Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Hilang ... ?!


__ADS_3

Setya sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, karna sedang hujan. Dia mendengar obrolan antara Tasya dan Intan. Dia tersenyum saat mendengar Intan mengkhawatirkannya. Rasanya, sudah tak sabar ingin sekali, Setya cepat sampai dan menyematkan cincin dijari manis Intan.


Tapi, tiba-tiba dari arah depannya terlihat truk besar mengambil jalurnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.


"Kak Setya awas!!" Pekik Tasya saat melihat truck itu semakin mendekat ke arah mereka.


Setya segera membelokkan kemudinya ke arah kiri jalan, badan mobil bagian belakang tertabrak truk dengan sangat keras hingga menyebabkan ringsek parah. Tabrakan itu menbuat mobil yang Setya kendarai terdorong hingga menerobos pagar pembatas dan meluncur ke jurang disisi kiri jalan.


Dalam keadaan setengah sadar, Setya membuka matanya dan melihat Tasya tak sadarkan diri dengan luka di kepala dan tubuhnya.


"Tasya! Tasya bangun!" Panggil Setya dengan suara lirih. Setya hampir tak bisa bergerak, karna tubuh bagian bawahnya terjepit badan mobil.


"Tasya!!" Panggil Setya sekali lagi, sembari menggoyangkan lengan Tasya agar sang adik bangun.


"Ehm ... Ka-kak Setya?! Hikss ... Kak Setya, sakit! Hikss" Keluh Tasya saat merasakan sakit ditubuhnya.


"Maafkan kakak sudah membuatmu seperti ini.! Tapi, sekarang cepat kamu keluar dari mobil.!!" Perintah Setya yang mulai melihat asap dari arah belakang mobil.


"Gak mau! Hikss.. Bagaimana dengan kakak?!" Seru Tasya yang melihat keadaan sang kakak lebih parah darinya.


"Kakak gak apa-apa. Kakak akan berusaha keluar setalah kamu. Kamu harus keluar dulu, sekarang! Cepat!" Perintah Setya dengan tegas.


"Gak mau kak! Tasya gak mau ninggalin kakak! Huhuhu."


Setya semakin lemah dan juga khawatir, karna asap semakin mengepul dari arah belakang mobil. Dia tak bisa membiarkan Tasya dalam bahaya. Akhirnya dengan terpaksa Setya mendorong Tasya keluar, karna pintu mobil Tasya juga sudah terbuka.


"Maafkan kak Setya, Tasya! Kakak sayang kamu!" Ucap Setya dengan senyum diwajahnya yang sudah dipenuhi luka, sebelum mendorong tubuh Tasya keluar dari mobil.


"Kak Setya, gak mau! Jangan! Ahh!!" Seru Tasya setelah terjatuh keluar dari mobil.


Setelah Tasya keluar, Setya melepaskan rem yang yang sudah dengan susah payah dia tahan sebelumnya. Mobilpun kembali meluncur ke bawah dengan cepat.


Intan maafkan aku, aku gak bisa menepati janjiku padamu ...


Mobil terus meluncur dan masuk ke dalam sungai, di dasar jurang.


"Kak Setya!!!!" Teriak Tasya dengan histeris.


...****************...


Di tempat pertunagan.


"Pa! Gimana, bisa menghubungi nomor anak-anak enggak?!" Seru mama dengan linangan air mata diwajahnya. Papa menggelengkan kepala dengan lemah.


"Gimana ini pa?! Bagaimana keadaan mereka?!" Seru mama dengan menarik baju sang suami. Papa hanya bisa memeluk sang istri untuk menenangkannya.


Intan sudah menceritakan apa yang dia dengar barusan. Dia juga masih lemas dan menangis dipelukan sang ayah. Sampai, saat dadanya tiba-tiba terasa sesak.


"Kenapa sayang?!" Tanya ayah khawatir.


"Kak Setya?!" Seru Intan seakan merasakan firasat buruk tentang Setya. Tanpa pikir panjang, Intan berlari keluar kafe.


"Intan mau kemana?!" Panggil sang ayah dan yang lainnya.


