
Setelah penandatanganan kontrak. Hari itu untuk pertama kalinya lagi diadakan pertemuan antara Setya dan perusahaan pak Malik. Setya juga masih belum tahu kalau pak Malik sudah memindahkan tanggung jawab pengurusan proyek pada Widia.
Hari itu, Setya akan melakukan pertemuan saat jam makan siang di restoran X. Setya dan Bayu sudah sampai terlebih dulu di restoran tersebut. Tak berselang lama datanglah Widia dengan diikuti oleh sekretarisnya.
"Bay, bukankah itu gadis yang membuat keributan di kantor pak Malik waktu itu? Kenapa dia menatap dan berjalan ke arah ke kita?" Tanya Setya pada Bayu di hadapannya. Setya mengerutkan dahinya karna bingung.
"Aku juga gatau ..." Jawab Bayu yang juga ikut menoleh dan menatap Widia yang semakin mendekat.
Di sisi lain, Widia berjalan dengan penuh percaya diri dan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya. Terlebih saat ia melihat Setya dan Bayu menatapnya. Dia merasa sangat puas dan yakin kalau kedua pria itu tengah terpesona padanya.
"Selamat siang. Maaf saya terlambat." Ucap Widia di depan Setya dan Bayu. Senyum manis terus tersemat di bibir kecilnya.
"Anda siapa?" Tanya Bayu mewakili kebingunganya dan Setya.
"Oh, maaf. Saya lupa memperkenalkan diri. Saya Widia putri dari pak Malik. Mulai saat ini saya yang akan menangani proyek ini dengan anda berdua." Jawab Widia memberitahu.
"Apa?! Tapi, kenapa pak Malik tidak mengatakan hal ini pada kami sebelumnya?" Seru Setya yang merasa terkejut.
"Keputusan ini diambil setelah anda berdua selesai menandatangani kontraknya ... Apakah ada masalah, jika saya yang menangani proyek ini?" Tanya Widia dengan menatap Setya dalam.
"Maaf sebelumnya. Bukan masalah boleh dan tidak boleh. Tapi, proyek ini adalah kerja sama atas kedua belah pihak. Jika, memang anda yang ditugaskan menagani proyek ini, seharusnya pak Malik memberitahu kami dulu. Maka dari itu, Izinkan saya untuk menghubungi pak Malik untuk mengkonfirmasi dulu." Ucap Setya dengan nada tenang.
"Silahkan." Jawab Widia, sembari duduk di kursi dekat Setya.
Setya sedikit tak nyaman dengan sikap Widia itu. Sehingga, Setya segera bangkit untuk menghubungi pak Malik.
Tutt ... Tutt ... Tutt
"Hallo?"
"Hallo pak Malik, selamat siang. Saya Setya.dari perusahaan X." Ucap Setya memperkenalkan diri setelah pak Malik mengangkat pangilannya.
"Oh ya. Ada apa pak Setya?" Tanya pak Malik dengan tenang.
"Maaf menganggu waktu anda pak. Saya ingin mengkonfirmasi, apakah benar penanganan kerjasama proyek perusahaan anda dengan saya ini anda berikan pada nona Widia putri anda? Ini kali pertama saya bertemu dengannya. Sebelumnya anda belum pernah mengatakan pada saya?"
"Benar. Saya memang memberikan tanggung jawab pada putri saya. Anda tidak perlu khawator, dia gadis yang pintar dan mudah memahami sesuatu. Saya memberikan kesemapatan padanya untuk belajar." Jawab pak Malik dengan santai.
"Ehm, jadi begitu. Baiklah kalau begitu." Jawab Setya yang tak bisa menolak.
Setya sendiri juga belum tahu bagaimana kinerja Widia. Dia hanya tak suka dengan perangai gadis itu dan hal itu tak bisa menjadi alasan yang cukup untuk menolak Widia.
"Maaf menunggu lama. Kita bisa mulai rapatnya sekarang." Ucap Setya kembali duduk di kursinya.
"Kenapa terburu-buru. Ini masih jam makan siang. Kita bicarakan setelah makan saja ... Pelayan!"
"Apa sekretaris anda tidak ikut makan saja bersama kita?" Tanya Bayu melihat sekretaris Widia duduk di meja lain Seorang diri.
