Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Krisan


__ADS_3

1 tahun kemudian.


"Intan selamat ya, presentasimu sangat bagus. Nilaimu tertinggi diangkatan kita!" Ucap Anisa dengan antusias.


"Terima kasih." Jawab Intan dengan senyum kecil diwajahnya.


"Kalau begitu mau makan bersama untuk merayakan?" Tawar Anisa dengan senyum lebar.


"Ah. Maaf gak bisa. Aku harus pergi."


"Hm, baiklah kalau begitu. Tapi, lain kali kita harus makan bersama yaa."


"Iyaaa.. Kalau begitu aku pergi dulu ya, sampai jumpa." Pamit Intan dengan senyum kecil diwajahnya.


Intanpun melangkah meninggalkan kelas. Dia berjalan perlahan, pandangannya tak sengaja melihat ke arah taman yang biasanya dia tempati bersama Setya. Dia tersenyum kecil mengingatnya. Lalu, dia menyentuh cincin pertunangannya dengan Setya yang melingkar dijari manisnya.


"Kak Setya. Andai kakak disini ..." Ucap Intan dengan suara lirih, nyaris tak terdengar.


Kring ... Kring ... Kring


Intan tersadar ketika ponselnya berdering begitu keras. Ia segera merogoh tas selempangnya dan mengambil benda pipih yang terus berteriak minta untuk diperhatikan. Intan melihat nama Ifa di layar ponselnya. Segera ia mengangkat panggilan itu.


"Hallo Fa?" Sapa Intan dengan nada datar.


"Hallo Tan. Kamu dimana? Sudah selesai kelas belum?" Tanya Ifa setelah mendengar suara Intan dari seberang telpon.


"Kelasku baru saja selesai. Ada apa?"


"Bagus kalau begitu, kita bisa makan siang bersama. Cepat kamu ke kantin jurusanku. Aku tunggu ya, Daaahh.." Ucap Ifa cepat setelah itu ia langsung memutus panggilannya.


Intan bahkan, belum sempat memberikan respon. Ifa segera menutup panggilannya dengan Intan, karna dia tahu Intan pasti akan menolaknya. Lebih baik dia tak menunggu respon, agar Intan datang.


"Haaahhhhh..."


Intan menghela nafas panjang melihat sikap Ifa. Tapi, dia juga tak bisa kabur lagi. Ifa pasti akan menunggunya, jika dia tak datang. Intan memutar langkahnya untuk menuju kantin jurusan Ifa. Sebelum beranjak, Intan sekali lagi melihat ke arah bangku taman. Samar-samar seakan dia bisa melihat Setya tengah duduk disana dan tersenyum padanya.


Kak Setya ...


Saat Intan akan mendekati bayangan itu, dengan cepat pula bayangan itu menghilang. Intan hanya bisa menunduk sedih. Setelah itu Intan memutusakan untuk segera pergi dari sana. Dia berjalan dengan lesu bagai tak bernyawa.


"Ehm, Intan haii.. Kamu mau kemana? Apakah kamu ada waktu sebentar?" Ucap seorang mahasiswa yang tiba-tiba mendekati Intan.


Intan menghentikan langkahnya dan menatap ke arah mahasiswa itu dengan tatapan dingin, tanpa menjawab sedikitpun, membuat mahasiswa itu menjadi salah tingkah. Dia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Oh, perkenalkan aku Yudi dari jurusan managemen." Ucap mahasiswa itu sembari mengulurkan tangannya pada Intan.


Intan tak menjawab dan hanya menatap tangan Yudi yang terulur. Setelah itu Intan memalingkan muka dan akan beranjak pergi. Sampai lengannya ditahan oleh Yudi. Intan segera menatap tajam pada Yudi.


"Maaf, aku gak bermaksud. Aku hanya ingin lebih dekat denganmu. Aku sudah lama memperhatikanmu. Sepertinya aku menyukaimu. Bisakah kita mencoba untuk saling mengenal lebih dalam lagi?" Tanya Yudi malu-malu.


"Ck.. Kau sungguh bertanya hal itu padaku?! Kalau kau sudah lama memperhatikanku, seharusnya kau tahu kalau aku gak suka didekati seperti ini?! ... Dan apa kau gak bisa lihat cincin yang melingkar di jariku?! Aku sudah bertunangan. Mana bisa aku dekat dengan pria lain?!" Jawab Intan dengan nada dingin dan acuh.