"Intan harus mencari kak Setya!" Seru Intan dan masih berlari.


Intan segera keluar dari kafe dan mengehentikan taxi yang kebetulan melintas. Intan segera masuk ke dalam taxi, untung Dika berhasil menyusul Intan. Jadinya, dia yang menemani Intan diperjalanan.


"Mau kemana mbak?" Tanya sopir taxi.


"Ke jalan menuju kota." Seru Intan dengan cepat. Jelas sekali dia terlihat khawatir.


"Dika! ... Kak Setya, pasti gak apa-apa kan?! Hikss ... Kak Setya pasti gak kenapa-napa kan?!" Tanya Intan disela isak tangisnya.


"Mereka pasti akan baik-baik saja kak! Tenanglah dulu." Ucap Dika berusaha menenangkan sang kakak, juga dirinya sendiri.


Di kafe, Papa dan mama, ayah dan bunda juga memutuskan untuk menyusul Intan dan Dika. Sedangkan, tamu yang lain terpaksa harus dipulangkan.

__ADS_1


"Maaf atas kejadian ini ya. Kalian semua harus pulang dulu." Ucap bunda dengan raut wajah sedih yang sangat terlihat.


"Kami mengerti tante. Kami akan do'akan semua akan baik-baik saja." Ucap Linda mewakili semuanya.


"Bunda, Ifa dan kak Bayu mau ikut! Ifa gak bisa tenang kalau harus pulang. Ifa mohon!" Pinta Ifa dengan derai air mata.


"Tapi ..."


"Ifa mohon bunda, ayah, mama!" Pinta Ifa dengan sangat. Dia benar-benar tak akan bisa tenang jika harus berdiam diri. Dia bisa merasakan bagaimana perasaan Intan saat ini. Dia gak bisa meninggalkan Intan sendiri.


"Baiklah, tapi hati-hati ya.." Ucap bunda memberi izin. Mama Ifa juga megangguk mengiyakan.


"Bayu jaga Ifa baik-baik ya." Pesan mama Bayu.


"Tentu saja ma." Jawab Bayu serius.


Setelah itu, akhirnya orang tua Setya dan Intan serta Ifa dan Bayu segera berangkat menggunakan mobil masing-masing untuk menyusul Intan dan Dika. Saat sudah semakin dekat dengan tempat kecelakaan, jalan menjadi macet, karna banyak mobil polisi, ambulans dan juga alat berat untuk mengeluarkan mobil Setya dari jurang.


"Wah, sepertinya di depan terjadi kecelakaan mbak. Jalannya jadi macet sekali." Ucap sopir taxi.


"Kak Setya?!" Seru Intan semakin khawatir.


Akhirnya, dia keluar dari taxi dan memilih berlari menembus hujan agar cepat sampai. Dia melepas sepatu haknya, karna membuatnya susah berlari. Akhirnya, Intan berlari dengan bertelanjang kaki. Setalah membayar taxi, Dika juga berlari menyusul Intan.


Kak Setya harus baik-baik saja! Kak Setya sudah berjanji padaku, kalau kakak gak bakalan membuatku menangis lagi. Jadi ku mohon, kakak harus baik-baik saja!!


"Kak Intan!!" Panggil Dika yang khawatir melihat sang kakak.


Intan sampai dilokasi kejadian, dia menerobos polisi yang berjaga disana. Intan menoleh kesana-kemari mencari sosok Setya.


"Mbak! Anda tidak boleh disini. Kami sedang melakukan evakuasi.!" Seru polisi yang melihat kedatangan Intan secara tiba-tiba.


"Dimana korbannya pak?! Apa mereka selamat?! Saya keluarganya! Itu tunangan saya dan adiknya pak! Katakan dimana mereka?!" Seru Intan dengan tak sabar.


"Mbak tenanglah dulu! Salah satu korban menghilang, kami sedang mencarinya!" Jawab polisi dengan tenang.


"Kak Intan?!"


"Tasya?! Syukurlah kamu selamat!" Ucap Intan sambil memeluk Tasya. Tasya menangis dipelukan Intan. Saat itu Dika juga baru sampai. Dia merasa lega saat melihat Tasya selamat dan hanya luka-luka.


