
Hari wisuda
Akhirnya setelah 3 tahun menjalani masa-masa sekolah yang penuh dengan lika-liku, juga pertempuran dengan ujian beberapa bulna terakhir. Kini waktunya pelepasan murid kelas 3 agar mereka bisa terus berjalan semakin dekat dengan impian mereka.
Wisuda hari itu dilkaukan di sebuah mall besar. Mall itu menyediakan hall besar yang biasanya memang disewakan untuk acara-acara tertentu. Intan dan Ifa tentu saja mendatangi acar wisuda itu. Mereka harus tetap berada di sisi Setya dan Bayu agar tak ada ular yang menyelinap masuk. Apalagi, hari itu Setya dan Bayu terlihat sangat tampan dengan setelan jas hitamnya. Semakin membuat mereka terlihat sempurna.
Banyak gadis yang terus saja menatap Setya dan Bayu dengan pandangan seakan ingin menerkam. Tapi, tentu saja Intan dan Ifa tidak tinggal diam, mereka selalu membalas menatap tajam pada gadis-gadis yang menatap kekasih mereka. Intan dan Ifa sama sekali tidak memberikan celah untuk masuknya ular.
"Selamat atas kelulusannya kak." Ucap Intan sambil memberikan buket bunga pada Setya saat acara wisuda berakhir.
"Terima kasih, tuan putri." Jawab Setya lembut, sambil mencium kening Intan.
"Ee.. Kak Setya?! Kenapa melakukan itu disini?!" Seru Intan sambil menutup wajahnya yang merona.
"Sengaja, biar gadis lain tau kalau aku hanya mencintaimu." Jawab Setya dengan senyuman diwajahnya.
"Tapi, gak sampe menciumku juga. Om dan tante, Tasya juga melihatnya." Ucap Intan yang masih merasa malu. Dia melirik sekilas pada keluarga Setya yang tak jauh dari sana.
"Gak perlu malu. Setelah kita lulus kuliah nanti, aku akan segera menjadikanmu milikku seutuhnya." Bisik Setya ditelinga Intan. Intan semakin malu dibuatnya.
"Ah! Kak Setya jangan menggodaku terus. Bukankah itu terlalu cepat? Bahkan kakak belum mulai kuliah!" Seru Intan mengingatkan.
"Tidak. Karna, keputusanku tak akan berubah walau aku mengatakannya sekarang. Kita jaga hubungan kita sampai saat itu ya." Ucap Setya lembut, sembari mengelus pelan puncak kepala Intan.
"Tentu!" Jawab Intan cepat dengan senyum lebar.
"Selamat menempuh jenjang baru kak." Ucap Ifa yang juga memberikan buket bunga pada Bayu.
"Terima kasih, cabiku sayang." Jawab Bayu dengan senyuman.
"Senangnya melihat kalian seperti ini. Ifa sayang, kapan kamu mau masuk ke keluarga tante?" Tanya mama Bayu dengan suara agak kencang.
"Hehe. Tante, Ifa belum lulus SMA. Kak Bayu juga belum mulai kuliah. Ini terlalu cepat." Jawab Ifa sedikit gugup.
"Yah, anak zaman sekarang memang gak seperti zaman tante dulu. Baiklah, tante mengerti. Capailah impian kalian dulu ... Tapi, Ifa tetep sama Bayu terus ya? Tante inginnya kamu yang jadi menantu tante besok. Bayu, kamu mendengarnya kan? Kamu harus baik-baik dengan Ifa terus." Ucap mama tegas.
"Tentu saja ma, aku gak bakalan ngelepasin Ifa sampai hari dimana aku melamarnya." Jawab Bayu dengan menatap Ifa serius. Ifa pun tersipu mendengarnya.
Hari wisuda itu berubah menjadi awal komitmen dari Setya dan Bayu. Intan dan Ifa sama sekali tak menyangka hal itu, namun tak dapat dipungkiri kalau mereka juga merasa sangat senang. Walau mereka masih muda dan perjalanan hidup mereka masih panjang, tapi dengan komitmen kedua belah pihak, juga usaha untuk tetap saling setia dan percaya dalam membina hubungan. Hal itu tentu saja akan menjadi mungkin.
...****************...
Beberapa bulan kemudian..
"Wahh. Gak nyangka sekarang kita sudah kelas 3 dong!" Ucap Ifa setelah jam istirahat berbunyi.
Sudah hampir satu minggu ia dan Intan resmi menjadi murid kelas 3. Ia sudah hafal dengan pesan semua guru yang selalu menkankan untuk fokus belajar dan berhenti main-main.
"Benar sekali.!! Sekolah juga jadi terasa sepi tanpa kak Setya." Jawab Intan dengan nada sedih yang diangguki oleh Ifa.
"Aku juga merindukan kak Bayu.." Sahut Ifa lesu.
"Alay!" Seru Toni mengejek.
