
Dika dan teman-temannya berjalan mengelilingi mall tanpa tujuan pasti.
"Hey, kita mau kemana sih ini?!" Seru salah satu teman Dika.
"Bagaimana kalau kita ke timezone saja." Usul Dika. Dan akhirnya disetujui oleh teman-temannya.
Kebetulan timezone dekan dengan foodcourt. Tanpa sengaja Dika melihat Tasya yang sedang berseteru dengan temannya.
"Hey, bukankah itu gerombolan yang kau ikuti tadi?" Tanya teman-teman Dika.
Dika tak menjawab dan terus mengamati perseteruan itu. Samar-samar ia bisa mendengar perseteruan keduanya. Entah bagaimana, mendengar Tasya direndahkan seperti itu membuat Dika kesal. Tanpa pikir panjang, dia melangkah mendekati Tasya.
"Hey, kau mau kemana?!" Panggil teman-temannya tapi diabaikan oleh Dika.
"Ayo pergi.!!" Seru Dika sembari menarik tangan Tasya agar mengikutinya. Tasya sangat terkejut dengan kedatangan Dika, apalagi Dika juga menarik tangannya.
Rico yang sedari tadi diam saja merasa kesal saat ada pria lain yang menarik Tasya pergi. Dia dengan cepat menahan tangan Tasya yang lain. Dika merasakan Tasya tak bergerak segera menoleh dan melihat Rico menarik tangan Tasya.
"Lepaskan tanganmu darinya!" Seru Dika tajam.
"Siapa kau, tiba-tiba menariknya pergi?!" Seru Rico tak kalah tajam.
"Kau sendiri siapa? Apakah kau tidak lihat dari tadi Tasya merasa tak nyaman dengan keberadaanmu. Jangan sok dekat dengannya! Lepaskan tanganmu itu!!" Seru Dika sekali lagi. Kata-katanya sangat dingin dan tajam.
Tasya sendiri juga merasa seperti melihat Dika yang berbeda dari biasanya. Akhirnya, Tasya menghempaskan tangannya dari Rico.
"Kau mengenalnya?!" Tanya Rico heran.
"Ya! Bahkan orang tua kami juga saling mengenal. Jadi, aku gak bakal biarin dia pergi dengan pria tak jelas asal-usulnya sepertimu!" Seru Dika tajam. Kemudian, dia menarik Tasya lagi untuk pergi.
"Hey! Aku peringatkan padamu untuk tidak terlalu dekat dengan gadis munafik itu. Dia suka sekali tebar pesona pada laki-laki lain. Sifatnya sangat buruk! Bahkan, dia berusaha merebut pacar temannya sendiri.!!" Seru Tika pada Dika. Tasya yang mendengar itu merasa sakit hati. Ia menoleh pada Tika tak percaya. Dika melihat mata Tasya berkaca-kaca.
"Apakah kau memiliki bukti akan kata-katamu? Ataukah itu hanya tuduhan palsu?! ... Jika, kau sangat percaya dengan tuduhanmu itu, harusnya yang kau marahi adalah pacarmu. Karna, dia lelaki mata keranjang yang hanya melihat wanita dari fisik saja. Lelaki seperti itu apakah pantas dipertahankan?!" Seru Dika tajam pada Tika. Tika pun terdiam mendengar ucapan Dika.
"Dan satu lagi. Ku rasa tuduhan munafik itu lebih pantas untukmu. Kau berpura-pura baik pada Tasya tapi ternyata kau menyimpan kebencian begitu besar padanya. Sedangkan, ku lihat Tasya adalah orang yang jujur akan perasannya. Aku benar-benar meragukan apakah kau benar temannya!!" Sindir Dika dengan tajam. Tika semakin tidak bisa berkata-kata lagi.
Dika pun menyeringai melihat itu, kemudian dia kembali menarik Tasya untuk pergi. Teman-teman Dika menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan Dika. Karna, biasanya Dika itu cuek dengan orang yang tidak benar-benar dekat dengannya. Namun, kali ini Dika membela seorang gadia didepan umum. Saat Dika lewat didepan mereka, teman-teman Dika mengangkat kedua ibu jarinya sebagai pertanda akan pujian.
"Aku gak menyangka kalau kau orang yang seperti ini Tika. Aku kecewa padamu." Ucap Tania yang kemudian memilih untuk pergi juga.
__ADS_1
"Aku juga pergi dulu. Sepertinya, kali ini kau terlalu berlebihan, Tika." Ucap Tina yang juga memilih pergi bersama kekasihnya.
Tika terduduk saat melihat semua teman-temannya meninggalkannya. Dia menatap Dion agar tidak meninggalkannya juga.
"Aku akan mengantarmu pulang. Tapi, untuk yang terakhir kalinya. Aku sama sekali tak menyangka kamh memeliki sifat seperti ini. Dan kamu selama ini bisa-bisanya mencurigaiku seperti itu. Aku sangat kecewa." Ucap Dion dengan sorot mata kecewa yang jelas sekali terlihat.
Sedangkan Rico masih menatap kosong ke arah tempat Dika membawa Tasya pergi tadi dengan kesal. Dilain sisi, Dika membawa Tasya pergi meninggalkan mall dan mengajaknya ke taman tak jauh dari sana.
"Ini makanlah. Biasanya kak Intan akan merasa lebih baik jika aku memberikan ice cream. Tapi aku tidak tahu kau suka rasa apa." Ucap Dika sambil memberikan bungkusan ice cream rasa strawberry.