"Bagaimana dengan kak Setya?! Kak Setya dimana?! Dia baik-baik saja kan?!" Tanya Intan sambil menatap Tasya. Tasya bukanya menjawab dia malah semakin menangis dengan kencang.


"Tasya! Katakan dimana kak Setya?! Kak Setya dimana?!" Teriak Intan sambil mengguncang pelan tubuh Tasya.


"Kak Intan tenang dulu. Tasya juga terluka." Ucap Dika menghentikan sang kakak.


"Ka-Kak Setya ... Dia hilang kak! Hiksss ... Kak Setya hilang! Dia jatuh ke sungai bersama mobil, dengan keadaan yang terluka parah.!!" Ucap Tasya dengan suara gemetar dan tangis yang semakin kencang.


Nyutttt ... Mendengar itu jantung Intan seakan berhenti berdetak. Dunianya seakan runtuh dalam sekejap. Pandanganya menghitam.


"Gak! Gak mungkin! Kak Setya pasti selamat!" Seru Intan. Kemudian, dia berlari ke arah jurang. Dia menuruni Jurang itu untuk mencari sendiri keberadaan Setya.


"Kak Intan?!" Panggil Dika yang juga akan mengikuti sang kakak. Tapi, polisi berhasil mencegatnya. Sebelumnya, polisi tak sempat mencegah Intan.


"Lepaskan saya pak! Saya harus mengikuti kakak saya!" Seru Dika berusaha melepaskan cengkraman polisi padanya.


"Maaf tidak boleh mas. Disana terlalu bahaya. Tolong tunggu saja disini. Untuk kakaknya, rekan-rekan saya dibawah sana pasti akan membantunya. Jadi, tolong tunggu disini agar tidak semakin mengganggu." Perintah polisi dengan tegas.


"Dika ..." Panggil Tasya dengan suara lirih. Dika pun menoleh dan melihat Tasya yang masih terlihat sangat syok. Akhirnya, dia mendekati Tasya dan memeluknya untuk menenangkannya.


"Kak Setya akan baik-baik saja kan?! Ya kan, Dika?!" Tanya Tasya disela isak tangisnya.


"Tentu saja. Kak Setya pasti akan baik-baik saja. Dia orang yang kuat. Dia juga sudah berjanji pada kakakku. Dia pasti akan baik-baik saja. Kamu tenangkan diri dulu, ok." Ucap Dika lembut, sembari mengusap dan menciumi puncak kepala Tasya dengan sayang.


Dika sangat bersyukur karna Tasya baik-baik saja. Tapi, dia juga tetap mengkhawatirkan Setya, apalagi kakaknya juga ikut turun ke jurang untuk mencari sendiri keberadaan Setya.


Intan berusaha menuruni jurang yang sedikit curam. Karna, hujan jalannya pun licin dan membuat Intan berulang kali terjatuh. Kaki dan tangannya juga sudah terluka. Bahkan gaun yang dia kenakan sudah tak lagi bewarna putih. Walaupun begitu, itu sama sekali tak menghentikan langkah Intan untuk mencari Setya.

__ADS_1


Kak Setya!! Kak Setya!!


Intan terus meggumamkan nama Setya, berulang kali, berharap saat dia sampai didasar jurang, dia bisa melihat Setya dengan selamat. Namun, saat dia sampai didasar jurang, di tepi sungai Intan hanya melihat mobil Setya yang sudah berhasil dikeluarkan dari sungai. Kerusakan mobil sangat parah. Intanpun menoleh kesana-kemari mencari keberadaan Setya, tapi dia sama sekali tak menemukannya.



"Mbak! Mbak siapa?! Kenapa bisa sampai disini?! Kami sedang melakukan evakuasi. Tolong jangan mengganggu."


"Dimana pengemudinya?! Dimana dia?! Dia selamat kan pak?! Tunangan saya selamatkan pak?!" Seru Intan histeris pada salah satu polisi.