Karna, dia tahu kalau setiap pagi Setya dan Bayu masih tetap mengantarkan mereka. Kalau pulang, selama tidak ada mata kuliah, Setya dan Bayu juga masih menjemput mereka.
Plakk
"Aww!!" Pekik Toni saat ia merasakan punggungnya dipukul oleh dua tangan dari belakang. Tentu saja itu perbuatan dari Intan dan Ifa yang merasa kesal.
"Ifa, menurutmu bagaimana kak Setya dan kak Bayu sekarang ya? Huh! Kemanpun mereka pergi, pasti banyak gadis yang menatap dan mendekati mereka!" Tanya Intan mulai membayangkan betapa Setya dan Bayu menjadi pusat perhatian di kampus.
__ADS_1
"Kamu benar! Mereka hanya berjalan saja sudah menarik banyak perhatian. Hmm, bagaimana jika ada ular betina yang berusaha mendekati mereka?!" Jawab Ifa ikut membayangkan ada gadis cantik yang berusaha mendekati Setya dan Bayu.
Dan karna trik ular betina itu, akhirnya Setya dan Bayu jatuh ke dalam pesonanya, lalu Setya dan Bayu memilih meninggalkannya juga Intan.
"Tidak!!" Teriak Intan dan Ifa bersamaan memikirkan Setya dan Bayu.
"Kalian kenapa?!" Tanya Linda yang mendekati Intan dan Ifa setelah mendengar teriakan mereka.
"Kami takut ada ular betina yang mendekati kak Setya dan kak Bayu." Jawab Intan dengan lesu.
"Itu resiko kalian berpacaran dengan kakak kelas." Sahut Dharma yang ikut menimbrung sembari merangkul bahu Linda.
"Pak Ketu, semakin lama kamu semakin nyebelin ya?! Haih, kamu kebanyakan bergaul dengan Toni mangkannya jadi seperti itu!" Seru Ifa kesal sambil menggelengkan kepalanya.
"Hey! Aku sudah diam masih saja kena!" Gerutu Toni kesal.
"Sudahlah, percaya saja pada kak Setya dan kak Bayu. Aku yakin mereka gak bakalan mudah tergoda trik ular betina, kalau didekat mereka ada singa betina, hehe."
"Lin, kamu ini sedang menenangkan kami atau mengejek kami?" Tanya Ifa bingung.
"Tentu saja mengejek. Dasar singa betina! Hahaha." Seru Toni puas. Dia segera berlari pergi sebelum Ifa murka.
"Aku tidak mengejek kalian. Itu analogiku untuk menggambarkan sosok kalian. Aku yakin kak Setya dan kak Bayu tidak akan berani macam-macam." Ucap Linda dengan senyuman.
Intan memahami apa maksud Linda yang ingin menunjukkan bahwa sehebat apapun cara gadis lain untuk mendekati Setya dan Bayu. Itu tidak akan berhasil, karna Setya dan Bayu sudah memiliki Intan dan Ifa yang tentu saja tidak akan membiarkan mereka melirik gadis lain, sehebat apapun rayuannnya. Intan pun sedikit tersenyum dibuatnya.
"Ya sudah yuk ke kantin!" Ajak Linda pada Intan dan Ifa. Akhirnya, merek berjalan bersama menuju kantin.
"Tan, bagaimana jika sabtu besok kita diam-diam datang ke kampus kak Setya dan kak Bayu untuk memastikan sendiri, apakah ada ular betina atau tidak?" Bisik Ifa mengusulkan.
"Ehm, boleh juga. Aku setuju!" Jawab Intan setuju dengan ide Ifa.
"Kak Intan dan yang lainnya telat hari ini? Kenapa gak barengan dateng dengan kak Toni?" Tanya Putri penasaran.
"Dia melarikan diri." Sindir Ifa, sembari mengambil satu sosis bakar milik Toni.
"Sebagai kompensasi dari ejekanmu tadi." Seru Ifa saat Toni akan protes. Intan dan yang lain hanya bisa tersenyum geli melihat pertengkaran itu.
"Haih, dia menjadi karna pawangnya gak ada disini." Gerutu Toni kesal.
"Apa kamu bilang?!" Seru Ifa marah dengan tatapan tajam pada Toni.
"Gak ada. Cepet makan saja. Berisik!" Jawab Toni acuh.
Walaupun, Putri gak tahu apa ynag terjadi, tapi dia juga ikut tersenyum mendengar perdebatan Ifa dan Toni.
"Hm, kak Toni. Putri sudah kenyang, kak Toni mau makan sosi Putri? Daripada mubazir." Tanya Putri pelan.
"Boleh. Terima kasih." Ucap Toni singkat.
Intan dan Bunga diam-diam memperhatikan itu. Apalagi Intan, ia menatap Putri dan menangkap ada gelagat aneh yang ia lihat dari Putri.
