
Setelah itu mereka semua kembali ke kelas masing-masing. Intan, masih memikirkan apa yang terjadi tadi, mungkinkah memang benar ini kesalahannya? Tapi, ia masih sangat yakin kalau sebelumnya Putri benar-benar sudah menerima mangkok baksonya.
"Intan, benarkah yang kamu katakan tadi? Kalau kamu sudah melihat kalau Putri benar-benar memegangnya?" Tanya Ifa setelah mereka duduk di kursinya masing-masing.
"Iya. Bagaimanapun aku mencoba mengingat dan berpikir lagi, tetap saja aku hanya mengingat kalau Putri benar-benar sudah memegang mangkoknya." Jawab Intan sangat yakin, tapi dia juga bingung kenapa magkok itu bisa jatuh dan apalagi Putri mengatakan hal seperti itu.
"Aku percaya padamu, gak mungkin kamu mencelakai orang lain, walau kamu cemburu sekalipun. Tapi, kenapa bocah itu mengatakan kalau ini gara-gara kamu?! Ku rasa ada yang aneh disini." Ucap Ifa memikirkan hal tadi.
"Dia berusaha menghancurkan imagemu di depan pacaramu itu. Dia ingin membuatmu seolah-olah menjadi gadis jahat yang penuh dendam." Seru Toni menimpali.
"Huh? Kenapa begitu? Kami kan sudah berbaikan, aku juga sudah tidak cemburu lagi padanya. Dan apakah Putri benar-benar tega melakukan itu?" Ucap Intan tak percaya dengan dugaan Toni.
"Aku malah setuju dengan perkataan Toni. Kamu jangan terlalu percaya dengan bocah itu. Dia bisa saja mendekatimu untuk mendapatkan kak Setya." Ucap Ifa tegas. Intan hanya terdiam mendengar perkataan Toni dan Ifa. Dan entah bagaimana, hati kecilnya juga merasa ada yang aneh dengan itu.
Ternyata, peringatanku waktu itu tak diperhatikannya. Dia sudah mulai bergerak, liat saja nanti, kalau dia berani macam-macam pada Intan, aku yang akan turun tangan! ... Toni.
...****************...
Pulang sekolah.
"Fa, kamu pulang duluan saja bersama Kak Bayu. Aku akan ke UKS sebentar untuk melihat keadaan Putri, kak Setya juga ada disana membawakan barangnya Putri." Ucap Intan sambil mengemasi buku dan alat tulisnya.
"Kak Setya membawakan barangnya Putri?" Tanya Ifa mengulangi perkataan Intan.
"Ya. Sepertinya, Putri meminta bantuan pada kak Setya. Mangkannya aku akan melihatnya dulu." Jawab Intan sembari bangkit dari duduknya.
"Baiklah. Kalau terjadi apa-apa, kabari saja aku ya." Seru Ifa sebelum Intan keluar kelas. Sedangkan Toni, memilih mengikuti Intan diam-diam, demi memastikan keamanannya.
Saat Intan hendak sampai di UKS, dia melihat Setya dan Putri ternyata sudah di luar UKS dan sedang mengobrol. Intan akan mendekat, tapi dia melihat Putri sedang menangis dan menyebut-nyebut namanya. Akhirnya, Intan memilih sembunyi tak jauh dari sana dan mendengarkan apa yang diobrolkan oleh Setya dan Putri. Toni juga melakukan hal yang sama, tanpa Intan ketahui.
"Huhuhu. Kak Setya, salah Putri apa ya? Kenapa Putri merasa kak Intan masih membenci Putri? Padahal kan Putri sudah minta maaf pada kak Intan. Hikss.. kak Intan juga baik selama ini pada Putri, tapi kenapa tadi kak Intan seperti mau mencelakai Putri. Hiks.. Sakit di tangan Putri sih gak seberapa daripada rasa sakit di hati Putri. Putri sudah menganggap kak Intan jadi kakak Putri sendiri. Hiks.." Ucap Putri disela isak tangisnya. Dia terlihat takut dan kecewa pada Intan. Intan yang mendengar itupun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia mengingat perkataan Toni sebelumnya dan itu sekarang menjadi nyata.
Kak Setya, aku tidak melakukannya. Kakak harus percaya padaku!! ... Seru Intan dalam hati.
Intan menatap Setya dari jauh dengan cemas, akankah Setya mempercayainya atau tidak.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi tadi. Tapi, aku sangat mempercayai Intan. Dia tidak akan tega melakukan hal seperti itu, walaupun dia sedang cemburu padamu. Seperti juga yang kamu katakan, selama ini Intan sudah baik padamu, mungkin saja itu tidak disengaja." Jawab Setya yakin. Intan yang mendengar itu merasa tersentuh, karna Setya mempercayainya.
"Tapi kak, kan bisa saja kak Intan berubah karna cemburu. Kakak gak bisa mempercayai kak Intan sepenuhnya seperti itu." Seru Putri mengingatkan.
"Putri aku mulai tidak nyaman dengan topik ini. Bagaimanapun aku pacarnya dan aku mempercayainya, aku sangat mengenal Intan bagaimana kepribadian dan cara dia bersikap , termasuk saat dia cemburu. Justru, diantara kalian berdua aku lebih tidak mengenalimu. Walaupun, kita teman di masa kecil, itu sudah berlalu lama sekali, aku tidak tahu bagaimana kamu tumbuh selama ini. Tapi, aku yakin kamu tidak sengaja mengatakan hal buruk pada Intan seperti ini kan?" Tanya Setya memastikan.
"Tentu saja tidak kak. Ak-Aku hanya menduga saja. Tapi, kelihatannya memang kak Intan tidak seperti itu." Jawab Putri terlihat gugup.
