
SUDAH seminggu, Kekira mulai tidak tenang karena Veni terus menterornya dengan telepon dan SMS ancaman.
Bahkan setiap malam selalu ada paket dikirim ke rumahnya, berupa boneka Barbie berpakaian pengantin yang terkoyak.
Tuntutannya hanya satu, pernikahan Kekira dan Riga HARUS batal.
Itu makna dari semua terornya.
Tentu tidak mudah mengingat sifat Riga yang keras kepala.
Apalagi persiapan pernikahan sudah mulai berjalan.
Setiap Kekira menyinggung soal memikirkan pernikahan sekali lagi, Riga marah besar dan kerap berkata-kata kasar.
Ia pun tidak tahu apa Veni sudah menemui Riga untuk memberitahu kehamilannya, apa belum.
Kalau benar yang ia bilang, ia takut jadi masalah baru.
Namun Riga memang menghindari Veni.
Apa yang bisa Kekira perbuat?
Sedangkan teror dari Veni makin menjadi-jadi.
Terakhir Veni mengirimkan boneka santet membuatnya takut Veni memakai cara guna-guna untuk menjatuhkannya kalau belum membatalkan pernikahan.
Bahkan Veni mengancam akan merusak reputasi Kekira dan membuatnya drop out dari kampus.
Ia jadi tidak tenang memikirkan apa yang akan Veni lakukan.
***
“Hey Ki, dicariin taunya di sini.”
Kekira diam melihat sahabatnya dan menggeser duduknya.
“Kamu kenapa? Nggak suka aku dateng?” tanya Akbi.
“Mas Reno sama Cinay udah pulang dari tadi, kamu kok nggak pulang?”
Akbi menaikkan alis lucu.
“Aku bisa ajuin pertanyaan yang sama ke kamu. Kenapa kamu nggak pulang?”
Kekira angkat bahu. “Aku disuruh menghadap dekan tiga.”
“Ada urusan apa? Kamu belum bayar uang semester?” Akbi heran.
“Udah kok. Nggak tau deh ada perlu apa.”
Kekira menatap Akbi. “Bi, aku lagi bingung banget ini.”
__ADS_1
“About what?”
Kemudian Kekira menceritakan insiden Veni, penolakan Riga untuk membatalkan pernikahan, dan teror Veni yang mengganggunya.
“Di satu sisi, aku senang begitu tau Veni hamil dan ada alasan supaya pernikahanku dan Mas Riga batal. Tapi aku juga takut Mas Riga melakukan hal buruk sama aku. Veni juga nggak berenti gangguin aku. What must I do?”
Akbi menatapnya kasihan.
Sebenarnya solusinya mudah, Kekira hanya perlu bicara terus-terang pada orangtuanya tentang perlakuan Riga selama ini.
Namun Akbi tidak menyarankan karena Kekira pasti tidak setuju.
“Kita pikirin jalan keluarnya. Aku akan bantu kamu.” Akbi berusaha menenangkan.
HP Kekira berbunyi, ada SMS.
“Ngg Bi, aku harus ke ruang Pak Rusdi sekarang.” Ia menyebut nama dekan tiga fakultasnya.
Akbi mengangguk. “Aku anter.”
***
Begitu tiba, Akbi menunggu di luar.
“Permisi.” Kekira masuk ruangan. “Bapak memanggil saya?”
Pak Rusdi yang sudah berumur 48 tahun itu menyambutnya.
Kekira tersenyum kecil. “Alhamdulillah baik, Pak.”
“Ayo duduk.”
Meski bingung, Kekira duduk di sofa.
Pak Rusdi duduk di sampingnya.
“Ada keperluan apa ya Bapak memanggil saya?”
“Ahh tidak ada yang penting. Saya cuma ingin ngobrol dengan Adinda.”
Lalu Pak Rusdi berbicara tentang hal-hal yang terjadi ketika kemping.
Meski heran, Kekira menjawab semua pertanyaan Pak Rusdi dengan lugas.
Lagipula apa urusannya Pak Rusdi dengan kegiatan kampus.
Modus terbaru ini mah.
Tiba-tiba saja Pak Rusdi menyentuh pahanya.
“Pak!” seru Kekira keras sambil menghindar.
__ADS_1
Pak Rusdi tersenyum. “Kenapa? Tidak perlu munafik di depan saya.”
“Maksud Bapak apa? Jangan macam-macam!” Kekira ketakutan.
“Kamu pasti ngerti kan maksud saya. Saya itu paling suka tantangan. Mahasiswi cantik seperti kamu tentu jadi godaan buat saya. Saya sudah bosan dengan mahasiswi seksi, tidak ada tantangannya. Saya suka sama yang misterius seperti Adinda.”
“Bapak jangan keterlaluan!”
Pak Rusdi tertawa menyebalkan. “Ayolah, Adinda.. saya bisa lakukan apapun untuk kamu. Membebaskan uang semester, atau kamu ingin cepat lulus? Mudah untuk saya. Asal kamu mau lepas jilbab kamu, dan menemani saya.”
“Saya tidak mau! Tolong jangan mendekat, Pak! Atau saya akan teriak!”
“Teriak saja. Tidak akan ada yang percaya kamu.”
Kekira kalap menghubungi Akbi dengan HP, tapi tangannya ditarik Pak Rusdi hingga HP-nya terpental jauh.
“Pak!”
Pak Rusdi memaksa melepas jilbab Kekira hingga rambutnya tergerai.
Kekira mulai menangis, namun tenaga Pak Rusdi sulit dilawannya.
Braakkkk!
Tiba-tiba pintu didobrak keras.
***
“Lepaskan dia, Pak!”
Akbi membawa serta rektor dan beberapa petinggi kampus.
Pak Rusdi tertangkap basah.
Kekira memegang kepalanya sambil berjongkok.
“Apa-apaan ini, Pak Rusdi!?” seru Pak Darma, sang rektor.
“Ini nggak seperti yang Bapak lihat.” Pak Rusdi berkelit. “Adinda ini datang dan menggoda saya. Dia ingin saya menyabotase nilainya agar dapat lompat tingkat. Bapak lihat saja, tanpa keperluan dia datang ke ruangan saya.”
Tanpa memedulikan perdebatan Pak Rusdi, Akbi menghampiri Kekira yang bersembunyi di balik sofa.
“Ki, ini aku.”
Kekira makin menutupi diri, tubuhnya gemetar ketakutan.
Akbi memakaikan jilbabnya yang sobek karena ditarik Pak Rusdi.
Kekira buru-buru menutupi kepalanya, tidak berani mendongak.
***
__ADS_1