setya mendekati Intan dan merangkul bahunya.


"Sudah cemburunya ya, sayang?" Goda Setya pada Intan. Sekarang, Setya sudah merasa lega. Karna, sebelum dia selesai memikirkan cara menghentikan Putri, justru Putri berinisiatif sendiri.


"Ih, siapa juga yang cemburu!! Sudah yuk ah pulang, tapi mampir beli ice cream dulu ya." Ucap Intan dengan manja.


Sekarang, Intan merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Berbeda dengan Intan, Ifa masih menatap kepergian Putri dengan tatapan curiga. Ia masih merasa ada yang aneh dengan tingkah Putri.


"Kamu gak apa-apa?" Bisik Bayu yang melihat wajah Ifa begitu serius.


"Aku masih belum tenang. Si Putri itu , sepertinya ada yang aneh dengannya. Lihat saja kalau dia berani menyakiti Intan, aku sendiri yang akan buat perhitungan padanya." Seru Ifa geram. Bayu tersenyum melihat kemarahan Ifa karna tak mau sahabatnya terluka.


"Pacarku ini memang yang terbaik." Ucap Bayu sambil menepuk-nepuk puncak kepala Ifa dengan sayang. Ifa menatap Bayu dengan pipi bersemu merah.


"Kalian berdua langsung pulang atau ikut kami beli ice cream dulu?" Tanya Setya pada Bayu dan Ifa.


"Ikut dong!!" Jawab Ifa antusias yang dibalas senyum lebar oleh Intan.


Akhirnya, mereka semua segera menuju cafe langganan mereka untuk menikmati ice cream. Saat mereka berboncengan meninggalkan sekolah, Putri yang ternyata masih ada di luar gerbang sekolah, menatap mereka dengan tajam.


"Sebentar lagi, Putri yang akan duduk diboncengan kak Setya!" Gumam Putri dengan seringai diwajahnya.


...****************...


Hari-hari berikutnya Putri semakin dekat saja dengan Intan dan juga kelompoknya. Tapi, Ifa masih belum bisa sepenuhnya percaya pada Putri. Toni pun sama dengan Ifa. Dia masih selalu ikut nimbrung dengan Intan dan yang lainnya. Dia masih mengawasi Putri, karna dia sendiri masih curiga pada Putri.


Satu minggu pun berlalu, kini Putri tahu bahwa Intan itu ternyata sangat polos. Dia adalah tipe orang yang sulit menolak. Yah, bisa dikatakan dia memang gadis yang baik. Tapi, jelas kebaikan Intan itu justru menjadi sasaran empuk bagi Putri. Putri, juga tahu bahwa tidak semua murid di sekolah itu menyukai hubungan Intan dan Setya, apalagi setelah kasus Irhas sebelumnya. Putri, pertama kali mengetahui ini karna tak sengaja mendengar bisik-bisik siswi-siswi yang tak menyukai Intan.


Putri merasa sangat geram dan kesal. Bagaimana bisa Setya memilih Intan yang sudah tersentuh pria lain. Walaupun, belum sampai parah, tapi tetap saja. Putri juga sangat kesal pada Intan, kenap dia bisa tidak tahu malu tetap berada disamping Setya dengan kondisinya saat itu.


"Aku tidak bisa membiarkan ini lagi. Aku harus memberikannya peringatan!" Gumam Putri dalam hati.


Saat itu sedang jam istirahat, mereka sudah ada di kantin dan hendak membeli makanan yang mereka inginkan.


"Kak Intan, hari ini beli bakso sama-sama yuk! Capek banget nih habis olah raga tadi." Ucap Putri manja.


"Baiklah ... Ifa, kamu juga mau beli bakso?" Tanya Intan pada Ifa.


"Ehm, aku mie ayam saja." Jawab Ifa yang segera menuju stan mie ayam bersama Bayu.


"Mau aku belikan saja?" Tanya Setya lembut.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku bisa beli dengan Putri saja." Jawab Intan dengan senyuman.


Setelah itu Intan dan Putri segera menuju stan bakso. Setelah pesanan mereka dibuat, Intan mengambilkan pesanan Putri terlebih dulu dan menyerahkan pada Putri yang ada dibelakangnya. Tapi, tiba-tiba ...


Prankk!!


"Awww!! Panas!!" Pekik Putri sambil terduduk dengan memegangi tangannya yang tersiram kuah bakso panas. Intan segera menoleh pada Putri dengan khawatir.


"Putri? Kamu gak apa-apa? Kenapa bisa begini?" Tanya Intan dengan panik, karna melihat tangan Putri mulai memerah. Para murid yang melihat itu pun segera berkerumun.


"Intan kamu gak apa-apa?" Tanya Setya cemas mendekati Intan terlebih dulu.


Ifa dan Toni juga melihat Intan dengan cemas. Putri yang melihat semua lebih mengkhawatirkan Intan terlebih dulu padahal dirinya yang terluka pun semakin kesal.


"Aku tidak apa-apa. Tapi, Putri.." Seru Intan sambil melihat Putri.


"Ayo segera ke UKS." Jawab Setya sambil membantu Putri bangkit untuk menuju ke UKS.


"Pak, maaf ya mangkoknya jadi pecah. Saya akan bayar mangkoknya juga yaa.." Ucap Intan merasa bersalah. Ia juga hendak membantu untuk mengambil pecahan mangkok, sampai ...


"Jangan!!" Seru Setya dan Toni bersamaan sambil berusaha meraih tangan Intan untuk menghentikannya. Tapi, tentu saja Setya yang berhasil meraih tangan Intan lebih dulu.


"Itu bahaya. Gunakan sapu saja!" Seru Setya memarahi Intan karna tidak hati-hati.


"Sudah gak apa-apa mbak. Biar saya saja yang bereskan. Mbak-masnya cepet bawa temennya ke UKS saja." Ucap penjual bakso.


"Terima kasih, Pak." Ucap Intan ramah.


Akhirnya, mereka segera menuju UKS untuk mengobati luka Putri. Kata dokter lukanya tidak parah. Jadi, tidak akan meninggalkan bekas luka.


"Bagaimana kamu bisa ceroboh begitu? Kamu kan bukan anak kecil lagi Putri." Tanya Setya bingung.


"Ehm, sebenarnya tadi ... Saat kak Intan memberikan mangkok baksonya padaku, aku belum siap. Tapi, kak Intan sudah melepaskannya .."


"Ak-Aku?" Tanya Intan bingung. Sebelumnya, ia ingat kalau Putri sudah menerima mangkoknya. Tapi, kenapa Putri berkat seperti itu.


"Intan, benarkah seperti itu?" Tanya Setya pada Intan.


"Ti-Tidak. Aku mengingat kalau Putri sudah memegang mangkoknya kok. Tapi, kenapa tiba-tiba seperti itu? Aku juga tidak tahu." Jawab Intan jujur.


"Yasudah. Semuanya sudah baik-baik saja. Lain kali, kalian berdua harus lebih hati-hati lagi." Ucap Setya menengahi.


Sepertinya ada yang aneh? ... Intan-Ifa-Toni


.


.


.


Bersambung..


(Chapter selajutnya akan up nanti sore jam 17.00 , yaa🤗)

__ADS_1


__ADS_2