"Makasih. Aku memang suka rasa strawberry kok." Jawab Tasya dengan senyum kecil. Kemudian, ia membuka bungkusan itu dan memkannya perlahan.
Perlahan air matanya mulai menetes membasahi pipinya. Tasya masih tak percaya dengan perlakuan Tika padanya tadi. Padahal, selama ini ia dengan tulus menganggap Tika sebagai temannya. Dika duduk disebelahnya dan diam-diam memperhatikan Tasya. Melihat Tasya yang menangis, Dika berinisiatif menepuk-nepuk punggung Tasya dengan lembut.
"Bagaimana, apakah kau merasa lebih baik?" Tanya Dika setelah tangis Tasya mereda.
"Ya, jauh lebih baik. Terima kasih banyak, hari ini kau sangat membantuku." Ucap Tasya dengan senyum tulus diwajahnya sambil menatap mata Dika.
"Ehm... Ya, tentu saja." Ucap Dika sambil mengalihkan pandangannya dari Tasya.
"Tapi ... Kenapa, kau tiba-tiba ada disana tadi? Dan, kenapa kau membantuku?" Tanya Tasya penasaran sekaligus penuh harap.
Ternyata, dia hanya ingin membalas budi... Tasya
"Oh begitu.." Jawab Tasya sedikit kecewa. Entah apa yang membuatnya kecewa, hanya saja mendengar alasan Dika hanyalah untuk balas budi, entah kenap ia merasa sedih.
"Apa kau berpikir berlebihan?" Tebak Dika menggoda Tasya.
"Tidak! Tentu saja tidak! ... Aku hanya berpikir, ternyata kau bisa tidak menyebalkan. Tapi, sepertinya itu hanya bertahan sebentar saja! Sekarang kau menyebalkan lagi." Seru Tasya kesal.
"Oho.. Makasih." Jawab Dika santai.
"Aish, dasar! ... Tapi, ehm.. Mungkin, kita bisa berteman mulai sekarang? ... Yah, ini karena hubungan keluarga kita juga dekat. Jadi, kita tidak bisa kan kalau terus bertengkar saja. Haha." Ucap Tasya sedikit salah tingka sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Baiklah. Kita bisa berteman mulai sekarang." Jawab Dika sambil menautkan jari kelingkingnya pada Tasya.
Ternyata, dia hanya ingin berteman denganku.. Dika.
Entah kenapa, Dika sedikit merasa kecewa saat Tasya hanya mengajaknya untuk berteman. Tapi, dia berusaha menutupi itu dengan senyum diwajahnya.
__ADS_1
...****************...
Setelah menghabiskan ice creamnya, Dika mengajak Tasya untuk ikut pulang ke rumahnya saja. Jadi, nanti Tasya bisa pulang bersama Setya. Saat mereka tiba di rumah, mereka segera menuju ke lantai atas Intan untuk melihat keadaanya. Ternyata Intan dan Setya sedang melihat acara kartun kesukaan Intan.
"Ouh, kamu sudah pulang?" Tanya Intan saat menyadari kedatangan Dika. Dika mengangguk sebagai jawaban.
"Loh, Tasya kamu kesini lagi?" Tanya Setya saat melihat Tasya dibelakang Dika.
"Ehm, apa kalian datang bersama?" Tebak Intan sambil menatap Dika dan Tasya bergantian.
"Tidak!!" Seru Dika dan Tasya bersamaan. Kemudian mereka saling membuang muka karna malu.
Sebelumnya, Tasya yang meminta pada Dika untuk merahasiakan kejadian tadi dai kakaknya. Karna, kakaknya itu bisa saja pergi untuk melabrak teman-temannya nanti. Tasya tidak ingin memperpanjang masalah lagi.
"Yasudah kalau tidak. Kenapa kalian terlihat gugup seperti itu." Seru Intan sambil menatap curiga pada Dika dan Tasya yang semakin terlihat salah tingkah.
"Siapa yang gugup!"
"Tuan putri ayah!!" Teriak ayah yang baru saja tiba bersama bunda menolong Dika dari kecurigaan Intan. Dika dan Tasya bisa bernafas lega karnanya.
"Sayang mana yang sakit? Sebelah sini? atau sini? Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya ayah beruntun sambil menatap Intan lekat-lekat.
"Ayah ... Ayah tenang dulu. Intan uda gak apa-apa. Lihat, Intan sudah baikan sekarang." Jawab Intan berusaha menenangkan sang ayah.
"Ayah sangat khawatir sayang.. Syukurlah, kalau kamu gak apa-apa." Seru ayah sambil memeluk Intan dengan erat.
"Ehm, maafkan perilaku ayah Intan ya. Dia sudah seperti itu semenjak mendengar kabar Intan sakit. Makasih untuk sudah menjaga putru tante. Sebelum pulang, Setya dan Tasya makan malam disini dulu ya. Tante akan menyiapkannya." Ucap bunda lembut pada Setya dan Tasya.
"Ah, iya tante. Terima kasih ... Ehm, lebih baik kami bantu tante saja di dapur. Tante pasti capek habis perjalanan dari luar kota. Lagian, sepertinya kita harus memberikan waktu untuk Intan dan om." Saran Setya sambil melihat ayah Intan yang masih terus memastikan keadaan Intan.
Dika dan Tasya menyetujui saran Setya. Mereka semua ikut melihat Intan dan ayahnya dengan senyum geli.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1