Apakah Putri menyukai Toni? ... Intan
"Kamu kenapa?" Tanya Ifa yang melihat Intan tak kunjung memakan makanannya.
"Tidak apa kok." Jawab Intan tersadar.
"Hei, lihat kakak itu tampan ya."
"Benar sekali. Yang disebelahnya juga tampan."
__ADS_1
"Tapi, siapa kakak-kakak disekitarnya itu? Mereka cantik-cantik."
"Sepertinya, sekarang kalian berdua jadi lebih terkenal setelah kak Setya dan kak Bayu lulus." Ucap Ifa melihat banyak gadis yang memperhatikan Toni dan Dharma.
"Kamu benar Fa. Aku harus lebih waspada." Sahut Linda yang terlihat tak suka.
"Jangan cemberut gitu dong. Aku gak bakalan ngelirik mereka." Ucap Dharma menenangkan Linda.
"Kejadian ini sepertinya gak asing ya?" Gumam Bunga yang mengingat perkataan Setya dan Bayu saat Intan dan Ifa cemburu melihat gadis lain. Bunga sudah terbiasa dengan keromantisan kedua pasangan itu sebelumnya.
"Yah, mau bagaimana lagi. Pesonaku memang luar biasa." Ucap Toni dengan percaya dirinya.
Intan dan Ifa tidak memperdulikan itu dan kembali fokus makan. Sedangkan, Putri tersenyum kecil dibuatnya. Toni melihat itu sekilas, namun dengan cepat dia memalingkan tatapannya lagi.
Setelah makan, Intan dan Ifa berjalan ke tamab belakang, rencannya mereka ingin menghubungi pacar mereka masing-masing. Tapi, di taman belakang mereka malah melihat Putri seorang diri.
"Kenapa disini sendirian? Dimana Bunga?" Tanya Intan mendekati Putru dan duduk di depannya bersama Ifa.
"Bunga sedang menonton pertandingan basket kak. Aku hanya ingin sendirian saja." Jawab Putri dengan senyum kecil.
"Sungguh? Tidak ada yang mengganggumu kan?" Tanya Intan memastikan.
"Tidak ada. Hubunganku dengan teman-teman sudah jauh lebih baik. Sekarang, di kelas aku sudah punya beberapa teman selain Bunga." Jawab Putri menjelaskan.
"Syukurlah kalau begitu." Ucap Intan lega.
"Iyaa.. Ini semua karna bantuan dari kak Toni. Kak Toni mengajarkan Putri cara beradaptasi dengan teman-teman. Kak Toni juga yang memeberikan semangat dan dorongan agara Putri bisa berubah. Kalau gak ada kak Toni, mungkin Putri masih dikucilkan di kelas." Ucap Putri dengan senyum diwajahnya.
Saat menceeritakan tentang Toni, terlihat dengan jelas mata Putri terlihat berbinar. Intan dan Ifa saling pandang sejenak.
"Kamu menyukai Toni?" Tebak Ifa langsung.
"Huh? Ap-Apa? ... Apa maksud kakak? Ak-Aku ... Aku hanya..."
"Sudahlah, tak perlu dijelaskan. Semua sudah terlihat jelas." Seru Ifa santai. Putri hanya menunduk malu dengan pipi bersemu merah.
"Sungguh? Sejak kapan?" Tanya Intan antusias.
"Hm, mungkin sejak kak Toni membantuku dan mengatakan bahwa aku berharga." Jawab Putri malu.
"Wow, tak ku sangka Toni bisa mengatakan hal itu juga." Seru Ifa terkejut.
"Apa kamu sudah memberitahukan perasaanmu pada Toni? Apakah Toni tahu?" Tanya Intan lagi.
"Enggak. Kak Toni gak tahu. Kak Toni selalu cuek dengan hal seperti ini. Aku juga gak berani mengatakannya pada kak Toni ...."
Apalagi, di hati kak Toni masih ada kak Intan.
"Hm. Dia memang terlalu santai. Huh! Mau bagaimana lagi. Tapi, apakah kamu ingin menyembunyikan perasaanmu terus? Ku rasa lebih baik kamu mengatakannya, agar kamu bisa tahu bagaimana perasaannya. Kalau dia menolakmu, kamu bisa segera melupakannya dan mencari pria lain." Ucap Ifa menyarankan.
Putri tak menjawab dan hanya menunduk. Ia memainkan kedua tangannya dibawah meja dengan cemas. Intan menyadari kecemasan Putri. Karna, dulu ia juga pernah merasakannya. Dan waktu ditolak, walaupun akhirnya lega tapi rasa sakitnya memang masih berbekas dalam waktu yang lama, sampai Setya berhasil menyembuhkanya dengan ketulusan dan kehangatannya.
Aku penasaran bagaimana perasaan Toni. Apakah dia tidak memiliki perasaan pada Putri? Akan sangat baik, kalau dia memilikinya ...
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1