"Aku tahu kamu sudah bertunangan, tapi kan tunanganmu gak ada! Daripada menunggu sesuatu yang gak pasti, kenapa kamu gak mencoba untuk ..."


"Aahhh!! Brengsek! Sakit! Kau gila ya?!" Pekik Yudi saat kakinya diinjak dengan keras oleh Intan.

__ADS_1


"Aku tak berniat kasar. Tapi, jika kau mengatakan sesuatu yang buruk tentang tunanganku lagi, aku gak akan segan lagi padamu!" Seru Intan dengan menunjuk ke wajah Yudi dengan tatapan tajam.


"Huh! Awalnya aku mengira itu hanya rumor, ternyata ini sungguhan. Kau hanyalah gadis gila!" Cibir Yudi dengan tatapan merendahkan. Setelah itu dia pergi meninggalkan Intan.


Ternyata kejadian itu cukup menjadi pusat perhatian. Intan melihat sekelilingnya, banyak mahasiswa dan mahasiswi yang menatapnya dan berbisik-bisik menghina.


"Sepertinya dia sudah benar-benar gila!"


"Benar! Sayang sekali, padahal dia cantik!"


"Walaupun, cantik kalo gila juga gak ada gunanya!"


"Huh! Kumpulan sampah!" Gumam Intan yang mendengar semua cibiran itu.


Intan menatap tajam ke semua mahasiswa yang sedang melihatnya. Karna, aura Intan begitu dingin mereka pun segera membubarkan diri. Setelah itu, Intan melanjutkan perjalannya menuju kantin jurusan musik. Sesampainya disana, ia melihat Ifa dan Bayu yang duduk disalah satu bangku.


"Intan, kemari.!!" Panggil Ifa sambil melambaikan tangan pada Intan. Intan pun berjalan mendekat.


"Mau makan apa? Aku traktir ya!" Seru Ifa setelah Intan sampai dihadapannya.


"Gak perlu mengalihkan pembicaraan. Sudah berapa kali ku bilang, aku bisa makan sendiri. Jadi, gak perlu melakukan ini. Lain kali aku gak akan mengangkat telponmu lagi." Ucap Intan dengan nada tajam pada Ifa.


"Ih, kenapa sih gak mau makan bareng aku?! Makan bareng kan lebih enak daripada sendirian. Kita juga jarang bisa ketemu, hanya diwaktu-waktu makan siang saja bisa bertemu, tapi kenapa kamu ketus sekali sih!" Gerutu Ifa dengan wajah sedih dan kesal.


"Haih. Bukan aku gak mau makan bareng dengnmu. Hanya saja ..."


"Sudahlah. Pokoknya setiap makan siang, kamu harus makan denganku. Aku gak mau penolakan!" Seru Ifa tegas memotong ucapan Intan.


"Huh! Terserah." Ucap Intan yang hanya bisa pasrah. Dia gak akan pernah menang melawan Ifa.


"Ice coklat saja."


"Gak boleh! Harus makanan! Kamu mau lebih kurus lagi. Aku melihatmu sudah seperti tulang berjalan tahu gak?!" Seru Ifa dengan tangan dilipat didada.


"Aku belum lapar ..."


"Sudahlah, aku belikan sama denganku saja!" Putus Ifa sembari melangkah pergi untuk membeli pesanannya. Intan hanya bisa melihat itu dengan pasrah. Lagi-lagi dia gak bisa menolak.


"Kak Bay, urus pacar kakak dengan baik dong. Lihatlah, betapa dia sangat menyebalkan!" Keluh Intan pada Bayu di depannya.


"Hm, ku rasa apa yang dilakukan Ifa gak salah. Dia gak menyebalkan. Dia hanya perhatian padamu." Jawan Bayu dengan senyum di wajahnya. Intan hanya diam dan tak menjawab.


"Bagaimana keadaanmu? Benar kata Ifa, kamu seperti tulang berjalan. Kamu terlihat sangat rapuh." Ucap Bayu mengamati Intan.


"Aku baik-baik saja. Mungkin penampilan ini cocok denganku sekarang. Sangat sesuai dengan perasaanku." Jawab Intan dengan tatapan sendu.


"Tapi, bukankah kalau Setya melihat ini, dia gak akan suka?"


"Biar saja dia gak suka. Biar dia tahu, kalau tanpanya aku sangat rapuh." Jawab Intan dengan senyum kesedihan. Bayu tak lagi berkomentar, dia, sendiri juga tak tahu lagi apa yang harus dikatakan pada Intan.