__ADS_1
Intan melihat itu dengan senyuman mencibir. Dia juga merasa senang, karna Setya benar-benar mempercayainya.
Ternyata kamu ingin bermain trik kotor denganku, Putri? Baiklah akan aku terima permainanmu..
Selama ini aku hanya diam saat kak Setya melindungiku.. Tidak lagi sekarang! Aku juga akan menjaga apa yang aku miliki ...
Intan bertekad dalam hati dengan menatap tajam pada Putri. Setelah itu ia menarik nafas dan sedikit membenahi penampilannya. Kemudian dia berjalan dengan anggun dan penuh percaya diri menuju Setya dan Putri. Toni yang mengawasi itu dari jauh pun tersenyum bangga.
Permainan dimulai ..
"Oh, kalian sudah diluar .... Putri, bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah sangat sakit, kenapa matamu sembab seperti habis menangis?" Tanya Intan terlihat khawatir.
"Yah cukup perih sih.." Jawab Putri salah tingkah.
"Ehm, itu pasti sangat sakit. Maafkan aku ya kalau memang benar tadi kecerobohanku. Oh ya, kamu pulang naik apa? Mungkin aku bisa membayar rasa bersalahku." Tanya Intan sembari menatap Setya.
Apakah kak Intan akan menyuruh kak Setya mengantarku? Haha..
Kebaikannya akan mengantarkannya kepada kehancuran..
"Putri naik bus kak." Jawab Putri dengan senyum kecil.
"Tapi dengan kondisi tangan yang seperti itu bukannya akan sangat susah? Bagaimana kalau ..."
"Ya! Aku mau kok kak.." Seru Putri yang memotong ucapan Intan karna terlalu bersemangat. Ia sudah menduga kalau Intan akan menyuruh Setya mengantarkannya.
"Taxi?!" Tanya Putri terkejut.
"Iya. Kalau naik taxi kan lebih nyaman. Tenang saja, aku yang bayar kok." Jawab Intan dengan senyum dibibirnya.
Kamu terlalu gegabah. Bagaimana rasanya terhempas seperti itu?! ... Intan
"O-Oh.. Ya, baiklah." Jawab Putri akhirnya. Ia merasa sudah dipermainkan oleh Intan. Sebelumnya dari perkataan Intan seolah-olah ia akan meminta Setya mengantarnya, tapi ternyata tidak.
Kenapa aku merasa nada bicara dan tatapannya padaku terasa beda ya? Aku merasa tak percaya diri saat melihatnya ... Putri
"Yuk!" Ajak Intan sembari menggandeng lengan Putri.
"Tunggu." Seru Setya, kemudian ia mendekati Intan dan melepaskan tas punggung yang dikenakan Intan.
"Aku akan membawakannya." Ucap Setya dengn senyum lembut.
"Terima kasih." Jawab Intan dengan senyum lebar. Dia merasa senang dengan perhatian Setya. Putri yang melihat itu merasa cemburu dan tak suka.
__ADS_1
Kemudian, mereka kembali berjalan meninggalkan sekolah. Tidak ada obrolan yang keluar dari mulut mereka, sampai mereka di halte bus.
"Apakah sangat sakit? Kamu jadi lebih pendiam hari ini." Tanya Intan dengan memperhatikan jalanan untuk mencari Taxi.
"Iya ini cukup menyakitkan." Jawab Putri sedikit acuh. Dia masih kesal mengingat Intan yang seperti mempermainkannya.
Intan tersenyum kecil mendengar jawaban Putri. Dia berjalan ke arah Putri dan mendekatkan wajahnya pada telinga Putri.
"Harusnya saat buat rencana kamu sudah memikirkan kalau rasanya bakal sakit kan? Bukankah itu sesuatu yang kamu tuai sendiri?" Bisik Intan ditelinga Putri dengan nada menyindir dan tajam. Putri langsung menatap Intan terkejut.
"Ka-Kamu?"
"Taxi.!!" Panggil Intan saat ada taxi yang melintas. Kemudian, ia membuka pintu penumpang untuk Putri.
"Masuklah. Kamu adalah orang yang terluka saat ini." Ucap Intan dengan penuh penekanan.
"Pak tolong antarkan adik saya pulang selamat sampai rumah ya. Jangan sampai terjadi apa-apa padanya. Karna, saya akan merasa sangat sedih. Ini saya bayar diawal, kembaliannya nanti buat bapak saja." Ucap Intan pada sopir sembari memberi beberapa lembar uang yang pasti berlebih.
Putri masih terkejut dengan perkataan Intan sebelumnya. Dia masih belum naik taxi juga.
"Kenapa bengong, naiklah. Aku sudah membayar lunas biaya taxinya. Jadi, sekarang aku tak punya hutang padamu." Ucap Intan dengan nada tajam.
Putri yang baru pertama melihat dan mendengar Intan seperti itu cukup terkejut. Dengan patuhnya dia memasuki taxi.
"Kalau sudah sampai kabari aku ya. Hati-hati." Ucap Intan sesaat sebelum taxi melaju.
"Yuk, pulang." Seru Setya yang berhenti tepat di depan Intan. Intan tersenyum dan mendekati Setya.
"Kak, mau ke hutan bambu." Pinta Intan dengan penuh harap.
"Haha. Baiklah. Ayo..." Jawab Setya yang melihat Intan begitu menggemaskan. Ia pun mencubit pelan kedua pipi Intan.
Putri melihat itu dari dalam taxi. Karna, dia belum berjalan cukup jauh. Dia mengepalkan tangan geram.
Sepertinya, kak Intan sudah tahu rencanaku. Tak ku sangka, dia pintar juga..
Baiklah, aku tidak akan sungkan lagi. Mari bersaing dengan terbuka!!
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..