__ADS_1
"Biarkan saja dia. Sekretaris dan manager adalah dua orang yang berbeda. Jika, tidak dalam keadaan terpaksa sangat tidak pantas duduk semeja." Jawab Widia dengan nada angkuhnya.
Bayu dan Setya saling tatap dan merasa tak suka dengan sikap Widia itu. Sejak pertama kali bertemu, Widia selalu memperlakukan orang berdasarkan kekayaannya. Dia sangat angkuh dan tak manusiawi.
Setelah makan siang bersama, akhirnya mereka mulai membahas kerjasama mereka. Setya memang harus mengakui kemampuan Widia. Dia sangat cepat memahami sesuatu. Cara kerjanya juga cukup bagus. Hanya saja, jika mengingat bagaimana kepribadian Widia, itu menjadi nilai negatif untuknya.
"Terima kasih atas kerjasamanya. Saya akan menyimpan nomor pak Setya, supaya memudahkan komunikasi diantara kita. Saya tunggu pertemuan kita selanjutnya." Ucap Widia sembari mengulurkan tangannya pada Setya.
"Baik. Terima kasih." Ucap Setya sambil menerima uluran tangan Widia. Namun, tanpa Setya sangka. Widia malah mendekat ke arahnya dan menempelkan pipinya ke wajah Setya.
"Apa yang anda lakukan?!" Seru Setya yang reflek mundur dan menatap Widia dengan tajam.
"Hanya salam perpisahan. Bukankah ini wajar diantara kalangan pebisnis?" Jawab Widia dengan santai.
"Maaf. Tapi, saya tidak suka dengan salam seperti itu. Jadi, tolong jangan lakukan hal itu lagi." Pinta Setya dengan wajah yang menunjukka ketidaksukaan.
Ternyata dia cukup pemalu. Ini semakin menarik..
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Widia sebelum beranjak meninggalkan Setya dan Bayu diikuti oleh sekretarisnya.
"Hahh.. Aku sangat gak nyaman dengan sikap wanita itu!!" Keluh Setya pada Bayu setelah Widia pergi.
"Aku juga. Cara dia memperlakukan orang sangat buruk. Dan lagi, sepertinya dia ada maksud lain padamu. Dari cara dia menatap dan memperlakukanmu itu terlihat sangat tak wajar. Kau harus berhati-hati." Ucap Bayu menyarankan.
"Kau benar ... Huhhhh.." Jawab Setya yang terlihat sangat lelah menghadapi sikap Widia sebelumnya.
"Sepertinya wanita ini serius ingin mendekatiku. Dia terus mengirimiku pesan. Kalau Intan sampai tahu dia bisa salah paham. Jadi, aku harus mengatakan pada Intan sebelum hal itu terjadi." Gumam Setya melihat Widia yang terus saja mengirimkan pesan padanya, walaupun dia sudah membalasnya dengan dingin.
Di lain sisi. Widia menanggapi balasan dingin Setya sebagai karakter yang menarik. Semakin dingin Setya, Widia semakin penasaran dan ingin menaklukkan Setya. Dia juga memiliki keyakinan, kalau selama Setya masih membalas pesannya, itu berarti Setya masih peduli padanya. Padahal, Setya melakukan itu hanya sebagai sopan santun karena mereka adalah rekan kerja.
...****************...
Pulang kerja, Setya kembali menjemput Intan. Saat dia melihat sang istri berjalan dan tersenyum padanya, membuat Setya merasa lebih baik.
"Kak Setya?" Panggil Intan di depan Setya. Intan merasa aneh melihat Setya yang terus menatapnya.
Setya yang tersadar pun langsung menarik Intan ke dalam pelukannya. Dia juga mendaratkan kecupan dipuncak kepala Intan dengan sayang. Untung saja, sekolah waktu itu sudah sepi. Jadi, gak perilaku Setya itu tak terlalu menarik perhatian.
"Kak Setya kenapa? Apa ada masalah lagi di kantor" Tanya Intan khawatir.
"Yah, sedikit ada gangguan. Nanti sesampainya di rumah aku akan ceritakan. Sekarang, aku mau mengisi daya dulu sebentar." Ucap Setya yang masih memeluk Intan dengan erat.
Setya membenamkan wajahnya di bahu sang istri. Intan yang masih belum tahu gangguan apa yang membuat Setya jadi seperti itu, hanya bisa mengusap lembut kepala Setya dengan sayang.