"Maafkan kami. Kami tak menemukan jasadnya. Mungkin, sudah terbawa arus. Kami akan mengikuti aliran sungai ini untuk mencari keberadaan korban." Jawab polisi menjelaskan, setelah tahu kalau Intan adalah keluarga korban.


"Jasad?! Gak mungkin! Kak Setya pasti selamat! Tunangan saya pasti baik-baik saja!" Seru Intan tak terima. Dia menangis semakin buruk.


"Melihat kerusakan mobil yang begitu parah, kami yakin korban terluka parah. Dengan luka separah itu kecil kemungkinannya korban bisa selamat." Jawab polisi menenangkan.


"Enggak! Gak mungkin! Kak Setya baik-baik saja! Dia pasti baik-baik saja." Seru Intan tak terima sampai dia jatuh pingsan karna terlalu terkejut.


Akhirnya, tim penolong segera membantu dan membawa Intan kembali ke atas. Di atas para orang tua, juga Ifa dan Bayu juga sudah sampai di tempat kejadian. Mereka juga memarkirkan mobil di pinggir jalan dan memilih berlari seperti Intan sebelumnya.


"Tasya sayang! Syukurlah kamu selamat nak!" Seru mama sambil memeluk sang putri dengan erat.


"Mama! Kak Setya! Kak Setya, ma!" Seru Tasya disela isak tangisnya.


"Ada apa?! Dimana Setya?!" Tanya papa bingung.


"Kak Setya, menghilang om. Dia dan mobilnya jatuh ke sungai. Dan saat mobil diangkat, polisi tak bisa menemukan kak Setya ... Kata Tasya, kak Setya dalam keadaan luka parah ... Polisi tadi bilang, kecil kemungkinannya kak Setya ..."


Dika tak sanggup meneruskan kata-katanya. Semua yang disana terlihat sangat terkejut. Tangis pun pecah. Ifa juga menangis dipelukan Bayu.


"Dimana Intan?! Dimana kakakmu?!" Tanya ayah yang tak melihat Intan disana.


"Kak Intan langsung ikut turun ke bawah ayah. Dika gak berhasil menyusulnya. Kak Intan ingin mencari sendiri keberadaan kak Setya." Jawab Dika merasa bersalah.


Dengan cepat, ayah juga akan menyusul Intan. Tapi, dihentikan oleh polisi disana.


"Lepaskan saya! Saya mau menyusul putri saya!" Teriak ayah marah.


"Mohon maaf pak. Tolong tunggu disini agar proses evakuasi tidak tergganggu!" Seru polisi dengan tegas.


Ayah akan kembali membantah, sampai ada beberapa tim penyelamat yang membawa Intan yang tak sadarkan diri dengan beberapa luka dikaki dan tangannya.


"Intan?!" Panggil ayah melihat keadaan sang putri. Semua keluarga juga mendekat melihat keadaan Intan.


"Ada apa dengan putri saya?!" Tanya ayah khawatir.


"Putri bapak tak apa-apa. Dia hanya terlalu terkejut. Sebentar lagi juga akan bangun." Jawab tenaga medis dengan tenang. Benar saja tak lama kemudian, Intan sudah sadar. Dia melihat sekitarnya, keluarga sedang mengerumuninya.


"Kamu gak apa-apa sayang?" Tanya ayah lembut.


"Ayah! Hikss ... Kak Setya ayah! Kak Setya!! Hikss." Seru Intan sambil memeluk sang ayah dan menangis kencang.


Intan tak bisa menahan rasa sesak didadanya membayangkan bagaimana kondisi Setya saat itu. Melihat keadaan mobil yang rusak parah dan derasnya sungai, membuatnya merasa tertekan.


Kak Setya! Kamu dimana?! Kamu harus baik-baik saja!!..


.


.


.


Bersambung..


...----------------...


Maaf ya gaess.. authornya lagi pengen nangis-nangis bombay ala-ala๐Ÿ˜”๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘ˆ

__ADS_1


Bertahan sedikit lagi yaa, karna ini adalah konflik akhir๐Ÿ˜…โœŒ๏ธ


...----------------...


__ADS_2