"Nah.. Soto ayam mang Asep sudah datang. Aku minta tambah daging buat kamu Tan. Kamu harus makan yang banyak, ok?!" Ucap Ifa sambil memberikan semangkok soto panas pada Intan.


"Ini banyak sekali. Mana bisa aku habisin?!" Tanya Intan yang terkejut, melihat sotonya.


"Itu dikit. Sudahlah, makan aja. Pokoknya harus habis. Kamu gak boleh sia-siain, makanan!" Seru Ifa memperingatkan.

__ADS_1


Akhirnya, Intan mau tak mau harus menuruti perkataan Ifa. Intan sangat berusah payah untuk menghabiskan semangkok soto itu. Memang nafsu makannya selama setahun belakangan ini sangat berubah drastis. Hanya dua atau tiga suap nasi saja sudah membuatnya kenyang. Alhasil, untuk menghabiskan semangkok soto, dia menghabiskan waktu setengah jam lebih.


"Ah, aku sudah gak sanggup lagi." Keluh Intan yang sudah merasa sesak karna kekanyangan.


"Tuh, tinggal sesuap. Aku suapin, deh. Aaaa..." Seru Ifa sambil menyodorkan suapan terakhir pada Intan. Akhirnya, dengan terpaksa Intan menerima suapan Ifa.


"Yey! Gitu dong. Anak pinter. Besok lagi ya!" Seru Ifa antusias.


"Gak mau. Kalau besok begini lagi, aku gak bakal dateng walaupun kamu nunggu sampe malem!" Seru Intan dengan tegas.


"Iya deh iya. Gak akan lagi. Tapi, pokoknya kamu harus usahain makan yang banyak Tan. Aku risih melihat keadaanmu saat ini. Kamu terlihat ringkih, bahkan ku rasa kamu bisa terbang ketika aku bersin didepanmu." Ucap Ifa yang sedih melihat keadaan Intan.


"Jangan berlebihan. Aku tau bagaimana keadaanku. Kamu tenang saja ... Oh ya, kapan wisuda kak Bayu?" Tanya Intan mengalihkan pembicaraan.


"Bulan depan Tan. Apa kamu mau datang bersama Ifa?" Tanya Bayu.


"Ehm, sepertinya enggak. Gak ada alasan untukku datang. Tapi, walaupun begitu, selamat atas kelulusannya ya kak." Ucap Intan tulus.


"Terima kasih." Jawan Bayu dengan senyum ramah.


"Ah, aku harus pergi sekarang. Makasih makanannya Fa." Ucap Intan sembari bangkit dari duduknya.


"Kamu, mau kesana lagi?" Tanya Ifa hati-hati.


"Iyaa.." Jawab Intan dengan senyum kecil.


"Baiklah, hati-hati. Mungkin, aku dan kak Bayu akan kesana akhir pekan nanti."


"Iyaa." Jawab Intan. Setelah itu dia pergi meninggalkan Ifa dan Bayu.


"Sampai kapan kesedihan ini akan terus berlanjut?! Aku gak tega lihat Intan seperti itu. Hikss!" Ucap Ifa sambil menangis melihat kepergian Intan.


"Sudahlah. Intan itu gadis yang kuat. Apalagi, disampingnya dia ada sahabat sebaik kamu." Ucap Bayu menenangkan.


Intan segera menuju ke parkiran. Dia sudah diperbolehkan sang ayah mengendarai mobil sendiri sekarang. Dia segera mengambil mobilnya dan mengemudikannya meninggalkan kampus. Dia menuju ke toko bunga langganannya.


"Siang mbak Intan. Bunga seperti biasanya ya?" Tanya penjual bunga dengan ramah.


"Iyaa." Jawab Intan dengn sedikit senyuman diwajahnya.


"Ini mbak sudah saya siapkan. Semoga do'a dari bunga ini bisa tersampai ya mbak."


"Makasih mbak. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Intan dengan ramah. Dia meletakkan bunga di kursi penumpang dan hati-hati. Kemudian, dia kembali masuk ke dalam mobil. Setelah memasang sabuk pengaman, Intan menatap bunga itu sekilas.



"Ya, ku harap do'a dari bunga ini bisa terwujud.." Gumam Intan pelan. Setelah itu dia mengemudikan kembali mobilnya ke tempat yang selalu ia datangi selama satu tahun terakhir.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2