Setelah makan malam, Setya sedang bermanja dengan Intan di kamar. Setya tidur dipangkuan Intan dan sesekali menciumi perut Intan.
"Hallo, anak ayah. Bagaimana keadaan anak ayah hari ini? Kamu gak nyusahin bunda kan?" Ucap Setya mengajak bicara anaknya.
__ADS_1
"Enggak ayah. Hari ini aku tetep jadi anak baik." Jawab Intan menirukan suara anak kecil. Setya tersenyum dibuatnya. Dia meraih tangan Intan dan menciuminya dengan sayang.
"Kak Setya, katanya tadi mau ceritain ke Intan gangguan yang sedang kak Setya alami sekarang? Gangguan apa itu?" Tanya Intan sambil menatap sang suami.
Setya segera bangun dari duduknya dan mengambil ponselnya di atas nakas. Setelah itu dia kembali berbaring di pangkuan Intan.
"Bacalah ini sayang." Ucap Setya sambil menunjukan chat dari Widia.
Intan menerima ponsel Setya dan mulai membacanya. Bisa Setya lihat, dahi Intan terlihat berkerut saat membaca pesan Widia yang terlihat sekali berusaha mendekati sang suami.
"Dia siapa kak?" Tanya Intan setelah selesai membaca pesan Widia.
"Dia itu anak dari pak Malik dari perusahaan X yang bekerjasama denganku dengan proyek terbaruku saat ini. Aku juga baru tahu hari ini, kalau pak Malik menyerahkan tanggung jawab proyek ini pada anaknya itu. Huhh.. Wanita itu kepribadiannya benar-benar buruk. Dia sangat angkuh dan selalu membedakan derajat orang dari kekayaanya. Awal kali aku bertemu dengan dia saja, dia sedang memaki seorang karyawan kebersihan, hanya karna tak sengaja mengotori sepatunya. Karyawan itu juga langsung dipecat." Jelas Setya panjang lebar. Dia ingin Intan mengetahui semuanya. Agar tak ada kesalahpahaman antara dia dan Intan.
Intan begitu penasaran dengan wanita bernama Widia itu. Dia pun membuka foto profil di chatnya. Intan sangat terkejut saat melihat wajah Widia. Ternyata dia adalah gadis angkuh yang dja temui di kamar mandi.
"Ada apa?" Tanya Setya khawatir saat melihat perubahan diwajah Intan.
"Wanita ini adalah wanita yang sama yang mengejekku di kamar mandi waktu itu kak. Kakak benar, sifatnya memang sangat buruk." Seru Intan menjelaskan pada Setya.
"Benarkah?! Hahhh.. Sayang, bagaimana dong. Aku harus menghadapi wanita ini terus-terusan selama pengawasan proyek." Keluh Setya sambil membenamkan wajanya di perut Intan.
"Hmm.. Kenapa memangnya? Apa kak Setya takut akan terpesona olehnya?" Tanya Intan dengan menatap Setya tajam.
"Apa?! Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu sih sayang?! Kamu kan tahu, kalau aku cintanya cuman sama kamu. Apalagi, sekarang diantara kita sudah akan ada malikat kecil. Bagaimana kamu ..."
Cup!!
"Aku percaya pada kak Setya. Aku percaya bagaimanapun wanita itu mengejar dan mendekati kakak, kak Setya gak bakal goyah." Ucap Intan setelah mengecup pelan bibir Setya yang sebelumnya langsung merubah posisinya menjadi duduk setelah mendengar pertanyaan Intan.
"Tentu saja! Karna di dunia ini, hanya kamu yang bisa menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku. Aku gak bakalan merusak kepercayaan kamu ..." Ucap Setya dengan lembut.
"Ya. Aku percaya pada kakak. Kakak harus bertahan. Ingat juga ada aku yang akan selalu mendukung kakak." Ucap Intan dengan senyum lembut.
"Terima kasih sayang ... Terima kasih karna sudah mempercayaiku. Aku berjanji gak bakalan merusak kepercayaanmu." Ucap Setya sembari menatap Intan penuh cinta.
.
.
.
Bersambung..
...----------------...
Semuanya maaf ya, karna author baru bisa update. Belakangan ini author benar-benar sibuk. Jadi, untuk kedepannya kemungkinan jadwal update juga gak musti. 🙏🙏
__ADS_1
...----------------...